Nama Pendekar Baju Biru yang menggegerkan dunia persilatan, menggasak habis tokoh-tokoh dunia hitam yang berusaha merongrong kewibawaan pemerintah Madangkara. Akan tetapi, nama besarnya kemudian dirusak oleh seorang Pendekar yang juga mengenakan baju biru dan memiliki ilmu Kanuragan dan kadigjayaan hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eric Leonadus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Babak Keenam
SAUR SEPUH EPISODE 22 DALAM KISAH PENDEKAR BAJU BIRU BABAK KEENAM
PROLOG :
Pada kisah terdahulu, dikisahkan...
Garnis dan Widura tiba di Kademangan Papalaya, di kaki Gunung Kancana. Disana mereka dihadapkan pada peristiwa yang memiriskan hati. Bagja dan keluarganya dipukuli oleh sekelompok orang atau preman kampung, dipimpin oleh Junai. Adapun Junai adalah putera seorang lintah darat bernama Baidawat, warga pindahan dari Samudra Pasai. Tingkah laku mereka, membuat Garnis dan Widura muak, mereka memutuskan untuk menolong keluarga malang itu.
Akan tetapi, setelah Garnis dan Widura mengusir gerombolan preman kampung itu, para warga bukannya berterima kasih, namun, malah menyalahkannya karena dinilai akan membahayakan keselamatan warga Papalaya yang paham benar sepak terjang keluarga Baidawat : Kejam, serakah, iri hati bahkan pendendam, mereka tidak akan membiarkan siapapun menghalangi dan menentang keinginannya.
Menurut keterangan Ki Sura yang menjadi lurah di Papalaya, pihaknya sudah mencoba melaporkan sepak terjang Baidawat dan orang-orangnya, akan tetapi, si pelapor mendadak menghilang dan ditemukan beberapa hari kemudian dalam keadaan sudah menjadi mayat. Ki Sura dan para tokoh tua kademangan Papalaya, tidak bisa berbuat apa-apa, terlebih mengetahui Ki Demang Layasura, bersikap acuh tak acuh terhadap kejadian ini. Ada ungkapan mana mungkin ada asap kalau tidak ada api, Garnis mencium adanya pengkhianat diantara para warga yang sengaja memancing di air keruh. Maka, Garnis memutuskan untuk menyelidikinya, namun, sebelum itu, ia harus membangkitkan keyakinan dan semangat di dalam diri para warga untuk menentang ketidak adilan, menegakkan kebenaran dan mengembalikan kebebasan yang telah dirampas oleh orang-orang Baidawat. Untuk melakukan itu semua, Garnis tidak bisa sendirian bertindak, ia meminta beberapa penduduk untuk membantunya menuju markas orang-orang Baidawat.
Banyak para pemuda gagah berusaha menawarkan bantuannya, namun, Garnis hanya menunjuk tiga orang saja dan salah satunya adalah : Jali, putera Ki Damar, salah seorang tokoh yang memiliki pengaruh besar di Papalaya dan sekitarnya. Di luar dugaan semua orang, pengkhianat atau musuh dalam selimut kemelut Kademangan Papalaya, ternyata adalah Jali.
Sebelum Garnis dan Widura mendatangi markas Baidawat, Jali sudah menuju kesana, niatnya adalah untuk memberitahukan rencana kedatangan Garnis dan Widura dan mendapatkan imbalan, akan tetapi, justru yang didapatkan dari Junai, sahabatnya itu adalah penghinaan yang membuat amarahnya meledak. Perdebatan mulut tidak kunjung selesai, maka, keduanya terlibat pertempuran sengit. Keributan itu memancing para penjaga berdatangan, mereka segera melindungi Junai dan waspada, sekali Junai memerintahkan mereka bergerak, maka nasib Jali bagai telur di ujung tanduk. Mampukah Jali mengalahkan Junai dan keluar dari sarang harimau dengan selamat ? Nah, para pembaca yang budiman, inilah Saur Sepuh dalam kisah Pendekar Baju Biru babak keenam, selamat mengikuti....
_____
#6
“Tuan Muda Junai, Anda tidak apa-apa ?” tanya Salikur, wajahnya menunjukkan rasa cemas manakala melihat Junai berdiri sempoyongan sambil terbatuk-batuk. Wajahnya pucat seperti kertas, otot-ototnya menegang dan urat-urat nadinya bertonjolan keluar, seakan hendak keluar dan tumpah ruah memenuhi permukaan tanah. Sepasang mata pemuda tambun itu mencorong tajam ke arah dimana tubuh Jali jatuh terbanting.
“Awas, Tuan Muda... ada serangan dari atas !” Salikur berseru, seruannya itu sedikit terlambat sebab, asap jingga kembali meliuk-liuk di udara semakin lama semakin dekat. Menyadari kondisi Tuan Mudanya masih belum stabil, maka Salikur melompat menghadang dan menghalau asap tersebut.
Tubuhnya seperti memancarkan cahaya kuning keemasan, saat asap jingga membentur cahaya kuning keemasan itu, bunga-bunga api memercik. Tubuh Salikur terhempas kuat, ia tidak bisa mengendalikan dirinya hingga punggungnya membentur sebuah patung raksasa di belakangnya. Patung itupun hancur berantakan.
“Tuan Salikur !!” seru beberapa penjaga lain. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa tubuh pria tegap dan kekar itu bisa dihempaskan oleh asap berwarna jingga yang sepertinya tidak berbahaya. Mereka tidak tahu, asap jingga itu adalah sebuah serangan yang dialiri oleh tenaga dalam cukup tinggi. Keadaan Salikur tidak berbeda dengan Junai, wajahnya pucat, sepasang matanya terbelalak, otot dan urat nadinya bertonjolan keluar. Ia lebih terkejut lagi saat Jali sudah berdiri tak jauh dari Junai sambil menyeringai. Ditatapnya Junai yang masih terbatuk-batuk itu dengan tajam, kali ini dari dalam tubuh Jali, keluar hawa pembunuh yang dahsyat, tampaknya ia ingin segera menghabisi Putera Baidawat ini.
“Kau selalu menyombongkan dirimu di hadapan semua orang, Kau berniat merampas Indri dari kehidupanku, itu tidak masalah.... Yang jadi masalah adalah, mengapa kau sampai hati menghinaku sedemikian rupa ? Dulu kau adalah sahabatku, akan tetapi, perbuatan dan hinaanmu padaku, harus kau tebus dengan nyawamu. Nah, bersiaplah menghadap dewa kematian,” ujar Jali sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara, ia bersiap-siap hendak menghajar batok kepala Junai. Akan tetapi....
