Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Kedua Di Atas Luka

Cinta Kedua Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:41.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.

Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.

Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.

Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35

Suasana taman belakang Mansion Narendra siang itu terasa begitu menyenangkan. Hamparan rumput hijau yang terawat rapi berpadu dengan bunga-bunga berwarna-warni yang tumbuh di sepanjang tepian taman. Angin sepoi-sepoi menggoyangkan dedaunan, sementara cahaya matahari yang hangat menembus celah-celah pepohonan tinggi yang mengelilingi halaman belakang mansion.

Di tengah taman, Farel tampak begitu bersemangat memainkan beberapa mobil-mobilan yang baru saja dikeluarkan Jovan dari kotak mainannya. Bocah berusia empat tahun itu berjongkok di atas karpet kecil yang sengaja dibentangkan di atas rumput, menyusun mobil-mobilannya seolah sedang mempersiapkan sebuah perlombaan besar.

Sementara itu, Jovan duduk bersila tidak jauh dari Farel. Pria yang biasanya menghabiskan waktunya di lintasan balap atau garasi itu kini terlihat begitu santai menemani bocah kecil tersebut. Sesekali, ia ikut menggerakkan mobil-mobilan Farel, membuat suara mesin dengan mulutnya hingga bocah itu tertawa terbahak-bahak.

"Vrooom! Ayo, mobil Om Jovan menyalip mobil Farel!" seru Jovan sembari menggerakkan mobil sport berwarna merah.

"Enggak boleh! Mobil Farel yang menang!" protes Farel, kemudian segera mendorong mobil birunya dengan cepat.

"Baiklah, kita lihat siapa yang sampai duluan di garis finis!"

Farel semakin bersemangat. "Farel pasti menang! Farel pembalap hebat!"

Tuan Marcell yang duduk di bangku taman tak jauh dari mereka tertawa melihat tingkah keduanya. Ia sama sekali tidak menyangka putranya yang dahulu begitu sulit diajak menghabiskan waktu bersama keluarga kini justru terlihat begitu menikmati kebersamaan dengan seorang anak kecil.

Serina sendiri duduk di samping Tuan Marcell. Wanita itu tersenyum bahagia menyaksikan Farel tertawa lepas bersama Jovan. Sesekali, ia mengambilkan minuman untuk putranya dan memastikan bocah itu tidak terlalu lama bermain di bawah sinar matahari.

"Sepertinya Farel benar-benar menyayangi Jovan," ujar Tuan Marcell sambil tersenyum.

Serina mengangguk pelan. "Iya, Pah. Farel memang sangat dekat dengan Jovan. Sejak awal bertemu, Jovan selalu berusaha membuat Farel bahagia."

"Dan Papah senang melihatnya. Jovan memang membutuhkan seseorang yang bisa membuatnya lebih memahami arti keluarga."

Serina menoleh kepada pria paruh baya itu. "Jovan sebenarnya memiliki hati yang baik, Pah. Hanya saja, mungkin selama ini dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri."

Tuan Marcell tersenyum penuh arti. "Kamu benar. Papah juga menyadari bahwa selama ini ada banyak hal yang seharusnya Papah lakukan untuk Jovan, tetapi justru terabaikan. Karena itu, Papah berharap kehadiranmu dan Farel bisa membuatnya semakin bahagia."

Serina terdiam sejenak. Ia dapat merasakan ketulusan dalam ucapan mertuanya tersebut.

"Serina akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Jovan, Pah."

"Papah yakin kamu bisa. Jangan terlalu membebani dirimu sendiri. Kalian berdua masih harus banyak belajar untuk saling memahami."

Serina mengangguk sambil tersenyum.

Tak lama kemudian, Jovan menghentikan permainan ketika Farel mulai meminta minum. Ia mengambil botol air mineral yang tersedia di dekat karpet, lalu membukakan tutupnya untuk bocah itu.

"Minum dulu, jagoan. Jangan sampai kehausan."

