Indonesia
NovelToon NovelToon
Nightfall

Nightfall

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Hyeon Gee

Semua yang hidup pasti mati
Semua yang di takdirkan bertemu pasti menanti
Dan semua berawal...ketika matahari akan meninggalkan bumi..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Han Byul

“Onnie?”

Gadis manis dengan rambut panjang bergelombang yang tengah duduk di kursi meja belajarnya itu tersenyum lembut usai berbalik dan melihat Ji Yul di balik pintu kamarnya yang setengah terbuka. Namun, sesaat kemudian dia kembali sibuk dengan catatan di meja belajarnya dan membiarkan Ji Yul yang telah merebahkan diri ke tempat tidurnya.

“Neo wasseo? Bap meogeosseoyo?(Kau sudah pulang? Sudah makan?)” tanyanya.

Dan walau tidak melihat, dia tahu jika Ji Yul menjawabnya dengan anggukan.

“Hwanirang?(Bersama Hwan?)” tanyanya lagi.

Kembali Ji Yul mengangguk penuh semangat.

“Hui Yuneun phari ro dorawada?(Apa Hui Yun sudah kembali ke Paris?)” untuk kesekian kali dia bertanya sembari meneruskan tulisan dalam buku catatannya.

Lagi, Ji Yul mengangguk.

“Eung, geujeokkeyo(Iya, kemarin lusa),” sahut Ji Yul yang lalu terdiam sejenak, “oh! Besok peringatan Ayah dan Ibu. Harus bawa apa?” tanyanya kemudian.

Gadis itu memutar kursi dan menatap Ji Yul setelah menghentikan kegiatannya.

“Kau ingin bawakan apa tahun ini?”

“Mmm…” Ji Yul tampak berpikir sejenak, “Labendeo?(Lavendel?) Hwani Oppa?” serunya seraya beranjak dan duduk bersila dengan wajah yang semringah.

“Hwani?” tanya gadis itu heran dan diiringi anggukan Ji Yul yang penuh semangat, “geu sarameun neo godeunghakkyo seonbaenimeui hangsang mannayo?(dia senior di SMA yang selalu kau temui itu?)” tambahnya dan Ji Yul pun mengangguk cepat.

“Kakak belum pernah sekalipun pergi berjalan-jalan dan juga mengajak teman ke rumah. Hanya keluar untuk bekerja dan kuliah saja. Setidaknya bersenang-senanglah setelah kita menemui Ayah dan Ibu,” kata Ji Yul.

Gadis itu terdiam dan tampak tidak setuju dengan ide Ji Yul. Namun, Ji Yul langsung mengatupkan kedua tangannya dan memohon pada gadis yang kini tersenyum geli melihatnya.

“Han Byul~ssi, jebal,” katanya yang begitu memohon pada gadis bernama Han Byul itu.

“Baiklah, kita ajak Hwan. Kabari dia kita berangkat pukul 7.00 pagi. Sekarang cuci wajah dan sikat gigimu, lalu tidur,” perintah Han Byul sembari tersenyum lembut.

Mendengar perintahnya, Ji Yul pun segera beranjak mendekati Han Byul dan menyingkap poninya. Lagi, senyum geli terukir di wajah Han Byul tatkala melihat kelakuan Ji Yul sebelum kemudian dia mengecup keningnya.

“Jalja,” ucap Han Byul penuh kasih sayang.

“Jaljayo uri sarangi Onnie(Selamat malam Kakakku tersayang),” sahut Ji Yul sambil mengecup pipi kanan dan kiri Han Byul.

Han Byul tersenyum sampai pintu kamarnya tertutup, dia menghela napas pelan dan memutar kursinya. Sejenak dia terdiam lalu membuka amplop cokelat yang tersimpan di laci meja dan mengeluarkan beberapa rangkap dokumen.

SURAT PERNYATAAN PEMBALIKKAN NAMA

“Tidak ada alasan lagi untuk tetap mempertahankan marga ini sekarang. Sudah waktunya kembali,” ucapnya sambil memandangi tulisan yang tertera di lembar dokumen teratas, “Ibu, aku sudah bertemu Ayah dan Ji Yul. Aku telah mengingat semuanya. Maaf, jika aku membuat kalian menunggu terlalu lama,” tambahnya seraya tersenyum lembut.

