Terimakasih sudah mampir jangan lupa like dan komen yah
Revisi Asrar cinta
Asrar Cinta santriwati yang begitu tergila-gila kepada ustadz Aji anak dari pemilik asrama Uswatun khasanah. Aji Adnan Fattih namanya, dia sosok laki-laki yang ramah, baik hati. Bukan hanya ilmu agama yang ia punya namun juga parasnya adalah bonus.
Kabar perjodohan ustadz Aji tersebar di pondok pesantren membuat hati Asrar hancur, namun ia harus terus berpura-pura baik-baik saja.
"Jika kau takdirku, sejauh mana kita berpisah kita akan bertemu dan dipersatukan."
*
*
Jangan lupa like dan komen yah dan tambahkan ke daftar favorit
..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan 3
"Kau gila ya Asrar, bisa-bisanya kamu menawarkan diri kamu ke ustadz Aji didepan santriwati, kamu ini tidak punya malu," seru intan tidak percaya apa yang ia saksikan pada saat itu.
"Kalau jadi kamu aku lebih baik pindah dari sini, aku tidak kuat menahan malu," sambung Lala.
Asrar hanya tersenyum sambil merapikan dasinya dan berkata, "Aku melakukannya agar semua orang tau bahwa ustadz Aji itu milikku!"
"Tapikan enggak sampai melakukan hal bodoh itu," ucap intan.
"mungkin menurut kalian itu hal bodoh tapi menurutku itu adalah hal terberani," jawabnya sambil mengambil mengambil tas.
"Oh ya ...kalian kalah taruhan-kan! jadi kalian harus mengatakan suka ke orangnya," sambung Asrar mengingatkan.
"Aku akan menunggu di sekolah dan menyaksikan Pertunjukan dari kalian, ...sampai Jumpa," ucap Asrar sambil pamit.
Disisi lain ustadz Aji masih berdiri melihat kearah cermin dan berkata,"Kenapa gadis itu selalu bikin ulah, bisa-bisanya dia mempermalukan diri sendiri," sambil menepuk jidat.
"Tapi ekspresinya sungguh imut," sambungnya lagi. Ustadz Aji membayangkan ketika Asrar menawarkan dirinya untuk dinikahi, pipinya mulai memerah, senyum di bibirnya mulai terbentuk.
"Astaghfirullah, apa aku sudah ikutan gila seperti dia, bisa-bisanya aku membayangkan lagi kejadian itu," ucapnya lagi sambil membaringkan tubuhnya ke kasur.
"Asrar," panggil Riko santri laki-laki yang menyukai Asrar.
Asrar berhenti saat mendengar seseorang memanggilnya dan menjawab panggilannya itu, "dalem."
"Asrar ...apa kamu ikut lomba MTQ?" tanyanya sambil menunjukkan brosur.
Asrar mengambil brosur itu dan berkata, "Aku tidak ikut."
Riko terkejut atas jawaban Asrar.
"Kamu kan pinter MTQ kenapa tidak ikut, hadiahnya lumayan loh," seru Riko menyakinkan Asrar.
"Jika ustadz Aji tidak meminta aku untuk ikut maka aku tidak ikut, begitu juga sebaliknya. Wassalamu'alaikum," jawab Asrar sambil berpamitan meninggalkan Riko
Riko masih tidak menyangka bahwa rumor tentang Asrar yang tergila-gila kepada ustadz Aji memang benar adanya.
"Apa aku kalah saingan sama ustadz Aji?" gumamnya yang terdengar oleh sahabatnya Rijal.
"Sebelum janur kuning melengkung masih bisa ditikung!" serunya.
"Astaghfirullah ngagetin kamu Jal,"
"Saingan sama ustadz Aji, emang siapa cewe itu?" tanya Rijal penasaran.
"bukankah kamu dengar desas desus rumor yang mengatakan Asrar tergila-gila sama ustadz Aji!" ujarnya.
"Jadi kamu suka Asrar cewe yang cantik,pinter,ceria itu?" serunya terkejut.
"Ia,"
"Wah, berarti kamu juga saingan aku!" jawabnya.
"Hah maksudnya? "
"Aku juga suka dia!" jawabnya dengan penuh percaya diri.
"Heleh alasan, ya udah yu kita berangkat sekolah," ucap Riko.
Disepanjang perjalanan Asrar hanya bersenandung kecil, dan tidak memperdulikan sekitarnya yang bergosip tentangnya. Asrar tidak pernah membela dirinya karena ia lakukan atas kehendak dirinya.
"Itu si Asrar enggak tau diri banget bisa-bisanya dia menawarkan diri ke ustadz Aji, Apa dia tidak tau malu?" bisik-bisik.
Asrar menghentikan langkahnya saat mendengar kalimat," Apakah ibunya tidak mengajari dirinya dengan benar, bisa-bisanya dia tidak punya malu!"
Asrar mendekati mereka berdua yang sedang bergosip itu, tidak disangka ternyata Nabila dan Nina teman Seasramanya.
"Apa kalian tidak di didik dengan benar sama orang tua kalian sehingga kalian bergosip tiada henti,"ucap Asrar.
Nabila dan Nina marah atas apa yang baru saja Asrar ucapkan, " Kenapa kamu bawa-bawa orang tua saya, ini urusan saya sama kamu!" serunya langsung berdiri.