Farel menerima botol tersebut dengan kedua tangan. "Terima kasih, Om Jovan!"

"Sama-sama."

Jovan kemudian mengacak rambut Farel dengan lembut. Saat itulah ponsel yang diletakkan di saku celananya tiba-tiba berdering.

Pria itu merogoh sakunya dan melihat nama Leo tertera di layar ponsel. Ia pun segera mengangkat panggilan tersebut.

"Halo, Leo. Kenapa, Bro?"

Suara Leo langsung terdengar dari seberang dengan nada bersemangat.

"WOI, JOVAN! Akhirnya diangkat juga telepon gue. Lo lagi sibuk apa, sih?"

Jovan terkekeh. "Lagi santai di taman. Ada apa?"

"Gue mau kasih tahu sesuatu. Tim balapan dan anak-anak yang lain sudah sepakat buat mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan pernikahan lo!"

Jovan mengangkat alisnya. "Pesta pernikahan?"

"Iya, lah! Memangnya lo pikir kami bakal diam saja setelah pembalap kebanggaan tim kita akhirnya menikah? Ini momen langka, Van! Si Bad Boy yang dulu paling anti ngomongin pernikahan sekarang sudah punya istri!"

Jovan menggeleng sambil tertawa kecil. "Dasar lo, Leo. Ada-ada saja."

"Pokoknya, kami sudah menyiapkan semuanya. Anak-anak tim juga ingin bertemu langsung dengan Serina. Mereka penasaran sama perempuan yang berhasil membuat lo berubah total!"

Jovan melirik ke arah Serina yang sedang duduk bersama ayahnya. Wanita itu tampak memperhatikan dirinya, seolah ingin mengetahui siapa yang sedang menelepon.

"Jadi, kalian mengundang Serina juga?" tanyanya memastikan.

"Tentu saja! Dia kan istri lo. Justru kami ingin kenalan langsung dan memberikan ucapan selamat kepada kalian berdua."

Jovan tersenyum tipis. Ia kemudian berdiri dan melangkah mendekati Serina, sementara Farel masih asyik memainkan mobil-mobilannya bersama Tuan Marcell.

"Pokoknya nanti malam gue tunggu di Klub Paradise, ya! Jangan sampai lupa. Jam delapan malam kalian sudah harus ada di sana," ujar Leo dengan nada tegas.

Jovan tertawa. "Santai saja, Bro. Gue dengar dulu."

Namun, Leo justru menaikkan nada suaranya, seolah sengaja mengancam sahabatnya itu.

"Pokoknya nanti malam gue tunggu di Klub Paradise, ya! Awal saja kalau elo enggak datang nanti malam!"

Jovan mendengus geli. "Memangnya lo mau ngapain kalau gue enggak datang?"

"Jangan macam-macam, Jovan! Gue bisa datang langsung ke mansion dan menyeret lo ke klub!"

"Berani banget lo mengancam bos sendiri."

"Bos apaan? Di depan gue, lo tetap Jovan yang dulu, si Bad Boy yang susah diatur!"

Jovan kembali terkekeh. Ia lalu melirik Serina yang kini berdiri di dekatnya. Wanita itu menatapnya dengan ekspresi bertanya-tanya. Jovan menutup bagian bawah ponselnya sejenak, kemudian berbicara pelan kepada istrinya.

"Leo mengundang kita makan malam bersama tim balapan dan teman-teman yang lain. Katanya, mereka ingin merayakan pernikahan kita."

Serina sedikit terkejut. "Malam ini?"

Jovan mengangguk. "Iya. Tapi kalau kamu tidak nyaman, kita tidak perlu datang. Aku bisa menjelaskan kepada mereka."

Serina terdiam sejenak. Ia tahu kehidupan Jovan tidak hanya berkutat pada keluarga. Sebagai seorang pembalap terkenal, Jovan memiliki tim, sahabat, dan lingkungan pergaulan yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya. Kini, setelah resmi menjadi istrinya, Serina merasa perlu mengenal dunia tersebut secara perlahan.

