Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Presdir A.

Menikah Dengan Presdir A.

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Pernikahan Kilat / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: NitaLa

Anima dan Presdir A. tidak pernah berniat untuk menikah, jika bukan karena kesalah pahaman tante Amira yang mengira Anima dan anaknya itu melakukan hubungan terlarang. Melihat dari sisi Presdir A. yang sebenarnya tidak cukup kenal dengan Anima. Dan dari sisi Anima yang sepertinya agak sedikit kaku karena sepupunya itu sangat dingin dan cuek. Lalu bagaimana jadinya kalau keduanya harus rela mempertahankan pernikahan demi adik Anima yang menginginkan keduanya tetap bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perpisahan Manis

Kepergian Alvenjair ke kamar mandi membawa keheningan di meja yang ia tinggalkan. Nampak Anima dan Kencani melongo melihat kepergian Alvenjair, juga kata terkahir yang ia katakan. Yang berarti sama saja seorang Alvenjair telah membuka borok yang ia pendam. Jadi pada dasarnya pria itu secara tidak sengaja telah mengakui tingkahnya itu. Yang membuat Anima rela untuk dinikahinya padahal kejadian itu salah besar. Tapi akibat perkatannya itu Anima jadi sadar kalau Alvenjair telah merelakan kepercayaan hanya untuk melihat senyum ibunya. Sungguh luar biasa ia pasti enggan melanjutkan perkawinan ini jika bukan karena terjebak.

"An dia bilang apa tadi, Tante sampai nggak percaya," bingung Kencani yang pada saat itu memang sedikit agak linglung. Ia memang ingin Anima dan Alvenjair tidur bersama, tapi ia tidak percaya kalau semudah itu anaknya menyetujui. Perkawinan yang itu juga ia tolak mentah - mentah, dan tidak mengakui. Tapi sekamar itu ia menyetujui hanya karena melihat ibunya yang terus - terusan memaksa. Sebenarnya apa yang sedang ia pikirkan, gumam Anima dalam hati.

"Anu tan, tapi jujur aku belum siap," ujar Anima seperti tidak mengerti mengapa tantenya terus melakukan itu padahal keduanya tidak melakukan apapun. Kalau terus - terusan seperti ini akan semakin lama, jadi kalau sudah lama akan sulit berpisah. Jika bukan karena salah satu dari mereka menderita, Anima tidak mau itu terjadi pada dirinya. Ia tidak mau menjadi gadis lemah seperti dulu.

"Kenapa An kamu mau ngecewain Tante juga sama kayak suami kamu itu," kesal Kencani, ia melihat mata Anima seolah kecewa dan tidak menyangka kalau ternyata mertuanya yang tidak suka akan usulnya. Karena nytanya anaknya setuju saja meskipun agak mengherankan. Tapi tetap saja sepetinya ia benar - benar menurutinya, tapi belum pasti setelahnya ia akan melakukan apa. Semoga saja pria itu tidak macam - macam, apalagi pada Anima.

Melihat mata Tante yang berbinar tapi mengeluarkan air mata itu, membuat Anima tiba - tiba saja merasa iba. Hatinya serasa bersalah karena menolak tawaran ituu, jadi mungkin Anima telah terjebak karena rayuan tantenya itu. Dengan terpaksa Anima menyetujui usul tersebut.

"Baik tan, aku akan tidur bersama Presdir A. Tapi Tante jangan ngintip kita lagi," ucap Anima dengan nada kesal di ujungnya. Kejadian tadi siang membuatnya merasa ngeri harus berhadapan lagi dengan Alvenjair apalagi satu kamar. Apa dia akan meminta itu lagi, karena belum bisa melunasi hutangnya. Jangan itu tidak boleh terjadi, pikir Anima.

"Kenapa sayang, kalian sudah syah," goda Kencani yang membuat pipi Anima merah seperti tomat. Ia jelas malu sekali jika tantenya tahu hal - hal seperti itu apalagi mengungkit dirinya. Padahal itu tidak pernah terjadi tapi tetap saja Anima merasa malu karena mengangkut namanya dan Presdir A.

