Ryn Moa adalah kekasih dari Taehyung pria tampan yang menjadi idola disekolah dan memiliki banyak penggemar.
sementara Namjoon dan temannya adalah kumpulan anak metal di sekolah dan sering dicap sebagai kumpulan anak nakal.
sejujurnya, Ryn Moa kurang menyukai anak-anak metal ini. tetapi kehadiran Kim Namjoon, telah merubah sudut pandangnya. Pria Jamet ini, perlahan telah membuatnya jatuh cinta.
Bagaimana akhir kisahnya bersama Taehyung ?
dan bagaimana kisah selanjutnya bersama Namjoon ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.5
...PERTANDINGAN BASKET...
“Kau kenapa?” tanya ibu Ryn Moa sambil mengerutkan dahi.
Tatapannya tertuju pada lengan dan lutut putrinya yang terbalut plester luka. Sendok di tangan wanita itu terhenti di udara, seolah kekhawatiran membuat waktu ikut membeku. Ryn Moa menunduk, mengaduk nasi di piringnya tanpa niat benar-benar memakannya.
“Aku tidak sengaja terjatuh saat di sekolah,” jawabnya singkat.
Suaranya datar, tak memberikan celah untuk pertanyaan lanjutan. Ibu Ryn Moa hanya menghela napas pelan. Namun sorot matanya menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak yakin dengan jawaban itu. Meski begitu, ia memilih untuk tidak mendesak putrinya malam ini. Usai makan, Ryn Moa segera bangkit dan berjalan cepat menuju kamarnya, seakan kakinya tak sabar melarikan diri dari ruang makan yang terasa terlalu terang dan terlalu penuh dengan kekhawatiran.
Begitu pintu kamarnya tertutup, ia langsung menjatuhkan diri ke atas kasur. Tubuhnya terasa lelah, tetapi matanya tak menunjukkan sedikit pun tanda akan terpejam. Ia berguling ke kiri, lalu ke kanan, dan kembali menatap langit-langit kamar yang temaram. Ada satu hal yang terus mengganggunya. Wajah itu, wajah Namjoon. Dia mengingat-ingat, mencoba menelusuri dari mana sebenarnya rasa familiar itu muncul. Heningnya kamar justru membuat pikirannya semakin bising. Hingga tiba-tiba ia terlonjak duduk, matanya melebar.
“Ah…”
Ingatan itu datang seperti kilatan cahaya. Dia pernah melihat pria itu. Bukan di sekolah. Bukan di mana pun di dunia nyata. Namjoon adalah pria yang beberapa kali muncul dalam mimpinya. Ryn Moa menatap kosong ke depan, jemarinya menyentuh bibirnya sendiri seolah sedang memastikan kenyataan. Ia mengingat jelas setiap detail dari pria dalam mimpinya itu. Bentuk rahangnya, tatapan matanya, bahkan senyum samar yang dulu terasa seperti misteri, dan semuanya persis seperti Namjoon yang dilihatnya di ruang UKS siang tadi.
“Jadi selama ini aku sudah lebih dulu bertemu dengannya.., bahkan sebelum aku tahu dia benar-benar ada.” Gumamnya lirih, hampir tak terdengar.
Di tempat lain, pikiran Namjoon tak kalah berantakan. Sejak insiden hampir mencium Ryn Moa di UKS, Namjoon memilih jalan paling aman, yaitu menghindar. Ia malu pada dirinya sendiri, malu karena hampir kehilangan kontrol di hadapan gadis yang disukainya. Setiap kali mengingat momen itu, wajahnya memanas, dadanya bergemuruh, dan ia ingin mengubur kepalanya ke tanah. Ia tahu batas, Ia tahu dirinya siapa ? Bahkan saat berusaha bersikap normal, ia bisa merasakan betapa gugupnya ia waktu itu. Bagaimana mungkin seseorang seperti Ryn Moa, seseorang yang punya kekasih setampan dan sepopuler Kim Taehyung bisa menaruh sedikit saja perhatian pada dirinya. Teman-temannya kini mengira jika Namjoon sudah menyerah. Mereka melihat betapa ia selalu cuek, menjauh, seolah tak peduli lagi pada mantan kekasih Taehyung yang setengah sekolah yakin akan kembali bersama pria itu dalam waktu dekat.
Namun Ryn Moa melihat semuanya berbeda. Justru setelah kejadian itu, ia diam-diam memperhatikan Namjoon, memperhatikan cara dia tertawa bersama teman-temannya, cara mereka bersikap hormat pada guru, dan bahwa rumor mereka sebagai anak-anak nakal itu ternyata jauh dari kenyataan. Ryn Moa kembali membalikkan tubuhnya. Sesuatu di dalam dirinya mulai bergerak, sesuatu yang membuatnya gelisah hingga dadanya terasa sempit. Detak jantungnya terasa lebih kencang dari biasanya. Dan semuanya karena satu nama, Kim Namjoon. Pria jamet yang bahkan tak pernah menunjukkan bahwa ia mengenalnya. Pria yang kini membuatnya berdebar setiap kali mata mereka berpapasan, meski hanya sepersekian detik.
“Kenapa aku merasa jadi aneh begini?” bisiknya sambil meletakkan tangan di dadanya, merasakan detaknya yang kacau.
Bayangan wajah Namjoon muncul begitu mudah di benaknya, sungguh terlalu mudah.
