Follow ig 👉 @sifa.syafii
Fb 👉 Sifa Syafii
Karena sebuah kejadian yang tidak disengaja, Reyhan harus menikahi Tia, mahasiswanya sendiri. Meskipun tidak ada rasa cinta di antara mereka, tapi mereka berkomitmen tidak akan pernah bercerai. Bagi mereka pernikahan bukanlah main-main, dan mereka ingin menikah hanya satu kali dalam hidup mereka.
Di hari ke-tiga usai pernikahan mereka, kekasih Tia yang kuliah di luar negeri, datang. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Yuk simak ceritanya. 😍
NB : Novel ini berhubungan dengan novel yang berjudul "Kisah Cinta Arka".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Hari ini sudahwaktunya Jasmine kembali ke Belanda. Arka pun ikut bersamanya karena dia berencana akan melanjutkan S2-nya di sana.
Reyhan dan Tia yang mengantar mereka sampai di bandara karena Pak Adam ada urusan di perusahaan dan Bu Tari masih belum pulih dari kejadian jatuh dari tangga. Sedangkan keluarga Arka sedang liburan ke Australia.
"Baik - baik di sana ya Jasmine. Jangan bertengkar dengan suamimu," ucap Reyhan pada Jasmine sambil mengacak - acak rambutnya.
"Iya Kak," balas Jasmine sambil tersenyum.
"Tolong jaga adikku ya Arka," ucap Reyhan pada Arka sambil memeluk tubuh Arka.
"Iya Kak. Aku akan menjaga Jasmine," balas Arka dengan tersenyum.
Tia pun berpelukan dengan Jasmine.
"Hay calon keponakan, jangan nakal - nakal di dalam perut mommy ya? Aunty menantikan kelahiranmu," ucap Jasmine sambil mengelus perut Tia. Tia pun tersenyum.
Arka menjabat tangan Tia. Mata mereka beradu pandang. Mata mereka berdua pun berkaca – kaca karena teringat kenangan lima tahun yang lalu. Saat mereka berpisah di bandara ketika Arka akan pergi ke Amerika. Kini setelah mereka bertemu perpisahan ini pun terulang kembali.
Setelah berpamitan, Arka dan Jasmine pun pergi. Reyhan dan Tia menyaksikan kepergian mereka.
Mulai sekarang aku akan berusaha melupakanmu Tia. Batin Arka.
Di dalam mobil saat perjalanan pulang, Tia tiba - tiba memeluk lengan Reyhan dan bersandar di bahunya.
"Mas Rey ... maafkan aku belum bisa mencintaimu," ucap Tia.
"Tidak apa - apa. Aku akan sabar menunggu," balas Reyhan sambil mengelus rambut Tia dan mengecup kening Tia singkat.
Arka semoga dengan terpisahnya jarak di antara kita, kamu bisa melupakan kenangan yang pernah ada di antara kita. Semoga kamu bisa melupakanku dan mencintai Jasmine. Sekarang kita adalah saudara ipar. Batin Tia.
***
Keesokan harinya seperti biasa, saat Reyhan bangun Tia sudah tidak ada di sampingnya. Dia keluar dari dalam kamar dan mendapati Tia yang sedang memasak di dapur.
Reyhan mendekati Tia dan memeluknya dari belakang lalu menaruh kepalanya pada bahu Tia. Reyhan menciumi leher Tia dan menghirup aroma tubuh Tia yang memabukkan sehingga membuat Reyhan tidak bisa jauh dari Tia.
"Selamat pagi sayang," sapa Reyhan dengan suara serak khas bangun tidur.
"Pagi juga, Mas ... " balas Tia dengan tersenyum.
"Sayang, tadi aku bermimpi buruk," ujar Reyhan tiba - tiba.
"Tidak usah dipikirkan Mas, mimpi hanya bunga tidur. Mungkin kamu terlalu kecapekan," balas Tia.
"Tidak, ini terlihat sangat nyata. Aku bermimpi melihat kamu bermesraan dengan Arka," ucap Reyhan dengan santai.
Deg, seketika jantung Tia berdetak lebih kencang. Keringat dingin keluar dari dahinya.
"Tidak usah dipikirkan Mas. Sekarang aku istrimu. Jangan khawatirkan hal yang tidak - tidak. Itu hanya mimpi. Lagipula sekarang Arka di Belanda," ujar Tia berusaha tersenyum.
"Iya, kamu benar sayang. Aku hanya berbagi cerita denganmu. Kenapa kamu berkeringat dingin?" tanya Reyhan menyeka keringat di dahi Tia.
"Mungkin karena capek memasak dan udara di sini panas karena dekat dengan kompor," balas Tia tersenyum paksa.
"Istirahatlah, jangan terlalu dipaksakan. Biar aku yang melanjutkan," ujar Reyhan mengambil alih masakan Tia.
"Aku ke dalam kamar dulu ya Mas," balas Tia sambil melepas celemeknya dan berjalan pergi ke dalam kamar.
Aku tidak bermimpi Tia. Aku hanya ingin melihat reaksimu. Aku curiga kamu ada sesuatu dengan Arka. Sejak pernikahan Jasmine, kamu dan Arka terlihat aneh. Kecurigaanku bertambah besar saat makan malam dan di bandara waktu itu, tapi aku percaya padamu. Batin Reyhan lalu tersenyum.