"Buka begitu tan, memang Tante yakin kalau Alvenjair mau sama saya jelas tidak kan. Aku percaya kalau dia tidak akan macam - macam," kata Anima setegar mungkin. Ia merasa pernikahan ini tidak akan berjalan seperti pernikahan umumnya, ujungnya pernikahan ini hanya sebatas pernikahan biasa yang berujung perceraian muda. Bahkan untuk saat ini juga Anima ingin segera mengakhirinya, jika bukan karena keluarga yang terus - terusan percaya. Semua telah direncanakan Anima tidak bisa menolak, kehendak Tuhan memang paling benar.

"Nak Alvenjair juga cowok biasa, ia pasti akan tergoda jika sudah satu kamar. Makannya mama mau kamu sama dia di satu kamarkan, siapa tahu kamu dan dia tetap langgeng," ujar Kencani yang membuat detak jantung Anima berdentum - dentum. Karena sejujurnya ia juga masih tidak percaya menjadi menantu tantenya sendiri, dan ia harus di hadapkan dengan kenyataan kalau mertuanya itu ingin ia tetap menjadi menantunya. Jadi bagaimana itu bisa terjadi, Anima perlu menjerit.

"Hah maksud tante apa, kenapa jadi mama," ucap Anima kebingungan, dan masih shock dengan kata - kata tantenya tadi. Ia melihat tantenya seolah meminta kebenaran, dan yang ia lihat memang tantenya memanjabkan seribu kali benar di setiap katanya. Jadi Anima harus pasrah saja menghadapi kenyataan pahit ini.

"Sayang mulai sekarang kamu adalah menantu Tante, jadi kamu adalah anak Tante. Udah sepantasnya kamu memanggil Tante mama, itu lebih bagus," ucap Kencani yang sepertinya begitu terhibur karena kehadiran Anima di rumahnya. Status anaknya yang berubah karena terus melajang membuatnya merasa bahagia. Terlebih orang yang dinikahinya juga adalah gadis yang ia sayang dan suka, Anima ponakannya itu.

"Yah baik ma kayaknya itu membuat Anima jadi gampang memanggilnya," ucap Anima terdengar pasrah. Mengganti panggilan dengan mama adalah hal lumrah karena Kencani juga tantenya. Meskipun pandangan orang berubah terhadap Anima, karena sekarang ia adalah istri syah seorang Presdir. Tapi Anima tidak bisa menolak permintaan sang tante, itu sulit seperti menelan sebuah permen.

"Bagus," ucap senang Kencani sambil mengelus bahu Anima yang mengenakan baju tidurnya. Ia mengenakan baju tidur Kencani yang sepertinya sebuah ligerine tidak terlalu sexy, yang membuat Anima seperti layaknya istri sungguhan.

"Yap kalian sudah selesai, mari kita tidur," ucap Alvenjair yang sudah mengenakan baju tidur juga. Ia nampak mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil. Tatapan tajamnya jatuh pada Anima, seolah meminta gadis itu cepat bangkit. Suara bass yang mengagetkan Anima dan Kencani itu, replek membuat mereka melihat ke asal suara. Dan mungkin hanya Kencani yang tidak pingsan karena ucapannya, tapi Anima masih berdiri di kesadarannya hanya suatu alasan karena ia tidak percaya ini terjadi padanya.

"Astagfirullah Alv apa yang kamu kenakan sebenarnya. Kenapa kamu bisa mendadak berubah," kaget Kencani sambil menutup mulutnya yang terbelalak itu. Ia jadi heran pada sikap anaknya yang dingin ini, tadi ia menolak dengan mentah. Skerang ia seperti pasrah atas apa yang terjadi, atau karena ia sudah lelah menghadapi sikap ibunya yang begitu kekeuh. Sampai tidak percaya pada anaknya sendiri, dan lebih memilih benar pada dirinya sendiri untuk kebaikannya. Dasar ibu menyebalkan, desus Alvenjair.

