Indonesia
NovelToon NovelToon
Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:399
Nilai: 5
Nama Author: Virgo kelabu

Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

"Hallo, Ge!" Nismara segera menjawab panggilan yang ternyata dari mantan suaminya.

"Gimana kabarmu Nis? Jadi ngantor hari ini?" Suara Gerald sedikit aneh. Seperti ada nada canggung.

"Iya, ini udah di kantor."

"Oohh...."

Sejenak sunyi. Hanya ada napas Gerald yang terdengar. Memang aneh sih, selama ini Nismara dan Gerald tidak pernah saling bertelepon hanya untuk menanyakan kabar. Terakhir kali mungkin sekitar 17 tahun yang lalu, atau lebih, tepatnya sebelum Sherin lahir.

"Gege. Ada apa?"

"Eh, i-iya." Gerald menjawab terbatas. " Gimana perasaanmu hari ini? Apakah kamu juga mimpi tentang anak kita?"

Nismara mencelos mendengar Gerald mengucapkan 'Anak kita.' Kata-kata yang baru pernah keluar dari mulut seorang Gerald ketika anaknya telah tiada.

"Nismara!"

"I-iya, Ge, a- aku ba- baik hati ini." ganti Nismara yang tergagap.

"Syukurlah." Suara Gerald lirih terdengar. " Nis, kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku ya."

"Ya."

"Kalau gitu, udah dulu ya, Nis.Bye!"

"Eh, Gege!" Nismara berseru, takut jika panggilan telah terputus, tapi ternyata belum.

"Ya, Nis. Ada apa?"

Nismara teringat tentang pesan di email dan karangan bunga itu. Tiba-tiba Nismara ingin memberitahu Gerald, dia ingin tahu pendapat laki-laki itu karena ini menyangkut tentang Sherin. Bagaimana pun juga dia adalah ayah kandung Sherin.

"Ge....."

"Kenapa, Nis?" Gerald cepat sekali menjawab.

Mendadak Nismara ragu, haruskah dia cerita kepada mantan suaminya? Tapi orang yang paling membenci keberadaan Sherin adalah Gerald, bahkan berulang kali secara gamblang dia sering mengatakan bahwa Sherin adalah aib terbesar dalam hidupnya. Dan dia berharap Gadis itu tidak pernah lahir. Tiba-tiba jantung Nismara berdetak lebih kencang. Apakah orang yang membunuh Syahrin adalah Gerald? Tapi untuk apa?

"Nismara!" Gerald setengah berteriak memanggil nama mantan istrinya.

"Ya, Ge. Aku cuma mau bilang, Kamu juga jangan sungkan hubungi aku." akhirnya hanya itu yang bisa Nismara ucapkan.

"Oh. Okey, thank you Nismara. Bye!"

Telepon ditutup.

"Ah, kenapa aku jadi kepikiran tentang pesan email itu terus." Nismara berbicara sendiri.

Separuh logikanya berkata bahwa itu adalah pesan orang Islam, tidak ada satupun alasan yang masuk akal yang bisa dijadikan motif pembunuhan Sherin. Tapi alam bawah sadar Nismara telah merespon pesan itu dan membuat otaknya terus memikirkannya. Bahkan baru saja dia mencurigai Gerald. Astaga.....

Saat hendak meletakkan teleponnya, mata nismara menangkap notifikasi di emailnya lagi. Dengan tergesa dan tangan bergetar Dia memberi tekanan pada layar telepon genggamnya. Sebuah pesan baru dari peduli kamu. Dan kali ini pesan agak panjang.

[Selamat pagi Nismara, apakah masih belum percaya? Kamu boleh tidak peduli, tapi aku peduli kamu. Dan kamu setidaknya pedulilah kepada anakmu. Saat dia hidup pun kamu sudah tidak peduli, sekarang saatnya kamu memberi dirimu kesempatan untuk menebusnya. Tangkap lah pembunuh itu. Tapi hati-hati ya. Pembunuh nya ada di sekitarmu. ]

Tok- Tok - Tok.

Nismara terperanjat. Miranti muncul.

" Kenapa, Nis? Kamu pucat sekali." Miranti bertanya seraya mendekati sahabatnya. "Udah sarapan belum?"

Nismara hanya mengangguk. Di tangannya, email itu masih terbuka. Mata Nismara memandang bergantian kepada layar telepon dan wajah Miranti.

"Ada apa? Cerita sama aku, Nis." muka Miranti menjadi ikut tegang.

"Enggak ada apa-apa, Mir."

"Apa kamu belum ikhlas tentang kematian Sherin, Nis?" Miranti menebak.

Nismara tersenyum kecut.

"Yang kuat ya, Nis. Aku tahu ini sama sekali nggak mudah. Waktu aku keguguran dulu, aku juga merasa berantakan, padahal aku belum mengenal anakku. Enggak kebayang kalau jadi kamu. Tapi aku tahu kamu wanita paling tangguh yang aku kenal." Miranti berkata sambil tersenyum.

"Aku hanya merasa bersalah sudah mengabaikan putriku sendiri, Mir."

"Iya, memang semua baru terasa kalau orangnya sudah nggak ada kan?" selesai bicara Miranti tersentak, dia baru sadar jika apa yang baru diucapkannya sungguh tidak sopan. "Maaf, Nis, bukan maksud....."

"Tapi kamu benar, Mir. Itulah yang aku rasakan sekarang. Penyesalan yang mendalam." timpal Nismara. Perempuan cantik itu mengambil nafas dalam. Begitu juga dengan Miranti.

