Ketika ketulusan seorang wanita di dustai maka hukum alam akan mulai menghakimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nur Hastaman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 06
Setelah beberapa hari, Ali kembali dari liburan bersama dengan Marta. Sesampainya di bandara ia segera meminta Marta mencari taksi online di sekitar, sedangkan dia segera menuju rumah sakit di mana Kayla masih di rawat. Bagaimana pun Ali juga mencintai Kayla sama halnya dengan Marta. Entah kenapa Ali begitu egois dengan hatinya, ia tidak bisa memilih satu cinta untuk hidupnya. Meski ia sadar membagi cinta bukanlah hal yang baik nantinya.
"Kalau bisa ambil keduanya kenapa harus pilih satu, toh gue bukan orang miskin yang nggak bisa ngidupin anak orang. Gue mah bebas mau nikah sama berapa wanita, lah gue punya duit ini" Sombong Ali di dalam taksi Online yang telah ia pesan.
Driver taksi online melihat wajah pria sombong yang ada di dalam mobilnya itu.
"Jangan begitu, mas. Seorang wanita itu sifatnya lembut bagai kapas, kalau sedikit saja angin meniupnya maka dia akan terbang jauh. Uang bisa membeli yang baru tapi tidak akan bisa mengambalikan yang sudah terlepas."
Ali melirik Driver dengan tatapan tidak senang "Jangan ikut campur urusan orang lain. Ngerti kamu" Ucap Ali dengan nada tinggi.
Pak Driver menarik nafas dalam "Maaf, mas. Tapi saya hanya sekedar mengingatkan saja. Bukankah sudah kewajiban sesama manusia untuk saling mengingatkan? sungguh dosa jika saya pura pura tuli, padahal telinga saya masih fungsi"
Ali semakin sewot "Udah berhenti, gue paling nggak suka kalau ada orang asing ikut campur urusan gue."
Setelah mobil menepi, Ali pun keluar sambil membawa kopernya.
"Nih gue bayar lo dua kali lipat " Melempar uang empat ratus ribu ke wajah Driver tersebut.
Dengan sabar pak Driver memungut uang itu lalu melipatnya dengan indah "Maaf, Pak.Tapi, saya tidak bisa menerima uang ini. Sekiranya kata kata saya kurang berkenan di hati bapak, saya mohon maaf." Dengan santun Pak Driver turun kemudian memberikan Uang tersebut pada Ali.
"Jangan sombong kamu, Ya..." Mencondongkan diri seolah menantang pak Driver tersebut.
"Bukan saya sombong, Pak. Tapi, sepertinya anda lebih butuh duit itu dari pada saya, karena anda butuh psikolog"Sembari meninggalakan Ali.
"Sialan...." Maki Ali saat harga dirinya di injak injak seorang driver online.
Tak berapa lama, Ali kembali memesan taksi online, tak berapa lama taksi pun datang.
"Sesuai alamat ya...." Ucap Ali sembil menutup pintu mobil.
Setelah beberapa menit kemudian sampailah dia di rumah sakit tempat Kayla di rawat. Segera ia bertanya kepada resepsionis "Pasien atas nama Kayla Larasati..."
"Iya, pak saya cek terlebih dahulu"Sesaat setelah melakukan pengecekan daftar pasien "Atas nama Kayla Larasati, kamar kemuning no 04"
"Terima kasih"
Di sisi lain Kayla sedang duduk bersandar pada ranjang rumah sakit, di lihatnya cincin yang melingkar di jari manisnya, perlahan ia putar beberapa kali kemudian menariknya perlahan. Setelah cincin berhasil terlepas air matanya jatuh "Sepertinya Cinta kita tidak sekokoh janji yang pernah kamu ucapkan padaku dulu. Karena orang ke tiga semua ikatan kita hancur" Air mata menjadi saksi bisa kesakitan Kayla saat ini.
"Baby..." Tiba tiba saja Ali membuka pintu sambil berteriak, tentu membuat Kayla tersentak. Segera Kayla menyeka air matanya.
"Kamu kenapa nangis, beb? ada apa? mana yang sakit" Berjalan mendekati Kayla sembari memasang muka sedih.
"Ya ampun, beb kenapa bisa seperti ini" Ketika Ali hendak menyentuh tangannya, Kayla lebih dulu berpaling.
Ali memicingkan mata "Kenapa?"
Kayla menatap Ali "Kamu tega sekali sama aku, di saat aku butuh kamu tapi kamu lebih mentingin liburan sama cewek lain sedangkan di sini aku nggak punya siapa siapa selain kamu. Tapi, kamu malah liburan sama wanita lain...." Kayla mengacungkan jari telunjukkan, tatapannya memanas sampai darah pun ikut mendidih "Jika kamu ingin kita pisah nggak usah mendatangkan pihak ketiga, karena aku tidak sudi menjadi sampah di tengah hubungan kalian"
Ali syok mendengar ucapan Kayla.
"Apa maksud kamu? liburan apa? pihak ketiga, siapa? Jelas jelas aku bilang sama kamu kalau aku ada perjalanan bisnis. Kenapa kamu menuduhku..." Mengelak dari kenayataan agar terlepas dari kesalahan.
Sembari berderai air mata, Kayla pun tertawa "Hahaha....kamu kita aku buta? atau tuli?" Meraih ponsel di atas meja lalu memperlihatkan sebuah foto padanya "Sekarang kamu mau ngelak seperti apa lagi"
Bagai di bungkam ribuan tangan, tak ada sepatah kata pembelaan dari Ali, bahkan seolah nafasnya tertahan si tenggorokan.
"Sekarang kamu butuh bukti apa lagi? oh iya masih ada lagi" Di perlihatkan kembalu foto Ali saat di tepi jalan tengah berpelukan sama Marta.
"Beb, kamu salah paham. Dia itu..."
"Stop, panggil aku Beb. Sekarang kamu keluar dari sini, aku nggak sudi lihat muka kamu lagi" Ucap Kayla dengan nada tinggi.
"Nggak aku nggak akan pergi sebelum kamu dengar penjelasan ku dulu. Dia itu...."
"Suster....tolong" Tiba tiba Kayla teriak minta tolong. Tentu saja semua orang berlarian menuju kamar Kayla.
"Ada apa ini?"Tanya seorang lerawat yang kebetukan lewat di depan kamar Kayla.
"Dia mau berbuat jahat sama saya, sus. Tolong usir dia dari sini"
Ali menggelengkan kepala sambil melihat beberapa orang yang melihat dirinya "Nggak, dia itu bohong. Saya tunangan dia, kalau kalian tidak percaya kami punya cincin tunangan" Meraih tangan Jayla lalu menunjukkan pada semua orang.
"Alah, dasar halu. Mana ada cincin di jari wanita itu" Ucap seorang wanita.
Sontak Ali pun melihat cincin di jari manis Kayla "Lah kok cincinnya nggak ada?"
"Saya saja tidak mengenal anda, bagaimana bisa tunangan" Ucap Kayla meyakinkan semua orang.
"Hu....ketahuan bohong. Seret dia keluar seret aja seret" Tidak butuh waktu lama Ali pun di seret paksa oleh puluhan orang.
Kayla menangis sesenggukan, hatinya benar hancur. Ikatan yang selama ini telah menjaganya kini terlepas bagai tak bertuan.
"Mungkin keputusan itu harus ku tempuh"