Junai menyatukan kedua telapak tangannya dan meletakkannya ke dada, mendadak saja tubuhnya seperti dikelilingi oleh cahaya api, detik berikut ia mengangkat tapak kiri ke atas sementara dengan gerakan melingkar, tapak kanannya terjulur dan menggedor dada Jali yang terbuka.
“Bbllaarr !!”
Ledakan keras terdengar memekakkan telinga, kembali tubuh Jali terpental beberapa tombak ke belakang. Belum lagi ia memperbaiki posisi berdirinya, dadanya kembali menjadi sasaran empuk kedua tapak tangan Junai yang sudah dialiri oleh Jurus Pamungkas Tarian Lidah Api : Menutup Pintu, Membakar Angin. Tanah tempat Jali terjatuh, merekah, membentuk kawah, batu-batu dan tanah beterbangan. Tidak berhenti sampai disitu, Junai terus melancarkan beberapa pukulan ke arah wajah, dada dan perut, ia tidak berhenti memukul hingga tanah di sekeliling Jali memendam tubuhnya. Ia memukul sambil berteriak-teriak seperti orang kesetanan.
Setelah puas memukul, Junai melompat menjauh. Sepasang matanya menatap ke arah lubang dimana Jali terpuruk. Keadaan berubah menjadi sepi, semua mata tidak lepas memandang ke arah kawah itu. Apakah Jali benar-benar sudah tewas dan terkubur di dalamnya ? Tidak ada pergerakan, ternyata Jali benar-benar tewas dan terkubur disana. Junai tertawa terbahak-bahak, “Ha... Ha... Ha.... Ha... Budak hina semacam Jali, mana bisa dibandingkan denganku. Ha... ha... ha... ha...”
“Tuan Muda Junai, hebat ! Tak terkalahkan !”
Para penjaga itu tidak henti-hentinya memuji-muji Junai, pemuda itu merasa puas karena telah membunuh sahabatnya itu.
“Hari ini juga, kalian kutugaskan kembali ke Papalaya, bunuh Bagja berikut isterinya, rampas semua yang ada di rumah itu, Tapi, jangan kalian sakiti Indri, bawa kemari. Aku akan menjadikannya sebagai isteriku,” ujar Junai.
“Baik, Tuan Muda. Selamat !”
“Tidak semudah itu, Junai,"
Terdengar suara berat, mengejutkan Junai berikut para penjaganya. Mereka semua membelalakkan mata, tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Jali yang dianggap tewas dan terkubur itu mendadak sudah berdiri di hadapan mereka. Tubuhnya gemetaran bagai orang kedinginan, kulit wajahnya sebagian menghitam bagai arang, pakaiannya compang-camping. Ia berdiri tegak sambil sesekali memuntahkan darah segar.
"Ha... Ha... Ha... Ha... Kau menggertakku ? Aku tahu benar bahwa saat ini kau tengah berjuang melawan hawa panas yang membakar seluruh organ dalammu. Mengapa kau begitu nekad hendak mengadu jiwa denganku ? Tak sadarkah kau, apabila, membunuhmu itu sama saja dengan mengotori tanganku ini," ejek Junai.
"Terserah, kau mau berkata apa, yang jelas aku tidak akan membiarkan kau menikahi Indri semudah membalik telapak tangan. Langkahi dulu mayatku ini, Junai !" tukas Jali sambil memasang kuda-kuda untuk merapal jurus andalannya Lembayung senja. Kali ini ia menggabungkannya dengan jurus Tarian Lidah Api.
"Mundurlah, tuan muda... Biar aku yang akan membunuhnya," sahut Salikur.
"Hm, jangan tolol kau, Salikur... Mengapa kau tidak segera enyah dari tempat ini dan berkumpul kembali bersama keluargamu ? Haruskah kau berkorban nyawa demi orang rendahan seperti Baidawat dan Junai, sementara, jika kau sudah tidak diperlukan lagi, kau akan dicampakkan bagai seonggok kayu kering ?"
Jali mengatakan itu dengan nada tegas dan bersungguh-sungguh; secara tidak sengaja atau sengaja, mempengaruhi sisi mental anak buah Junai yang rata-rata adalah serumpun dengan para penduduk Papalaya Barat yang menentang keras pembagian wilayah Papalaya. Menyadari perkataan Jali ini memiliki pengaruh yang cukup besar, Junai segera menyahut.
"Siapa saja yang berhasil membunuh orang ini, akan mendapatkan dua puluh keping uang emas dan sepuluh keping uang perak. Akan tetapi, siapa saja yang berani membangkang, nasibnya akan sama dengan pohon ini," sambil berkata demikian Junai melontarkan tapak kanannya ke arah pohon yang tumbuh di sebelah kanan Junai.
"Wwuusshh !"
Terdengar desiran angin panas menerpa pohon itu. Detik berikut pohon itu perlahan-lahan layu dan kering, menyusul kemudian pohon itu hancur berkeping-keping. Suara gemuruh membuat bulu kuduk siapa saja yang mendengarnya berdiri.
Junai memberi isyarat pada beberapa orang penjaganya menyerang ke arah Jali. Tubuh Jali seakan dibungkus oleh kepulan asap berwarna jingga, saat Jali berteriak, kepulan asap itu menyerang ke arah lawan-lawannya yang berjumlah lebih kurang tiga orang itu.
Salikur meminta Junai untuk segera berlindung ke tempat yang aman, sementara, ia sendiri, tanpa mempedulikan keselamatannya, mencoba membendung serangan asap jingga itu dengan kedua tapak tangannya.
Ledakan keras kembali terjadi, kali ini tubuh Salikur Terdorong hingga tujuh tombak jauhnya. Beberapa orang rekannya, melompat dan mencoba untuk menahan tubuhnya agar tidak sampai terjatuh kesekian kalinya. Namun, itu malah menyebabkan kesalahan fatal, serangan tersebut malah menyebabkan luka dalam yang cukup parah.
Tiga orang dari beberapa penjaga yang mencoba menahan tubuh Salikur, terpaksa harus tewas mengenaskan saat punggung Salikur menimpa mereka. Salikur sendiri tak bisa mengendalikan tubuhnya, ada hawa aneh menerobos masuk melalui pori-porinya, dalam sekejab, tubuhnya mengeras bagai patung dan seketika itu ambruk, tidak bergerak-gerak lagi. Junai membelalakkan matanya, ia tidak percaya, sekalipun Jali terluka parah akan tetapi, masih mampu melancarkan serangan mematikan. Tapi, itu hanya sekali saja, setelah itu tubuh Jali limbung dan roboh kehabisan tenaga.
