Takdir berkata lain untuk sebuah asmara.
Sisilia Nugraha, dengan ikhlas menerima perjodohan yang dilakukan oleh ayahnya dan temannya yang merupakan kakek Dewangga Mahendra. Ia pun berjanji akan menjadi istri Dewa yang baik dan patuh.
Sementara Dewangga sendiri terpaksa menikah dengan Sisilia, dan mengatur siasat agar gadis itu mengatakan cerai setelahnya dan ia bisa kembali kepada kekasihnya lagi.
Apakah Sisi akan mengikuti kemauan Dewangga, atau ia memiliki prinsip sendiri dalam kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan dari Zaskia
Denis membawa beberapa tas plastik dari dalam supermarket yang kemudian ia masukkan satu persatu ke dalam bagasi mobilnya.
"Good job Denis, kau membeli semua pesanan mamamu dengan baik," katanya menyemangati dirinya sendiri.
Banyak pekerjaan kantor yang tadi sudah ia selesaikan sebelum menuju supermarket membeli pesanan mama. Tapi ada beberapa juga yang belum sempat ia kerjakan demi menuntaskan pesanan mama. Daripada ia melewatkan makan malam lezatnya di rumah.
Saat ia membuka pintu mobil hendak masuk, telinganya mendengar pekikan seseorang yang kesakitan.
Spontan ia mencari sumber suara dan menemukan seorang gadis berambut panjang lurus berjongkok memegang kaki kirinya.
"Apa yang terjadi?"
Ia mengurungkan niatnya masuk ke dalam mobil. Kemudian ia mendekati gadis tersebut berniat untuk menolong.
"Ada apa Nona?"
Saat gadis itu menolah, mata Denis membulat mengenali gadis itu.
"Aku tersandung," jawab gadis itu menahan sakit di jempol kakinya yang berdarah.
Sebenarnya Denis ingin mengurungkan niatnya menolong, tapi demi kemanusiaan ia tetap membantu gadis tersebut.
"Aku akan membantumu bangun, kita ke kursi depan supermarket itu."
Gadis itu tak menolak. Ia berdiri dibantu oleh Denis menuju ke teras.
Dalam hati sebenarnya Denis kesal. Ia teringat beberapa waktu lalu ia melihat gadis itu bersama dengan Dewangga menikmati es krim di malam hari.
Ya, gadis itu adalah Zaskia, kekasih Dewangga.
"Bisakah menolongku? Belikan aku obat. Kukuku patah dan rasanya sangat perih."
"Hemm, akan aku belikan."
Di dalam supermarket, Denis mengambil sebotol obat berwarna coklat, lalu kapas dan juga plaster. Setelah membayar ia kembali ke tempat dimana gadis itu berada.
"Maaf, aku akan membantu membalut lukamu." Izinnya sebelum menyentuh kaki Zaskia.
Lukanya cukup parah. Kuku kaki jempolnya patah dan sisanya masih menempel. Darah yang keluar pun cukup banyak.
Denis menghentikan pendarahan itu dengan kapas yang ia basahi dengan alkohol. Lalu memberikan obat coklat di atasnya sebelum membalutnya dengan plaster.
Terdengar gadis itu mendesis kesakitan setiap kali Denis menyentuh lukanya.
"Ini hanya sementara. Kau bisa membawanya ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut." Kata Denis mengakhiri pengobatannya.
"Terima kasih. Siapa namamu?"
"Itu tidak penting. Aku pergi dulu."
Mendengar jawaban itu Zaskia merasa aneh. Bagaimana bisa seseorang yang baru bertemu dengannya menjawabnya dengan kalimat seperti itu.
Sementara Denis sudah berada di dalam mobil dan melajukannya.
Ia sangat kesal pada Zaskia. Terlebih ketika ia mengingat kakaknya merangkulnya dengan begitu mesra.
"Kemarin kau mengatakan ingin bercerai dari Sisi pasti juga karena gadis itu. Dasar gadis tak tahu diri. Bisa-bisanya dia menggoda pria yang sudah beristri." Ujarnya kesal.
Setelah sampai di rumah pun, kekesalan Denis belum mereda juga. Ia bawa sampai ia memberikan kantung-kantung kresek belanjaannya pada mama Rosita.
"Wajahmu suram begitu. Ada apa?" tanya Rosita.
"Tidak apa-apa." Jawabnya sembari meninggalkan dapur.
**
Mentari pagi kembali bersinar.
Dewa sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Saat ini ia tengah membenahi dasinya di depan kaca rias di kamarnya.
Sisi datang dengan membawa sesuatu di tangan.
"Mas Dewa, saya membuat sarapan ini tadi pagi. Karena Anda belum sempat sarapan, jadi saya memasukkannya ke dalam rantang ini. Anda mau membawanya ke kantor kan?"
"Hemmm, taruh saja di meja. Nanti akan aku bawa."
Sisi meletakkan rantang makanan itu di atas meja.
Melihat Dewa belum memakai jas, Sisi segera mengambil jas dalam lemari.
Dan kali ini Dewa tak menolak bantuan dari Sisi yang memakaikan jas ke tubuhnya.
"Apa tas Anda sudah siap?"
"Belum, masih ada di ruang kerjaku."
"Baik, akan saya ambilkan."
Di ruang kerja Dewa, Sisi bisa melihat banyaknya buku di lemari, tumpukan file-file. Dan ada pula novel-novel yang terpajang rapi di rak.
"Ini sudah mirip seperti perpustakaan." Katanya penuh kagum.
Selesai mengambil tas, Sisi keluar dari ruang kerja Dewa yang hanya bersebelahan dengan kamar Dewa.
