Dea Ekasari adalah seorang gadis yang dibuang sejak bayi oleh ayah kandungnya sendiri karena dianggap sebagai pambawa sial di dalam keluarga.
Dea yang masih bayi itu akhirnya dibawah pergi oleh Asisten Rumah Tangga orang tuanya ke sebuah desa yang terpencil.
Setelah berusia tujuh belas tahun, Dea kembali ke kota karena mendapatkan beasiswa disalah satu Universitas terbaik kota kelahirannya.
Ayah angkatnya juga kembali bekerja sebagai seorang sopir pribadi pada keluarga terpandang di kota itu.
Setahun kemudian majikan ayahnya tertarik pada puteri dari sopir pribadinya hingga ia memutuskan untuk menikahkan gadis itu dengan putera sulungnya.
Pernikahan itu tidak diinginkan oleh keduanya sehingga Rumah Tangga mereka tidak berlangsung lama dan terancam bubar.
Apakah Rumah Tangga mereka masih bisa dipertahankan? Ataukah mereka akan berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lala Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi
Seharian keluarga pak Rudy dan pak Ferdy mencari Dea kemanapun tapi tak menemukannya.
Leon kembali ke rumah mereka untuk memastikan ternyata tidak ada tanda-tanda kalau istrinya pulang.
Leon kembali membayangkan sikapnya yang selalu kasar dan merendahkan Dea, mereka hanya punya kenangan manis di Korea itu pun tidak lahir dari hati Leon. Bayang-bayang itu terus berkeliaran di pikirannya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ternyata telepon masuk dari Milla.
"Shittttt" gerutunya.
📞Halo
📞Kamu lagi ngapain?
📞Di kantor
📞Makan siang yuk
📞Maaf banyak kerjaan
Ucapnya seadanya saja.
Leon duduk di ranjang gadis itu dan melihat semua sudut kamar tidak ada apapun yang menarik di sana.
Iseng ia membuka nakas yang ada di samping tempat tidur itu ia menemukan black card yang ternyata tertinggal di sana.
Perasaannya semakin tak menentu. Ia memilih pulang ke rumah orang tuanya dengan membawa barang peninggalan gadis itu.
Hari sudah mulai malam, belum ada tanda-tanda Dea ditemukan. Bunda Ratih terus menangis ditemani mamanya Leon sedangkan papa Rudy dan pak Ferdy belum juga kembali.
"Bagaimana nak? Apa sudah ada informasi soal Dea?" tanya mamanya saat melihat Leon masuk.
Leon menggeleng dan memberikan black card itu kepada mamanya.
"apa ini?" tanya sang mama.
"Dia meninggalkannya di rumah" jawab Leon.
"Lalu dia makan apa? Pakai apa? Dan tinggal di mana? Apa kamu memberinya uang tunai selama ini?" tanya mama beruntun membuat bunda semakin terisak.
"Apa Dea punya teman selain nona Tri dan Merlin?" tanya bunda.
"Aku tidak tahu Bun tapi yang pasti dia hanya berteman sama Tri dan Merlin" jawab Leon senduh. Gadis yang selama ini dia abaikan kini benar-benar menghilang dari sisinya.
Leon masuk ke kamar, dia bingung mau cari Dea ke mana lagi karena tidak ada jejak sedikitpun.
Kamu di mana sekarang? Kembalilah walaupun bukan untukku tapi untuk ayah bundamu. Leon tahu bahwa kebenciannya lah yang membuat Dea pergi karena tidak ada tempat berlindung.
Leon keluar lagi dan ternyata papa Rudy serta pak Ferdy sudah kembali dengan tangan hampa.
mereka belum masuk ke dalam rumah karena masih membicarakan sesuatu.
"pak Ferdy kita tidak bisa diam saja, dan pergerakan kita jangan sampai diketahui oleh tuan Matheo jika itu terjadi, Dea ada dalam bahaya." ucap papa Rudy.
"Pa," ucap Leon namun sang papa yang terlanjur kecewa dengan putranya sama sekali tidak menjawab. Walaupun dia tahu hal ini akan terjadi namun dia juga tahu kalau putranya masih dengan gadis lain karena beberapa kali orang suruhannya mengirim informasi kepadanya.
Seandainya putranya benar-benar mencintai istrinya, otomatis gadis itu tidak akan pergi.
"Aku minta maaf ayah, papa." ucapnya merasa bersalah.
"Kesempatan yang papa berikan seperti sudah habis. Kamu bisa kembali ke luar negeri setelah proses perceraian jika Dea sudah ditemukan. Kalaupun dia hamil papa akan tetap mengembalikan dia kepada pak Ferdy dan istrinya" ucap papa tegas.
Deggg
******
Di tempat lain
Dea tidur tengkurap dan terus menangis walaupun tidak mengeluarkan suara agar tidak mengganggu orang yang sudah menolongnya.
