Mengapa? Mengapa aku kehilangan duniaku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi wahyuningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cacat Dan Bodoh
David terdiam sebentar, dia terlihat terkejut, tapi tak lama dia menoleh menatap Melisa yang terlihat sedikit gugup.
"Melisa, katakan padaku, kenapa aku tidak tahu putriku meninggal? Katakan padaku, katakan!" David melotot tajam kepada Melisa membuat Melisa tertekan, tapi dia juga masih mencoba untuk terlihat tenang.
"Denise sudah akan di operasi, kenapa aku harus membuatmu pergi? Putrimu yang sudah mati memang bisa hidup lagi saat kau datang padanya? Yang ada Denise ku akan sedih sampai mati saat kau meninggalkan dia saat dia gugup setengah mati menjelang operasi."
Helena tak mengatakan apapun lagi, dia hanya bisa menatap dengan jijik sepasang manusia yang berada di hadapannya. Benar, selama ini David termasuk Ayah yang perduli dengan Velerie, dia tidak pernah merasa berat atau malu saat membawa Velerie pergi untuk berjalan-jalan, dan menghabiskan waktu untuk bersama. Hanya saja setahun belakangan ini David begitu fokus dengan Denise, putri keduanya yang katanya menderita sebuah penyakit yang hingga ini Helena tak tahu, juga tak ingin tahu.
Awalnya Helena masih mencoba untuk mengerti dan tidak pernah lelah memberikan pengertian kepada Velerie, tapi karena beberapa waktu belakangan David sering mangkir dari janjinya kepada Velerie, Helena sudah tidak bisa lagi memberikan pengertian kepada Velerie yang mungkin saja mulai merasa muak terus di bohongi.
David terlihat sangat marah, dia mencengkram kedua lengan Melisa hingga tangannya gemetar. Sungguh dia marah sekali, dan yang lebih menyedihkan lagi adalah, kedua orang tuanya juga seperti enggan perduli dengan Velerie yang meninggal dunia. Orang tua David begitu menyayangi Denise, mereka bahkan sering bersikap sinis ketika David pergi bersama Velerie, dan membawa Velerie untuk bertemu mereka. Tentu saja David menyadari benar bahwa tidak ada satupun yang menginginkan Velerie di keluarganya, bahkan Denise juga enggan dekat dengan Velerie. Alasannya adalah, Denise takut akan tertular oleh Velerie, dan jelas anak empat tahunan tidak akan mungkin mengatakan hal seperti itu kalau tidak orang dewasa di sekitanya menghasut dirinya. Tapi mau bagaimana lagi? David pikir dengan sering membawa Velerie ke keluarganya akan perlahan membuat Velerie di terima dan mendapatkan kasih sayang yang sama dengan Denise. Salah, David benar-benar salah besar dengan itu!
Velerie....
Buah cintanya bersama Helena sudah pergi, meninggalkan penyesalan yang begitu mendalam, kesedihan yang begitu menyakitkan, kekecewaan, kemarahan. Velerie memang memiliki kondisi tidak biasa, tidak normal, tapi tetap saja Velerie adalah putrinya, jadi mana bisa David Setega itu dengannya?
"Berhenti menangisi putriku, sungguh aku jijik melihatnya. Apa yang kau sesalkan hah? Kau memang Ayah kandungnya, tapi kau tidak memberikan kebahagiaan yang dia inginkan. Tidak usah berlebihan seperti itu, dia hanyalah anak kecil yang cacat, bodoh, idiot, dan juga beban, bukan begitu?" Helena tersenyum mengejek menatap David dan juga Melisa. Tentu saja kalimat hinaan itu adalah kalimat yang sering di katakan Melisa, juga Ibunya David. Bagaimana Helena tahu? Itu semua karena Velerie sendiri yang tanpa sengaja mengatakan kepada Helena.
Suatu hari Velerie kembali ke apartemen setelah seharian pergi menghabiskan waktu bersama Ayahnya. Velerie dengan senang berlarian dan menghampiri Helena, lalu bertanya.
Bu, cacat apa? ( Cacat itu apa? )
Bu, bodoh?
Idiot?
Bu, beban apa?