“Apa mungkin aku… menyukai pria jamet itu?”
Pipinya memanas. Ia buru-buru menutup wajah dengan bantal dan menjerit pelan, frustasi pada dirinya sendiri.
“Aaahhh!! Masa aku menyukainya sih?! Kenapa aku bisa sangat menyukai pria jamet itu?!”
Ia akhirnya menurunkan bantal itu, membantingnya kembali ke bawah kepala. Nafasnya berat, matanya memejam mencoba mematikan pikiran yang terus berputar. Malam itu, meski lampu telah dimatikan, hati Ryn Moa justru menyala paling terang dan semuanya karena Namjoon.
...🍀🍀🍀...
Hari itu, langit berwarna biru pucat, dipenuhi awan tipis yang sesekali terselip di antara cahaya matahari musim semi. Taman kota yang luas dipenuhi oleh ribuan bunga sakura yang sedang berada di masa paling indahnya, seminggu singkat ketika kelopak-kelopaknya mekar sempurna sebelum angin dengan mudah merontokkannya. Ryn Moa, Violetta, Arella, Yoona, Lisa, Eleanor, dan Melody berjalan perlahan menyusuri jalan setapak yang dipenuhi kelopak sakura yang berserakan seperti hamparan salju merah muda. Mereka bercanda, tertawa, saling menggoda sambil sesekali mengambil foto bersama di bawah pepohonan yang menjuntai indah. Semilir angin membawa aroma manis sakura yang samar, membuat suasana terasa damai dan hangat. Namun ketenangan itu perlahan pecah ketika dari kejauhan, mata Ryn Moa menangkap sosok yang sangat familiar, Namjoon. Ia duduk di rumput bersama geng jametnya, Jimin, Hoseok, Yoongi, Jungkook, dan Seokjin. Mereka terlihat sangat gembira, saling melempar gurauan, dan Namjoon tertawa lepas dengan cara yang jarang Ryn Moa lihat. Suara tawanya bahkan terdengar samar sampai ke tempat para gadis itu berjalan. Ryn Moa menatapnya beberapa detik terlalu lama, sebelum sebuah suara mengganggu pikirannya.
“Sayaaang… apa kau masih marah padaku?”
Sebelum ia sempat menghindar, Taehyung tiba-tiba menariknya lebih dekat, merangkul pinggangnya seolah itu adalah hal paling alami di dunia. Ryn Moa membeku sejenak, tidak nyaman, namun terlalu canggung untuk menolak di depan banyak orang. Violetta, Arella, dan yang lain pura-pura tidak melihat, tapi jelas mereka tahu apa yang sedang terjadi.
Di sisi lain taman, gelak tawa geng jamet tiba-tiba mereda. Tak jauh dari mereka, Namjoon yang tadinya ikut bercanda kini terdiam, matanya terfokus pada satu titik, Taehyung yang merangkul pinggang Ryn Moa seperti seseorang yang tak pernah bersalah padanya. Dari raut wajahnya, jelas ada sesuatu yang menusuk, rasa kecewa yang muncul begitu cepat, begitu spontan, hingga ia sendiri tidak siap menghadapinya.
“Sudah ku bilang,” celetuk Jimin sambil menyikut Namjoon pelan, “kalau mereka berdua pasti akan kembali lagi.”
“Sebenarnya… wanita itu hatinya terbuat dari apa? Sudah disakiti sampai sebegitunya tapi masih mau kembali juga.” Hoseok ikut menimpali sambil geleng-geleng.
“Apa mungkin kabar yang beredar itu benar? Kalau Ryn Moa memang cinta mati pada Taehyung?” ucap Jungkook.
Seokjin menoleh cepat. “Darimana kau tau?”
“Bahkan satu sekolah pun tau kabar itu,” jawab Yoongi santai, membuat yang lain tertawa keras.
Namun Namjoon tidak ikut tertawa dengan keras. Senyumnya yang tadi lebar kini memudar perlahan, matanya tetap terpaku pada pemandangan yang tidak ingin ia lihat. Seolah sesuatu dalam dirinya diperas tanpa permisi.
Sementara itu, Taehyung masih belum melepaskan rangkulannya. Ia tampak begitu nyaman berbicara dengan teman-teman Ryn Moa, mendominasi obrolan dengan pesona bicaranya yang menawan, pesona yang pernah membuat Ryn Moa jatuh tanpa sadar. Di tengah hiruk-pikuk itu, tanpa diberi ruang untuk menolak ataupun sekadar mengambil napas, Ryn Moa hanya diam. Namun diamnya bukanlah tanda setuju, melainkan kekacauan batin yang berusaha ia sembunyikan. Kelopak sakura turun perlahan melewati wajahnya, dan di sela-sela semuanya, ia mencuri pandang. Sekilas saja, cepat, singkat, namun cukup lama untuk membuat jantungnya mengencang. Namjoon, Ia sedang tertawa lagi, pura-pura tak peduli, pura-pura tak melihat. Dan Ryn Moa sadar, ia tidak seharusnya peduli, tapi hatinya melakukan hal yang berbeda. Tanpa disadari oleh yang lain, ia diam-diam mencuri pandang kearah Namjoon yang kini sedang tertawa bersama temannya. Dan entah mengapa ? melihat Namjoon tertawa, hati Ryn Moa terasa ikut bahagia.
...🍀🍀🍀...
BERSAMBUNG....