"Lalu apa hubungannya sama aku?" tanya Asrar sambil merapikan kerudung Nabila.
"Singkirkan tanganmu dariku ...Najis," serunya menepis tangan Asrar.
"Dah lah aku sudah telat masuk kelas, meladeni tikus enggak tau diri kayak kalian membuatku lelah saja...bye," ucap Asrar meninggalkan mereka.
"Dasar l***e!" triak Nabila yang ternyata terdengar ustadz Aji yang saat sedang melewati jalan itu.
"Siapa yang kau sebut l***e Nabila?"tanya ustadz Aji.
Nabila tidak tau yang bertanya itu ustadz Aji sehingga langsung menjawab, "Si Asrar siapa lagi kalo bukan di-" ucapannya terpotong ketika berbalik melihat kearah orang yang bertanya yang ternyata ustadz Aji.
"Eh ustadz Aji," ucapnya canggung.
"Maksudku si Asrar keren bisa menawarkan diri untuk ustadz," sambungnya lagi melantur.
"Sekarang pergilah masuk ke kelas, sebentar lagi akan mulai kelasnya," ucap ustadz Aji lembut.
"Baik ustadz, Assalamualaikum," jawab Nabila dan Nina sambil berpamitan.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya
Ustadz Aji melihat sebentar kearah sekolahan Asrar yang kebetulan bersebelahan dengan sekolah dimana ia mengajar. Asrar bersekolah di sekolah kejuruan di pesantrennya.
"Semoga kau baik-baik saja Asrar," gumamnya.
*
"Assalamualaikum," ucap lala,Intan,dan Siska memasuki kelas.
"Wa'alaikumsalam," jawab serentak.
Siska melihat ke sekeliling kelas dan tidak mendapati Asrar dikelas dan bertanya, "Eh kalian, Apa Asrar sudah masuk kelas belum?"
"Belum tuh sis," jawab Irdi salah satu teman dekat Asrar.
"Kemana tuh anak" gumamnya.
tiba-tiba ...
"Intan,Lala, Ayu, Siska!" triak Asrar dari lapangan sehingga membuat semua orang melihat Asrar.
"Hey Asrar kemana saja kamu?" tanya intan.
"Aku dari tadi dibawah pohon menunggu kalian, lama banget," jawabnya sambil berteriak.
"Siska, Intan, lala, ayu, jangan lupa tugas kalian hari ini oke!" serunya lagi.
Mereka berempat saling pandang dan berkata, "lebih baik kau naik saja dulu, sekarang kelasnya mau dimulai."
"Ah ...Siap,"jawabnya sambil cepat-cepat melangkah keatas.
Lagi-lagi didalam kelas mereka bergosip tentang Asrar, Asrar yang mendengar itu ia langsung maju ke depan kelas dan berkata,
" perhatian-" sambil menepuk tangan.
Seketika kelas hening.
"Baik Perkenalkan nama saya Asrar Cinta orang yang kalian gosipin hari ini. Tenang saya tidak akan marah dengan kalian memang kenyataannya bahwa saya mencintai ustadz Aji," ucapnya lagi.
"Oh ya, hari keempat teman saya akan menyampaikan perasaannya pada orang yang disukainya, mari kita sambut keempat teman saya Intan,Siska,Lala,Ayu, berikan tepuk tangan yang meriah," sambung Asrar membuat keempat temannya itu sedikit malu.
"Asrar kamu apa-apan?" bisik Siska.
"Ayolah sini, tenang saja ada aku yang akan melindungi kalian," jawab Asrar.
mereka berempat dengan ragu melangkah kedepan, dan satu persatu mulai mengatakan perasaannya kepada orang yang ia suka.
"Syaif ... Aku menyukaimu," seru intan yang membuat Syaif terkejut dan salting.
"Hey Syaif apa jawabanmu!" triak Asrar.
Syaif berdiri dan mulai berjalan maju mendekati Intan dan berkata, "Aku juga menyukaimu intan."
Semua orang dikelas bertepuk tangan, kemudian Asrar berkata lagi, " Baik Sekarang giliran kalian bertiga, supaya mempersingkat waktu kalian langsung saja menyebutkan nama orang yang kalian suka!"
Lala,Ayu, Siska saling pandang dan menghela nafas panjang.
"Irdi ...aku menyukaimu," seru Siska yang membuat Irdi terkejut dan langsung menolak.
"Maaf sis, tapi orang yang Kusuka itu si Lala!" jawabnya yang membuat Lala terkejut dan berkata.
"Irdi aku menyukai Indra,"
Indra langsung bangkit dari tidurnya dan mulai berteriak, "Lala ...aku juga suka kamu!"
Lala langsung tersenyum tidak menyangka bahwa Indra juga memiliki perasaan yang sama. Sedangkan Siska dia terdiam, matanya berkaca-kaca...
"Siska kamu masih punya aku untuk kamu cintai!" seru Asrar menghibur Siska, Siska hanya tersenyum dan memeluk Asrar.
"Baik tinggal satu orang lagi Ayu!" ujar Asrar.
Ketika Ayu hendak mengucapkan tiba-tiba...
"Asrar,Ayu,Intan,Lala, Siska!" Seru ibu Eva yang membuat seisi kelas kaget.