Sebelum Serina sempat menjawab, Tuan Marcell yang sejak tadi mendengar percakapan mereka langsung menyahut.

"Sudah, kalian berangkat saja nanti malam. Biar Farel bersama Daddy di rumah."

Jovan menoleh kepada ayahnya. "Apa Daddy yakin bisa menjaga Farel?"

Tuan Marcell tertawa kecil. "Tentu saja. Memangnya Daddy tidak bisa menjaga cucu sendiri?"

"Jovan bukan begitu, Dad. Aku hanya khawatir Farel akan merepotkan Daddy."

"Enggak, Om Jovan!" sela Farel yang rupanya mendengar namanya disebut. Bocah itu segera bangkit dan berlari menghampiri mereka. "Farel enggak akan merepotkan Kakek!"

Jovan berjongkok di hadapan Farel. "Memangnya kamu mau ditinggal Om dan Bunda malam ini?"

Farel mengangguk penuh semangat. "Mau! Farel mau main sama Kakek. Nanti Farel juga mau main sama Om Darren!"

Tuan Marcell tersenyum. "Kebetulan hari ini Darren pulang lebih awal. Tadi, sebelum berangkat bertugas, dia sempat bilang kepada Daddy kalau sore nanti tidak ada urusan mendesak di kantor. Jadi, kalian tidak perlu khawatir. Farel akan ditemani Daddy dan Om Darren."

"Benar, Kek? Om Darren mau main sama Farel?" tanya Farel antusias.

"Benar, Sayang. Nanti Kakek juga akan meminta Om Darren menemanimu bermain."

Farel langsung bersorak gembira. "Hore! Farel mau main mobil-mobilan sama Kakek dan Om Darren!"

Jovan menghela napas lega. Ia menoleh kepada Serina, meminta pendapat istrinya melalui tatapan mata.

Serina tersenyum kecil, lalu mengangguk. "Tidak apa-apa, Jovan. Kita datang saja. Mereka sudah meluangkan waktu untuk merayakan pernikahan kita. Aku juga ingin mengenal teman-temanmu."

Jovan menatap Serina dengan lembut. "Kamu yakin? Tempatnya mungkin akan cukup ramai."

"Aku akan baik-baik saja. Lagi pula, aku harus mulai terbiasa dengan lingkunganmu, bukan? Sekarang aku istrimu. Aku ingin mengenal orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari kehidupanmu."

Senyum Jovan semakin mengembang. Ada rasa bahagia yang sulit ia sembunyikan mendengar kesediaan Serina untuk melangkah memasuki dunianya.

"Terima kasih, Sayang."

Serina sedikit tersipu mendengar panggilan itu. Ia menundukkan wajah, sementara Jovan tersenyum jahil melihat reaksinya.

Tuan Marcell yang menyaksikan interaksi keduanya hanya bisa tersenyum puas. Ia merasa lega karena Jovan dan Serina mulai membangun kedekatan dengan cara mereka sendiri, tanpa ada paksaan di antara keduanya.

Jovan kembali menempelkan ponsel ke telinganya.

"Leo, dengar, ya. Kami datang malam ini."

"NAH, GITU DONG!" seru Leo dengan suara keras hingga Jovan sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga. "Gue tunggu kalian jam delapan. Jangan telat, apalagi sampai batal!"

Jovan terkekeh. "Iya, bawel. Jam delapan malam gue dan Serina meluncur ke sana."

"Bagus! Sampaikan salam gue buat Serina. Bilang juga, kami sudah enggak sabar bertemu dengan istri pembalap paling terkenal sekaligus paling susah diatur ini!"

"Siap, Bos!" jawab Jovan dengan nada mengejek.

"Eh, satu lagi, Jo!"

"Apa lagi?"

"Jangan lupa pakai baju yang rapi. Malam ini lo bukan cuma datang sebagai pembalap, tapi juga sebagai pengantin baru!"

Jovan tertawa lepas. "Iya, Leo. Gue tahu. Sudah dulu, ya. Gue mau lanjut main sama Farel."

