Tarina Putri terpaksa menikah dengan seorang pria angkuh yang kaya raya bernama Alan Dirgantara.
Tari bersedia menikah dengan Akan karena menghormati ayahnya yang sudah tua dan sakit-sakitan. meski Tari tahu Alan tidak pernah mencintainya selama pernikahan mereka.
Kehadiran Larisa sebagai cinta masalalu Alan yang tidak pernah berakhir membuat rumah tangga Tari dan Alan goyah. melihat orang yang diam-diam di cintanya setulus hati malah terjebak dengan masalalu membuat Tari akhirnya tidak tahan lagi dan mengambil satu keputusan besar ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nur danovar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7
Siang itu di toko kain milikku cukup ramai pembeli. Pesanan kain yang masuk juga banyak. beberapa pegawai ku yang mengurus gudang terlihat sibuk membongkar stok di gudang.
"Bu item yang ini sudah bisa langsung kirim, semua siap" kata Erna memberikan print out alamat yang akan di tempel di bungkusan kain.
"Oke langsung saja kamu telpon kurir kesini"
"Iya Bu"
Drrrttt ... ponsel ku berdering. nama mas Alan tertera di layar ponsel milikku.
"Iya mas, ada apa?" tanya ku sembari mengawasi pegawai ku yang sedang sibuk siang itu.
"Tari kamu bersiap ya, mas jemput makan siang di rumah mama dan papa" kata mas Alan di telepon.
"Sekarang mas?"
"Iya, ini mas lagi di jalan mau ke toko kamu"
Kenapa bilang mendadak sih, mana toko sedang rame ....
Aku menghela napas, seperti biasa mas Alan tidak memerlukan jawaban. dalam banyak hal ia akan memutuskan sepihak seperti biasanya.
Segera aku merapikan penampilan dan menyisir rambutku yang tergerai bergelombang. Setelah memastikan makeup ku sudah paripurna aku bergegas mengumpulkan para pegawai ku.
"Saya mau keluar makanan siang sebentar, tolong kalian urus semua pembeli dan barang pesanan ya. yang sudah di kemas segera di kirim ke pelanggan saja" kataku.
Erna sibuk mencatat beberapa poin penting yang aku instruksikan.
"Tari, sudah siap?" kedatangan mas Alan di toko ku siang itu cukup menarik perhatian para membeli. mereka melirik ke arah suamiku yang parlente itu.
"Sudah, Erna titip toko ya" kataku pada gadis dua puluh tahun itu. kulihat wajah Erna yang sumringah saat mas Alan menyapanya.
"Ada acara apa mas di rumah?" tanya ku setelah duduk di dalam mobil tepat di samping mas Alan. kali ini pak Teddy yang membawa mobil jadi mas Alan bisa bersantai di kursi belakang bersamaku.
"Tidak ada acara, mama ingin bertemu saja karena sudah lama kita tidak ke rumah mama"
"Oh gitu, mampir di toko oleh-oleh sebentar ya?" tanya ku. aku ingin membeli beberapa camilan kesukaan mama dan papa mertuaku.
"Iya" sahut mas Alan yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.
Setelah itu hening saja tidak ada percakapan, kami sibuk dengan ponsel masing-masing. sesekali aku memandangi jalanan kota melalui kaca mobil. hati ku perih melihat suamiku duduk di sampingku tapi pikirannya entah kemana.
Pak Teddy membelokkan mobil di depan toko oleh-oleh ternama. aku segera meraih dompet lalu turun dari mobil.
Ku ambil keranjang belanjaan begitu memasuki pusat oleh-oleh itu, aku mengambil beberapa bungkus camilan setelah membayar aku segera kembali ke mobil.
Mas Alan masih di posisi yang sama menunduk memperhatikan layar ponsel miliknya. sesekali kulihat senyum samar di bibir tipisnya.
"Jalan pak" kataku pada pak Teddy. mas Alan yang menyadari suaraku sedikit ketus langsung memasukan ponselnya kedalam saku jasnya.
"Sudah belanjanya?"
Aku hanya mengangguk lalu berpaling kembali memandang jalanan melalui kaca mobil.
