Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Wira

Sang Wira

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ita Am

Sebuah kisah seorang pria desa yang tergelincir pada dunia percintaan kelamnya. Dimana takdir telah memaksanya untuk bertindak sejauh jarak yang tak pernah terpikirkan untuk dia gapai.
Dari kelamnya takdir masa lalu, kini masa depannya pun menjadi lebih kelam, seolah bayang-bayang cinta masa lalunya lah yang telah menuntun langkahnya menjadi seburuk ini, bahkan sampai kehilangan jati dirinya, demi sebuah kepuasan, pelampiasan, dendam, dan luka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Am, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Sang Wira 6

Yuni pun hanya bisa diam dan saling menatap dengan Lukman. Memang mau bagaimana lagi dia? mengelak? bukankah semuanya sudah jelas, kalau dia memang tak pernah ada untuk Danu, bahkan sekalipun saat Danu tengah sakit.

"Kamu yakin? Memangnya dulu kemana aja kamu? Saat Danu rindu sama kamu! Saat Danu nangis semalaman, demam dan kejang, manggil nama kamu, minta susu, minta ditemenin tidur sama kamu, kamu kemana?" Wira mulai berani menyerang mantan istrinya dengan bersenjatakan kekecewaan.

Yuni pun tak sanggup berkata-kata lagi. Kesedihan jelas memancar pada wajahnya yang molek. Namun entah mengapa kecantikan itu seolah memudar bersamaan dengan bayangan kekelaman nan berkabut masa lalu yang terlintas dalam otak Wira. Rupanya kecantikan yang dimiliki Yuni tak akan sanggup menutupi ribuan rasa kecewa yang telah bertumbuh di hati Wira.

Ya, cinta dan kekecewaan yang sanggup hidup dan tumbuh bersama dalam satu hati yang telah mengeras milik Wira. Bukankah sudah jelas, Yuni adalah pemberi kekecewaan terpahit sepanjang sejarah hidupnya. Namun hatinya masih saja sanggup membohongi diri sendiri. Seolah kekecewaan itu tak pernah ada, meskipun sebenarnya rasa kecewa itu tumbuh dengan suburnya di dalam hati, bersama rasa cinta dipenuhi kenangan indah bersama Yuni. Alhasil, keduanya pun sanggup saling melengkapi satu sama lain. Memberi rasa bahagia, juga memberi luka. Luka dalam bahagia. Cih, terlalu manis, atau mungkin, kata-kata yang terlalu bodoh. Bodoh sekali.

"Kamu mau ambil Danu dari saya? Dengan bermodalkan kertas ini!?" Tanya Wira pada mereka berdua. Tangan kanannya menunjukkan kertas yang disinyalir adalah akta lahir Danu yang dibuat oleh Lukman. Tentu saja akta lahir itu tak mungkin beres tanpa keluar uang. Jelas itu bukan sifatnya ayahnya si Lukman. Mana mungkin Wira mau dibodohi. Sekalipun dia sudah pantas berjuluk kakek tua, tapi jangan salah. Otaknya bahkan lebih cerdas dari anak tiga puluh tahunan macam si Lukman itu.

Wira pun kembali terkekeh. Ia memiringkan selembar kertas di tangannya, dan kemudian berniat merobeknya. Tentu saja Lukman dan Yuni semakin dibuat terkejut, "kamu mau apa, Mas?"

"Ingat, Wir! Masa depan anak kamu jauh lebih penting!" Ucap Lukman mencoba membujuk Wira.

"Kenapa dengan masa depan anakku? Aku punya uang yang banyak! Tanpa sekolah di sekolah pun Danu bisa jadi anak yang pandai! Kaya! Dia bisa mengelola uangku seumur hidupnya!" Jawab Wira tak mau kalah dengan ancaman Lukman. Memang betul si apa yang dikatakan oleh Wira. Dia bahkan bisa membiayai tujuh turunan nya dengan harta yang dia miliki tersebut.

"Kamu mungkin bisa membayar kebutuhan pangan Danu, bahkan sampai tujuh turunannya, tapi apa kamu bisa menjamin Danu bahagia dengan itu?" Tanya Lukman, entah mengapa wajah picik sebelumnya seolah tertepis manakala berbicara demikian, "kamu tidak bisa membayar kebahagiaan yang seharusnya dialami oleh anak-anak pada umumnya, bayangkan saja, teman-teman sebayanya bisa bersekolah dan bermain dengan kawannya, tapi Danu, dia hanya akan merasa asing, dia merasa tak punya teman, atau bahkan tak punya siapapun sebab dia tidak bersekolah! Dia hanya akan merasa malu melihat teman-temannya bersekolah! Apa kamu ndak kasihan!?" ucap Lukman sukses memanah relung hati Wira, membuat Wira hanya bisa membisu di tempatnya.