"Baiklah. Sampai ketemu nanti malam!"

Panggilan pun terputus.

Jovan memasukkan ponselnya ke dalam saku, kemudian kembali menghadap Serina. Ia meraih tangan wanita itu dengan hati-hati, memberikan senyum hangat sebelum akhirnya melepaskannya kembali.

"Jadi, malam ini kita punya acara," ucapnya.

Serina mengangguk. "Iya. Tapi sepertinya aku harus menyiapkan pakaian yang pantas."

"Jangan khawatir. Kalau kamu mau, nanti kita bisa memilihnya bersama."

"Baiklah."

Tuan Marcell berdiri dari bangku taman, lalu mendekati Farel yang kembali sibuk dengan mobil-mobilannya.

"Kalau begitu, nanti malam Farel jadi teman Kakek, ya?"

Farel mengangguk cepat. "Iya, Kek! Tapi Kakek harus ikut balapan sama Farel!"

Tuan Marcell tertawa. "Wah, kalau begitu Kakek harus latihan dulu supaya tidak kalah."

Jovan ikut tertawa melihat tingkah mereka. "Kalau Kakek kalah, jangan salahkan Om Jovan, ya. Soalnya Farel memang pembalap hebat."

"Om Jovan juga harus kalah!" seru Farel polos.

"Baiklah, nanti kita balapan lagi."

Serina tersenyum menyaksikan kebersamaan mereka. Untuk sesaat, ia merasa kehidupan yang dahulu terasa begitu berat kini perlahan memberinya ruang untuk kembali tersenyum. Meski bayangan Riki akan selalu menjadi bagian dari hidupnya, Serina mulai memahami bahwa ia juga berhak membangun kebahagiaan baru.

Sementara itu, Jovan memandang Serina dengan penuh harapan. Malam nanti, ia akan memperkenalkan istrinya kepada orang-orang yang selama ini mengenalnya sebagai pembalap yang keras kepala dan sulit diatur. Ia ingin mereka melihat sendiri bahwa kini ada seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya.

Dan tanpa disadari Jovan, malam itu mungkin akan menjadi awal dari babak baru dalam kehidupan rumah tangganya bersama Serina.

Bersambung...

1
vania larasati
lanjut kak
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Semoga itu jodohnya Daren 👍
Nar Sih
jodoh mu sdh otw ya daren
Nar Sih
seperti nya ini awal kisah cinta daren
Sri Angga
semoga menjadi jodoh mu y pak polisi Daren
Lucy
ini jodohnya Daren🤣🤣biar dia GK trlalu memikirkan Serina lagi👍👍👍
Oma Gavin
jodoh Darren ini
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
Nar Sih
ahir nya kbnr terungkap ,semoga gk ada mslh lgi yg sulit dlm rmh tangga jovan serina
Nar Sih
ahir nya ketangkap oleh ank sendiri🤣
Nadja 🎀
waah sebentar lagi terbongkar misteri knp ibunya jovan died? alasannya...
Lucy
mampus kau Marcella ketakutan juga kan,KLO Daren dah bertindak jgn kau berharap akan lolos ttp mendekam di jeruji besi😃😃😃
Lucy
Daren terus semngat bantu Jovan jgn sampai ibumu dan Jenifer berhasil menghancurkan Jovan 👍
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
main lo kalian kurang bersih say... 😏
Oma Gavin
ngga perlu berputar putar masalah marcella dan jovan segera aja dibongkar Darren kamu jgn ngulur" waktu keburu marcella kabor dia sudah feeling kamu yg selidiki otomatis dia akan cari aman sendiri tanpa peduli sama jenifer
vania larasati
lanjut kak
Nar Sih
tunggu bntr lgi kedok kejhtn mu terbongkar oleh putra mu sendiri ,marcela🤣🤣
Nar Sih
semagat dareen💪usut tuntas kasus adik mu walau tersangka nya mungkin ibu mu sendiri
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!