"Aku mengenakan baju layaknya suami baru ma, sekarang mama puas kan aku kayak gini. Udahlah berhenti dari sikap mama, aku cape abis ngantor," ucap Alvenjair sepertinya memang suntuk, terbukti matanya memberitahukan kalau ia ngantuk. Hal yang membuat Anima sadar kalau semata Alvenjair melakukan itu karena ia memang sedang tidak mood untuk membahas ini, bahkan membencinya. Jadi ia harus rela mengorbankan dirinya sendiri, agar ibunya tak marah dan kecewa.

"Ya kalian nampak serasi," puji Kencani sambil memperhatikan Anima dan Alvenjair. Yang membuat keduanya bereaksi lain, mereka sama - sama mengusap bahu masing - masing untuk meredakan rasa malu itu. Siapa sih yang tidak malu kalau di tuding melakukan hal itu, itu akan menjadi kenangan paling memalukan seumur hidup.

"Ya sudah mending mama tidur aja ya sudah malam, sekarang Anima kamu harus siap - siap masuk kamar. Gue ngantuk banget nih," ujar Alvenjair sambil mendorong bahu mamanya dengan lembut, agar wanita itu cepat memasuki kamarnya. Lantas ibunya hanya menurut saja karena diperlakukan seperti itu, ia sedikit menyerukan suara sebelum pergi ke kamarnya.

"Malam sayang," ucapnya lirih mengiringi langkah pelannya menuju kamar. Ia tidak berbalik lagi melainkan memastikan keadaan Anima dan Alvenjair yang sama - sama melihatnya penuh kebingungan. Tapi setelah itu Alvenjair langsung menarik Anima untuk memasuki kamar yang sekarang telah menjadi kamar pribadi suami istri itu.

"Maksud kamu apa?" tanya Anima disertai nada kesal, ia langsung saja mengatakannya karena tidak tahan dengan keputusan sepihak Alvenjair. Ia seolah memberi benteng untuk melanjutkan pernikahan, padahal tidak ada percikan cinta sama sekali di hatinya.

"Sudahlah Anima nggak usah pura - pura kalau loe juga nggak terlebat dalam masalah. Sekarang biarkan ini terjadi, karena gue juga nggak mampu melawannya," ucap dingin Alvenjair yang sepertinya memang udah kesal banget sama Anima melihat gadis itu yang sepertinya pasrah sekali di suruh ini itu. Bukannya ia sendiri saja yang suka menolak ini itu, ia lebih peduli pada pernikahan ini. Dan punya komitmen kuat untuk mengakhirinya berbeda dengan Anima. Labil sekali, kesal Alvenjair di dalam hati.

"Ya sudah terserah kamu Presdir," ucap Anima terpaksa karena ia juga enggan melawan Presdirnya sendiri. Ia langsung saja menaiki kasur karena tidak mau tidur di sofa, jelas punggungnya akan sakit jika melakukan. Lagi pula tidak mungkin juga seorang Presdir A mau satu ranjang dengannya.

"Aduh gue ngantuk banget nih, untungnya loe udah mau tidur tadi lama banget sih," kesal Alvenjair seperti sedang melantur. Ia terjun dengan santai ke ranjang sebelah Anima yang membuat gadis itu terbelalak. Tapi ia segera sadar diri, karena ia tahu betul kalau pria itu tidak berbohong sedang ngantuk. Ia merasa iba dan membiarkan Alvenjair tidur di sebelahnya. Keduanya mengenakan selimut yang sama, sama - sama menikmati rasa kantuk yang perlahan menyeruak.

Sebelum tidur Alvenjair sempat membalikan badannya menghadap Anima, dan memberitahukannya sesuatu. "Anima sekarang loe udah di pecat dari kantor," ucapnya lalu berbalik menghadap lain lagi. Anima ingin sekali berkomentar dengan apa yang dikatannya tadi, bahkan menjambak rambutnya karena kesal dengan keputusan Presdirnya itu. Tidaklah ia sadar kalau Anima butuh bertahun - tahun untuk kerja di kantornya. Dasar pria menyebalkan, kesal Anima.

