Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.
Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.
Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.
Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?
Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Menjadi Tentara Bayaran
Chongyue menunduk dan melirik pakaian yang dikenakannya. Sudut bibirnya berkedut pelan.
Haruskah dia menjelaskan kepada paman tadi bahwa sebenarnya dia sedang sangat membutuhkan uang?
Dia menghela napas kecil sebelum mengalihkan pandangannya ke meja pendaftaran dan berjalan kesana.
Petugas di meja pendaftaran adalah seorang pria dewasa.
Saat melihat Chongyue, kilatan keterkejutan melintas di matanya. Namun, sikapnya tetap sopan dan tidak menunjukkan sedikit pun perilaku kurang ajar.
“Nona Muda, apakah kau ke sini untuk mendaftarkan diri sebagai tentara bayaran?” tanyanya dengan ramah.
“Benar.” Chongyue mengangguk.
“Kalau begitu, silakan isi formulir ini terlebih dahulu.” Petugas itu mengambil selembar formulir pendaftaran, lalu menyerahkannya kepada Chongyue.
Chongyue menerimanya dan mengamatinya sejenak.
Isinya tidak berbeda jauh dari formulir pendaftaran biasa. Terdapat kolom alamat, nama lengkap, serta beberapa informasi dasar lainnya.
Setelah membacanya, dia mengambil kuas dan hendak menuliskan namanya. Namun, jemarinya tiba-tiba berhenti.
Dia tidak mungkin menggunakan nama aslinya untuk saat ini.
Setelah mempertimbangkannya sejenak, dia akhirnya menuliskan nama Chongye pada kolom nama lengkap.
Dia sengaja membiarkan kolom alamat dan informasi pribadi lainnya tetap kosong.
Setelah menyerahkan kembali formulirnya kepada petugas, dia bertanya, “Apakah seperti ini saja sudah cukup?”
Petugas menerimanya dan memeriksanya sejenak.
Meskipun Chongyue hanya mengisi bagian nama, aturan serikat memang tidak mewajibkan para pendaftar mencantumkan seluruh identitas asli mereka.
Petugas itu mengangguk ramah. “Ya, ini sudah cukup.”
Kemudian, dia membawa formulir pendaftaran ke ruang administrasi.
Tidak lama kemudian, dia kembali sambil membawa sebuah kartu nomor berbahan kuningan.
“Ini kartu nomormu. Tanda pengenal resmi sebagai tentara bayaran baru akan selesai diproses dalam waktu tiga hari. Kau bisa datang kembali untuk mengambilnya nanti,” jelas petugas itu. “Tentu saja, meskipun belum memiliki tanda pengenal resmi, kau sudah bisa menjalankan misi. Cukup tunjukkan kartu nomor ini kepada petugas di papan pengumuman.”
“Baik, terima kasih.” Chongyue menerima kartu nomor kuningan tersebut, lalu berbalik dan berjalan ke papan pengumuman misi.
Hari sudah semakin larut.
Area di sekitar papan pengumuman misi terlihat cukup sepi.
Chongyue mulai mengamati deretan tugas yang terpajang di sana.
Petugas muda yang menjaga papan pengumuman sejenak tertegun melihat kecantikan Chongyue, tetapi dia segera menenangkan dirinya dan kembali bersikap profesional.
“Nona, tugas-tugas di papan ini khusus untuk tentara bayaran. Silakan tunjukkan kartu nomor atau tanda pengenal tentara bayaranmu terlebih dahulu.”
Chongyue mengeluarkan kartu nomor kuningan yang baru didapatkannya.
Setelah memeriksanya, petugas itu mengangguk. “Kau memang sudah terdaftar dan boleh mengambil tugas apa pun. Namun melihat penampilanmu, sepertinya kau belum berpengalaman dalam hal ini. Akan jauh lebih aman jika kau memilih beberapa tugas tingkat rendah terlebih dahulu.”
“Terima kasih atas nasihatmu.” Chongyue mengangguk ramah, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke papan pengumuman.
Dua lembar pengumuman misi langsung menarik perhatiannya.
Misi pertama adalah mengumpulkan dua puluh inti binatang spiritual tingkat enam dengan hadiah total dua ribu koin emas. Setiap inti binatang spiritual tingkat enam bernilai seratus koin emas.
Sedangkan misi kedua adalah mendapatkan satu inti binatang spiritual tingkat sepuluh dengan imbalan fantastis sebesar sepuluh ribu koin emas.
Satu inti binatang tingkat tinggi memiliki nilai yang setara dengan puluhan inti binatang tingkat menengah.
Kedua misi tersebut sama-sama memiliki batas waktu pengerjaan selama setengah bulan.
Selama beberapa hari terakhir, Chongyue telah mempelajari hierarki kekuatan binatang spiritual di benua ini.
Jika ingin bertarung dengan binatang spiritual tingkat sepuluh, setidaknya kau harus menjadi seniman bela diri tingkat sepuluh agar menandinginya secara seimbang. Siapa pun yang berada di bawah tingkat sepuluh disarankan untuk tidak memprovokasi binatang spiritual tingkat sepuluh jika masih menyayangi nyawanya.
Namun, Chongyue justru merupakan tipe orang yang suka menantang batas kemampuannya sendiri.
Tanpa ragu, dia menarik lembaran misi dengan hadiah sepuluh ribu koin emas tersebut dari papan pengumuman.
