Indonesia
NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:895
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 34] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

"Tapi kalau dipikir-pikir... dari semua pria di keluarga ini, cuma Kak Edward yang paling sempurna," ucap Morgan terkekeh.

"Kak Barbara mah enak, tidak perlu mengomel tiap hari. Kak Edward kan penyabar, sangat menghormati Kakak, dan rumah tangga kalian kelihatan tenang-tenang saja dari dulu."Azy membenarkan hal tersebut

Dereta mengangguk setuju. "Iya, betul! Kak Edward itu tipe gentleman banget. Beda jauh sama Hans yang datar kayak papan!"

Anisa menatap Barbara dengan binar mata mengagumi, mengiyakan ucapan kakak-kakaknya yang lain.

Barbara tersenyum manis—sebuah senyuman anggun nan tenang yang selalu memancarkan kewibawaan seorang istri Kepala Keluarga.

"Edward memang suami yang baik," jawab Barbara lembut, suaranya tenang tanpa nada ragu sedikit pun. "Sejak awal, hubungan kami berjalan sangat alami. Dia selalu memperlakukanku dengan lembut, selayaknya pasangan pada umumnya."

Jawaban itu disambut anggukan paham dan helaan napas kagum dari para adik iparnya. Bagi mereka, Barbara dan Edward adalah definisi pasangan idaman yang tak tersentuh konflik tanpa celah sedikitpun...

Namun...

di balik lambaian gaun panjang yang menutupi paha dan pangkuannya di atas kursi rodanya, jemari Barbara perlahan meluncur turun.

Sret.

Di bawah meja gazebo yang terlindung dari pandangan mereka semua, jemari langsing Barbara mencengkeram besi roda kursinya dengan sangat erat. Cengkeraman yang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih pucat.

Napas Barbara tertahan tipis di tenggorokan. Tatapan matanya yang tadi hangat mendadak membeku sejenak, menatap uap teh hangat di cangkirnya.

...Suami yang baik... hubungan yang berjalan alami......

Kata-kata itu terasa bagai duri tajam yang menusuk tenggorokannya sendiri. Mereka semua tidak pernah tahu. Tidak ada satu orang pun di mension ini yang tahu kebenaran nya di balik masa lalu mereka—tentang bagaimana Edward yang dulu...

"Kak Barbara?" tegur Anisa pelan saat menyadari Barbara sempat terpaku sejenak.

Barbara tersentak kecil, lalu dengan sangat cepat menguasai raut wajahnya kembali. Ia melepaskan cengkeraman jarinya dari roda kursi, lalu tersenyum hangat menatap Anisa.

"Tidak apa-apa, Sayang... Kakak cuma mendadak teringat sesuatu," bisik Barbara lembut, mengusap kepala Anisa. "Kalian habiskan tehnya, ya."

heum... masalalu bisa lebih menyakitkan dari pada sesuatu yang selalu di tunggu banyak orang.

(Aku ingat wajah gembira nya saat itu, dengan kemenangan dan rasa puas nya)

-

(Mungkin karena telah mengisolasi ku sepenuhnya?...)

-

(Obsesi nya...cara dia memandang ku...dan tentang bagaimana malam itu jalan keluar ku benar benar di buat nya Buntu!)

"Ahhg!,kau tidak akan pernah bisa pergi dariku lagi,akan ku buat kau ingat siapa yang sudah membuat mu merasakan kenikmatan seperti ini!"

Meski Ed terlihat bicara dengan santai sedikit berkeringat,namun Barbara memahami betul betapa marah nya sang suaminya kala itu.

Malam itu benar benar panas ketika Edward terus menerus melumat bibir nya,seraya memainkan lihai milik nya di Antara milik Barbara.

Cukup besar keras dan berurat, sekiranya itu yang Barbara tahu.dan sampai pria tersebut terus bergerak tak membiarkan sedikitpun celah terlewati.

"Ahhh!, Edward!, pelan- pe...lan! Agghrh!, Aaahh~ Ed. Rahim ku terlalu penuh!,hentikan Ed...aku.ak...aggh!, hentikan Tuan Edward!, hentikan! Kumohon berikan aku waktu istirahat Ughh!"

Milik nya, pinggulnya, dan kedua lengannya memainkan ritme yang cukup lihai, bahkan bibirnya Edward berperan penting untuk terus melumat dua buah dada milik Barbara yang kini terasa kencang dan padat

Sementara milik wanita tersebut terus menerus di masuki tanpa henti di bawah sana

"Aku tidak akan membiarkan mu pergi!, meningalkan aku dan Zaidan Lagi!"

(Tatapan membunuhnya itu...atau tentang cara dia menyembunyikan setiap senjatanya dekat dengan kami saat berhubungan intim)

(Seakan-akan...jika aku membantahnya malam itu...bukan hanya tertembak.tapi mungkin...)

(...aku benar benar akan di cincang sampai tak tersisa)

Sedikit tak nyaman dengan refleks Barbara terhadap intonasi seksual suami nya, Edward yang tidak pernah habis akal

Saat ketika Barbara benar benar hampir tak sadarkan diri menghadapi hentakannya yang memabukkan dan cukup kasar itu, Edward buru buru mengikat kedua lengan istrinya dengan dasi kerja nya sebelum akhirnya melanjutkan kembali permainan panas mereka tak peduli berulang ulang kali wanita itu memohon untuk di lepaskan.

(Aku ingat semuanya,dan seakan sudah menjadi takdir ku terus bersama nya...)

Dalam keputusasaan,dan dalam cengkraman yang menuntut kepatuhan.barbara benar-benar seperti boneka patung tanpa tali pengikat!

