Indonesia
NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Denyut Jantung yang Menggila

Freya, dengan kesadaran yang terus melayang-layang akibat efek alkohol bercampur kelelahan ekstrim, memejamkan matanya rapat-rapat. Kepalanya terasa berputar hebat, seolah seluruh isi ruangan bergeser tanpa kendali. Di sela-sela rasa pusingnya, ia bisa merasakan tatapan tajam dan penuh dominasi yang sesekali dilayangkan oleh pengemudi di sebelah kanannya. Victor tidak membuka suara sepanjang perjalanan menuju hotel pribadinya. Rahang tegas pria itu mengeras, dan kedua tangannya yang kokoh mencengkeram setir kemudi dengan buku-buku jemari yang memutih. Ada ketegangan nyata yang terpancar dari gerak-gerik Victor—sebuah pertempuran antara akal sehat seorang konglomerat terpandang dan gairah maskulin yang mendadak tersulut tanpa bisa dikendalikan.

Hanya butuh waktu kurang dari lima belas menit bagi mobil sport itu untuk memasuki area parkir privat sebuah hotel bintang lima paling eksklusif di pusat kota Amsterdam yang sepenuhnya berada di bawah kepemilikan keluarga Thorne. Mobil langsung meluncur masuk ke lift khusus kendaraan yang membawa mereka langsung menuju lantai teratas—zona privat yang tidak sembarang orang bisa akses, bahkan bagi para tamu VVIP hotel sekalipun.

Begitu pintu lift terbuka di lantai paling atas, mobil terparkir mulus di Penthouse garage pribadi. Victor langsung mematikan mesin, melepas sabuk pengamannya, dan bergerak cepat keluar dari mobil. Ia membuka pintu sisi penumpang, menundukkan sedikit tubuh tingginya, lalu menatap wajah Freya yang tampak pucat namun tetap memancarkan pesona manis yang luar biasa.

"Hei... bangun," ucap Victor dengan nada suara bariton yang rendah, terdengar serak namun penuh otoritas.

Freya mengerjap-ngerjap pelan, membuka matanya yang sayu untuk mendapati sosok pria tinggi berbadan kekar berdiri tepat di hadapannya. Kilau lampu temaram di garasi privat itu memperlihatkan garis wajah Victor yang begitu sempurna—hidung mancung, rahang kotak yang tegas, dan mata tajam yang menatapnya intens.

Sebelum Freya sempat merespons atau melontarkan pertanyaan, tangan kekar Victor sudah terulur, dengan sangat hati-hati melepas sabuk pengamannya. Tanpa menunggu persetujuan, Victor menyusupkan satu lengannya di bawah lutut Freya dan satu lengan lagi menopang punggung gadis itu, lalu mengangkat tubuh mungil Freya keluar dari jok mobil dalam satu gerakan mulus yang penuh kekuatan.

"A-apa... tuan, mau dibawa ke mana?" bisik Freya parau, tubuhnya secara otomatis melingkar dan mencengkeram erat kemeja hitam Victor karena takut terjatuh. Kepalanya yang pening membuat ia tidak memiliki tenaga untuk memberontak, selain membenamkan wajahnya ke dada bidang pria itu.

"Diam dan simpan tenagamu," balas Victor singkat namun tegas. Suaranya bergetar tipis, menyimpan gelombang emosi yang berusaha ia redam.

Victor melangkah jenjang melewati pintu keamanan ganda menuju kamar pribadi miliknya yang berada di ujung koridor lantai teratas. Kartu akses khusus yang ditempelkan di dinding membuka pintu otomatis tersebut, memperlihatkan sebuah kamar mewah berukuran raksasa dengan interior bergaya modern minimalist berbalut warna monokrom dan aksen kayu gelap. Di tengah ruangan, terdapat sebuah tempat tidur king-size dengan seprai sutra hitam berkualitas tinggi yang terlihat sangat kontras dengan kulit putih bersih milik Freya.

Victor membawa Freya masuk, lalu membaringkan tubuh gadis itu secara perlahan di atas kasur empuk tersebut. Namun, saat Victor hendak menarik kedua tangannya mundur, cengkeraman di kemeja hitamnya tidak kunjung lepas. Freya, yang merasa dunianya masih berputar hebat dan dihantam rasa dingin yang menusuk, justru menarik Victor agar tidak menjauh.

"Jangan pergi... dingin..." merintih Freya pelan, suaranya terdengar begitu rapuh, memancing sisi protektif sekaligus hasrat terdalam di dalam diri Victor.

Victor menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan kekalahan telak atas pertahanan dirinya sendiri. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua tangannya menumpu di sisi kiri dan kanan tubuh Freya di atas kasur, mengurung gadis itu sepenuhnya di bawah kungkungannya. Jarak di antara wajah mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter saja. Bau parfum mewah Victor bercampur aroma khas tubuh pria dewasa menyelimuti indra penciuman Freya, membuat detak jantung gadis itu berdegup semakin liar di luar batas normal.