Junai menyeringai, ia berjalan menghampiri Jali yang sudah terbaring lemas tak berdaya, “Sebenarnya, aku merasa kasihan kepadamu karena harus mengalami peristiwa menyakitkan ini dan berniat mengampunimu. Akan tetapi, karena kau sudah membunuh orang-orangku, maka, nyawamu adalah taruhannya walau belum cukup untuk menebus kematian mereka. Nah, bersiaplah menghadap Sang Dewa Maut. Selamat tinggal, Jali,” katanya sambil kembali merapal jurus Tarian Lidah Api tingkat sepuluh, ia berniat membakar habis jasad Jali hingga tak tersisa sedikitpun potongan tubuhnya.
“Hia !!”
Junai berteriak lantang, tapak kanannya yang kini bagai terbakar oleh api, terayun ke arah batok kepala Jali. Jali tidak bisa berkata apa-apa lagi ataupun menggerakkan tubuhnya untuk menghindar, sepasang matanya terpejam dan pasrah. Mendadak ....
“Dduuaarr !!”
Ledakan itu membuat Junai terpental dan jatuh bergulingan di atas tanah. Dua sosok bayangan berkelebat, salah satunya mendarat tepat di hadapan Jali yang masih tergolek tak berdaya, sementara yang lain, berdiri tak jauh dari tempat Junai jatuh. Selain dua bayangan itu, tampak pula bayangan lain bermunculan dari arah bangunan bagian tengah. Mereka berjumlah lebih kurang delapan orang dan salah satunya adalah laki-laki paruh baya mengenakan jubah lebar dan panjang dari sutera. Beberapa kancing baju bagian dada terbuka seakan tidak sanggup menutupi dada berbulu hitam dan lebat, sehitam dan selebat kedua alisnya yang melitang di atas sepasang mata kecil memancar penuh dengan kelicikan. Kumis dan jenggotnya pun hitam, panjang dan lebat, menyembunyikan bibir tebalnya dan sedikit hitam. Sekilas ia tampak ramah, namun, sebenarnya dia adalah seorang yang kejam dan serakah. Dialah, Baidawat.
“O,o... Ada tamu tak diundang yang sengaja ingin berbuat kacau di tempat yang salah, rupanya,” ujar Baidawat dengan nada ramah yang dibuat-buat, “Siapa kalian dan Apa kesalahan Junai hingga kalian tega mencelakainya ? Mengapa kalian tidak datang secara terang-terangan dan membicarakannya baik-baik denganku ?”
Dua bayangan itu adalah Arya Widura dan Dewi Garnis. Bagaimana mereka bisa tiba di tempat ini ?
***
Setelah Garnis dan Widura meminta bantuan dari beberapa pemuda dari Papalaya : Jali, Pramana dan Lesmana, mereka segera berangkat dan meninggalkan Papalaya. Di perjalanan, Jali tampak gelisah sekali, membuat semua orang heran. Garnis meminta Jali untuk kembali saja, namun, menolak. Mereka kembali melanjutkan perjalanan sambil menyusun rencana. Hingga pada suatu malam Pramana dan Lesmana mendengar suara ringkik dan derap langkah kuda, mereka terkejut Jali tengah mengeluarkan kuda dan memacunya ke arah Papalaya Barat, dugaan mereka adalah Jali pulang karena ketakutan. Namun, Garnis dan Widura beranggapan lain, maka dari itu, mereka bermaksud mengikuti kemana Jali memacu kudanya. Sebelum berangkat, Garnis berpesan kepada Pramana dan Lesmana, mereka disuruh kembali ke Papalaya Barat dan meminta bantuan penduduk untuk membagi tugas, sebagian tetap di desa untuk berjaga-jaga, sebagian lagi diminta untuk mengirimkan laporan terkait perbuatan Baidawat ke istana dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang ada.
Garnis dan Widura diam-diam mengikuti kemana Jali pergi. Garnis geram manakala, Jali mendatangi Junai dan melaporkan rencananya untuk menyerang. Di luar dugaan Jali terlibat adu mulut dengan Junai yang kemudian berakhir dengan pertarungan.
Diam-diam Garnis mengagumi kepribadian Jali, lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup menanggung malu; baik Garnis maupun Widura terkejut dengan kepandaian bela diri dan kanuragan yang dimiliki oleh kedua orang itu. Termasuk, Jali. Mereka menyaksikan pertempuran itu hingga Jali roboh tak berdaya. Semula mereka berniat acuh tak acuh dengan keadaan Jali karena telah memilih menjadi pengkhianat daripada melindungi warganya, akan tetapi, sikap ksatrianyalah yang membuat mereka datang menyelamatkan Jali dari maut.
***
“Hm, kaukah yang bernama Baidawat ?” tanya Garnis sinis.
“Benar, Nona.... kalau boleh tahu siapakah kalian dan apa maksud kalian datang kemari juga melukai puteraku ?”
“Pantaskah, orang rendahan macam kau, mengenal nama kami ?” tanya Garnis.
“Nona, jangan kurang ajar.... tidak tahukah kau, dengan siapa berhadapan ?” sahut salah seorang dari pengawal Baidawat.
“Tidak apa-apa, Ki Demang Layasura.... aku pun tidak berniat mengenal mereka, toh tak lama lagi, mereka takkan bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup,” ujar Baidawat.
“Oh, jadi... kaukah yang bernama Ki Layasura ?” tanya Garnis, “Tak heran para warga Papalaya Barat menyebutmu anjing penjilat, karena kau telah bersekutu dengan orang asing untuk menjadikan tanah kelahiranmu sendiri sebagai sapi perah,”
“Kurang ajar !” bentak orang bertubuh bongsor dan berkulit gelap itu, “Ternyata, orang-orang bodoh itu yang memintamu datang kemari. Kalau begitu, tak ada jalan lain bagi kalian, selain mati,”
“Jangan buru-buru bertindak, Layasura... biarkan saja mereka yang akan menangani dua cecunguk Papalaya Barat ini,” kata Baidawat sambil bertepuk tangan tiga kali. Dari dalam bangunan paling ujung, berkelebatlah beberapa sosok tubuh dan mendarat tak jauh dari Baidawat. Tiga sosok itu, ternyata sudah dikenal oleh Widura : Dawung, Sambiloko, Rajegwesi dan Dursapati.
“Kalian berempat, singkirkan mereka bertiga dari tempat ini, jangan sampai ada yang keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup ! Seratus keping uang emas, untuk satu orang. Totalnya, dua ratus keping uang emas bagi siapa saja yang bisa membunuh mereka,” ujar Baidawat.
