Indonesia
NovelToon NovelToon
Arlan Winara

Arlan Winara

Status: tamat
Genre:Romansa / Tunangan Sejak Bayi / Iblis / Tamat
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Kak Pira

Arlan adalah identitas baru bersama dengan kehidupan yang ikut baru untuk Queen. Bagi Queen terkehidupan barunya terlihat menyenangkan di banding ke hidupannya yang penuh tangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Pira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arlan <6>

Tidak lama Arlan duduk mejanya sudah ke datangan tamu yabg tak di undang. Arlan menatap orang yang ada di depannya.

"Lo, apa?" Tanya Arlan sedikit terkejut saat melihat orang di depannya.

Sedangkan orang itu hanya cengengesan melihat reaksi Arlan saat melihat dirinya. "Hehehe...iya gue, lo kenapa di sini, nggak takut?" Tanya Riyan yang ikut duduk.

"Ngapai takut?" Tanya Arlan datar, dan meminum susu anggurnya santai.

Riyan mengerutkan dahinya guna bingung dengan Arlan ucapkan. "Lo nggak tahu kalau di jam ini semua gank Sun Black.

'Sun Black' beo Arlan dalam hati, dan menatap Riyan heran. "Kalau benar kenapa lo disini?" Tanya Arlan penasaran.

Riyan mengukir senyum menyeringai di wajahnya membuat Arlan penasaran. "Ngapain lo seringai seringai, nggak jelas" ucap Arlan.

"Karena gue ketua mereka" ucap Riyan dengan dagu terangkat, dan nada yang sombong.

Arlan memutar bola matanya malas saat mendengar ucapan Riyan. "Ketua gank aja sombong" ucap Arlan datar.

Riyan menatap Arlan yang membuang tatapanya ke sembarang tempat. "Dari pada nggak" ucap Riyan.

Arlan langsung menoleh ke Riyan dengan terkejut. "Lo..." ucap Arlan terhenti saat teringat sesuatu, lalu melanjutkannya dengan balasan lain. "mending kagak sih" ucap Arlan santai kembali meminum susunya.

Riyan hendak menggatakan sesuatu namun ia uraikan saat mendengar suara dering dari ponsel Arlan. Arlan mengambil ponselnya yang ada di saku celana.

Arlan menatap layar ponselnya yang masih berdering, membaca nama kontak yang tertera.

Refan

Arlan bangkit dari duduknya menjauh dari Riyan sebelum akhirnya ia menggangkat telephon abangnya, Refan.

Riyan hanya menatap penasaran kepergian Arlan namun tidak mencegahnya untuk pergi menggangkat telephon.

"Kenapa bang?" Tanya Arlan sedikit berbisik saat panggilannya terhubung.

"Pulang ke rumah gue tunggu 1 jam, nggak dateng habis lo" ucap Refan mengancam dan langsung memutuskan panggilannya secara sepihak.

Arlan berdecak sebal saat telephonnya di putuskan secara sepihak namun langsung berlari menuju parkiran sekolah mengendarai motornya seperti sedang kerasukan.

Skip

5 menit kemudian Arlan telah sampai di depan rumahnya dan langsung turun dari motornya, berlari mencari keberadaan abangnya di dalam mansion namun tidak ada.

Arlan terus mencari hingga akhirnya ia bertemu dengan Mbak Minah di dapur sedang memasak makanan.

"Mbak" panggil Arlan dari belakang Mbak Minah.

Mbak Minah yang mendengar itu pun melompat kaget dengan panggilan Arlan, lalu memutar balikkan badanya ke arah Arlan.

"Masyaallah, Nona ngagetin Mbak aja" ucap Mbak Minah yang kembali di buat kaget saat melihat Arlan yang ada di depannya.

Arlan hanya cengengesan sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Maaf Mbak, kalau boleh tahu abang dimana?" Tanya Arlan di akhir ucapanya.

Mbak Minah tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia menjawab. "Kalau tidak salah tadi tuan keluar sama nona besar" ucap Mbak Minah memberi tahu.

"Nona besar?" Gumam Arlan bertanya dan berpikir. "Bunda?" Tanya Arlan bergumam.

Arlan menatap bingung dengan jawaban Mbk Minah yang kini terlihat tegang. "Apa Mbak minah bohongin Arlan?" Tanya Arlan curiga.

"Demi allah non, tadi nona besar pulang terus pergi sama tuan" ucap Mbak Minah bersumpah.

"Kalau Ayah dimana?" Tanya Arlan.

