"Bunga Aster segar, kotak sarapan tanpa nama, dan pesan singkat dari nomor tak dikenal."
Selama berbulan-bulan, Nayshi dibuat bertanya-tanya oleh sosok secret admirer yang selalu memanjakannya diam-diam di tempat kerja. Di saat ia terbiasa dengan perhatian misterius itu, sebuah kejutan besar datang: sosok di balik topeng pengagum rahasia tersebut ternyata adalah Keenan Zaydan—CEO kaku dan dingin yang menjadi mitra proyek perusahaannya.
Pria yang di dunia bisnis terkenal kaku bak "kulkas dua pintu" itu ternyata bisa berubah sangat romantis, manis, dan pantang menyerah demi meluluhkan hati Nayshi. Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai saat Keenan tak lagi bersembunyi di balik layar, melainkan nekat melangkah langsung ke rumah Nayshi untuk berhadapan dengan orang tuanya.
Akankah Nayshi siap menyambut cinta sang CEO yang dulunya sembunyi-sembunyi, kini terang-terangan menunjukkan effort tanpa batas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Traay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Untuk Kamu
Setiap sudut ruangan itu seketika dipenuhi rasa hangat yang membuncah. Gelak tawa bertingkat ucapan syukur mengudara, menyatu dalam kelegaan yang luar biasa. Di tengah hangatnya suasana keluarga matanya dan mata Keenan saling bertaut. Pria itu menyunggingkan senyum paling tulus, binar matanya memancarkan rasa terima kasih yang tak terhingga atas jawaban dari Nayshi.
Pintu menuju masa depan yang baru saja dibuka lebar-lebar kin terasa kian nyata.
"Alhamdulillah, urusan pokok sudah beres. Ketok palu resminya tinggal tunggu perayaan di minggu pertama bulan depan," ujar Papah sambil terkekeh pelan, menepuk-nepuk bahu Ayah Keenan yang duduk tepat di sebelahnya.
Bunda tersenyum melihat calon mantunya, lalu mengusap punggung Nayshi lembut. "Nay, makasih ya Sayang.. Jawaban Kamu bikin perasaan Bunda benar-benar lega banget malam ini,"
"Sama-sama Bunda..." bisik Nayshi dengan senyum malu-malu, pipinya yang merona alami makin menambah kesan anggun dari dress marun yang dikenakannya.
"Nah, kalau begitu sekarang giliran Kita menikmati hidangan yang sudah disiapkan tuan rumah," seloroh Ayah sembari melirik cangkir teh hangat dan cemilan di atas meja.
"Silahkan dicicipi, tapi maaf ini camilannya sederhana cuma jajanan pasar," ucap Mamah mempersilahkan mereka semua untuk mencicipi.
"Ih, gapapa Jeng. Makanan seperti ini jarang tahu Kita nikmatin kalo ga ada acara," sahut Bunda sambil mengambil kue pisang salah satu camilan yang ada di sana.
"Bener banget. Camilan kayak gini udah jarang banget Saya makan, kalau ga ada acara ya ga makan camilan seperti ini," timpal Ayah sambil mereka terkekeh pelan.
Saat bapak-bapak membicarakan dekor dan tempat untuk menggelar acara tersebut, ibu-ibu juga sibuk membahas ketering dan beberapa hal lainnya. Namun, pikiran Nayshi memikirkan bagaimana Ia memberikan hadiah pada Keenan tanpa terkesan buru-buru atau terlalu kentara di depan kedua orang tua mereka.
Keenan yang sedang mencuri pandang pada Nayshi, Ia melihat Nayshi memainkan jarinya seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu. Keenan langsung memiringkan posisi duduknya sedikit. "Nona Daisy," panggil Keenan dengan setengah berbisik.
Nayshi yang mendengar Keenan memanggilnya langsung memiringkan sedikit posisinya. "Kamu kenapa? Seperti lagi memikirkan sesuatu." tanya Keenan dengan menatap dua mata hazel milik Nayshi.
"Emm... Bisa Ikut Aku sebentar? Aku mau memberikan sesuatu." sahut Nayshi dengan gugup dan malu-malu.
Keenan mengangkat sebelah alisnya, menguraikan senyum tipis yang penuh rasa penasaran. "Apa itu? Sekarang?"
Nayshi mengangguk cepat. "Iya. Tapi di teras luar aja, biar Aku ga di ledekin."
"Kalo kalian mau ngobrol berdua.Ngobrol aja, Ga perlu bisik-bisik gitu. iya kan, Pak Besan?" tegur Ayah yang menyadari interaksi mereka.
"Hahaha! kalau obrolan kalian ga mau di dengar, kalian ngobrol di teras gapapa. Dari pada bisik-bisik kayak maling," sahut Papah mengundang gelak tawa serta rasa malu Nayshi dan Keenan.
"Hehehe! Ya sudah kalo diizinkan. Aku izin bawa putrinya ke teras depan dulu, Om dan Tante," ucap Keenan sambil berdiri dengan menggenggam tangan Nayshi.