Pagi-pagi sekali dia sudah bangun lebih dahulu.
"Selamat pagi kakak, apa aku bisa minta bantuan?" tanya Dea.
"Apa yang kamu inginkan" tanya gadis itu lembut.
"Bolehkah meminjamkan aku uang tunai? Aku mau menarik uang tapi takut ketahuan. Kaka boleh mengambil ponselku sebagai jaminan, nanti aku kembalikan. Aku janji" ucapnya terasa berat.
Gadis itu tidak keberatan namun dia takut jika keputusan gadis itu salah.
"Sebenarnya apa yang terjadi. Jika ada masalah sama orang tua, jangan pergi tanpa ijin, nggak baik soalnya" ucap gadis itu menasehati Dea.
Dea menarik nafasnya panjang.
"Sebenarnya aku bukan anak kandung ayah dan ibuku. Aku putri dari salah satu orang terkaya juga di kota ini tapi ternyata mereka membuangku sejak lahir" jelasnya menjedah.
"Lalu kenapa dengan orang tua angkatmu" tanya wanita itu tidak ingin menggali hingga persoalan yang paling privasi sehingga ia hanya bertanya seadanya saja.
"Papaku menginginkan aku mati. Namun akhir-akhir ini keberadaan aku kembali tercium di kota ini sehingga imbasnya orang tua angkatku yang cari. Aku nggak mau mereka jadi terseret dalam masalah hidupku" ucapnya dengan berat hati.
Gadis itu ingin bertanya siapa orang terkaya di kota ini yang tega membuang putrinya.
"Lalu kamu mau ke mana sekarang" tanya gadis itu.
"Aku hanya ingin pergi dari negeri ini agar orang angkatku hidup aman" jelasnya.
Gadis itu berpikir bahwa mungkin harus seperti itu, dia tahu Dea anak baik walaupun dulu awal masuk kuliah agak nyebelin dan keras kepala.
"Apa yang mau kamu lakukan di sana? Kamu pasti belum selesai kuliah juga" ucap gadis itu.
"Apapun itu aku akan kerjakan, entah ART sekali pun" jawab Dea mantap.
Gadis itu masuk ke kamarnya dan mengambil sesuatu dan tak lupa sebuah tas belakang sedang lalu memberikan kepada Dea.
"Ini ada beberapa pakaianku yang belum pernah aku pakai, mungkin kamu membutuhkan nanti dan di dalamnya ada sedikit uang tunai untuk biaya hidup sebulan ke depan." jelas gadis itu tanpa memberitahukan berapa nilainya.
"Terimakasih kak sudah baik sama aku. Ini kartuku dan ada sedikit uang yang mungkin bisa jadi jaminan dan ini ponselku" ucapnya mengeluarkan ponsel serta ATM nya dan menyodorkan kepada gadis itu, namun ditolak.
"Simpan saja. Dan ponsel itu masih kamu butuh nanti. Kamu orang baik dan suatu saat pasti kamu akan bertemu lagi denganku" ucap gadis itu dan Dea langsung memeluknya dan menangis. Ternyata Tuhan masih baik padanya, mengirimkan dia malaikat penolong walaupun keluarganya sendiri bahkan suaminya pun tidak menerimanya.
Gadis itu membantu Dea mengurus visanya. dia benar-benar mengurusnya sendiri karena Dea masih dalam masa persembunyian. Beberapa kali ia membawa Dea keluar tapi dia mendandani Dea sehingga tampil seperti orang lain yang tak dikenal hingga semua urusan selesai.
Setelah hampir satu Minggu semuanya jadi. Gadis itu mengantarkan Dea ke bandara untuk pergi ke tempat tujuannya.
"Hati-hati di sana. Suatu saat jika kita ketemu lagi, aku mau kamu sudah bahagia dan tidak menangis lagi. Buktikan pada orang yang sudah membuangmu kalau kamu bisa tanpa mereka" nasehat gadis itu. Dea memeluknya sekali lagi dan pergi sambil melambaikan tangannya.
Keduanya benar-benar berpisah. Dulu saling kenal hanya sebagai kakak senior dan Junior yang akhirnya saling menolong.
Dea benar-benar pergi dari hidup semua orang. Ponselnya dinonaktifkan dan untuk saat ini dia mau menenangkan pikirannya.
Jika aku tahu sejak awal, aku nggak akan mau berobat biar aku mati seperti yang mereka inginkan. Tapi saat ini aku bingung harus bagaimana? Ayah bunda pasti sedih. Batinnya sedih mengingat kebaikan ayah bunda walaupun sedikit kecewa karena tidak pernah bercerita soal kehidupannya yang sebenarnya.
Bersambung
dosa bertumpuk hanya ingin menjatuhkan sahabatnya haduh padahal Adipati ,,,biasa saja apa lagi sekarang punya pewaris tambah lagi kebahagian nya ,,,dan tambah banyak yang mendoakan yang terbaik 👍