Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, jatuh di lantai kamar yang masih menyisakan kesunyian malam.
Amira tidak segera bangun. Ia masih berada dalam dekapan Kaizar, kepalanya bersandar di dada pria itu. Untuk beberapa saat, ia hanya mendengarkan suara napas suaminya yang teratur.
Tidak ada percakapan panjang yang perlu mereka lakukan. Malam tadi sudah mengatakan cukup banyak.
Amira mengangkat wajah perlahan. Pandangannya berhenti pada Kaizar yang masih memejamkan mata. Ada sesuatu yang berbeda pada wajah pria itu. Biasanya Kaizar selalu terlihat sulit didekati, bahkan ketika hanya duduk dalam diam.
Tetapi pagi ini, wajah itu terasa begitu dekat.
Amira mengulurkan tangan, merapikan sedikit rambut yang jatuh di dahinya.
Kelopak mata Kaizar bergerak. "Kau sudah bangun?"
Amira tersenyum. "Sejak tadi."
Kaizar membuka mata. Tatapan mereka bertemu. "Kenapa tidak membangunkanku?"
"Karena aku ingin melihatmu sebentar."
Kaizar terdiam. Amira justru tertawa kecil melihat ekspresinya.
"Kenapa?"
"Kau berubah."
"Berubah bagaimana?"
"Dulu kau selalu menjaga jarak." Kaizar menatapnya cukup lama. "Dan sekarang?"
Amira tidak menjawab. Ia hanya kembali menyandarkan kepala di dada suaminya.
Kaizar mengusap rambutnya. "Kalau begitu, jangan pergi dulu."
Kalimat sederhana itu membuat Amira tersenyum dan setelah sekian lama, ia tidak merasa sedang mengejar tempat di hati seseorang karena untuk sekarang ia sudah berada di sana.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara di tempat lain. Sejak pagi tadi Ricki lebih banyak berada di ruang kerjanya. Ia sengaja menjauh dari keramaian rumah karena pikirannya belum juga tenang.
Ponselnya tergeletak di atas meja. Beberapa menit kemudian, layar itu menyala. Satu pesan masuk dari orang yang kemarin ia minta mencari informasi, dan ternyata bukti DNA saja tidak cukup. Pria itu harus mengulik dan menemukan siapa ayah kandung dari Alika.
Pak, saya menemukan sesuatu tentang masa lalu Bu Ambar.
Ricki langsung mengambil ponselnya.
Apa yang kau temukan?
Tidak lama kemudian, balasan masuk.
Sebelum menikah dengan Pak Ganjar, Bu Ambar pernah dekat dengan seorang pria. Hubungan mereka cukup serius.
Ricki mengernyit. Ia membaca pesan berikutnya.
Pria itu menghilang dari kehidupan Bu Ambar tidak lama sebelum pernikahan beliau dengan Pak Ganjar.
Ricki bersandar. Jadi ada seseorang dari masa lalu Ambar.
Namanya?
Beberapa saat tidak ada balasan. Kemudian sebuah nama muncul di layar.
Ricki membacanya perlahan. Nama itu tidak pernah ia dengar sebelumnya.
Dia masih hidup?
Belum diketahui pasti. Kami sedang mencari keberadaannya.
Ricki terdiam. Pikirannya langsung kembali pada satu kenyataan yang baru diketahuinya.
Alika bukan anak biologis Ganjar. Kalau begitu, pria dari masa lalu Ambar itu bisa saja tidak ada hubungannya dengan Alika.
Bisa saja. Tetapi waktunya terlalu berdekatan untuk diabaikan. Ricki mengetik lagi.
Cari tahu hubungan mereka. Jangan hanya mencari keberadaan pria itu. Cari tahu kapan mereka bertemu, kapan hubungan mereka berakhir, dan apa yang terjadi setelahnya.
Pesan itu terkirim. Beberapa detik kemudian, Ricki menambahkan satu pesan lagi.
Dan jangan sampai Ambar tahu ada yang mencari informasi ini.
Ia meletakkan ponselnya lagi dan Ricki mulai memahami bahwa rahasia Alika mungkin bukan sesuatu yang baru muncul ketika pemeriksaan dilakukan. Rahasia itu mungkin sudah ada jauh sebelum Ganjar dan Ambar membangun keluarga mereka.
Ricki akhirnya mengambil kalender di atas meja. Tanggal pernikahannya dengan Alika masih tertulis di sana. Ia menatapnya cukup lama.
Pernikahan itu tetap akan berjalan. Ia tidak akan membatalkannya. Bukan karena ia sudah melupakan semuanya. Justru karena sekarang ia ingin melihat sendiri apa yang terjadi ketika orang-orang yang menyimpan rahasia itu berada dalam satu tempat.
Ricki tidak ingin datang sebagai pria yang sedang mencari alasan untuk membatalkan pernikahan. Ia ingin datang sebagai seseorang yang sudah mengetahui cukup banyak untuk membuat mereka tidak bisa lagi bersembunyi.
Namun sebelum hari itu tiba, ia harus menemukan satu orang terlebih dahulu. Pria dari masa lalu Ambar. Sebab bisa jadi, jawaban tentang siapa Alika sebenarnya tidak berada di rumah sakit.
Jawaban itu mungkin telah menunggu selama bertahun-tahun di suatu tempat, bersama seseorang yang namanya bahkan tidak pernah disebut dalam keluarga Wijaya.
☘️☘️☘️☘️
Sementara itu, jauh dari sana, Amira berdiri di depan jendela kamar. Kaizar memperhatikannya dari tempatnya. Perempuan itu sedang menyisir rambut sambil sesekali tersenyum sendiri.
"Apa yang membuatmu tersenyum?"
Amira menoleh. "Tidak ada."
Kaizar mengangkat alis. Amira mendekat lalu berdiri di hadapannya.
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
Amira menggenggam tangan Kaizar. "Karena membuatku merasa cukup."
Kaizar tidak menjawab. Namun jemarinya membalas genggaman itu. Di luar sana, masa lalu masih bergerak mencari jalan menuju mereka.
Tetapi untuk sementara, Amira tidak ingin memikirkan siapa pun. Ia hanya ingin menikmati satu hal yang selama ini tidak pernah ia miliki. Rumah. Dan seorang suami yang memilihnya tanpa syarat.
Dan tanpa Amira sadari, keputusan Ricki untuk tetap diam justru akan membuat sebuah rahasia keluarga Wijaya tumbuh semakin besar.
Sebab semakin lama kebenaran itu disimpan, semakin tinggi harga yang harus dibayar ketika akhirnya terbuka.
Bersambung ....
top lah