Empat orang itu saling pandang, dua ratus keping uang emas, bukanlah jumlah yang sedikit bagi pembunuh-pembunuh bayaran macam mereka. Seumur hidup, paling mentok mereka menerima lima keping uang emas, bisa setara dengan sepuluh keping uang perak. Seratus keping uang emas, siapa yang tergiur atau tergoda. Akan tetapi, begitu tahu siapa korbannya, nyali mereka ciut, sebab, mereka pernah bentrok dengannya bahkan nyaris kehilangan nyawa. Layakkah seratus keping uang emas diperebutkan.
Pancaran mata Widura begitu tajam dan dingin mengamati mereka satu persatu, sementara yang ditatapnya, berusaha memalingkan wajah, bulu kuduknya berdiri. Melihat tak ada seorang pun berani bergerak, Baidawat mendengus keras, “Kalian ini pembunuh bayaran atau bukan ? Atau harganya terlalu murah ?”
Tak ada jawaban. Baidawat makin gusar,
“Baik. Bagaimana jika lima ratus keping uang emas per orang ?”
Semuanya membisu, mereka seakan-akan berada dalam persimpangan jalan antara, hidup-mati, tugas dan kewajiban. Tidak dapat menemukan, mana jalan yang harus diambil. Inilah yang dinamakan buah simalakama; dimakan ibu meninggal, tidak dimakan, ayah meninggal. Masih terlintas di benak mereka, bagaimana keadaan Pallawa saat bertarung dengan orang di hadapan mereka ini, senjata-senjata andalan diubah menjadi barang rongsokan hanya dalam sekali gebrak oleh lilitan lengan kiri bajunya.
“Dasar orang-orang tidak berguna. Baiklah, kalau memang demikian. Dengar baik-baik, setelah kalian meninggalkan Tuan Penjagal, kalian mencari perlindungan dariku, bukan ? Aku memenuhi segala kebutuhan kalian termasuk perut kalian yang selalu lapar itu. Tahukah, kalian.... makanan dan minuman yang selama ini kuberikan, telah kulumuri racun dan dalam waktu satu minggu ke depan, racun itu akan bereaksi. Tubuh kalian akan mengering dan merasakan gatal yang amat sangat di sekujur tubuh kalian. Setelah satu minggu, memasuki minggu kedua, tubuh kalian akan dipenuhi dengan borok dan menebarkan bau busuk. Kalian akan merasakan lapar yang tidak wajar setiap detiknya. Rasa lapar itu akan menggerogoti tubuh kalian dan kalian akan merasa kenyang setelah memakan daging dan meminum darah kalian sendiri. Matipun susah, hidup juga enggan. Hanya akulah satu-satunya orang yang memiliki penawar racun tersebut,” setelah berkata demikian, Baidawat merogoh sakunya, ia mengeluarkan sebuah botol kecil dan menimang-nimangnya di hadapan mereka, “Hm, tampaknya penawar itu tersisa hanya satu butir saja,”
Perkataan Baidawat ini benar-benar laksana petir menyambar di siang bolong. Diantara mereka, wajah Dawunglah yang nampak lebih pucat dibanding teman-temannya. Maka, tanpa berpikir panjang lagi, ia segera menyerang Arya Widura dengan kujang emasnya. Tubuh Arya Widura seakan hilang tanpa bekas, kujangnya menerpa ruangan kosong. Serangan yang dilancarkan secara terburu-buru, membuat Dawung tidak mampu mengendalikan gerak tubuhnya, iapun jatuh tersungkur.
Widura mendadak saja sudah berada di hadapan Baidawat. Laki-laki dari Pasai itu melompat mundur beberapa tindak, ia kemudian berdiri di belakang Ki Demang Layasura dan beberapa orang laki-laki bertubuh tinggi, tegap dan kekar. Kepala mereka ditutupi oleh kain putih. Wajah mereka nyaris serupa jika salah satu dari mereka tidak memiliki kumis dan jenggot berwarna kelabu. Mereka bergerak serempak menghadang Widura, sementara, tangan kanan dan kirinya terjulur lurus ke arah dada.
Desiran angin tajam dan dingin menerpa dada Widura, akan tetapi, pemuda dari Blambangan itu bersikap acuh tak acuh, tubuhnya kembali menghilang dari pandangan semua orang, saat muncul kembali, ia sudah terlibat pertempuran sengit dengan Rajegwesi. Sebenarnya, sasaran Widura adalah Baidawat, namun, diantara semua orang yang ada di tempat itu ilmu kadigjayaan dan kanuragan Rajegwesi dan Dursapati-lah yang boleh dibilang cukup tinggi. Namun, karena Dursapati boleh dibilang masih trauma dengan peristiwa di Tegal Sampangantu, ia memilih diam.
“Bagus, Tuan Rajegwesi,” sahut Baidawat,
“Karena keberanian dan kesetiaanmu padaku, aku akan menambahkan lima puluh keping uang emas, khusus untukmu,”
Rajegwesi seakan tidak mempedulikan ocehan Baidawat, baginya, menyelamatkan diri dari cengkeraman Sang Dewa Maut lebih penting daripada emas. Dulu sebelum menguasai ilmu-ilmu tingkat tinggi, Rajegwesi adalah musuh yang paling berbahaya dan mematikan, Pelontar Tenaga Dalamnya mampu menghancurkan batu gunung sebesar kerbau, akan tetapi, setelah mempelajari jurus-jurus andalan Brama Kumbara, Rajegwesi berada jauh di bawahnya, sekalipun demikian, ia tidak berani meremehkannya. Widura hanya mengeluarkan sebagian kecil saja ilmu kanuragannya sementara, Rajegwesi menyerang dengan sepenuh tenaga. Saat serangannya menerpa ruangan kosong dan membentur batu, tanah dan tumbuh-tumbuhan meninggalkan lubang yang cukup dalam dari sini sudah diketahui bahwa ia tidak main-main. Tidak dapat dihitung, berapa kali Widura nyaris kena sambar serangannya yang dahsyat itu.
Rajegwesi semakin kesal, dari sekian banyak pukulan dan tendangan yang dilontarkan selalu menerpa ruangan kosong, tenaga dalamnya sudah tidak sedahsyat tadi, melemah. Inilah yang ditunggu-tunggu oleh Arya Widura, menyadari serangan lawan melemah, ia melontarkan ujung lengan baju kirinya, sekali pukul mengarah ke tengkuk. Rajegwesi tersentak, mendadak saja, kedua kakinya serasa tidak bertenaga, iapun roboh, lemas tak berdaya.
Melihat Rajegwesi sudah berhasil dirobohkan, nyali Dursapati, Sambiloko, dan Dawung semakin ciut. Mereka hendak melarikan diri akan tetapi, harga dirilah yang menahan langkah-langkah mereka. Pandangan Baidawat tajam menatap mereka, seakan menyuruhnya menyerang. Begitu pandangannya beralih kepada Widura, ia tersentak manakala tampak olehnya sehelai kain berwarna biru berkelabat hendak menangkapnya, namun, orang-orang dengan penutup kepala berwarna putih sudah bergerak menerjang ke arah Widura.