"Oh, iya Mir, kayaknya akhir-akhir ini kamu kan agak akrab sama Sherin, , apakah Sherin punya musuh? Emmm maksudku, barangkali Dia pernah cerita ke kamu.

Miranti tercenung beberapa saat. "Kayaknya sih enggak. Sherin lebih banyak curhat tentang kamu dan Gege. Dia marah waktu tahu kalian sedang mengurus perceraian, karena dia selalu bermimpi kalian bersatu lagi dan menyayangi dirinya. Itu saja. Aku aku udah pernah cerita ke kamu kan?"

Nismara mengangguk - angguk. Tepat saat kepalanya menunduk, dia melihat emailnya mendapat pesan baru lagi.

[Mungkin ini akan membuatmu sedikit terbuka dan percaya dengan apa yang aku katakan nyonya Nismara yang terhormat.]

Ada lampiran dalam bentuk foto di email itu.

Nismara buru-buru mengklik dan mata Nismara membulat sempurna.

"Tidaaaakkkk....."

"Ada apa, Nis?" Miranti kaget. Dia sampai terbangun dari duduknya.

"Eh, nggak ada apa-apa." jawab Nismara. Tangan nya cepat menutupi layar telepon genggamnya, karena Miranti melirik ke arah situ.

Miranti menatap tidak percaya kepada Nismara, tapi dia tidak ingin memaksa sahabatnya itu. Jika memang ada sesuatu yang Nismara tidak ingin bagi dengannya, Miranti menghormati batasan privasi sahabat sekaligus bosnya itu.

"Mau aku bikinin kopi?" Miranti berkata. "Mungkin kopi bisa membuat kamu lebih rileks."

Nismara mengangguk. "Boleh, Mir. Thank you."

"Oke, sebentar ya. " Miranti pergi keluar. Dia bermaksud memanggil OB untuk membuatkan satu cangkir kopi.

Sepeninggal Miranti, Nismara membuka laptop. Dia ingin membaca email itu di laptopnya, agar dia bisa melihat lebih jelas lagi foto-foto yang dikirim. Karena emailnya belum pernah dia buka di laptop, jadi agak sedikit ribet. Nismara harus melewati beberapa tahapan verifikasi.

Setelah 15 menit akhirnya Nismara bisa membuka email itu. Mata Nismara kian membelalak.

Si peduli kamu telah mengirim foto Sherin yang terpejam seperti orang tertidur. Tapi jika diperhatikan di sudut bibir Sherin ada cairan berwarna merah. Yang membuat terbelalak adalah Sherin dalam keadaan memakai bikini merah dan sepatu berhak tinggi dengan warna yang sama.

Nismara mengklik foto yang lain. Tapi 5 foto itu adalah potongan foto yang sama dari foto pertama yang Nismara lihat. Foto-foto itu mencoba memperlihatkan lebih jelas beberapa bagian tubuh Sherin. Lengan yang lebam, betis yang terdapat goresan, dan pipi yang terlihat bengkak.

"Astaga, ya Tuhan!" Nismara spontan menjerit. Matanya nanar, sekali lagi dia memperhatikan foto-foto itu dengan lebih teliti.

"Tapiiiii tunggu dulu.... Bisa jadi ini hanya dibuat dengan teknologi. Tidak ada satupun yang tidak bisa direkayasa hari ini kan?" Nismara bicara lagi, dia mencoba menenangkan hatinya sendiri.

"Tenanglah Nismara, jangan terlalu, tenang, tenang. Ada orang yang ingin mengambil keuntungan dari kekalutanmu ini, maka dari itu jangan kalut. Tenang, tenang " Nismara bermonolog panjang.

Setelah Nismara bisa menguasai kegaduhan kepalanya sendiri, dia mulai menyentuh papan laptopnya.

[ Foto-foto yang bagus! Terima kasih atas usaha kerasmu, tapi aku sama sekali tidak terkesan. Nismara bukan perempuan bodoh. Tolong cari korban yang lain saja. by the way kalau mau uang kerja!!!! Jangan menipu.]

Nismara mengetik kalimat itu dengan tersenyum miring. Lalu dia memencet tombol send.

Bertepatan dengan itu, Miranti masuk membawa secangkir kopi. Dia tempat melihat senyum di wajah Nismara.

"Sudah merasa baikan, Nis?" Miranti menyapa dengan tersenyum. Tapi senyumnya segera menghilang saat wajah Nismara berubah menjadi tegang lagi. Wajah atasannya itu melotot ke layar laptopnya.

"Nis, ini kopinya." Miranti meletakkan cangkir di samping laptop Nismara.

Si lampunya nama yang dipanggil diam saja. Dia sedang membaca balasan dari si peduli kamu.

[ Tidak semua di dunia ini bisa diukur pakai uang, Nyonya Nismara. Aku memberi info karena benar-benar peduli. Aku teman Sherin. Mungkin tidak ada bedanya bagimu karena saat masih hidup pun kamu sudah tidak peduli kan? Tapi aku memberimu info yang sesungguhnya bahwa Sherin telah dibunuh sebelum dilempar dari balkon hotel itu. Apakah aku harus mengirim kamu uang agar kamu tergerak mengungkap pembunuh anakmu sendiri? Poor Sherin.]

1
Maria
penuh dengan teka teki tp seru. Ada pelajaran yg BS kita ambil dr cerita ini. penyesalan pasti akan datang di belakang, kalau di depan itu namanya pendaftaran.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!