Indonesia
NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Mafia

Mengandung Benih Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
​Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
​Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
​Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

Berminggu-minggu berlalu dengan ritme yang sama. Bagi Amanda, hidup hanyalah sebuah garis lurus yang monoton: bekerja memeras keringat di bawah cahaya lampu neon kantor, lalu pulang untuk merengkuh dunianya yang tersisa, Lily. Tidak ada ruang untuk hal lain. Hatinya telah lama membeku, berubah menjadi benteng es tak tertembus yang kuncinya telah ia buang jauh ke dasar samudra.

Alan menyadari hal itu dengan sangat jelas.

Setiap kopi hangat yang ia letakkan di meja Amanda, setiap tawarannya untuk membantu menyusun berkas, hingga ajakan makan malam kasual yang dibungkus dengan alasan "merayakan target bulanan divisi"—semuanya membentur dinding baja. Amanda selalu menolak dengan senyum sopan yang sangat artifisial.

"Maaf, Alan. Pekerjaanku sudah selesai, dan Lily pasti sudah menungguku di rumah. Terima kasih atas tawarannya."

Hanya itu kalimat yang selalu keluar dari bibir pucatnya. Tubuh wanita itu ada di sana, bernapas dan berinteraksi, namun jiwanya seolah telah mati. Trauma akibat pengkhianatan masa lalu, ditambah beban sebagai ibu tunggal, membuat Amanda sepenuhnya buta terhadap pesona pria mana pun.

Dari balik bilik kerjanya, Alan menatap punggung sempit Amanda yang kian menjauh menuju lift. Pria itu melepas kacamata bacanya, memijat pangkal hidungnya pelan. Seringai tipis, dingin, dan penuh perhitungan perlahan mengembang di wajah tampannya.

Wanita ini tidak bisa ditaklukkan dengan bunga atau perhatian murahan, batin Alan, insting predatornya mendengkur puas. Jika pintu depan terkunci rapat, maka seorang raja mafia seperti dirinya tahu persis bagaimana cara menyusup masuk. Ia butuh sebuah Kuda Troya.

Dan Kuda Troya yang paling sempurna dan rapuh itu bernama Lily.

Kesempatan emas itu datang di hari Jumat sore, saat badai musim gugur mengguyur kota dengan brutal.

Victoria menelepon dengan nada panik, terpaksa mengantarkan Lily ke lobi gedung kantor karena ada keadaan darurat di rumah sakit tempatnya bekerja, sementara Amanda masih terjebak dalam rapat direksi yang tak kunjung usai.

Di lobi berlantai marmer yang dingin dan luas itu, Lily duduk sendirian di sofa kulit berwarna hitam. Kaki kecilnya yang terbalut sepatu bot karet kuning berayun pelan tidak mencapai lantai. Ia memeluk erat boneka kelinci usangnya, menatap takut pada kilat yang menyambar di luar dinding kaca. Gadis kecil itu tampak sangat kesepian, terisolasi dari orang-orang dewasa berjas rapi yang berlalu-lalang mengabaikannya.

Saat itulah sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya di atas Lily.

Gadis kecil itu mendongak, matanya yang kelam—mata yang begitu persis dengan milik Aldebaran Hendrick—mengerjap pelan.

Di hadapannya, Alan berjongkok perlahan hingga pandangan mereka sejajar. Pria itu menyuguhkan senyum paling hangat, paling teduh, dan paling menenangkan yang pernah ia latih selama bertahun-tahun sebagai manipulator ulung. Jas kerjanya ia lepaskan, lalu ia sampirkan ke bahu kecil Lily yang sedikit menggigil terkena AC lobi.

"Hai, Tuan Putri," sapa Alan, suaranya direndahkan menjadi bisikan bariton yang menenangkan. "Ibumu sedang menyelamatkan dunia di lantai atas, jadi dia memintaku untuk menemanimu sebentar. Namaku Alan. Kau pasti Lily, kan?"

Lily menatap pria itu ragu, mengeratkan pelukannya pada boneka kelincinya. "Bunda bilang... Lily tidak boleh bicara dengan orang asing."

Alan tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus di telinga siapa pun. "Bundamu sangat pintar. Aturan yang bagus. Tapi, bagaimana kalau aku bisa melakukan sihir? Orang yang bisa sihir biasanya bukan orang jahat."

Sebelum Lily sempat menjawab, Alan menjentikkan jarinya ke udara kosong di dekat telinga Lily, dan entah dari mana, sebuah permen lolipop rasa stroberi muncul di sela-sela jarinya yang panjang.

Mata Lily membulat sempurna. Kekaguman kekanak-kanakan seketika menghapus rasa takutnya. "Wow..." bisiknya takjub.