Dia kembali memasukkan dokumen tersebut ke amplop dan menyimpannya lagi ke laci meja. Dia lalu meraih ponselnya dan mengetik pesan untuk seseorang.

Ke : Direktur Lee

Dokumennya sudah siap.

Aku akan serahkan minggu depan.

Terima kasih atas bantuannya.

Setelah mengirim pesan, Han Byul beranjak dan melangkah keluar menuju kamar Ji Yul yang terletak di lantai dua rumah mereka. Dia membuka perlahan pintu kamar Ji Yul yang masih terang dan di lihatnya Ji Yul telah terlelap.

Dengan berhati-hati dia mendekati Ji Yul untuk membetulkan selimutnya dan mengecup keningnya sekali lagi. Sesaat, dia tersenyum memandangi Ji Yul sebelum kemudian pandangannya teralih pada sebuah foto dalam figura di atas meja belajar.

Di foto itu semua anak mengenakan seragam SMA Nam Joon dan Ji Yul tampak memeluk lengan salah satu anak laki-laki yang tersenyum tipis. Sementara di sisi kirinya, seorang gadis tersenyum riang merangkul anak laki-laki kembar yang mengapitnya.

Keningnya berkerut usai sekian lama memandangi foto tersebut. Dia mengerjap cepat dan kembali melihat Ji Yul yang semakin terlelap. Hening dan sedetik kemudian dia keluar sesudah mematikan lampu kamar.

Dia melangkah ke kamarnya di lantai satu tanpa suara dan segera meraih jumper merah beserta ponselnya. Tepat pukul 10.00 malam itu, dia keluar rumah dengan sepedanya menuju ke Taman Incheon.

Dari : Direktur Lee

Senang membantumu.

Kita bertemu minggu depan

di tempat biasa pukul 10.00 pagi.

Dari : Direktur Lee

Sedang berolahraga malam?

Han Byul yang baru saja turun dan menstandarkan sepedanya tampak kebingungan usai membaca isi pesan kedua yang ia terima. Dia memperhatikan sekeliling sebelum kembali beralih pada layar ponselnya.

“Han Byul~ssi?”

Seseorang menepuk pundak Han Byul dan membuatnya berbalik dengan posisi siaga. Laki-laki itu terkejut dan langsung mengangkat kedua tangannya.

“Ige jeoyo(*Ini say**a*),” ujarnya dan bergegas membuka topi yang sedikit menutupi wajahnya karena lampu taman yang redup.

“Lee isanim!(Direktur Lee!)” seru Han Byul dengan kedua bola mata membesar.

“Ne, jeoyo.”

Laki-laki itu tersenyum dan mendekati pagar pembatas. Namun, hanya sejenak dia kemudian berbalik dan melihat Han Byul yang masih terpaku di tempatnya.

“Waeyo?” tanyanya heran.

Dan Han Byul pun mengerjap cepat.

“Apa aku menakutimu?” tanyanya lagi.

Segera Han Byul menggeleng, lalu dengan berhati-hati dia mendekat dan berdiri di sisi laki-laki yang dia panggil Direktur Lee itu.

“A, apa yang sedang Direktur lakukan di sini?” tanya Han Byul yang masih tampak tegang.

“Panggil aku Sun Hwan. Namaku Lee Sun Hwan, orang-orang memanggilku Hwan. Jangan Direktur, kita tidak sedang berada di kantor Kakakku. Terlebih aku juga belum menyelesaikan studi hukumku,” jelas Hwan yang seketika membuat Han Byul tertunduk malu, “aku tidak akan menatapmu, angkat kepalamu,” tambahnya seraya tersenyum geli dan mengalihkan pandangan ke Sungai Han.

“Kau…mengenal Kim Ji Yul? Apa kau yang selalu menemani Ji Yul saat dia tidak bisa tidur dan keluar untuk bermain ayunan di taman komplek?” tanya Han Byul setelah mengangkat kepalanya.