"Kalau tuan ada di ruang kerjanya non" jawab Mbak Minah.

Setelah mendengar jawaban Mbak Minah, Arlan langsung berlari menuju tangga untuk naik ke lantai atas dimana ruang kerja, kamar berada.

"MAKASIH MBAK" Teriak Arlan di tengah larinya.

Mbak Minah mengelengkan kepalanya melihat tingkah Arlan. 'Mbak merasa senang lihat tuan kembali ceria, walau Mbak tahu itu bukan tuan lagi, tapi nona' batin Mbak Minah.

Tanpa Mbak Minah sadari air kedua matanya berhasil keluar membasahi kedua pipinya. 'Semoga tuan senang di sana, Mbak akan selalu doa'in tuan' batin Mbak Minah lagi sambil menatap ke atas.

Arlan langsung masuk ke dalam ruang kerja Ayahnya. Arlan mengedarkan pandanganya menatap ke sekeliling mencari sosok Ayahnya.

Tak lama terdengar suara pintu terbuka dari kamar mandi di dalam, Arlan mengalihkan penglihatannya ke arah pintu kamar mandi dan langsung berlari ke arah sana saat melihat sosok yang ia cari.

"Ayaaah..." panggil Arlan di tengah larinya dengan tangan terlentang siap untuk memeluk sosok pria paruh baya yang masih terlihat gagah san menyeramkan.

sedangkan Chain terkejut dengan panggilan Arlan dan kembali kaget saat mendapat pelukan mendadak dari Arlan namun ia masih membalas pelukan putranya dengan lembut.

Arlan mendongak ke atas menatap wajah tegas Ayahnya dengan senyum senang. "Sejak kapan Ayah pulang, kok nggak kasih tahu Arlan sih" ucap Arlan manja.

Chain mengelus lembut puncak rambut Arlan. "ini kan kejutan untuk Arlan, kalau di kasih tahu bukan kejutan namanya" jawab Chain lembut.

"Terus apa dong?" tanya Arlan asal.

"em...apa ya?mungkin pertemuan" ucap Chain dengan nada menggoda.

Arlan yang mendengar jawaban Chain pun tertawa, entah apa yang lucu namun kelihatanya Chain ikut tertawa bahkan lebih keras dari Arlan.

"Yah, Arlan capek, masa harus Arlan sendiri yang beresin milik Abang" keluh Arlan setelah selesai tertawa bersama Chain.

Chain kembali memeluk Arlan seperti menyalurkan kekuatannya ke Arlan. "Ayah tahu, Arlan capek, tapi Arlan jangan menyerah, kalau Arlan butuh bantuan, minta saja sama Ayah, oke" ucap Chain lembut.

Arlan menggangukkan kepalanya yang masih ada di dalam pelukan Chain. mereka langsung melepaskan pelukanya saat mendengar suara lain dari arah pintu masuk.

"hmm... lagi pelukan kitanya nggak di ajak" ucap Refan yang ada di ambang pintu melipat tanganya di depan dada.

"sepertinya kita di tirikan deh boy" ucap wanita paruh baya yang masih terlihat muda dan cantik natural walau umurnya sudah hampir tua.

"Kayaknya iya deh Bun, mending kita pergi aja dari sini" ucap Refan dengan nada dramatis.

"dasar dramatis" ucap Arlan malas. "kalau iri bilang bos" Arlan kembali berucap dengan nada sombong.

"sombong banget, awas aja kalau lo minta tolong gue, nggak bakalan gue tolongin" ucap Refan kesal.

"nggak mau tolongin nggak apa apa kan masih ada Ayah yang setiap saat bisa tolongin Arlan, iya kan Yah" ucap Arlan menatal Chain yang ada di sampingnya.

"tentu saja, apapun akan Ayah bantu" ucap Chain lembut sambil mengelus puncak rambut Arlan yang berhasil membuat Refan cemberut sendiri.

"okey, kalau gitu biar Bunda milik Gue" ucap Refan yang tak mau kalah dengan Arlan pun langsung memeluk Winda dengan erat.

Winda yang merasa sesak karena pulukan Refan yang begitu erat berusaha berbicara untuk melepaskan. "bo-oy lep-pas, Bu-bun-nda ng-ngg-gak b-bi-sa nap-pas" ucap Winda terbata-bata.

Refan pun langsung melepaskan pelukanya membuat Winda langsung mengambil napas sebanyak mungkin. Sedangkan Refan bingung harus apa.

"Eh Bunda maaf, Refan nggak bermaksud bikin Bunda sesak, maaf bun" ucap Refan panik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!