"Agghrh!, hentikan Ed!,apa yang...Ahh!, apa yang kau lakukan!, lepaskan,kaki ku,sakit! "

Barbara benar benar tak berdaya, nafasnya memburu begitu intens, kini sudah 12 jam.Tidak!... tapi hampir seharian lebih ia melayani nafsu seksual suaminya.namun tetap saja dia tidak sekuat Edward yang bisa tahan Berjam jam.

"Sakit?"

Edward tersenyum getir seakan tak merasa bersalah,ia terlihat tidak terlalu peduli atas banyak nya pelepasan yang wanita itu keluarkan bersamaan dengan nya.

Namun satu hal yang pasti, Barbara adalah milik Ed dan akan tetap seperti itu.

Krekk!

"Aaahhh!!!"

"A-Apa yang kau lakukan!,itu menyakitkan Ed!"

"Aku bilang,tak akan kehilangan mu... LAGI!, jadi jangan salahkan aku yang akan membuat mu menjadi..."

"...wanita lumpuh!"

"Ed jangan!, tidak!. Aku mohon!,aku tidak akan pergi Ed...aku sangat mencintaimu aku bersumpah aku sangat mencintaimu...aku mohon aku tidak berbohong kali ini Edward!"

KREKK!!!

..."AHHHHH! EDWARD!!!"...

Malam itu setiap tetes darah yang turun adalah balasan setimpal dan setiap darah yang Edward tumpah kan di atas ambisi nya dan amarah nya...adalah sebuah pembaptisan atas dosa-dosa yang selama ini bersembunyi di balik kebenaran yang dipaksakan.

Semua berujung pada kehampaan, meninggalkan Barbara terjerat dalam jerat yang ia tenun sendiri. Ia adalah gambaran jiwa yang begitu menuntut, meletakkan dahaga akan kasih sayang orang tuanya di atas segala hal, hingga tak tersisa ruang untuk kehangatan lain.

Bahkan ketika ketulusan dari luar menyapa, hanya sangka buruk yang bersemi di benaknya.

Bak kata pepatah!

Jodoh kita adalah CERMINAN dari diri KITA SENDIRI...

Dan takdir menghadiahkannya Edward—sesosok cerminan yang menyerap seluruh ketakutannya, bertransformasi menjadi pribadi yang tak kalah egois dan kian obsesif

Pria yang menjadi dalang atas kelumpuhan nya, sekaligus pria sejuta kesempurnaan di atas kekejamannya.

Barbara tak mau membohongi hal tersebut.

Di antara mereka, cinta tak lagi menjadi tempat bernaung, melainkan medan pertempuran tak kasat mata.

Sebuah ketegangan yang pekat dan elegan berhembus tiap kali mata mereka bertatap saling menakar rahasia, saling meragukan kesetiaan. Sebanyak apa pun rahasia cinta yang ditiupkan Barbara, selubung kecurigaan Edward tak pernah benar-benar percaya.

Bagi Edward, Barbara adalah sebuah mahakarya tak ternilai—keindahan beracun yang harus dijaga dari mata dunia. Namun, atas nama cinta dan rasa takut akan kehilangan yang teramat sangat, pengabdian itu menjelma menjadi sangkar emas. Ia mengisolasi sang pujaan, mengunci wanita itu dalam dekapannya yang mengekang.

Dan Barbara, alih-alih memberontak, justru menemukan kedamaian dalam belenggu tersebut. Sebab di balik sifat egoisnya, dunia tahu satu hal

Barbara tak akan pernah membiarkan sang suami melangkah pergi, setelah seluruh takdir terjalin di antara mereka.

Dan setelah...

Banyaknya nyawa telah Edward korban kan demi membawa wanita nya itu

...Pulang...

...Dan Barbara—akhirnya menemukan kepuasan di dalam rasa sakit itu.

Kenangan panas dan berdarah itu perlahan memudar, melebur ke dalam keheningan masa kini yang begitu damai. Semenjak saat itu dari kursi rodanya di dekat jendela besar, Barbara menatap Edward yang selalu tertidur lelap. Sungguh sebuah ironi yang indah. Edward mengira rantai besi yang ia pasang malam itu telah memenangkan segalanya.

Sayang nya...Pria itu keliru.

Barbara tahu ia telah kalah secara fisik, namun ia memilih jalan yang jauh lebih mematikan yaitu menjadi dirinya menjadi yang memang adalah sosok istri sempurna, berhati malaikat, dewasa, dan mutlak tanpa cela bagi kepala keluarganya.

Kesempurnaan Barbara menjelma menjadi udara yang dihirup Edward setiap hari. Tanpa disadari oleh sang suami, kebaikan Barbara yang tiada tanding justru mengikat balik pria itu dengan tali tak kasat mata.

Edward kini telah sepenuhnya ketergantungan pada sosok istri yang lumpuh namun sempurna itu. Sang dalang yang dulu merantai nya dengan sangkar emas, kini justru menjadi tawanan yang tak bisa hidup tanpa sang mahakarya. Di dalam keheningan kamar megah itu, Barbara tersenyum tipis—sebuah senyum penuh kemenangan yang begitu anggun

...Ternyata, sebuah TALI bisa...jauh lebih menyakitkan daripada serantai BESI...

.

.

.

"ohh tentu... Edward suamiku sejak dulu selalu mengusahakan apapun untuk kebahagiaan ku, terlepas dari apapun alasan yang menghambat nya atau segala sesuatu yang menghalangi jalan nya...hanya aku...aku sendiri dan tentunya tetap..."

"...hanya untukku."

Barbara tersenyum tipis—sebuah senyum penuh kemenangan yang begitu anggun.

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!