Mendengar ucapannya, Hwan spontan melihatnya hingga membuat dia begitu terkejut dan kembali menunduk.

“Kau mengenal Ji Yul?”

Tidak peduli akan Han Byul yang sekarang terlihat sangat gugup dan menggenggam erat ujung jumper-nya, Hwan tetap menatapnya lekat untuk menjawab rasa penasaran yang tiba-tiba menyelimuti.

“Di, dia adikku. Minggu lalu aku tidak sengaja melihatmu mengantarnya pulang. Aku tidak tahu kalau yang selama ini membantuku adalah orang yang selalu setia menjaga Ji Yul di sekolah. Terima kasih sudah menjaga Ji Yul-ku,” jelas Han Byul yang lalu membungkuk penuh rasa hormat.

Penjelasan Han Byul semakin membuat Hwan kebingungan. Dia mengerjap dan terdiam cukup lama sementara, Han Byul tidak kunjung berdiri dan masih membungkuk. Sampai beberapa menit kemudian, dia tersentak kemudian bergegas meraih kedua lengan Han Byul.

“Ireonabwa(Berdirilah),” perintahnya lembut.

Dia lalu menarik tangan Han Byul ke salah satu bangku taman dan mempersilahkannya untuk duduk. Mengabaikan segala rasa gugup Han Byul yang semakin menjadi, dia yang telah di penuhi banyak pertanyaan pun menatap lekat gadis di sisinya saat itu.

“Museojima. Sasireul…mwo naega ara do mollayo??(Jangan takut. Sebenarnya...apa yang saya ketahui dan tidak ketahui??)” tanyanya yang kini berubah serius.

Namun, Han Byul langsung menggeleng cepat dan mulai meremas kuat ujung jumper-nya. Menyaksikan reaksinya, dia pun menyentuh tangan Han Byul dan seketika membuat kegiatannya terhenti.

“Nan…halsu eopseoyo(Aku...tidak bisa),” bisik Han Byul lemah.

Terdengar helaan napasnya usai mendengar jawaban Han Byul dan perlahan dia membebaskan tangan Han Byul.

“Tadi Ji Yul menghubungiku. Dia mengajakku ke pemakaman orangtua kalian besok,” ucap Hwan.

“Dia ingin aku bertemu orang. Aku tidak ingin melihatnya sedih jadi, aku turuti semua keinginannya. Karena dia hanya memiliki aku sekarang,” jelas Han Byul dengan suara khasnya yang begitu tenang.

Penjelasannya sedikit mencairkan ketegangan mereka dan membuat Kakak kembar dari Lee Sun Chan itu tersenyum.

“Dia mengatakan, kalau kita akan berangkat pukul 7.00 pagi,” kata Hwan penuh kesabaran.

Lagi, Hwan tersenyum saat melihat Han Byul mengangguk pelan. Dia lalu menengadah dan memandangi langit malam yang dipenuhi bintang musim gugur. Sesaat dia terdengar kembali menghela napas sebelum kembali menatap Han Byul yang masih tertunduk dan meremas jumper-nya.

Bagaimana kau bisa tahu jika tidak ada satu pun orang yang mengenalkanmu padaku?... Manager-ku mengatakan kalau kau pengacara terbaik yang bisa membantuku. Walaupun kuliahmu belum selesai namun, catatan prestasi atas setiap kasus yang kau tangani menunjukkan kau lebih dari mampu hanya untuk melakukan hal kecil seperti ini.

Jadi, apa yang bisa aku bantu?... Sejak kecil aku telah terpisah dari Ayahku, karena itu aku menggunakan nama belakang Ibuku. Tapi, sekarang aku sudah menemukannya dan aku ingin mengganti nama belakangku, Direktur Lee…

1
Nur Yuliastuti
semangat Thor 🤗😍😍
goyangi13: Semangat semangat 💪💪💪
Terima kasih banyaaak sudah berkenan mampir kak 🫶🏻🙏🏻🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!