Widura dengan tenang menggerakkan bahu kirinya, lengan baju berwarna biru itu meliuk-liuk kesana-kemari bagai seekor ular mematuk mangsa. Ujung lengan baju kiri itu seakan memiliki mata, berkelebat kesana-kemari, membuyarkan serangan lawan-lawannya. Saat orang-orang dengan penutup kepala berwarna putih kalang kabut, Dewi Garnis masuk ke arena pertempuran.
“Kukira kau adalah seseorang yang berjiwa ksatria, tapi, tak ubahnya dengan sampah,” ujar Garnis, “Kalau mau, bisa saja ia membunuh kalian sejak tadi, tapi, karena masih memiliki hati nurani, hal itu tidak dilakukannya. Tapi, perbuatan kalian itu sungguh amat memalukan, main keroyok. Baik, kalau kalian sudah bosan hidup, maka, akulah yang akan mengantar kalian ke neraka,”
“He... he... he...” Baidawat tertawa dingin,
“Mereka hanya menjalankan tugas saja, nona. Melindungiku dari ancaman atau serangan orang, itu adalah kewajiban mereka, tidak ada hubungannya dengan sifat ksatria atau bukan. Kalian sudah memasuki wilayahku, itu sebabnya, mereka bersikeras tidak akan membiarkan kalian lolos. Karena, boleh dibilang kalian adalah sekelompok perampok, tidak ada salahnya bila mereka beringas, hendak menangkap atau bahkan membunuh, kalian harus mempertanggung jawab atas kesalahan kalian itu. Jangan salahkan aku jika tidak ingin melepaskan kalian atau membiarkan kalian pergi dari tempat ini dalam keadaan hidup. Kalaupun hidup, kalian akan kuserahkan ke pengadilan dan bersiaplah untuk menerima hukuman,”
“Percuma beradu mulut dengan orang selicik kau, Baidawat. Aku tidak akan segan-segan atau mematuhi aturan yang berlaku di kolong langit ini. Semua orang yang berdiri di belakangmu, semuanya tidak memiliki hati nurani, maka, sudah tugaskulah memberi pelajaran kepada mereka. Hari ini juga, sepak terjang Baidawat dan orang-orangnya akan berakhir. Semoga saja tidak ada lagi orang-orang sepertimu bertebaran di muka bumi ini. Karena, itu akan merusak tatanan alam yang sudah diberikan oleh Dewata,” sambil berkata demikian, Dewi Garnis menerjang ke arah Baidawat. Dan benar saja, orang-orang yang mengenakan penutup kepala berwarna putih yang jumlahnya lebih kurang enam orang, bergerak serentak menghadang Dewi Garnis.
Bagi Garnis, kepandaian para pengawal itu biasa-biasa saja, ia hanya menggunakan selendangnya untuk menghalau, ia berusaha untuk sekedar memberi pelajaran saja, setidaknya membuat mereka pingsan. Namun, ia sama sekali tidak menduga, Dawung, Dursapati dan Sambiloko turut menyerang. Widura tidak bisa tinggal diam, sekali menjejak tanah, tubuhnya sudah menempel di punggung Garnis.
“Kau hadapi saja orang-orang yang mengenakan penutup kepala putih itu, aku akan menghalau Dawung dan kawan-kawannya. Yang patut kau waspadai adalah, pria berkumis dan berjenggot panjang itu. Ilmunya lebih tinggi daripada teman-temannya,” bisik Widura sambil mengikat pinggang Garnis menjadi satu dengan pinggangnya.
Garnis dan Widura sama-sama menguasai ilmu warisan Brama Kumbara, mereka dapat dengan mudah saling mengisi kekosongan dan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Tubuh mereka bagai menyatu, pertahanan mereka pun sulit di tembus membuat lawan-lawannya tidak mampu menjebol dinding pertahanan mereka. Malah sebaliknya, Garnis dan Widura berhasil mendesak lawan-lawannya itu. Sesekali mereka bertukar lawan, sesekali pula berhasil menyarangkan beberapa pukulan dan tendangan dahsyat ke bagian tubuh lawan.
Di pihak Baidawat, air muka laki-laki Pasai itu tampak memucat, karena orang-orangnya tidak mampu menundukkan Dewi Garnis dan Arya Widura dengan cepat, maka, perlahan-lahan ia berniat meninggalkan arena pertarungan. Kesempatan itu pun datanglah, saat semua orang terpancang pada pertarungan, ia melangkah perlahan-lahan, berjingkat-jingkat menuju ruangan pribadinya.
Saat tiba di dalam ruangan pribadinya, ia tersentak kaget karena di dalam sudah duduk beberapa orang : Ki Layasura, Ki Daha Samasta, Ki Suta Marga, Ki Ribut dan Ki Wuluh.
“Kalian.... kalian, mengapa ada di tempat ini ? Tidak tahukah kalian, ruangan ini adalah ruangan pribadiku, tanpa seijinku tak seorang pun di perbolehkan masuk,” ujar Baidawat.
“Maaf, Tuan Baidawat... kami tidak bisa lagi bekerja sama denganmu,” ujar Ki Suta Marga.
“Apa ? Kalian ingin mengkhianatiku ?”
“Tidak,” sahut Ki Layasura, “Kami sudah membantumu sampai sejauh ini, sementara, kau selalu menunda-nunda bahkan terkesan mengingkari perjanjian yang sudah kita sepakati bersama,”
“Dengar, Layasura... kau menjadi pejabat di Kademangan Papalaya ini, semua adalah berkat kerja kerasku. Bukan hanya kau saja, kalian bertiga juga menjadi pejabat di berbagai daerah, semua berkat jasa-jasaku, apakah kalian mau dianggap sebagai manusia yang tidak mengenal budi ?” tanya Baidawat.
“Kau memang telah berjasa, tapi, kau pikir kami tidak tahu, semua itu adalah rencanamu untuk memperluas kerajaanmu sendiri. Bahkan, kau sama sekali melupakan jasa Juragan Gurinda, Hanggaraksa dan Tuan Permadi. Tanpa mereka, kau tidak akan bisa hidup enak, makan dan buang kotoran di Papalaya ini,” sahut Ki Ribut.
“Aku tidak melupakan jasa-jasa mereka, aku sudah berjanji akan membantu mereka mengembalikan kejayaan Kerajaan Kuntala, itu tidak akan kuingkari,”
“Lalu, mengapa kau tidak mencari dimana keberadaan Tuan Gurinda, Nona Shakila dan Tuan Permadi ? Teman-teman kita bertarung di luar sana, tapi kau berniat untuk meninggalkan mereka begitu saja,” tukas Ki Daha Samasta.
