Indonesia
NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 TANDA TANGAN DARI DALAM KUBUR

Kaluna menoleh perlahan. Veyra berdiri tidak jauh dari Arsen. Wajahnya memucat, tetapi tangannya masih menggenggam tangan Elara. Elara ikut memperhatikan layar tanpa memahami apa yang sedang terjadi.

“Itu bukan aku,” kata Veyra.

Tak seorang pun segera menjawab. Petugas keamanan memperbesar rekaman. Gambar menjadi pecah. Perempuan dalam video berjalan dengan kepala menunduk, lalu menghilang di balik pintu ruang penyimpanan. Wajahnya tetap tidak terlihat.

Arsen mendekati layar. “Putar dari beberapa menit sebelumnya.”

Petugas menggeser rekaman. Lorong masih kosong. Beberapa staf lewat membawa dokumen, kemudian seorang petugas kebersihan mendorong troli. Tidak ada Veyra.

“Coba kamera ruang tunggu,” kata Salindri.

Petugas berpindah ke rekaman lain. Dalam video tersebut, Veyra tampak duduk bersama Elara. Ia mengenakan blus biru dan kardigan krem. Tidak lama kemudian, Elara menumpahkan minuman ke lengan bajunya. Veyra berdiri, melepaskan kardigan, lalu meletakkannya di sandaran kursi sebelum membawa Elara ke toilet. Ketika mereka pergi, seorang perempuan berseragam laboratorium mendekati tempat duduk tersebut. Ia mengambil kardigan Veyra bersama beberapa berkas yang tertinggal di meja.

“Siapa dia?” tanya Naren.

Petugas keamanan memperbesar gambar, lalu menggeleng. “Wajahnya tertutup masker. Tapi itu seragam staf kami.”

Veyra segera berkata, “Saya mencari kardigan itu setelah dari toilet. Seorang petugas mengembalikannya.”

“Petugas yang sama?” tanya Salindri.

“Saya tidak memperhatikan wajahnya.”

Arsen memandang petugas keamanan. “Coba cari nama semua orang yang bertugas di lantai ini.”

“Kami sedang memeriksa, Pak.”

Kaluna tetap memperhatikan layar. Kardigan Veyra memang dipakai orang lain, tetapi rekaman itu belum menunjukkan siapa yang mengambil sampelnya. Orang yang mengambil sampel itu jelas sudah tahu cara memanfaatkan benda yang tertinggal.

“Bagaimana seseorang bisa masuk ke ruang penyimpanan?” tanya Kaluna.

Petugas laboratorium yang berdiri di belakang mereka menjawab, “Pintunya memakai kartu akses.”

“Berarti ada catatannya.”

Petugas itu dan rekannya saling pandang.

Salindri langsung menangkap perubahan tersebut. “Apa yang belum Anda katakan?”

“Kartu yang digunakan terdaftar sebagai kartu cadangan.”

“Milik siapa?”

“Seharusnya disimpan di meja kepala laboratorium.”

“Seharusnya?” ulang Salindri.

Kepala laboratorium menarik napas. “Kartunya tidak berada di tempat ketika kami periksa.”

Naren menyandarkan tangannya di meja. “Jadi sampel hilang, kartu akses juga hilang, dan orang di kamera memakai pakaian milik salah satu pihak.”

“Situasi ini sedang kami selidiki.”

“Tetap saja, sampelnya hilang,” kata Salindri.

Elara mulai gelisah. Ia menarik tangan Veyra. “Ma, aku mau pulang.”

Veyra menunduk. “Sebentar lagi.”

“Aku tidak suka di sini.”

Kaluna memandang putrinya. Elara tidak seharusnya berada di ruangan penuh orang dewasa yang saling curiga.

“Bawa Elara pulang,” katanya kepada Veyra.

Veyra mengangkat wajah.

“Aku tidak akan menuduhmu di depan anak itu,” lanjut Kaluna. “Belum ada bukti bahwa orang dalam rekaman adalah kamu.”

Arsen menatap Kaluna, mungkin tidak menyangka ia akan mengatakan hal itu.