Satu persatu kata itu keluar dari mulut Velerie degan jeda yang cukup lama. Awalnya Helena sengaja tidak menyahut pertanyaan Velerie karena dia pikir dia hanya salah dengar, tapi saat kata kedua, ketiga, terakhir ke empat, Helena mulai bereaksi, dan perlahan bertanya dari mana Velerie belajar kata-kata itu. Velerie menjawab Ibu Denise, dan nenek. Terkejut pasti, hancur, dan sangat marah juga kecewa. Tapi karena takut akan salah paham, Helena kembali bertanya dengan nada bicara dan mimik wajah yang lembut.
"Erie, apa mereka sedang mengobrol seperti kita sekarang? Maksudnya, Erie bicara kepada Ibu dengan kalimat tadi?"
Erie mengangguk, dia tersenyum bahagia karena sejak lahir hingga enam tahun usia Velerie, Helena sama sekali tidak pernah mengatakan kalimat makian, dan hinaan semacam itu kepada anaknya.
"Erie cacat! Yey!......" Ucap Velerie dengan begitu bahagia seolah menganggap bahwa makian itu adalah hal yang membanggakan dan pujian untuknya.
Helena terdiam sebentar, dia menoleh menyembunyikan wajahnya karena seketika itu dia menangis sedih. Kenapa Setega itu mereka terhadap Velerie? Sebenarnya di mana letak kesalahan putrinya? Semenjak dia resmi bercerai dengan David dia sama sekali tak pernah mendapatkan sedikit saja uang untuk Velerie, dia bekerja sendiri untuk putrinya, bahkan tidak pernah menuntut apapun dari David karena tidak ingin kalau sampai suatu hari dia harus mendengar ucapan Ibunya David yang hobi sekali mengungkit apa yang sudah dia berikan. Helena juga tidak ingin berurusan dengan Melisa karena saat itu, mengingat nama Melisa saja dia sudah begitu emosi sampai ingin muntah.
"Kau bicara apa, Helena?! Kalaupun memang dia memiliki kekurangan, dia tetap putriku!" Bentak David tak terima mendengar Helena mengatai Velerie.
Helena terkekeh geli, sungguh dia jijik meskipun kesedihan di wajah David terlihat begitu tulus.
"Aku tidak ingin bertengkar atau banyak bicara dengan mu, aku muak. Pergilah, pergi sejauh mungkin, jangan datang lagi ke tempat istirahat putriku yang bodoh dan cacat. Semoga kau hidup dengan menderita, mati pun menderita, terutama mulutmu, Melisa. Mulut yang memaki putriku dengan makian tadi, aku bersumpah akan mengutuk mu setiap waktu, setiap menit, setiap detik, setiap jantungku berdetak." Helena tersenyum menatap Melisa yang menatapnya tajam.
"Apa?" David menatap Melisa lagi dengan tatapan penuh tanya. Kalimat yang di ucapkan Helena barusan tentu saja sudah cukup menjelaskan bahwa makian kejam tadi pernah di ucapkan Melisa kepada Velerie.
Melisa membuang tatapannya dari David yang begitu marah menatapnya.
"Anak enam tahun yang hanya tahu berkedip, bicara hanya satu atau dua kata saja, tidak bisa menggunakan baju, tidak tahu membersihkan diri setelah buang kotoran, makan berantakan kemana-mana, masih tidak bisa mengontrol air liur, bahkan minum dengan sedotan saja masih kesulitan. Memang apa namanya kalau bukan bodoh dan cacat?"
"Melisa!" David sudah bersiap mengangkat tangannya, tapi tak melanjutkan aksinya karena dia masih bisa menahan dirinya dengan baik.
Helena terdiam tanpa ekspresi meski hatinya hancur sekali. Sekarang putrinya pun sudah pergi, dan dia juga merasa akan lebih baik putrinya pergi karena di dunia ini begitu banyak orang yang sangat jahat. Velerie pasti akan sangat menderita mendapat siksaan batin dari orang seperti Melisa bukan? Yah, tidak apa-apa, mati memang adalah pilihan yang benar, batin Helena sembari mengepalkan tangannya karena perasan marah yang dia rasakan seperti sudah memenuhi kepalanya.
Bersambung.
terima kasih kakak, karya nya selalu bagus, keren dan luar biasa, banyak pelajaran yang bisa diambil dari semua cerita nya baik buruknya kehidupan.