Indonesia
NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:895
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 35] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

Deru mesin Kawasaki Merah itu membelah teriknya jalanan sebelum akhirnya menderu halus dan mati tepat di depan gerbang parkiran kampus. Farez mengusap peluh di dahinya, lalu melepas helm full-face dengan gerakan kasar. Deru napasnya masih memburu—bukan hanya karena hawa panas yang menyengat kulit, tapi juga karena sisa keletihan fisik seusai membereskan kekacauan bentrok antaranggota Inferno tadi subuh. Kekacauan yang berhasil membuat Wil—sang ketua—mengamuk hebat dan menjatuhkan hukuman menguras tenaga bagi mereka semua.

Farez melirik jam di pergelangan tangannya. "Sialan, dikit lagi tutup gerbang," umpatnya lirih. Suaranya berat, tertahan di dalam tenggorokan.

Ia melangkah terburu-buru melintasi selasar kampus. Namun, derap langkah sepatu ketsnya mendadak melambat. Di sepanjang koridor utama, nampak beberapa pasangan suami-istri paruh baya berdiri bergerombol. Raut wajah mereka pias, mata mereka sembap, dan jemari para ibu saling meremas saputangan dengan tubuh gemetar. Langkah-langkah mereka linglung, diselimuti aura kegelisahan dan ketakutan yang pekat.

Farez menaikkan sebelah alisnya, merinding kecil melihat tatapan kosong orang tua-orang tua itu. Ada apa, sih? batinnya. Tak ingin terlalu ambil pusing, Farez membuang muka, mempercepat langkah menuju ruang kelas Fakultas Hukum.

Ia mendorong pintu kelas, menyelinap masuk sembari mengembuskan napas lega.

"Tumben siang, Rez?" celeuk Winola, teman sebangkunya yang sedang bersedekap dada. Pandangan cewek itu penuh selidik, menatap baju kaos Farez yang agak kusut.

Farez menarik kursi kayu, mendaratkan tubuhnya yang pegal sembari mengusap leher belakangnya. "ohh, biasa... macetnya jalanan Jakarta nggak ada obat," bohong Farez datar. Matanya sengaja menatap lurus ke papan tulis, menghindari kontak mata.

Winola hanya mencibir pendek, tapi tak memperpanjang. Kelas pagi itu terasa jauh dari kata normal. Dengung bisik-bisik antar-mahasiswa terdengar sangat intens dan tajam. Atmosfer ruangan terasa berat, hingga pintu depan terdorong terbuka.

Pak Azhar melangkah masuk. Dosen Bahasa Inggris yang disegani—pria tegas bertubuh tegap yang menjabat Kepala Pusat Bahasa sekaligus Pembina UKM—hari ini tampak berbeda. Bahunya agak membungkuk, tangannya yang memegang spidol agak bergetar, dan sorot matanya dibayangi kecemasan hebat. Beliau tidak menyapa dengan salam seperti biasa.

Pak Azhar mencengkeram tepi meja dosen, mengedarkan pandangan yang gelisah ke seluruh penjuru ruangan.

"Maaf semuanya... sebelum memulai pelajaran, bisakah saya menanyakan sesuatu?" suara Pak Azhar bergetar tipis, memecah kesenyapan.

"Tanya apa, Pak?" sahut seorang mahasiswa dari baris depan dengan dahi berkerut bingung.

Pak Azhar membasahi bibirnya yang kering. "Apakah... anak-anak di Fakultas Hukum ini memiliki pergaulan yang dekat dengan anak-anak dari fakultas lain? Seperti Teknik, Seni, atau Ekonomi, misalnya? Apakah kalian sering nongkrong lintas fakultas akhir-akhir ini?"

Gumam keheranan seketika menyeruak di dalam kelas.

"Ya... punya sih, Pak. Kan anak kampus rata-rata punya teman beda fakultas," sahut mahasiswi di baris tengah sembari memiringkan kepalanya.

"Iya, Pak! Teman kosan saya banyak yang anak Seni. Kenapa emangnya, Pak? Ada razia?" timpal mahasiswa lain dari pojok belakang diiringi tawa kecil teman sebelahnya.

Pak Azhar memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas panjang dan berat yang terdengar sangat frustrasi.

"Begini..." kata Pak Azhar pelan. "Sebenarnya, awalnya pihak kampus mendeteksi ada keanehan. Seminggu lalu ada beberapa anak dari fakultas berbeda yang kedapatan bolos dalam mata pelajaran tertentu, di jam dan waktu yang persis sama."