Veyra tampak ragu. “Tesnya bagaimana?”

“Diulang,” jawab Salindri. “Di tempat lain dengan pengamanan yang disepakati bersama.”

Kaluna mengangguk pelan.

“Kali ini sampelnya akan tetap bersama kami sampai disegel,” lanjut Salindri.

Arsen menyetujui keputusan itu setelah berbicara sebentar dengan pengacaranya. Pengambilan sampel ulang dijadwalkan dua hari kemudian. Saat Veyra hendak membawa Elara keluar, anak itu menoleh kepada Kaluna.

“Punya kamu hilang?”

Kaluna mengangguk pelan.

“Berarti harus diambil lagi?”

“Iya.”

Elara tampak memikirkan sesuatu. “Punyaku jangan hilang juga.”

“Tidak akan.”

“Kamu yakin?”

Kaluna menahan senyum tipis. “Kali ini jangan sampai hilang lagi.”

Elara tidak menjawab, tetapi kali ini ia tidak buru-buru memalingkan wajah seperti sebelumnya. Veyra kemudian menggandengnya meninggalkan ruangan. Arsen ikut berjalan beberapa langkah, lalu berhenti di depan Kaluna.

“Aku akan cari tahu siapa yang mengambil sampel itu.”

“Karena kamu percaya kepadaku?”

“Karena ada orang yang masuk ke ruang penyimpanan dan mengambil barang bukti.”

Kaluna mengatupkan bibir. “Jadi tetap bukan karena aku.”

Arsen mengatupkan rahang. “Jangan memaksaku menerima sesuatu sebelum ada kepastian.”

Kaluna menahan emosinya. “Aku nggak memaksamu. Aku cuma mulai paham. Tiga tahun ternyata cukup buat kamu lupa percaya sama aku.”

Arsen tidak menjawab.

Kaluna berbalik dan pergi bersama Naren serta Salindri.

Di dalam mobil, Salindri membuka tablet dan memeriksa jadwal.

“Kita punya masalah lain,” katanya.

Kaluna menyandarkan tubuh. “Apa lagi?”

“Besok pagi ada rapat pemegang saham Mahardika Medika.”

Naren menoleh dari kursi depan.

Salindri melanjutkan, “Mereka akan membahas pengesahan struktur kepemilikan setelah kematianmu.”

Kaluna memandangnya. “Pengesahan?”

“Secara hukum, sebagian sahammu sudah dialihkan tiga tahun lalu. Rapat besok akan menguatkan keputusan itu sebelum laporan tahunan selesai.”

“Bukankah mereka harus menunggu hasil tes?”

“Mereka bisa mengatakan identitasmu belum terbukti.”

Kaluna menoleh ke luar jendela. Gedung laboratorium perlahan menjauh.

“Kalau rapat itu selesai?”

“Membatalkannya akan lebih sulit.”

Naren menoleh kepadanya. “Kita datang.”

Salindri mengangkat mata dari tablet. “Bukan cuma datang. Kita harus bawa sesuatu. Kalau nggak, mereka bisa saja mengusirmu sebagai penipu.”

Kaluna membuka tasnya. Di dalamnya terdapat sebuah map cokelat yang sejak awal tidak pernah ia lepaskan jauh-jauh. Map itu berisi salinan dokumen yang ditemukan Naren beberapa minggu sebelumnya. Salah satunya adalah surat pengalihan saham. Dokumen itu tampak resmi. Ada cap perusahaan, tanda tangan saksi, dan nama Kaluna di bagian bawah. Hanya ada satu masalah. Tanggal dokumen itu dibuat dua bulan setelah Kaluna dinyatakan meninggal.

“Aku membawa ini,” kata Kaluna.

Salindri menerima map tersebut dan membacanya kembali. “Kita belum bisa membuktikan siapa yang memalsukan tanda tangan.”

“Tapi orang yang sudah mati nggak mungkin menandatanganinya.”

Keesokan paginya, Kaluna berdiri di depan gedung Mahardika Medika. Bangunan itu dulu menjadi bagian besar dalam hidupnya. Ia ikut memilih lokasi, menyusun anggaran, bahkan mendampingi Arsen saat perusahaan belum mampu membayar semua pegawai tepat waktu. Kini namanya tidak lagi tercantum di papan pendiri.