Petugas penjaga terkejut.
Dia hendak memperingatkan Chongyue, tetapi gadis itu sudah lebih melangkah pergi sambil membawa lembaran misi tersebut.
Setelah keluar dari gedung cabang Serikat Tentara Bayaran, Chongyue segera membeli seekor kuda tunggangan dan langsung memacunya menuju pegunungan.
Di sekitar wilayah Kerajaan Dong, binatang-binatang spiritual tentunya hanya ada di kawasan pegunungan.
Meskipun populasi binatang spiritual di pegunungan cukup banyak, keberadaan binatang spiritual tingkat sepuluh sangatlah langka.
Terlebih lagi, Chongyue hanya memiliki waktu setengah bulan.
Karena itu, dia terus memacu kudanya tanpa berhenti.
Ketika akhirnya tiba di kaki pegunungan, waktu sudah melewati tengah malam.
Malam merupakan waktu ketika banyak binatang spiritual keluar berburu mangsa. Pada saat yang sama, itu juga menjadi waktu paling berbahaya di dalam hutan.
Karena tidak ingin mengambil risiko yang tidak perlu, Chongyue memilih untuk tidak langsung menerobos masuk.
Dia menunggu di pinggiran hutan hingga fajar menyingsing.
Begitu pagi tiba, barulah dia mulai melangkah masuk ke dalam hutan.
Sesekali beberapa binatang buas biasa melintas di antara semak-semak, tetapi Chongyue belum menemukan satu pun binatang spiritual.
Beberapa hari kemudian...
Setelah menjelajahi wilayah pegunungan selama beberapa hari, Chongyue memang bertemu dengan cukup banyak binatang spiritual, tetapi tidak ada yang berada di tingkat sepuluh.
Di tengah perjalanan, Chongyue membunuh seekor serigala angin tingkat dua. Dia kemudian menyalakan api dan mulai memanggang dagingnya untuk mengisi perutnya yang kelaparan.
Namun baru setengah jalan memanggang daging, permukaan tanah di sekitarnya tiba-tiba bergetar hebat.
Chongyue segera menghentikan gerakannya.
Getaran sekuat ini jelas bukan disebabkan oleh pergerakan binatang spiritual biasa.
Memikirkan hal itu, dia dengan lincah memanjat sebuah pohon tua yang tinggi, lalu menoleh ke arah depan.
Tertutup oleh lebatnya pepohonan, dia hanya bisa melihat samar-samar sesosok binatang berukuran raksasa yang sedang bergerak mendekat.
Dia belum bisa memastikan jenis binatang apa itu. Namun ketika binatang raksasa itu semakin mendekat, Chongyue akhirnya melihat wujudnya dengan jelas.
Ukuran tubuhnya jauh lebih besar daripada harimau biasa.
Bulunya bukan corak harimau pada umumnya, melainkan berwarna hitam pekat dan mengilap, menyerupai zirah besi. Di bagian dahinya terdapat sebuah corak bintik putih yang sangat menonjol.
Melihat corak itu, senyum tipis muncul di wajah Chongyue.
Binatang spiritual tingkat sepuluh!
Bintik putih itu merupakan tanda khusus yang dimiliki binatang spiritual tingkat sepuluh.
Setelah bersusah payah mencarinya selama berhari-hari, targetnya malah muncul sendiri.
Namun meskipun sudah berada tepat di depan matanya, Chongyue tidak bertindak gegabah dengan melancarkan serangan langsung.
Dia memilih untuk mengawasi dari kejauhan.
Setelah binatang tersebut melahap sisa daging serigala di tanah, Chongyue mulai mengikutinya secara diam-diam dari belakang.
Bertarung secara terbuka dalam jarak dekat melawan binatang spiritual tingkat sepuluh?
Bagi dirinya yang saat ini baru berada di tingkat seniman bela diri tingkat empat, tindakan seperti itu sama saja dengan menyerahkan nyawanya secara cuma-cuma.
Dia harus menggunakan akal dan siasat.
Saat Chongyue sibuk mengikuti targetnya dari atas pepohonan, dia sama sekali tidak menyadari bahwa seekor binatang kecil berbulu putih salju juga diam-diam mengikutinya dari belakang.
Binatang spiritual tingkat sepuluh itu berjalan cukup jauh sebelum akhirnya memasuki sebuah gua batu yang cukup besar.
Chongyue baru keluar dari persembunyiannya setelah memastikan targetnya benar-benar menetap di dalam.
Dia menghela napas panjang.
Ternyata di sinilah sarangnya. Tidak heran aroma daging panggang yang dibuatnya tadi mampu memancing binatang itu keluar.
Chongyue menatap langit.
Hari masih cukup siang.
Setelah berpikir sejenak, dia memutuskan untuk mencari makanan terlebih dahulu dan baru kembali melancarkan aksinya ketika malam tiba.
Ketika sedang mencari bahan makanan di sekitar hutan, tanpa sengaja dia menemukan dua tangkai Rumput Pemikat Binatang.
Chongyue berdiri membisu di samping tanaman obat itu dan tenggelam dalam pikirannya.
Rumput Pemikat Binatang merupakan jenis tanaman obat khusus yang mampu membangkitkan gairah kawin pada binatang buas secara drastis.
saya ingin sekali mencabik Xuan meng😡