"Tapi Presdir saya berharap tidak keluar sekarang," ucap pelan Anima ketika melihat sepertinya Presdir A telah tertidur. Anima hendak menyentuh bahunya lalu terkaget ketika mendengar hendukan halus dari pria itu. Ia langsung menghentikan aksinya, dan melihat langit - langit dengan bimbang. Lalu kemudian keduanya tertidur secara bersamaan, sama - sama penat menghadapi hari yang melelahkan.

**

Paginya Anima terbangun sendirian di kamarnya, ia tidak melihat pria itu di kamarnya. Dapat ia lihat sekarang pukul 6 lebih dua puluh menit. Masih mengenakan baju tidur ia keluar dari kamar, ia melangkahkan kaki menuju mama yang sedang memasak untuk Alvenjair ke kantor. Tapi dimana pria itu, Anima sambil mencarinya dari sudut ke sudut. Dan baru menemukan pria itu lengkap dengan stelan kantor sedang makan roti di meja makan. Pemandangan yang membuat Anima kaget, benarkan seorang Presdir A yang disanjung itu berangkat sepagi ini.

"Hi sayang udah bangun, sana cuci muka dulu habis itu bantuin mama masak," ucap Kencanii dengan berbinar dan senyum baik hati yang membuat Anima merasa sejuk. Lantas buru - buru saja Anima cuci muka di wastafel dan menghampiri Alvenjair untuk membahas kantor. Tapi nampaknya Alvenjair tidak suka, ketika Anima duduk di sebelahnya.

"Jadi sekarang gue udah di pecat ya kak," ucap Anima bingung. Kalau ia tidak kerja berarti ia tidak punya pekerjaan lain di rumah. Benar - benar Presdir yang tidak punya perasaan, keluhnya dalam hati.

"Ya," balas Alvenjair sambil mengunyah rotinya. Ia seperti tidak peduli pada Anima dan bersikap dingin. "Ma, aku berangkat sekarang ya," lanjutnya setelah menghabiskan satu buah roti. Ia langsung berdiri dan melangkahkan kaki untuk keluar rumah, mau berangkat kerja sepagi ini. Sepertinya ia memang sengaja melakukan itu, untuk menjauhi Anima dan meninggalkan sendirian di rumahnya ini.

"Eh kamu nggak makan dulu," segrah mama sambil melambaikan tangan melarang Alvenjair untuk pergi tanpa makan. Anima hanya menatap punggung pria itu yang menjauh di kursi yang ia duduki sambil memakan roti yang tersisa.

Kenapa aku harus terjebak perkawinan dengan cowok yang nggak nganggap aku ada. Dia sampai tega memecat perkerjaan impian aku. Cowok dingin yang kejam, kesalnya dalam hati.

**

1
Pichaacha
sedikit masukkan, untuk pengantin laki² menggunakan bin bukan binti dan pakai nama bapaknya ga bisa pke nama ibunya walau cerai. jikalau tidak diketahui bisa menggunakan "fulan" yang merujuk ayah biologisnya. Begitu pula untuk pengantin wanita baru menggunakan binti tetapi tetep menggunakan nama ayah biologisnya jikalau ia memiliki ayah tiri, yg dipakai harus nama ayah biologisnya. Dan yg menjadi wali nikahnya jg ayah biologisnya atau keluarga ayah biologisnya (saudara kandung entah abang/adik laki² dari ayah biologisnya) klo ga ada baru di walikan oleh penghulu thor
🧸fre_love❦
kakk next gak!
🧸fre_love❦
mending ganti nama panggilannya sama alven aja thor daripada alvenjair soalnya ribet
anggita
like👍+☝iklan utk thor.
Sabiya
nyesek mah kalo gue
NitaLa🌷: Nyesek banget, nggak kebayang jadi Anima.
total 1 replies
Sabiya
typo Thor, yg bener Sah
Sabiya
lha, kok bisa?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!