“Aku tidak berniat meninggalkan mereka ...”
“Lalu, apa yang tergantung di punggungmu ?” tanya Daha Samasta sambil menunjuk sebuah kantong besar yang tergantung di punggungnya, “Kau pikir kami bodoh ? Kau ingin pergi diam-diam saat semuanya lengah. Itu sudah kami ketahui sejak pertama kali kau dan orang-orangmu datang di Papalaya ini,”
“Baik,” ujar Baidawat sambil mencampakkan kantong besar di punggungnya ke lantai, ia tidak bisa mengelak atau mencari-cari alasan lagi, satu-satunya jalan untuk menghindar dari mereka adalah membunuhnya. Maka, dengan gerakan yang sangat lincah dan cepat, Baidawat melompat tinggi ke udara. Kedua tapak tangannya tampak membara seakan terbakar oleh bara api, terjulur lurus ke arah Ki Layasura, Ki Daha Samasta, Ki Suta Marga, Ki Ribut dan Ki Wuluh.
“Dduuaarr !”
Ki Layasura dan yang lain berhasil menghindar dari serangan yang dilancarkan oleh Baidawat, akan tetapi, beberapa meja dan kursi serta perabotan-perabotan lain yang menjadi sasaran serangan tersebut hancur berantakan. Lima tetua Papalaya itu sama sekali tidak menduga bahwa Baidawat akan menyerang dengan jurus Tarian Lidah Api. Beruntung sekali, Ki Layasura dan yang lain sudah waspada, jika tidak, nasib mereka akan sama dengan perabotan-perabotan mahal itu.
“Jadi, inikah watak Baidawat sesungguhnya ?” tanya Daha Samasta, “Jika memang demikian, kita tidak seharusnya tertipu oleh janji-janji manisnya,”
“Ha... ha... ha... ha... itu adalah kesalahan kalian sendiri, orang-orang yang serakah, haus kehormatan dan kedudukan tapi, bodoh dan tolol. Mohon maaf, aku sudah tidak berminat untuk bekerja sama dengan kalian lagi. Jangan harap, kalian akan mendapatkan uang seperser pun dariku. Nah, bersiaplah.... bersyukurlah karena aku adalah orang yang baik hati, sudi mengantar kalian ke alam baka. Hiath !!” sambil berkata demikian, Baidawat merentangkan kedua lengannya yang seakan diselimuti oleh lidah-lidah api, menyatukan kedua telapak tangan dan menariknya ke dada, detik berikut, lidah-lidah api tersebut seakan menyelimuti tubuhnya yang terangkat ke atas.
“Ki Layasura,bukankah ini jurus yang dimiliki oleh Ki Damar ?” tanya Suta Marga.
“Benar, tapi, ini tingkatannya lebih tinggi dari Ki Damar, aku ragu sekalipun kita bergabung, sulit sekali untuk menghadapinya,” ujar Laya Sura.
“Dia bukan dewa api, begitu pula Ki Damar, mereka adalah manusia biasa seperti kita. Jika kita bisa menghabisi Ki Damar, maka, selama kita bersatu dan pantang mundur, kita tidak akan kalah,” sahut Ki Wuluh.
“Benar. Brama Kumbara saja pernah kita gempur habis-habisan, apalagi dia, yang ilmunya lebih rendah daripada Brama. Ayo, kita kerahkan Lembayung Senja. Menurut perkiraanku, Lembayung Senja bisa mengatasinya. Kita berlima, dia hanya seorang diri. Masakan kita tidak mampu membuatnya bertekuk lutut,” ujar Ki Ribut.
Ki Layasura dan yang lain melompat mundur beberapa tindak sambil sesekali menghindar dari serangan yang dilancarkan secara tiba-tiba oleh Baidawat dari udara. Kelima tetua Papalaya itu saling bekerja sama untuk membalas serangan Baidawat, satu menyerang, yang lain melindungi dan yang lain lagi berusaha mempersempit ruang gerak lawan. Udara di ruangan tersebut berubah-ubah, seiring dengan jurus-jurus yang dilancarkan oleh orang-orang di dalamnya. Di sekitar tempat Baidawat berada seakan dikelilingi oleh cahaya bara api, merah bak darah, sementara, di sekitar tempat Ki Layasura dan teman-temannya, seakan dikelilingi oleh cahaya jingga. Saat dua cahaya itu bertemu, mereka semua terpental dan menabrak dinding bangunan. Karena tidak kuat menahan tenaga atau energi dahsyat yang keluar dari tubuh mereka, dinding itupun jebol.
Baik tubuh Ki Layasura dan teman-temannya maupun Baidawat, jatuh bergulingan di tanah, mengejutkan semua orang yang ada di luar, termasuk Dewi Garnis dan Widura. Pasangan muda itu baru saja membuat semua lawan-lawannya roboh tak sadarkan diri, baru saja mereka hendak memeriksa keadaan Jali, mereka dikejutkan dengan ledakan yang berasal dari dalam bangunan pribadi Baidawat. Sementara itu, dari kejauhan nampak banyak sekali titik-titik hitam kecil berjalan semakin lama semakin dekat. Titik-titik itu ternyata adalah serombongan pasukan berkuda dipimpin oleh seorang pemuda gagah dan tampan. Di belakang pasukan berkuda itu nampak pula Ki Sura bersama para penduduk Papalaya Barat.
“Hei, bukankah itu putera Ranggawuni, Rangga Bayu ?” ujar Garnis.
“Hm, benar. Tampaknya, Ki Sura dan para penduduk Papalaya Barat bekerja dengan cekatan. Kau memang pandai membakar semangat orang-orang yang putus asa, Garnis,” ujar Widura.
“Jangan mengejekku, kakang... Kakang juga pandai membakar semangat orang, malah lebih pandai dariku,” ujar Garnis manja, “Lihat, Baidawat bangkit terlebih dahulu, sementara yang lain, masih berusaha bangkit dan memulihkan diri,”
“Kalian benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup enak dan nyaman malah melawanku dengan ilmu rendahan itu. Ayo, bangun, kita lanjutkan lagi. Aku ingin tahu, sampai sejauh mana jurus Lembayung Senja yang kalian bangga-banggakan itu,”
Tubuh Ki Layasura dan yang lain tergolek lemas, tak memungkinkan untuk bertarung lagi, sudah dapat dipastikan Tarian Lidah Api berada di atas angin. Baidawat menyeringai, ia berniat melepaskan pukulan terakhirnya, namun, Arya Widura melangkah maju dan menatap dingin ke arahnya.