Kali ini ucapan Lukman berhasil membungkam mulut Wira sebisanya. Memang benar kata Lukman, kebahagiaan anak-anak adalah saat bisa bermain dengan teman-temannya dan bersekolah.

Tapi.. apa mungkin demi hal tersebut Wira rela memberikan Danu pada Yuni yang tidak pernah lagi peduli pada Danu sejak pergi lima tahun lalu? teringat lima tahun terkahir dimana dia selalu menghabiskan waktu bersama dengan putra tunggalnya. Sedih senang selalu mereka lalui bersama tanpa kehadiran Yuni di sana. Lalu sekarang, mendadak Yuni hadir untuk merebut Danu darinya. Apa dia akan semudah itu untuk menyerah?

"Pikir baik-baik, saya kasih kamu waktu satu minggu, syukur-syukur kamu bisa kasih kepercayaan ke kami buat ngerawat Danu, kami janji bakal jadi orang tua yang baik buat Danu."

Setelah berkata demikian, sepasang suami istri itu pun segera pergi meninggalkan rumahnya. Bahkan tanpa melihat keadaan Danu lebih dulu. Mencengangkan.

Setelah kepergian Yuni dan suaminya, otak Wira mulai mendidih memikirkan keputusan apa yang akan dia ambil.

Sehari semalam dia tak dapat tidur. Bahkan di malam kedua pun ia hanya tidur selama dua jam lamanya. Rasanya tak mungkin dia melepas Danu untuk Yuni setelah apa yang dilakukan oleh Yuni pada Danu.

Setelah sekian lama dia bergelut dengan pemikirannya sendiri, pada akhirnya Wira pun memutuskan untuk datang menemui Leman, sahabatnya. Sejauh ini yang ada di dalam otak Wira memang hanya Leman seorang. Bukan jatuh cinta, tapi memang selain Leman tidak ada harapan lain lagi.

"Menurut kamu bagaimana, Man? Aku harus gimana? Melepas Danu apa gimana?" Tanya Wira pada sahabat karibnya.

"Gimana ya Wir, aku yo bingung nek ngene carane," jawab Leman tak kalah bingungnya dari Wira.

Keduanya diam sejenak. Dalam otak masing-masing tercantum rumus bagaimana memecahkan persoalan tersebut. Pada nyatanya keduanya memang sangat dibuat bingung dengan keadaan ini.

"Di satu sisi anakku memang butuh pendidikan. Apalagi usiaku sudah tak muda lagi, lima puluh tahun aku, udah pantes jadi kakek-kakek toh! Tapi aku kok lek mau melepas Danu buat si Yuni kok rasanya ndak ikhlas, Man," ucap Wira nelangsa, "Ndak lupa aku waktu si Danu sakit tengah malem, minta susu sama minta ibunya, tapi Yunine ndak ada, sakit aku, Man.. mau nangis aku." Ucap Wira pada sahabatnya.

"Piye, Leh ngene carane.. aku bingung Wir. Kabeh mau yo salahmu dewek! Mbojo koh ilegal, mbrojol anakmu yo luwih Angel meneh! Angel toh Saiki?" Tanya Leman pada sahabatnya.

"Kan kamu tahu sendiri dulu aku ndak punya uang buat daftar nikah di KUA, kalau tahu gini si mending tak pending malam pertamaku." Ucap Wira setengah melucu. Sayang sekali, dia bahkan tak tersenyum dengan leluconnya sendiri.

"Mana tahan dirimu! Wong Yuni terkenal kembang desa ko, ndelok lambene ae uwis rak tahan! Opo meneh.. leh ndelok anu.." ucap Leman sembari mengelus pahanya yang masih berselimut celana dinas.

Mereka berdua saling bertatapan sejenak, membeku dengan perkataan Leman barusan, sebelum akhirnya tawa mereka tak dapat lagi tertahan. Pecah sudah tawa renyah mereka di dalam ruang tamu kediaman Leman serta istrinya. Kali ini Leman sukses membuat leluconnya.

Keduanya pun tertawa terbahak-bahak seolah tidak memiliki persoalan apapun. Alhasil kebingungan Wira dan niatnya menemui Leman untuk mendapat solusi hanya mengalami jalan buntu semata.

...----------------...

Bersambung..

1
ayat sans
bagus
Aris Lefara
karakter utama lemot dan lemah.
ga ada balasan
Iyana Computer
Lanjutkan⏩⏩
tinta hitam: Oce Kaka ☺️
kawal sampe akhir ya ka ☺️
total 1 replies
Achi
Asyiiik ada yang baru 👏👏 Semangat kak 💪
Achi: Sama-sama 🥰🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!