Beberapa mahasiswa tersenyum tipis, meremehkan. "Yah, namanya juga kompak bolos bareng pacar kali, Pak," canda seorang cowok di baris kanan, memicu kekehan ringan dari sekitarnya.

Namun, tawa itu lenyap seketika. Ekspresi Pak Azhar sama sekali tidak cair. Wajah beliau makin membatu, dan pupil matanya membesar karena ketakutan yang tak lagi bisa disembunyikan.

"Saya harap ini hanya kasus bolos biasa..." potong Pak Azhar. Perkataannya meluncur dingin, membuat bulu kuduk Winola mendadak berdiri. "Namun, pandangan kepolosan itu berubah total sejak kemarin malam. Pihak kampus terpaksa mengubah status mereka... menjadi kasus orang hilang."

CEKLEK.

Suara pena jatuh terdengar nyaring di tengah keheningan mendadak.

"Ha?! Hilang, Pak?!" celetuk seorang mahasiswa, tubuhnya menegak kaku. Kata-kata sang dosen bagai hantaman martil yang menghancurkan suasana santai kelas.

"Maksudnya hilang gimana, Pak? Kabur dari rumah atau ikut ormas?" tanya mahasiswa ber-kacamata di baris tengah, suaranya naik satu oktav karena panik.

Pak Azhar menggeleng lemah, menyandarkan pinggulnya ke meja. "Adik saya adalah seorang kepala kepolisian yang memimpin investigasi kasus ini. Dari sudut pandang kepolisian, kasus ini terlalu rumit. Bukti yang ditemukan di lapangan justru mandek di satu titik... jejak mereka semua hilang pada waktu dan hari yang sama. Persis hari Rabu jam lima sore pekan lalu. Dan yang paling tidak masuk akal... seluruh CCTV di sekitar titik terakhir mereka mendadak mati bersamaan."

Darah Farez terasa mendadak dingin. Jalur CCTV mati? Di jam ramai kampus? Mana ada teknis begitu kalau bukan ulah profesional... atau sesuatu yang jauh lebih gelap, batin Farez mendadak waspada. Matanya menyipit tajam.

"Masa iya... hilang barengan?" bisik mahasiswi di sebelah Winola. Tangannya gemetaran saat mencengkeram tali tasnya. "Rabu jam lima sore kan kampus lagi ramai-ramainya. Nggak mungkin nggak ada saksi mata!"

"Iya, gila aja! Polisi aja sampai buntu?" temannya menyahut dengan bisikan histeris tertahan. "Ini penculikan masal atau gimana?!"

Dengan tangan yang tampak gemetar, Pak Azhar meletakkan sebuah flashdisk hitam di atas meja dengan bunyi klak yang kencang. "Adik saya meminta bantuan saya, dan saya meminta bantuan kalian. Karena kasus ini belum menemui titik terang sama sekali, saya akan membagikan file gambar daftar 14 anak yang hilang ini ke grup angkatan. Tolong periksa. Siapa tahu di antara kalian ada yang mengenali pergaulan mereka, atau tahu ke mana mereka pergi sebelum... lenyap."

Bzzzt.

Bzzzt.

Bzzzt.

Notifikasi ponsel bersahutan berturut-turut. Bunyi getaran itu terasa seperti alarm bahaya yang menusuk telinga. Layar-layar ponsel menyala terang di kegelapan kelas yang kini muram.

"Demi apa!..." Mahasiswi di baris depan mendadak menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak lebar menatap layar ponselnya. "Ini... ini Dimas anak Senat Teknik, kan?! Pak! Saya sering lihat dia di kantin! Dia orangnya aktif banget, nggak mungkin kabur atau bolos sampai hilang begini, Pak!"

"Bentar, bentar!" mahasiswa berkacamata menyela, menyisir rambutnya yang berantakan dengan raut pias. "Rabu jam lima sore? Pak, hari Rabu jam segitu kan kelas kita baru bubar! Koridor lantai dua ini ramai banget. Masa iya ada orang hilang di jam sibuk kampus dan nggak ada satu orang pun yang lihat?! Ini... ini nggak masuk akal, Pak!"

Di baris belakang, ketakutan mulai mewabah.

