"Aku tidak akan melanjutkannya,kalau kamu keberatan." Ucapnya pelan.
"Hah?"
Seolah diriku tidak menginginkan hal ini berakhir begitu saja, aku hanya mengedipkan mata ku.
"Aku takut, saat kita melanjutkannya. Aku tidak bisa berhenti." Lanjutnya.
Seolah ada magnet dan ada sesuatu yang menarik ku,tanpa rasa malu aku langsung mencium Daffa lebih dulu. Kami pun akhirnya berciuman cukup lama dan saling bertautan satu sama lain.
"Entahlah, apakan ini salah atau tidak. Yang pasti, aku menerima ini semua."
"Tidak ada yang salah,karena baik aku atau pun Daffa kita sama-sama tidak memiliki ikatan dengan seseorang." Bisik ku dalam hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evien Alviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Aku pun langsung tertunduk malu, bisa-bisanya Agnes malah ngadu seperti itu.
"Kalian lagi kenapa sih?" ucap Daffa.
"Ah enggak Daf, kita barusan hanya becanda aja kok."
"Udah terusin aja, jangan hiraukan kita berdua ini." lanjut Agnes.
"Ngomong-ngomong, hari ini cuacanya panas banget yah. Perasaan kemarin nggak sepanas ini deh," sambung Dio
"Ya ampun Dio, lagian mau panas atau enggak tenang aja kali. Kita kan nggak lagi di tengah lapangan atau di luar ruangan." timpal Agnes.
"Iya nih Dio, apaan kali." sambung ku.
Dio hanya mengedipkan matanya,seolah tengah memberi kode pada ku dan Agnes.
"Ya iya sih, cuma hari ini aku lupa nggak pakai sun screen."
Aku dan Agnes langsung tertawa mendengar ucapan Dio barusan. Bisa-bisanya dia bisa ngomong seperti itu di hadapan kami.
"Ih Dio, kamu apaan sih? Bisa-bisanya kamu ngomong kayak gitu." ucap ku.
"Lah emang kenapa? Kan nggak salah juga kan,kalau cowok pun pakai skin care."
"Ya enggak salah sih,"
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah menghabiskan semua makanannya, seperti biasa kami berempat langsung menuju taman untuk menghabiskan sisa waktu istirahat kami untuk bersantai.
"Nggak apa-apa kan, kalau kita nyantai dulu di sini." ejek Agnes pada Dio.
"Apaan sih Nes, lagian di sini kan nggak sepanas itu."
"Ya takutnya wajah kamu itu terbakar,"
Saat kami tengah asik mengobrol, ada Alex melintas tepat di depan kami. Karena aku merasa tidak enak dan lebih dulu melihat dia, aku pun menyapanya lebih dulu.
"Eh hai....." ucap ku sambil melambaikan tangan.
"Ran," balasnya sambil tersenyum.
"Kamu dari mana aja? Kok baru kelihatan."
"Iya Lex, biasanya kamu suka bolak-balik main ke kelas kita." sambung Agnes.
"Ah itu, seminggu ini aku tidak masuk. Kakek aku di Medan seminggu yang lalu meninggal." jelasnya.
Aku dan yang lainnya langsung terkejut mendengar berita itu. Karena memang setahu aku, kakeknya itu merupakan donatur di sekolah kami ini.
"Kamu serius?" tanya Dio.
"Serius lah, masa iya aku becanda."
"Ya ampun, aku turut berbelasungkawa yah. Atas meninggalnya kakek kamu, semoga kamu di beri ketabahan sekeluarga." ucap ku.
"Iya, makasih......"
"Kalau gitu aku permisi dulu, aku mau langsung ke perpustakaan. Soalnya ada beberapa buku pelajaran yang harus aku pinjam."
"Kalau kamu butuh apa-apa atau bantuan gitu, kasih tahu aku aja. Kan kita satu jurusan ini,cuma beda kelas aja."
"Iya......"
Alex pun berlalu meninggalkan kami,aku terus memandang kepergiannya itu. Setahu aku, Alex memang sangat dekat dengan kakeknya itu apalagi semenjak ayah nya meninggal sekitar dua tahun yang lalu.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Kamu tadi ngapain sih, sok perhatian banget sama Alex." ucap Daffa sambil menarik tangan ku.
"Hah?"
"Emang nya salah yah? Kan dia juga sama teman kita. Ya meskipun tidak sedekat itu, tapi kan kita tahu dan kenal sama dia. Emangnya nggak boleh yah,kalau aku respect sama dia?"
"Bukan seperti itu, aku cuma takut saja. Aku takut dia salah mengartikan kebaikan kamu itu."
"Ya ampun kamu tenang aja kali, nggak usah mikir yang aneh-aneh." balas ku sambil menepuk pundaknya Daffa.