“Ah, mau apalagi kau buruk rupa ?” tanya Baidawat mengejek, “Apakah kau ingin menyusul mereka atau sudah bosan hidup ?”
Widura tidak berkata apa-apa, hanya memandang dingin ke arah Baidawat yang masih mengoceh. Sementara itu, Dewi Garnis berjalan menghampiri Ranggabayu, putera Panglima Perang Pakuan Pajajaran itu melompat turun dari kudanya dan menyambut Dewi Garnis dengan ramah.
"Saudara Ranggabayu, senang berjumpa dengan Anda. Sudah sekian lama kita tidak bertemu, bagaimana keadaan Paman Ranggawuni ?!" ujar Garnis.
"Ah, Kak Garnis... Saya pun senang berjumpa dengan Anda. Keadaan Ayahku baik-baik saja, bagaimana kabar keluarga Madangkara ? Saya benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan kak Garnis di Papalaya ini," ujar Ranggabayu.
"Saya sebenarnya mengemban tugas dari Gusti Prabu Wanapati untuk mencari seseorang yang bernama Durgakalaraksa. Secara kebetulan, tiba di Papalaya ini dan melihat betapa para warga setempat menderita akibat ulah Baidawat dan orang-orangnya. Karena saya dan kakang Huani Samsara Widu tidak tega melihat perlakuan mereka, maka, saya turun tangan. Siapa yang menyangka ternyata para penduduk bukannya merasa aman, akan tetapi, semakin merasa terancam. Itulah sebabnya, kami meminta bantuan pada para penduduk setempat untuk melaporkan hal ini pada pemerintah Pajajaran," jelas Garnis.
"Huani Samsara Widu dan Durgakalaraksa ? Siapa mereka ?"
"Huani Samsara Widu adalah saudara seperguruan saya, sementara, Durgakalaraksa, saya belum mengetahui siapa dia. Saya hanya mendapat kabar dari Juragan Gurinda bahwa pihak Kuntala, kembali menyusun kekuatan untuk merongrong kewibawaan Madangkara. Kebetulan, sebagian dari mereka bermarkas di Papalaya ini. Salah satunya dipelopori oleh orang yang kini bertarung dengan kakang Huani Samsara Widu di depan sana. Karena ini wilayah Pakuan Pajajaran, maka, kami tidak berani bertindak seenaknya. Maka dari itu, saya meminta beberapa penduduk melaporkan hal ini kepada pihak Pajajaran," jelas Garnis.
"Begitu ? Kami sebenarnya, sudah banyak mendengar kabar tentang sepak terjang Baidawat dan orang-orang nya, namun, karena tidak adanya laporan dari warga Papalaya ini, maka, kami tidak bisa berbuat apa-apa,"
"Kami sebenarnya sudah mengutus orang untuk melaporkan hal ini pada pihak istana Gusti Ranggabayu, tapi, mereka ternyata semua dibunuh oleh orang-orang Baidawat," ujar Ki Sura, "Menurut perkiraan Gusti Ayu Dewi Garnis, diantar penduduk ada pengkhianat yang sengaja memancing di air keruh. Tampaknya, memang benar, dan pengkhianat itu adalah Jali. Kami sama sekali tidak menyangka, Gusti Ranggabayu, kami benar-benar tidak tahu,"
"Sudahlah, paman Sura... Tak perlu dipikirkan, kami akan menangani semuanya. Tapi, tampaknya, orang yang bernama Baidawat itu, bukanlah orang sembarangan. Dia menguasai ilmu aneh, saya tidak tahu ilmu apa itu, tapi, melihat serangan yang dilancarkan oleh Baidawat, jelas itu adalah ilmu kadigjayaan tingkat tinggi," ujar Ranggabayu.
"Biarlah kakang Widu yang membekuknya, saudara Ranggabayu. Saya yakin tidak lama lagi, dia berhasil ditangkap,"
Ranggabayu mengalihkan pandangannya ke arah para prajuritnya, ia memberi isyarat untuk mengikat Ki Layasura dan teman-temannya yang masih terbaring di atas tanah, juga Jali. Dengan cekatan para prajurit itu segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Ranggabayu.
Di sudut lain, dimana Arya Widura dan Baidawat bertarung. Serangan-serangan Baidawat tidak ada satupun yang mengenai sasaran. Widura selalu berhasil menepiskan serangan Tarian Lidah Api, sesekali menghindar, sesekali pula berhasil membalas serangan Baidawat dengan lecutan baju lengan kirinya. Bagi orang awam, Widura terlihat tidak bergerak sama sekali, namun, bagi orang-orang yang memiliki ilmu dan tenaga dalam hebat, serangan beruntun dari Baidawat, hanya dibalas dengan satu kali ayunan lengan kiri bajunya, namun, itu membuat Baidawat terluka luar. Baju suteranya sudah tidak berupa baju lagi, compang-camping dan basah oleh keringat bercampur darah.
Baidawat benar-benar frustasi, hingga dalam suatu kesempatan, lengan baju sebelah kiri Widura menjebol dinding pertahanan lawannya. Tubuh Baidawat terlontar ke udara dan jatuh terbanting tak jauh dari tempat dimana pasukan Ranggabayu berada.
Baidawat tersentak manakala ada banyak sekali mata tombak terjulur tepat di lehernya. Sepasang mata Baidawat terbelalak lebar, ia benci sekali apabila melihat ada seseorang menodongkan senjata tepat di hidungnya atau di sekujur badannya. Ia memutarkan kedua telapak tangannya dengan gerakan yang sulit diikuti oleh mata biasa, ia berseru keras. Dalam sekali gebrak, mata tombak itu hancur diikuti oleh para pemiliknya.
Ranggabayu tersentak, ia sama sekali tidak menyangka, Baidawat berbuat seperti itu. Belum habis rasa kagetnya, beberapa orang prajurit roboh terkapar di tanah tubuhnya menghitam bagai arang. Setelah membunuh beberapa prajurit itu, Baidawat melompat dan menerjang ke arah Ranggabayu yang masih bengong dengan Tarian Lidah Api tingkat dua Iblis Api Mengikat Raga. Saat menggerakkan kedua tapak tangannya membentuk lingkaran, cahaya kemerahan bergerak mengepungnya. Ranggabayu seakan tersihir dengan cahaya itu, ia mematung, akan tetapi, seuntai kain berwarna kuning mengikat pinggangnya, dan kain berwarna kuning itu sudah memindahkan tubuhnya ke tempat agak jauh dari arena pertempuran. Garnis telah menyelamatkannya dari maut. Gadis itu melompat dan menghadang Baidawat, “Kau mencari kesempatan untuk membunuh Ranggabayu ? Selama kami masih hidup, jangan harap kau bisa berbuat seenak perutmu, Baidawat !” ujar Garnis ketus.
