Pernikahan yang terjadi karena perjodohan paksa dari kedua orang tua Aisyah membuat anaknya yang terbiasa hidup mewah menjadi istri seorang Kaspian, pria sederhana yang tidak diketahui latar belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BellaBiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S2 : Alex
Malam ini, Amo keluar dari kamarnya bersamaan dengan Amar. Mata mereka bertemu. Amar dengan jaket hitamnya siap untuk pergi. Amo dengan jaket levisnya juga akan pergi bersama Rendi.
"Mau ke mana lo?" tanya Amo.
Amar menempelkan jari telunjuknya di bibir. "Shuut!"
Bertepatan dengan itu, Aisyah dan Kaspian keluar dari kamar mereka. Amar kalang kabut karena takut ketahuan akan pergi pada malam hari. Hal itu adalah di luar kebiasaan Amar.
Amar tak sempat masuk kembali ke kamar, karena Aisyah dan Kaspian menoleh oada mereka.
"Mau ke mana?" tanya Aisyah pada kedua anak kembarnya tersebut.
"Mau beli cilok," jawab Amo.
"Iya! Mau nemenin Amo beli cilok," ucap Amar dengan cepat.
Amo menoleh pada abangnya tersebut. Amar benar-benar tidak pandai berbohong. Itu yang ada di otaknya.
"Mama sama Papa mau ke luar bentar. Kalian jangan lama-lama! Rumah nggak ada yang jaga!" ucap Aisyah memeluk lengan Kaspian dan pergi.
Amar menghela napas lega. "Kirain tadi abis berantem, nggak bakal jalan malam mingguan!" ucapnya.
"Kenapa lo bohong? Lo mau ke mana?!" bentak Amo.
"Lo juga mau ke mana?! Mau malam mingguan ya lo?!" Amar menuduh sebelum dituduh.
"Gue ada janji sama Alex! Kayaknya dia mau bales dendam. Gue udah siapain ini!" Amo menunjukkan pisau kecil yang ada di dalam kantong jaketnya.
Amar terbelalak melihat hal tersebut. "Jangan gila, Mo! Lo mau ngebunuh anak orang?!" pekik Amar.
"Buat jaga-jaga! Kalo dia macem-macem, gue siap!" ucap Amo. "Lo mau ke mana? Malam mingguan? Sama temen lo itu?" tanya Amo membuat Amar hendak tersenyum namun ia menahannya.
"Nggak malam mingguan sih. Gue mau ngajak dia nonton aja," ucap Amar tersipu malu.
"Nonton?! Mau ciuman ya lo?!" ketus Amo.
"Gila kali lo! Kita cuma mau refreshing aja!" omel Amar.
"Refreshing kan masih banyak tempat. Kalo bedua ke bioskop, pasti lo mau ciuman!" ketus Amo lagi.
~Pltak!
Amar menyentil telinga Amo. "Gue nggak ada niat begituan!" omelnya.
Amo tersenyum jahil.
"Tapi .... Gue coba aja deh ntar," ucap Amar sambil tertawa.
Amo langsung memukul lengan kembarannya tersebut. "Anak orang itu!" teriaknya.
"Lagian lo ada-ada aja! Gue nggak kepikiran tadinya. Gegara lo bilang gitu, kan gue jadi terinspirasi! Ha ha!" ucap Amar.
"Ya udah, serah lo aja! Gue mau ketemuan sama Alex!" Amo meninggalkan Amar terlebih dahulu.
***
Sesampainya di tempat pertemuan Amo dan Alex. Gadis itu tak menemui Alex di manapun. Yang ia temui malah Rendi bersama Nisa yang sedang makan seblak di pinggir jalan.
Amo terdiam sejenak. "Kok Rendi nggak bilang dia mau jalan sama Nisa?"
Amo mengeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan pada Rendi.
[Lo di mana?] tulis Amo.
[Di rumah. Gue males ke luar] balas Rendi.
Amo menatap Rendi dari kejauhan. Ia menelepon Rendi. Namun, pria itu menolak panggilannya. Amo terdiam melihat Rendi dan Nisa. Ia berniat untuk pulang, namun kehadiran Alex membuat gadis itu menghentikan langkah.
"Mo! Gue mau ngomong sesuatu ke lo!" ucapnya.
"Gue capek, Lex!" ucap Amo berlalu di hadapan Alex.
Alex menahan tangan gadis itu. Kini terasa berbeda. Amo melemah. Alex jadi tidak bersemangat.
"Lo yang mulai semua ini!" tegas Alex.
Amo menatap kedua bola mata Alex tanpa takut. "Lo yang bikin gue pindah sekolah!" ucap Amo.
Alex mengalihkan pandangan. "Gue suka sama lo!" ucap pria itu membuat Amo semakin mantap menatapnya.
"Gue nggak peduli. Mood gue lagi hancur," ucap Amo melepaskan genggaman Alex dengan pelan.
Alex mempererat genggamannya. "Gue serius!" ucapnya.
"Serius apa? Lo suka sama gue? Kenapa lo nyari masalah terus sama gue? Gue tau tujuan lo. Lo mau pacarin gue biar bisa deket sama Nisa lagi, kan? Basi banget!" ucap Amo dengan malas.
"Gue pacarin Nisa supaya gue bisa deket sama lo! Tapi deketin lo itu susah! Satu-satunya cara, ya ngajak lo berantem!" balas Alex.
"Gue nggak kepikiran buat pacaran, Lex! Lo suka sama cewek lain aja. Jangan sama gue!" ucap Amo dan berjalan pergi.
"Mo!" panggil Alex yang tak mendapatkan respons. Amo terus berjalan meninggalkannya. "Ya amjig! Masa gue ditolak? Nggak ada yang liat sih. Tapi, kalo Amo cerita ke temennya gimana? Aduh! Jatoh harga diri gue! Seorang Alex, ditolak Amo. Anjirr! Malu malu malu!"
***
Amo pulang dan kembali bertemu dengan Amar di depan pagar. Mereka berdua berwajah masam.
"Mooooo!!" Tiba-tiba Amar menangis di atas motornya.
"Kenapa lo?" tanya Amo.
"Harusnya gue nggak ngelakuin itu!" pekik Amar. "Bego banget sih gueee!" Pria itu memukul kepalanya sendiri.
"Kenapa?! Lo nyium cewe itu?!" tanya Amo lagi.
"Gue nembak dia tadi. Tapi ditolaaaaak!" jerit Amar dan air matanya benar-benar menetes.
Amo terkekeh melihat kejadian itu. "Tadi gue nolak cowok!" ucap Amo.
"Siapa?" tanya Amar.
"Alex," jawab Amo membuka pintu pagar.
"Bukannya lo mau berantem sama dia?" tanya Amar lagi.
"Nggak! Dia cuma ngajakin ketemuan. Gue bawa piso kan buat jaga-jaga aja. Ternyata dia mau nembak gue," jelas Amo.
"Kenapa lo tolak?! Lo nggak ngertiin perasaan laki-laki bener, Mo! Cowok walaupun kuat fisik, kalo soal hati, ya lebih rapuh daripada cewek! Lo nggak berperikemanusiaan! Pasti Alex lagi nangis-nangis kayak gue!" omel Amar.
"Dia nggak kayak lo, Mar!" bantah Amo dan melajukan motornya lebih dulu memasuki kawasan rumah. "Tutup pagarnya!" lanjut Amo.