Tidak berapa lama mobil tiba di halaman rumah keluarga Dirgantara yang megah dan luas.
Kami berdua turun dari mobil lalu di sambut oleh mama dan papa.
Aku memeluk hangat ibu mertua dan ayah mertuaku itu. mereka memang ramah padaku .
"Ma ini ada sedikit oleh-oleh" kataku sembari menyerahkan kantung belanjaan pada mama.
"Kenapa repot Tari?" senyum sumringah terlihat di bibir mama.
Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu mengajakku masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju ruang makan.
Banyak makanan sudah terhidang di atas meja makan besar. aku membantu mama menata bunga mawar segar di dalam vas sebagai hiasan di meja makan.
Kulihat mas Alan sedang ngobrol dengan papa soal perusahaan. ia memang selalu bersemangat jika membicarakan soal bisnis.
Tak berapa lama Tristan datang, wajah mas Alan langsung berubah tidak bersahabat begitu melihat adiknya itu.
"Tristan kesini dulu ngobrol sama papa dan mas mu" kata papa.
Tristan hanya terdiam lalu melangkah duduk di samping papa. terlihat sekali perang dingin kakak beradik itu. aku sendiri tidak tahu sebenarnya permasalahan apa yang membuat mas Alan dan Tristan jadi seperti musuh begitu.
"Mari kita makan, semua sudah siap" kata mama mencairkan kebekuan diantara kedua putranya.
Tristan duduk di sampingku sementara mas Alan duduk di samping mama.
"Tan itu kursi mas mu" kata papa.
"Tidak, biarkan dia duduk di samping Tari pa" kata mas Alan ketus.
"Mas Alan sudah duduk di kursiku pa yaitu di samping mama"
"Sudah jangan berantem terus mama pusing! ayo kita mulai makan" kata mama.
Di sela makan siang lebih banyak terdengar obrolan papa dan mas Alan. Tristan sendiri sesekali menimpali tapi ia lebih asyik dengan makanan di piringnya.
"Oh ya Tari mama lihat kog kamu belum ngisi juga?"
Aku menghentikan mengunyah makanan lalu meminum air putih di gelas ku dengan santun. pertanyaan ibu mertuaku membuat makanan terasa nyangkut di tenggorokan.
Mas Alan memandangku dengan tatapan seperti biasa. ia memintaku untuk berkelit di hadapan mamanya.
"Tenang ma, Alan sama Tari berjuang terus kog, kami usaha setiap hari!"
"Uhuk!" Tristan tersedak makanan.
"Ma kog ada potongan cabe sih di sayurnya?!" Tristan meraih gelas minumannya.
"Kamu yang tidak hati-hati Tan, makanya tersedak!" kata Mama seraya mengulurkan selembar tisu kering pada Tristan.
Mas Alan melirik tajam ke arah Tristan lalu tersenyum puas. aku masih tidak mengerti apa maksud senyum mas Alan itu.
"Apa kamu tidak program ke dokter Tari?" tanya mama lagi.
"Emmm belum ma"
"Sudahlah ma bisa tidak membahas yang lain saja?!" Tristan kembali buka suara.
"Ah kamu ini kenapa sih Tan? Mama sedang ngobrol sama mas Alan dan mbak Tari, kamu tidak usah nimbrung kalau tidak suka. lagipula kapan kamu mau menikah?!"
"Mamaaaaa! kog jadi bahas itu lagi?!" sepertinya napsu makan Tristan sudah hilang. ia terdiam tidak melanjutkan obrolan. aku tebak pasti dia ingin segera enyah dari meja makan dan kabur ke kamarnya. tapi sayang itu tidak bisa terjadi.
Di keluarga Dirgantara ada peraturan di meja makan. siapapun belum boleh meninggalkan meja makan saat papa dan mama masih berada disana.
Aku menyenggol lengan Tristan yang sejak tadi hanya diam. ia tersenyum padaku sembari melempar ku dengan potongan selada Yang ada di piringnya.
Papa dan mama yang melihat hanya tertawa menggelengkan kepala. sementara mas Alan wajahnya seperti murka melihat tingkah adiknya.