“Hm, sigap juga kau sehingga pembesar Pajajaran itu selamat. Tapi, itu tidak akan bisa bertahan lama. Tarian Lidah Apiku akan membakar kalian semua, lebih panas dari api neraka,” ucap Baidawat, “Mengapa kalian tidak maju saja bersama-sama, biar kukirim kalian ke neraka,” ujar Baidawat congkak.
“Cih, tak perlu menyombongkan diri, Baidawat, menghadapi salah seorang dari kami saja, kau tidak mampu, apalagi, aku. Patut kau ketahui, yang kau hadapi, adalah saudara seperguruanku. Jika dia mau, kau sudah binasa dari awal. Apakah kau tidak menyadari, dia hanya menggunakan sebelah tangan saja untuk menghadapimu yang entah sudah berapa kali kau berganti jurus, tapi, masih belum bisa kautundukkan. Saranku, segera menyerahkan diri ke pemerintah Pajajaran, mungkin kau akan mendapat pengampunan dan bisa mengawali hidup yang baru secara baik dan benar,” ujar Garnis.
“Menyerah ?” tanya Baidawat, “Dalam kamusku, aku pantang menyerah, daripada harus membusuk di penjara, lebih baik mati berkalang tanah ! Aku tidak peduli kalian itu siapa, bagiku... siapa saja yang menghalangi seluruh keinginanku, dia harus mati ! Nah, ayo kita bertarung lagi bocah buruk rupa, kita bertarung, sampai salah satu dari kita mati dan menjadi santapan burung-burung pemakan bangkai !” Setelah berkata demikian, Baidawat duduk bersila, sepasang matanya terpejam, mulutnya komat-kait membaca mantra. Tak lama kemudian, tubuhnya memerah dan perlahan-lahan terangkat ke udara. Di tengah udara, tubuhnya berputar-putar bagai kitiran, tubuhnya yang memancar merah bak bara api dikelilingi bara api. Detik berikut, saat ia mendorongkan kedua tapak tangan ke depan dada, berhembus angin panas dan menyerang ke arah Widura. Tampaknya, Baidawat bertekad untuk mengakhiri pertarungan dengan Jurus Pamungkasnya. Menutup Pintu, Membakar Angin, tingkat sepuluh Ajian Tarian Lidah Api.
Arya Widura hanya berdiri saja menyaksikan keindahan jurus Tarian Lidah Api, ia tersenyum dingin, sementara Garnis dan yang lain heran mengapa Widura hanya diam saja. Ia masih diam bagai sebongkah arca batu, terlebih saat sinar merah itu mengurung tubuhnya. Di pihak Baidawat, ia menyeringai, seakan sudah berada di atas angin.
"Mengapa kau tidak menghindar atau melawan manusia buruk rupa ? Apakah kau benar-benar sudah bosan hidup ?" tanya Baidawat.
Tidak ada jawaban, Arya Widura hanya meletakkan tangan kanannya di punggung, ia berdiri seakan tidak peduli dengan bahaya yang bakal datang tidak lama lagi. Itu membuat Baidawat seperti diremehkan, darahnya mendidih, "Baik ! Nah, rasakan ini. Heath !!!"
Teriakannya menggema, diiringi oleh bunyi ledakan yang sangat keras memekakkan telinga. Debu, kerikil, tanah dan dedaunan kering berputar-putar bagaikan tornado, sebagian hangus terbakar, sementara yang lain, mengurung tubuh Widura dan Baidawat.
Di dalam gulungan debu berapi itu, Baidawat menggabungkan semua tingkatan dari Ajian Tarian Lidah Api menjadi satu, kekuatannya luar biasa dahsyat, hawa di sekitar tempat itu mendadak panas. Panas sekali. Alam seakan mengamuk, suara-suara aneh membuat telinga serasa tuli terdengar bagaikan Dewa-dewa sedang berperang melawan pasukan kegelapan. Gemuruh angin topan juga ledakan-ledakan bak bunyi guntur, semua seakan menyesakkan dada. Bagi orang yang tenaga dalamnya rendah, segera saja roboh tak sadarkan diri. Tak seorang pun, kecuali Dewi Garnis mampu melihat apa yang terjadi. Kekasihnya itu tetap diam tak bergerak, ia heran mengapa sama sekali tidak membalas serangan ataupun menangkisnya. Ia hendak menyeruak maju akan tetapi, naluri pendekarnya menyatakan bahwa Arya Widura akan baik-baik saja.
“Gila, benar-benar tidak kusangka, Baidawat ternyata memiliki tenaga dalam yang cukup tinggi,” ujar Ranggabayu, “Aku belum tentu sanggup menghadapinya, akan tetapi, sosok berbaju biru dan buruk rupa itu, juga bukan orang sembarangan,”
“Tentu saja, bukan, saudara Ranggabayu. Saya sendiri tidak bisa memastikan setinggi apa ilmu dan tenaga dalam saudara seperguruanku itu,” tukas Garnis, “Dan, dia masih belum mengerahkan seluruh kepandaiannya,”
“Apa ? Benarkah demikian ?” tanya Ranggabayu.
“Benar. Serangan Baidawat sama sekali tidak mampu menembus dinding pertahanannya yang kokoh sekalipun menggabungkan semua tingkatan Aji Tarian Lidah Api-nya,”
“Benar-benar, tidak masuk akal,” seru Ranggabayu.
“Bbllaarr !!”
Ledakan keras kembali terjadi, kali ini tubuh Baidawat dan Arya Widura sama-sama terpental ke belakang. Arya Widura terpental sejauh setengah tombak, sementara, Baidawat terpental sejauh dua sampai tiga tombak. Baidawat dapat mendarat dengan mulus, demikian pula Arya Widura. Wajah Baidawat merah padam, sepasang matanya terbelalak lebar dan mencorong merah; otot-otot dan urat nadinya seakan mengembang saat ia kembali melompat menerjang ke arah Widura. Nah, para pembaca yang Budiman, bagaimana kisah selanjutnya ? Apa yang akan dialami oleh dua pendekar tangguh dan sakti mandraguna itu ? Untuk mengetahui jawabannya, marilah kita ikuti kelanjutan kisah di pada babak ketujuh. Sampai jumpa.
***
Eric Kusumawardhana
(Lumajang, 28 Oktober 2024)
Permadi harus di tangkap tapi sepertinya dia akan di selamatkan durgalaraksa
mungkinkah pertarungan antara Brama vs gardika akan terulang kembali dengan pertarungan antara wiidura vs Permadi di mana Permadi pun mengalami nasib sama seperti gardika hancur menjadi debu
manerik nih lanjut kak author