Kaluna masuk bersama Naren dan Salindri. Petugas resepsionis langsung berdiri. Wajah perempuan itu menunjukkan bahwa kabar kepulangan Kaluna sudah menyebar.

“Maaf, Ibu. Ada janji?”

“Ada rapat pemegang saham,” jawab Salindri.

“Nama Ibu tidak tercantum.”

Salindri meletakkan surat resmi di meja. “Kaluna Adiswara masih memiliki hak atas saham yang sedang dipermasalahkan. Menolak kehadirannya bisa menjadi pelanggaran tambahan.”

Petugas itu membaca surat tersebut, lalu menelepon seseorang. Tidak sampai lima menit, seorang staf membawa mereka ke lantai tertinggi.

Pintu ruang rapat terbuka saat mereka tiba.

Arsen duduk di sisi kanan meja. Veyra tidak terlihat. Beberapa anggota dewan yang tidak dikenal Kaluna memandangnya dengan bingung.

Di ujung meja, seorang lelaki berusia sekitar akhir lima puluhan duduk dengan tenang. Bramasta Mahardika. Paman Arsen. Kaluna mengenal lelaki itu sebagai orang yang selalu berbicara pelan, bahkan ketika sedang marah. Bramasta jarang menunjukkan keterkejutan. Saat melihat Kaluna masuk, jarinya yang memegang pena berhenti bergerak.

Hanya sesaat. Setelah itu, ekspresinya kembali seperti semula.

“Rapat ini tertutup,” katanya.

Salindri menyerahkan dokumen kepada sekretaris rapat. “Klien saya memiliki kepentingan langsung.”

Bramasta memandang Kaluna. “Anda belum terbukti sebagai Kaluna Adiswara.”

Kaluna menarik kursi kosong dan duduk. “Tapi kalian sudah memakai namaku untuk memindahkan saham.”

Arsen menatap map di tangannya. “Apa yang kamu bawa?”

“Alasan rapat ini nggak bisa dilanjutkan.”

Salah seorang anggota dewan menggeleng tidak sabar. “Kami tidak punya waktu untuk pertunjukan.”

Kaluna membuka map dan mengeluarkan salinan dokumen. Ia meletakkannya di atas meja, lalu mendorongnya ke tengah.

“Ini surat pengalihan saham atas nama Kaluna Adiswara. Dua puluh tujuh persen saham dipindahkan ke yayasan keluarga Mahardika.”

Sekretaris rapat mengambil dokumen itu dan membacanya.

Bramasta tetap tenang. “Dokumen tersebut sah.”

“Benarkah?”

“Ada saksi dan pengesahan notaris.”

Kaluna menunjuk tanggal di bagian bawah.

“Dokumen ini ditandatangani pada tanggal dua belas November.”

Tak ada yang langsung bereaksi.

Kaluna melanjutkan, “Mobilku ditemukan di sungai pada tanggal tujuh September. Pada akhir bulan itu, keluarga Mahardika mengumumkan bahwa aku telah meninggal.”

Arsen mengambil dokumen tersebut dari tangan sekretaris. Matanya bergerak cepat membaca tanggal. Wajahnya menegang. Kaluna memperhatikan orang-orang di ruangan itu.

“Kalian menyatakan aku mati pada bulan September,” katanya. “Dua bulan kemudian, tanda tanganku muncul dalam surat penyerahan saham.”

Salah seorang anggota dewan mulai berbisik kepada orang di sebelahnya.

Bramasta menyandarkan tubuh. “Dokumen dapat ditandatangani sebelumnya dan disahkan kemudian.”

“Kalau begitu, tunjukkan dokumen aslinya.”

Tak ada yang menyahut.

Kaluna mengalihkan perhatiannya kepada Bramasta, lalu Arsen.

“Sebelum kalian tanya siapa aku, jelaskan dulu bagaimana orang yang sudah dinyatakan mati bisa menyerahkan sahamnya kepada keluarga Mahardika.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!