"Kau tahu sedang berurusan dengan siapa, gadis manis?" bisik Victor tepat di dekat telinga Freya, suaranya berubah menjadi sangat berat, sarat akan gairah yang membara dan dominasi mutlak seorang Victor Thorne.

Freya mendongakkan wajahnya, menatap langsung ke dalam manik mata kelam Victor yang menyala tajam di bawah temaram lampu tidur ruangan tersebut. Alih-alih merasa takut, tatapan sayu penuh kepolosan dari mata Freya justru bertindak seperti bahan bakar yang menyiram kobaran api di dada Victor. Kulit putih mulus Freya yang kontras dengan seprai hitam di bawahnya, bibir mungil yang sedikit terbuka karena terengah-engah, serta helaian rambut hitam kecoklatan yang tersebar berantakan di atas bantal menciptakan visual yang terlalu menggoda untuk diabaikan oleh pria normal manapun, terlebih seorang Victor yang sudah lama menahan diri dari segala bentuk keterlibatan emosional maupun fisik yang berarti.

"Aku... aku tidak tahu..." jawab Freya jujur dengan suara berbisik, nafas hangatnya menerpa permukaan kulit rahang Victor.

Pengakuan polos itu menjadi batas akhir bagi pertahanan diri Victor. Pria itu tidak lagi mampu menahan gejolak yang mengamuk di dalam darahnya. Tanpa ragu sedikitpun, Victor menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang langsung menuntut dan membakar.

Ciuman itu awalnya datang begitu mendadak, membuat Freya terkesiap kecil dan mengeluarkan suara tertahan di tenggorokannya. Namun, Victor tidak memberikan kesempatan bagi Freya untuk menghindar atau berpikir. Bibir hangat Victor melumat bibir mungil Freya dengan ritme yang penuh pengalaman, menuntut keterbukaan, menghisap segala keresahan dan kepenatan yang menggelayuti pikiran mereka berdua malam itu. Ciuman tersebut bukan lagi sekadar sentuhan fisik biasa; itu adalah deklarasi penguasaan, ekspresi dari rasa lapar terselubung yang selama ini ditekan oleh kesibukan dunia bisnis yang dingin.

Freya, yang berada di bawah pengaruh sisa-sisa alkohol dan kebingungan luar biasa, merasakan sensasi tersengat aliran listrik ribuan volt yang menjalar ke seluruh saraf tubuhnya. Lututnya terasa lemas, dan tanpa sadar, jemari lentiknya yang tadinya mencengkram kemeja Victor kini naik merambat, melingkar erat ke leher belakang pria itu, membalas ciuman tersebut dengan kepolosan yang justru semakin menyulut gairah Victor hingga ke titik didih tertinggi.

Suara nafas yang memburu dan desahan tertahan memenuhi sudut kamar privat yang kedap suara itu. Victor melepaskan ciumannya sejenak hanya untuk membiarkan Freya menghirup udara, namun matanya sama sekali tidak beralih dari bibir Freya yang kini tampak merah ranum dan sedikit bengkak. Pria itu menatap wajah gadis di bawahnya dengan tatapan lapar, seolah ia ingin menelan seluruh keberadaan Freya ke dalam dunianya.

"Kau milikku malam ini," bisik Victor dengan suara serak yang penuh penekanan mutlak, menegaskan status absolutnya di hadapan gadis yang kini telah masuk ke dalam lingkaran kehidupannya.

Tanpa menunggu jawaban, tangan besar dan kokoh Victor mulai bergerak aktif. Dengan gerakan terampil namun tetap memancarkan kehati-hatian, ia melonggarkan kemeja hitam yang melekat di tubuh atletisnya, melemparkannya begitu saja ke lantai kamar. Kulit putih bersih dengan otot-otot bidang yang terpahat sempurna terekspos di bawah cahaya lampu ruangan, mempertegas aura dominasi maskulin yang begitu kental. Freya menelan ludahnya dengan susah payah saat matanya menangkap bentuk tubuh Victor yang luar biasa proporsional—pemandangan yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya dari jarak sedekat ini.

Victor kembali menunduk, menelusuri garis leher jenjang Freya dengan ciuman-ciuman panas yang meninggalkan sensasi geli sekaligus membakar. Bibirnya turun ke bahu mulus Freya yang terekspos, memberikan tanda-tanda kepemilikan di atas kulit putih bersih tersebut. Setiap sentuhan dari jemari kasar Victor di pinggang dan sisi tubuhnya membuat Freya melengkungkan punggungnya ke atas, mengeluarkan desahan halus yang langsung dibalas oleh Victor dengan dekapan semakin erat.

Atmosfer di dalam kamar pribadi itu berubah menjadi arena pertempuran dua jiwa yang disatukan oleh takdir malam yang tak terduga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!