"Bener ya, teras depan? Jangan dibawa pulang tapi, belum sah soalnya," ledek Mamah.
"Hahaha! Iya, Tante. Kalau dibawa pulang, nanti Aku langsung ditinju sama Ayah dan Bunda," sahut Keenan sambil terkekeh pelan.
Nayshi reflek memukul pelan lengan Keenan. "Aduh! di-KDRT bagaimana nih, Om?" goda Keenan.
"Udah-udah, cepat sana Keenan! keburu calon mantu Bunda berubah jadi kepiting rebus," ucap Bunda membuat wajah Nayshi semakin merah merona.
Keenan dan Nayshi berjalan meninggalkan kedua orang tua mereka, saat sampai di depan tangga, Nayshi izin untuk naik sebentar. "Prince, Aku ambil barangnya dulu di kamar, Kamu tunggu dulu di teras,"
Keenan menganggukkan kepala dengan memberikan senyum manisnya. "Siap, Nona Daisy." jawab Keenan seraya melepaskan genggamannya perlahan.
Nayshi menaiki tangga dengan jantung berdebar, begitu sampai di kamarnya, Ia langsung menuju meja rias tepat boks marun dengan pita navy berada.
"Hufft! Semoga my Prince Daisy menyukainya," gumam Nayshi seraya memeluk boks itu sejenak.
Sementara itu Keenan sudah menunggu di teras. Suasana malam terasa begitu teduh dengan terpaan angin sepoi-sepoi. Ia duduk lesehan menatap langit malam dengan bulan dan bintang yang menghiasi.
Keenan tersenyum manis seraya mengarahkan pandangannya ke arah langkah kaki yang mendekatinya.
"Prince Daisy," panggil Nayshi sambil Ia mengambil posisi duduk di sebelah Keenan.
"Kamu mau kasih Saya apa?" sahut Keenan dengan menatap Nayshi serta senyum yang sangat manis terukir di bibirnya.
Nayshi menyodorkan boks marun dengan pita navy ke arah Keenan secara perlahan, matanya menunduk sebentar. "Ini, hadiah kecil dari Aku," ucap Nayshi lembut.
Keenan terpaku sejenak, matanya menatap boks di tangan Nayshi. Rasa haru dan terkejut bercampur jadi satu, Ia tak menyangka Nayshi akan memberikan sesuatu seperti yang Ia lakukan untuknya.
Nayshi memberanikan diri untuk menatap kedua mata Keenan. "Makasih ya, my Prince Daisy. Untuk selama satu tahun belakangan ini, sudah memperjuangkan Aku, sudah mau cari tahu tentang Aku, dan makasih untuk rasa aman, kasih sayang serta perlindungan yang luar biasa. Jujur Aku bingung mau balas pakai apa, jadi Aku membelikan hadiah kecil ini."
Keenan menerima boks itu dengan mata yang berkaca-kaca. Sentuhan beludru marun yang halus dan kerapian pita navy yang mengikatnya memperlihatkan berapa telitinya Nayshi dalam mempersiapkan hadiah ini.
Keenan menatap Nayshi dengan satu butir air mata jatuh di pipinya. "Tidak ada hadiah kecil, apapun yang Kamu berikan adalah suatu hal besar. Maaf Saya jadi terharu begini," ucap Keenan sambil Ia mengusap air matanya.
Nayshi yang melihat Keenan berkaca-kaca hingga air matanya jatuh, Ia juga ikut terharu. Namun, saat Keenan hendak membuka boks itu Nayshi langsung panik.
"Bukannya di rumah aja, ya!" pinta Nayshi dengan menahan tangan Keenan.
"Lho! kenapa? kan sama aja, mau buka sekarang atau nanti," sahut Keenan sedikit terkejut.
"Hmmm...Aku malu," ucap nayshi dengan menggigit bibir bawahnya.
Keenan yang gemas dengan ekspresi Nayshi, justru memiliki pikiran untuk menjahilinya. "Buka sekarang aja ah-"
Nayshi langsung menahan dan menatap Keenan dengan mata yang hampir copot. "Hahaha! panik ya?" goda Keenan dengan mencubit hidung Nayshi.
Nayshi langsung mengalihkan pandangannya. "eng-enggak, biasa aja kok," alibinya dengan pura-pura melihat sekeliling.
"Oh, biasa aja! ya udah Saya buk-" ledek Keenan dengan berpura-pura membukanya.
"Ih! jangan, Keenan!" ucap Nayshi ngegas dengan tangan Keenan Ia genggam untuk menahan.
"Keenan? oke, Saya buka sekarang," godanya lagi berusaha membuka dengan tangan yang ditahan oleh Nayshi.
"ihh! My Prince Daisy, jangan yaa!" ucap Nayshi dengan nada membujuk.
"Oke, siap Nona Nayshi! Tenang Saya akan buka di rumah, dan apapun barangnya Saya akan pakai setiap hari!" sahut Keenan dengan semangat.