Hazela Prillynica yang menyukai Orion altair saskara sejak awal MPLS sekolah di parkiran sekolahnya. Siapa sangka Orion ternyata lebih dulu menyukai Zela tanpa ada yang mengetahuinya.
Apakah mereka akan bersatu dan mengetahui perasaan mereka masing-masing? Ayo baca terus sampai tamat😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jayrry_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suka tapi tidak jujur
Dringg!
“Eh, handphone siapa tuh yang bunyi,” ujar Laska sambil celingak-celinguk.
Mereka langsung ngecek HP masing-masing, ternyata HP Sena yang berisik.
“Eh, HP gue. Sebentar ya,” ucap Sena buru-buru ngangkat telepon.
Suara mamah Sena langsung kedengeran cempreng dari seberang, “Sena, pulang sekarang! Bantuin mamak bikin pesenan kue buat acara sunatan anaknya Pak RT.”
“Iya mak, sebentar lah. Tanggung ini aku lagi main,” jawab Sena pelan, sambil menjauhkan HP dari telinganya.
“Ouh jadi lebih mentingin main dibanding mamak? Uang jajan kamu mamak potong kalo nggak pulang sekarang juga!” bentak mamahnya.
“Iya mak, pulang aku. Otw ini, aku matiin teleponnya ya,” jawab Sena pasrah, langsung nutup telepon.
Temen-temennya yang dari tadi dengerin percakapan itu langsung pecah ketawa.
“Apasih lo pada, nggak ada yang lucu. Stop ketawa!” kesal Sena.
“Lucu banget anjir mamah lo,” ucap Lala sambil ngakak.
“2 in,” lanjut Laska.
“3 in,” sambung Gio.
“Apasih lo pada malah ngitung nggak jelas. Udahlah, gue pulang duluan ya guys. Bye muach, jangan kangen sama princes Sena,” pamit Sena sambil gaya lebay keluar rumah Laska.
Mereka semua makin ngakak.
“Najis banget gue kangen sama nenek lampir kek lo,” gumam Gio.
“Gue bilangin Sena lo, biar tau rasa,” celetuk Zela.
“Cepu loh,” balas Gio sambil lempar bantal sofa ke arah Zela, lalu kabur.
“GIO, AWAS LOH!” teriak Zela sambil ngejar Gio.
Laska dan Orion cuma duduk sambil ketawa ngakak ngeliat kejar-kejaran itu.
“Habis tuh kuping si Gio sama Zela,” celetuk Laska sambil pegang telinganya, inget rasanya dijewer Zela.
“Kuping?” tanya Orion penasaran.
“Iya, si Zela tuh kalo kesel pasti balesannya jewer. Dahsyat banget sampe kuping merah,” jawab Laska.
“Haha, lucu yah,” ucap Orion sambil senyum ke arah Lala.
“Lucu pala lo, itu namanya kejam Ion," balas Laska.
“Dasar aneh lo Ion,” lanjutnya.
“Udah, ayo kita pisahin si Gio sama Zela,” ujar Orion langsung jalan ke arah mereka. Laska ikut nyusul.
Tapi sebelum sampai, Zela tiba-tiba tersandung di halaman rumah.
“Aw,” ringis Zela sambil pegang lututnya yang lecet.
“Sial, sakit banget lagi,” gumamnya.
Orion langsung sigap, jongkok di depan Zela.
“Naik,” ucapnya, nyuruh Zela naik ke punggungnya.
“E-eh nggak usah, gue gapapa kok. Cuma luka kecil,” jawab Zela gugup, pipinya udah merah.
Pas Zela coba berdiri, kakinya goyah dan hampir jatuh lagi. Orion cepat-cepat nangkep tangannya.
“Aw, makasih ya,” ucap Zela malu.
“Udah jangan batu. Ayo biar gue gendong. Kalo dipaksain nanti makin parah,” sahut Orion tegas.
Akhirnya Zela naik ke punggung Orion. Wajahnya senyum tipis, tapi pipinya panas banget. Laska dan Gio saling pandang, terus ketawa kecil. Mereka udah tau banget kalau dua temennya ini saling suka tapi masih gengsi.
Sesampainya di ruang tengah, Zela duduk di sofa.
“Las, ada P3K?” tanya Orion.
“Ada tuh di samping dapur,” jawab Laska.
Orion langsung ambil kotak P3K. Sementara itu Gio nyeletuk, “Duh La, makannya hati-hati.”
“Tuh pipi merah banget kayak tomat,” ledek Laska.
“Ih, diam kalian! Ini semua gara-gara lo Gio!” balas Zela sambil lempar bantal ke arah mereka.
“Duh sakit La,” ringis Laska dan Gio bareng.
“Maaf ya La,” sambung Gio.
“Gue maafin, tapi besok beliin gue matcha,” jawab Zela dengan senyum manis.
“Dih, okelah,” balas Gio malas.
Orion balik dengan P3K, jongkok di depan Zela.
“Gue obatin. Kalo sakit tahan sebentar, lo bisa cubit atau pegang pundak gue,” katanya.
“Oke,” jawab Zela pelan.
Zela pun pegang pundak Orion, sementara Orion fokus ngolesin obat di lukanya. Selesai, Orion menatap wajah Zela.
“Udah selesai,” ucapnya.
“Iya, makasih Ion,” balas Zela, mereka saling tatap lama.
“Ehem, masih ada orang loh di sini,” potong Laska dengan nada malas.
“Tau tuh, malas banget cowok ganteng jadi nyamuk,” sambung Gio.
Zela dan Orion buru-buru alihin pandangan.
“Apasih kalian nggak jelas. Gue mau pulang,” ucap Zela dengan pipi merah.
“Gue anterin ya?” tawar Orion.
“Eh nggak usah, gue bisa sendiri kok,” jawab Zela.
“Udah motor lo di sini aja, lo dianterin sama Orion,” sahut Laska tegas.
“Nggak mau gue,” balas Zela.
“La, dengerin gue! Nggak gue beliin matcha lagi nanti kalo nggak pulang sama Orion,” ancam Laska.
“Ih yaudah, gue pulang sama Orion,” pasrah Zela.
Orion langsung bawain tas Zela, merangkulnya biar nggak jatuh.
“Mereka saling suka tapi nggak mau jujur,” celetuk Gio sambil nyengir.