Indonesia
NovelToon NovelToon
Melepaskan Pernikahan Toxic

Melepaskan Pernikahan Toxic

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami / Selingkuh / Mengubah Takdir
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kiki Putri

Pernikahan merupakah ibadah seumur hidup. Mendambakan kehidupan pernikahan yang bahagia layaknya di Surga adalah impian semua orang. Apa jadinya jika malah sebaliknya yang terjadi. Pertentangan tak henti, saling menyakiti, kehidupan pernikahan seperti Neraka penuh petaka, apa yang harus dilakukan? Tetap terkurung dalam Neraka atau mencari Surga lainnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiki Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jujur

Entah apa yang ada dalam pikiran Sabrina saat ini. Aku merasa begitu menyedihkan, saat ternyata selama ini akulah yang dibohongi Nanang.

"Ly, kamu sudah pulang?" Aku bahkan tak fokus untuk mendengar sapaan dari ibu.

"Eh, iya bu. Aku kurang enak badan bu." Saat ini aku berusaha menahan emosiku yang tengah memuncak.

"Ya udah kamu istirahat aja. Nanti ibu pergi sama kakak kamu saja ya." Astaga, aku lupa kalau sudah membuat janji dengan ibu akan mengantarkan beliau membeli bahan kue.

"Maaf ya bu." Ibu tersenyum dan menepuk lembut lenganku.

"Mandi, sholat, makan dan istirahat! Tadi ibu sudah masak sayur asem dan juga rendang." Ibu lalu berlalu meninggalkanku. Sepertinya ibu tahu aku sedang ada masalah.

"Mama. . . Mama udah pulang?" Ibnu berlari menyambutku yang masuk ke dalam kamar kami.

"Mama, Inu mau telepon papa. Inu kangen papa." Rengek Ibnu padaku. Tatapan tulus anakku membuatku tak tega untuk tidak mengabulkan permintaannya.

"Ya udah, mama mau mandi dulu. Inu telepon papa ya." Ku sodorkan ponsel pada Ibnu yang menyambutnya dengan suka cita setelah ku sambungkan dengan nomor telepon Ayahnya.

......................

"Ma, om Nanang kenapa masih telepon mama?" Aku terkejut. Aku lupa kalau Nanang bisa saja menghubungiku kapan saja setelah kejadian tadi.

"Iya kah sayang?" Aku yang sedikit gugup lekas meraih ponsel dari tangan Ibnu, tapi ternyata aku semakin dikejutkan oleh wajah yang tampak di layar ponselku.

"Mas?" Ibnu ternyata sedang melakukan video call dengan papanya.

"Nanang? Jadi nama pebinor itu Nanang." Ucap mas Reza dengan lantang dari seberang.

"Udah ya mas. Ibnu ngantuk, kapan-kapan teleponan lagi." Ku matikan sambungan seluler agar tak ada yang dapat menghubungi. Baik itu Nanang ataupun mas Reza. Rasanya sudah sangat jenuh menunggu mas Reza memutuskan hubungan denganku. Aku hanya ingin status kami secara negara menjadi jelas dan tanpa ikatan lagi kecuali menjadi papa dan mama Ibnu.

"Ma, pebinor itu apa?" Ternyata Ibnu memperhatikan percakapanku dengan papanya.

"Bukan apa-apa sayang. Ayo kita tidur." Aku memang gagal menjadi seorang istri dan anak yang baik, tapi aku akan berusaha untuk tidak gagal menjadi ibu yang baik untuk Ibnu.

"Mama, mama ceritakan dong waktu mama ketemu sama papa dulu. Kata Yeni, papa sama mamanya dulu ketemu di sekolah ma." Aku tercengang, kenapa anak kecil seumuran Ibnu sudah memertanyakan hal seperti ini.

"Mama sama papa ketemu di sekolah kakek. Tapi mama saat itu sudah mengajar di sana nak." Ucapku berusaha menjelaskan seadaanya.

"Papa nakal nggak ma?"

"Haha." Aku tertawa mendengar pertanyaan Ibnu.

"Iya nak, papa dulu nakal. Ucapku sedikit iseng." Seeprtinya Ibnu ingin mencari kemiripan dengan papanya.

"Papa udah pernah ngompol di celana ma?" Tanya Ibnu lagi dengan wajah lugunya.

"Sepertinya iya." Jawabku dengan ekspresi serius yang justru membuatku ingin tertawa terbahak-bahak membayangkan mas Reza mengompol di celana saat kami bertemu.

"Mama kenapa mulutnya di tutup? Mama mau ketawa? Tanya Ibnu yang melihatku begitu keras menahan tawa.

"Besok kalau Ibnu teleponan sama papa, Ibnu tanya sama papanya ya! Apa papa udah ngompol di celana waktu ketemu sama mama." Ucapku dengan wajah memerah menahan tawa.

"Sepertinya Ibnu memang ikutin papa ya ma. Ibnu kemarin ngompol dicelana ma." Ucap Ibnu dengan memasang ekspresi bersalah. Aku tersenyum.

"Ndak apa-apa sayang. Tapi mulai sekarang, kalau Ibnu mau buang air, Ibnu langsung izin sama bu guru ke kamar mandi ya." Aku mengerti, butuh keberanian untuk mengungkapkan hal itu dan sku harus membuat Ibnu untuk selalu nyaman bercerita padaku agar mencegah Ibnu untuk berbohong padaku. Mamanya akan menjadi teman, sahabat, dan kakak yang akan selalu setia untuk Ibnu. Dan kejujuran harus tetap diungkapkan walau sepahit apapun. Karena seringkali orang memilih kebohongan yang manis dibanding kejujuran yang pahit, seperti yang di lakukan Nanang padaku.

1
Murni Dewita
👣
Selviana
Aku sudah mampir nih kak.Jangan lupa mampir juga di karya aku yang berjudul (Terpaksa Menikah Dengan Kakak Ipar)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!