"Mas Dewa, ada banyak buku di ruang kerja Anda. Apa saya boleh meminjamnya lain kali?"
Dewa menerima tas yang Sisi berikan, lalu memandang wanita yang menjadi istrinya itu.
"Selama kau masih ada di sini, kau ambil saja. Asal jangan sampai rusak karena semua itu adalah koleksiku."
"Ah, maaf, saya lupa kalau sebentar lagi saya tidak akan di sini. Biar saya membeli buku sendiri lain kali."
Dewa jadi merasa bersalah. Ia merasa membatasi keinginan Sisi, maka ia pun berkata. "Nanti malam aku antar kau membeli buku yang kau mau. Berapapun yang kau inginkan aku akan membelikannya. Lagian aku juga belum mengatur waktu yang tepat untukmu bicara pada papa dan mama. Jadi sepertinya kau masih harus tinggal beberapa waktu lagi di sini."
"Benarkah?" Mata Sisi berbinar. "Nanti malam saya akan siap-siap. Saya suka membaca novel, jadi saya ingin membeli beberapa untuk bacaan saya di rumah ini."
Dewa ingin tertawa melihat betapa senangnya Sisi ketika ia menjanjikan akan membelikan buku. Hal sepele yang ternyata bisa membuat gadis itu bahagia.
"Hemm. Aku kerja dulu."
Dewa berbalik namun Sisi menghentikannya.
"Bekalnya lupa." Sisi memberikan rantang bekal pada Dewa. "Cukup untuk dua porsi, Anda bisa memakannya dengan adik, mama atau papa Anda. Semangat bekerja."
"Cih," walau Dewa berdecih, tetap saja ia mengangguk dan menerima bekal tersebut.
**
Banyaknya pekerjaan membuat Dewa tak sempat membuka bekal yang diberikan oleh Sisi. Sebenarnya perutnya sudah berbunyi sejak tadi, tapi hanya segelas kopi yang disiapkan sekretarisnya saja yang ia minum untuk meredam bunyi perutnya.
Dewa mendongak ketika ia melihat pintu ruangannya terbuka, dan Denis muncul dari baliknya.
"Aku lihat kau belum makan siang?"
"Aku juga belum sarapan," Dewa menganggukkan kepala.
Denis menaruh kotak makan di atas meja Dewa.
"Tadi pagi mama masak enak, jadi aku berikan bekalku ini padamu-" ucapannya terhenti ketika ia melihat ada bekal di atas meja yang lain.
Tanpa izin Dewa ia mengambilnya dan membuka bekal dari Sisi tersebut.
"Ini dari Sisi?"
"Hemm."
"Baunya enak. Boleh aku mencicipinya?"
"Makan saja. Aku akan makan bekalmu."
Denis meletakkan rantang yang ia pegang.
"Hargai masakan istrimu. Walau hanya sedikit, saat Sisi tahu kau memakan makanan darinya dia akan senang."
"Aku sudah sering memakan makanan darinya."
"Kau pernah memuji masakannya?"
Dewa mendengus. "Tujuanmu kemari apa, langsung saja jangan memutar tidak jelas!"
"Hanya ingin tahu keadaanmu dan Sisi. Tapi sepertinya lebih baik."
"Sangat tidak penting. Yaampun." Dewa berdiri meletakkan pulpennya.
"Kau mau kemana?"
"Ke pantry, mau ikut?"
Denis hanya menanggapinya dengan tawa. Sambil menunggu Dewa, Denis bersantai sembari mendendangkan lagu kesukaannya.
Dan nyanyiannya terhenti saat ia mendengar suara pesan masuk ke ponsel Dewa. Kebetulan benda itu begitu dekat dengannya sehingga ia dapat melihat siapa yang mengirim pesan.
"Zaskia." Gumamnya. Dan isi pesan Zaskia terlihat di layar ponsel Dewa. Wanita itu menulis dia akan menemui Dewa nanti malam.
"Wanita itu sungguh tidak tahu diri. Dia masih saja menghubungi pria yang sudah memiliki istri. Apa tidak ada pria lain yang lebih menarik perhatiannya?" tanpa ia sadari ia mengepalkan kedua tangannya.
Pintu ruangan Dewa terbuka. Dewa masuk dengan segelas kopi di tangan serta sebuah peralatan makan lengkap.
"Kopi, untuk menghilangkan kesepianmu!" Katanya memberikan kopi yang dia buat untuk Denis.
Dia sendiri mengambil makanan dari Sisi di atas piring. Lalu memakannya setelah menawarkannya kepada Denis.
"Wa, apa nanti malam kau ada acara?"
Dewa membaca pesan dari Zaskia dan menjawab pertanyaan dari Denis bersamaan. "Ada."
Denis merapatkan bibirnya. 'Pasti dia akan keluar dengan gadis pelakor itu. Aku harus menemui gadis itu. Aku akan memperingatkannya.'
"Kemana?" tanya Denis membuat Dewa menghentikan makannya.
"Hari ini kau aneh sekali, pergi sana, ikut campur saja!"
"Awas kalau kau mau melakukan sesuatu yang bisa menyakiti hati Sisi."
Klunting
Dewa meletakkan sendoknya dengan suara keras. "Kalau kau tidak mau Sisi tersakiti, kenapa tidak kau saja yang menikahinya?!"
"Andai aku punya kesempatan untuk itu, aku akan menjaga gadis itu dengan baik!"
Denis berjanji, ia akan membuat Sisi bahagia di samping Dewa, tanpa peduli bagaimana sikap Dewa padanya nanti.
kali kamu sama zaskia hanya akan dapet kekecewaan camkan itu , eeh kok 😂😂