"Eh, lihat foto yang ini..." bisik cowok di pojok belakang ke teman sebelahnya. Wajahnya pucat pasi, bibirnya bergetar. "Ini anak Fakultas Ekonomi yang kosannya seberangan sama aku. Pantesan... pantesan dari Kamis lalu bapak kosnya nyariin dia karena nggak balik-balik. Aku kira dia lagi nginep di rumah temennya. Ternyata..."

"Serius kamu?!" balas temannya cepat, napasnya memburu kencang. "Gila... kalau polisi aja sampai buntu dan minta bantuan kita, berarti ini bukan kasus penculikan biasa, kan? Gimana kalau targetnya emang anak kampus kita secara acak?!"

"Tapi Pak!" seorang mahasiswa dekat jendela mendadak berdiri, membenturkan telapak tangannya ke meja. "Masa dari belasan anak ini, pihak rektorat atau dekanat nggak ada yang ngasih pengumuman resmi sama sekali ke kita?! Kita benar-benar nggak tahu apa-apa kalau Bapak nggak cerita sekarang! Ketutupan banget!"

Pak Azhar tersentak, dadanya naik-turun. Beliau membuka mulutnya, bersiap memberikan pembelaan—

BRAK!

Pintu kelas terdorong kasar hingga menghantam dinding. Seluruh pasang mata meloncat kaget.

Seorang dosen wanita melangkah masuk dengan napas tersengal-sengal. Wajahnya pucat bagai mayat, matanya sembap merah memancarkan keputusasaan yang begitu pekat. Kehadirannya seketika menyedot seluruh udara di ruangan itu, meremukkan protes mahasiswa tadi menjadi keheningan total yang mencekam.

Dosen wanita itu setengah berlari mendekati meja Pak Azhar. Dengan suara parau yang nyaris pecah, dia memegang lengan baju Pak Azhar tanpa peduli pada puluhan mahasiswa yang menonton.

"Pak Azhar..." bisiknya hysteris, air mata menetes mengaliri pipinya. "Tolong katakan pada saya... apa adik Anda di kepolisian sudah menemukan titik terang? Apa ada jejak sekecil apa pun tentang anak-anak kita yang hilang?"

Seisi kelas menahan napas. Suara detak jarum jam dinding mendadak terdengar begitu keras.

Pak Azhar hanya terdiam. Bahunya meluruh layu. Perlahan, beliau menggelengkan kepala dengan sangat pelan—sebuah gestur bisu yang meremukkan sisa harapan di ruangan itu.

Dosen wanita itu menutup wajahnya, terisak pelan dalam kehancuran. "Ya Tuhan... Saya sudah tidak tahu harus menjawab apa lagi ke media dan keluarga mereka, Pak... Sejak kemarin, saya berkali-kali didatangi oleh wali dan orang tua murid. Mereka menangis tersungkur di ruangan saya, meminta kejelasan dari pihak kampus..."

Dia mengusap dadanya yang terasa sesak, suaranya melengking tinggi karena emosi yang meluap. "Tapi kita bisa apa?! Pihak kampus sendiri dari awal menahan informasi karena mengira anak-anak yang hilang tersapu itu adalah para pembolos yang handal! Karena reputasi bolos mereka, kampus mengira mereka hanya main-main di luar dan mempersulit investigasi! Kami tidak punya data apa-apa untuk membantu orang tua mereka!"

Kedua dosen itu berdiri mematung di depan kelas, saling tatap dalam jurang ketidakberdayaan yang amat sangat.

Di baris belakang, Farez mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Hatinya mencelos. Rasa bingung yang tadinya memenuhi ruangan kini bermutasi menjadi teror dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum.

Kenyataan pahit itu menghantam mereka semua tanpa ampun,Pihak kampus bukan sekadar menutup-nutupi... tapi mereka sendiri sama buta, bodoh, dan tidak berdayanya dengan para mahasiswa.

Farez melirik ponselnya yang masih menyala, menampilkan foto-foto 14 mahasiswa yang lenyap bagai ditelan bumi. Pikiran-pikiran liar melintas cepat di kepalanya—tentang Wil, Nazmi, dirinya, dan seluruh siswa-siswi di angkatan berbeda.

Jika 14 orang bisa dihilangkan tanpa jejak di tengah keramaian kampus... siapa yang bisa menjamin bahwa salah satu dari mereka di ruangan ini tidak akan menjadi target pembantaian senyap berikutnya?

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!