"Kamu selalu berbuat baik sama siapa saja,. Aku takut kejadian di masa lalu itu terulang lagi. Kamu tahu, betapa khawatirnya aku saat itu?"
Ucapan Daffa barusan langsung buat aku tertegun, memang yang di katakan Daffa barusan benar. Di masa lalu, aku sering kali mendapatkan perlakuan yang kurang baik dan di manfaat kan sama orang lain atau siswa laki-laki di sekolah ini. Hanya karena aku berbuat baik atau peduli sama mereka.
Kebaikan ku seolah hanya di jadikan candaan dan lelucon sama mereka. Aku sempat terpuruk saat itu dan tidak lagi mau bergaul atau menyapa orang lain selain ke tiga teman ku ini dalam waktu cukup lama.
"Benar juga apa yang kamu katakan barusan, hanya saja aku yakin Alex tidak sama seperti mereka. Aku yakin dia berbeda,"
"Kenapa kamu bisa seyakin itu?" tanya Daffa.
"Entah lah,"
"Aku merasa dia tidak mempunyai rekam jejak yang tidak baik di mata ku selama ini." lanjut ku.
"Kalau itu aku gimana?" tanya Daffa.
Aku langsung menatap Daffa heran, aku tidak mengerti maksud dan arah tujuan pembicaraan Daffa kali ini.
"Maksudnya?" tanya ku balik.
Daffa malah balik berbalik menatap ke arah depan dan memalingkan wajahnya.
"Enggak, aku hanya asal ngomong aja." balasnya sambil tersenyum.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sepulang sekolah aku tidak pulang bersama Daffa,melainkan bareng sama Agnes. Karena kebetulan hari ini dia dan Dio ada jadwal latihan basket sampai sore.
Sesampainya di parkiran, aku lebih dulu mengambil helm yang tadi pagi aku simpan di motornya Daffa.
Saat aku hendak melepaskan helm yang di ikatkan di kaca spion, aku sama-samar melihat sebuah foto berukuran kecil di dalam jok depan motor Daffa.
"Apa itu?" ucap ku pelan.
"Sepertinya itu foto cewek, siapa yah?" lanjut ku.
Aku merasa penasaran dan ingin melihatnya sebentar, hanya saja aku ragu. Aku merasa tidak sopan mengambil atau melihat barang orang lain,meskipun itu milik Daffa.
"Lihat nggak yah? Jangan-jangan itu foto cewek yang sekarang tengah dekat sama dia lagi."
Karena penasaran, perlahan aku pun mulai mengulurkan tangan ku untuk meraih foto itu.
"Ran......!" seruan Daffa mengagetkan ku.
Aku pun langsung menarik kembali tangan ku yang belum sempat meraih foto tadi.
"Kamu lagi ngapain?" tanya nya.
"Ah ini, aku lagi ngambil helm aku."
"Kamu sendiri ngapain kok malah ke sini sih? Bukannya udah waktunya buat latihan?"
"Aku melupakan seragam olah raga ku di dalam jok motor. Ini aku mau mengambilnya lebih dulu,"
"Oh gitu,"
"Ya udah kalau gitu aku duluan yah. Agnes udah nungguin di depan."
" Iya, hati-hati....."
"Bilang sama dia, jangan ngebut-ngebut bawa motornya.Yang penting sampai," lanjutnya.
"Iya......"
"Kamu ngomong udah kayak ibu kamu aja."
Aku pun langsung berpamitan sama Daffa dengan melambaikan tangan.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sesampainya di gerbang depan, aku langsing menepuk pundak Agnes. Karena dia malah tengah asik main HP.
"Hayo, lagi ngapain....." ucap ku.
"Kamu tuh habis ngapain? Lama bener ngambil helm doang."
"Iya maaf, tadi aku malah tidak sengaja ngobrol dulu sama Daffa. Soalnya dia ada balik ke parkiran dulu buat ngambil seragamnya yang ketinggalan di jok motornya." jelas ku.
"Ah......"
"Ya udah yuk,naik. Nanti keburu macet lagi,"
Aku pun langsung menaiki motor Agnes, meskipun sebenarnya aku masih kepikiran dengan masalah foto yang ada di jok motor Daffa tadi.
😂👍💪
Jujur aj lah Daf...knp hrs takut?
la wong ibu sendiri dan ibu tetangga koq....
Jd Tukang ngancam nih....😅
jd baperrrr nih.....
Smg mereka berjodoh yaaa
Lanjutttt kak semangat!!😘💪
Lgsg Tembak aj,Daf....
Duarrrrrrrrr......!!🙈🐻
Daffa 'menyimpan' rasa untukmu Rania....😍😘
Ganti judul cover nih ,Mbak??
😊👍💪
Malu malu Meooong......😉💪
Ayo dong Gercep....!!
🌺4 Rani-Daffa💝🥰💪
Maklum habis lebaran banyak acara mendadak,jadinya tidak sempat untuk update.