"Untukmu," Alan menyodorkan permen itu dengan senyum miring yang menawan. Ia kemudian duduk bersila di atas karpet lobi, benar-benar tidak mempedulikan celana bahan mahalnya yang mungkin kotor, dan mulai mengeluarkan selembar kertas serta pulpen dari saku kemejanya. Ia mulai menggambar karakter naga—simbol klannya sendiri—namun diubah menjadi versi kartun yang lucu.

Dalam hitungan menit, kebekuan di antara mereka mencair. Lily, yang selama hidupnya selalu haus akan sosok ayah dan perhatian dari seorang pria dewasa, dengan mudah jatuh ke dalam jaring yang ditebarkan Alan. Gadis kecil itu tertawa lepas, celotehannya mengalir menceritakan tentang sekolahnya, tentang warna kesukaannya, dan tentang ibunya.

Alan mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia mengusap puncak kepala Lily dengan lembut, merapikan anak rambut gadis itu, dan menatapnya dengan sorot mata penuh kasih sayang buatan. Ia memposisikan dirinya dengan begitu sempurna: kuat, melindungi, ramah, dan bisa diandalkan. Seorang ayah idaman.

Dua puluh menit kemudian, pintu lift berdenting terbuka. Amanda setengah berlari keluar, wajahnya pucat karena panik dan rasa bersalah.

"Lily!"

Langkah Amanda terhenti mendadak. Pemandangan di sudut lobi itu memaku kakinya ke lantai. Napasnya tertahan di tenggorokan.

Ia melihat putrinya tertawa begitu lepas—tawa berderai yang jarang sekali ia dengar—sambil duduk di pangkuan Alan. Pria itu sedang melipat kertas menjadi bentuk pesawat, menjelaskan sesuatu dengan sabar sementara mata Lily menatapnya dengan binar memuja. Binar yang persis sama saat Lily menatap para ayah yang sedang bermain dengan anak-anak mereka di taman kota.

Binar seorang anak yang menemukan pahlawannya.

"Bunda!" Lily berseru gembira, melompat turun dan berlari menghambur ke pelukan Amanda. "Bunda, Paman Alan bisa sihir! Dia juga mengajariku membuat pesawat yang bisa terbang jauh sekali!"

Amanda memeluk putrinya erat, matanya menatap Alan yang kini bangkit berdiri. Pria itu menepuk debu dari celananya, meraih jasnya dari bahu Lily, lalu berjalan mendekat dengan senyum lembut yang sama. Tidak ada kesan canggung, tidak ada usaha untuk mencari muka. Semuanya terlihat begitu... natural.

"Maaf, Amanda. Aku melihatnya sendirian dan kedinginan di lobi saat aku mau turun mencari kopi. Aku tidak tega membiarkannya," ucap Alan dengan nada santai, seolah apa yang ia lakukan bukanlah hal besar.

Hati Amanda yang sedingin es, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, terasa berdesir. Dinding tebal yang ia bangun perlahan menunjukkan retakan halus. Melihat bagaimana pria ini bersedia duduk di lantai kotor hanya untuk membuat putrinya tersenyum, menyentuh sudut terdalam jiwa keibuannya yang rapuh.

"Terima kasih... Alan," bisik Amanda, suaranya bergetar menahan luapan emosi campur aduk. "Kau tidak perlu melakukan ini."

"Aku senang melakukannya," jawab Alan, menatap lurus ke dalam bola mata Amanda, membiarkan kehangatan palsunya meresap masuk menembus pertahanan wanita itu. "Lily anak yang luar biasa. Siapa pun pria yang kelak menjadi ayahnya... adalah pria paling beruntung di dunia."

Alan tersenyum sekali lagi, mengacak rambut Lily pelan sebelum berpamitan, berjalan membelah lobi menuju pintu keluar yang diguyur hujan.

Amanda menatap punggung tegap itu perlahan menghilang di balik pintu kaca. Ia mendekap Lily semakin erat. Tanpa sadar, sebuah ruang kecil yang lama kosong di hatinya perlahan terbuka.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa kehangatan yang baru saja merayap masuk ke dalam hidupnya bukanlah kehangatan sinar matahari, melainkan napas api dari seekor Naga Hitam yang bersiap membumihanguskan seluruh dunianya—dan menyeretnya kembali ke dalam radar sang Raja Iblis, Aldebaran Hendrick.

1
kholifah Montes
happy Reading guys
Ita Putri
ah elah Thor ....masak sad ending kebangetan deh si author 😭
kholifah Montes: izin🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ita Putri
ya ampun gk kebayang berapa sadis siksaan Aldebaran buat Anastasya
Ita Putri
ya ampun Thor
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭
kholifah Montes: kak sebenarnya aku juga nggak tega tapi gimana ya🤭
total 1 replies
Ita Putri
karyamu selalu seru thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!