"A-ada apa Tuan datang kerumah saya?" tutur Ratna gugup. hatinya sulit di normalkan. tapi dirinya masih bisa sedikit mengatur nada suaranya. agar terlihat wajar.
"Angkatlah kepalamu, aku ingin melihat wajah mu!" gadis itu mengeleng cepat. tanganya mengepal kuat di atas pahanya. membuat dahi Rega mengkerut tak mengerti.
"Apakah aku bukan muhrimu? jadi engkau tak berkenan untuk kupandang lama-lama?" tubuh Ratna seakan membeku seketika. getaran yang entah dari mana seakan mengelitik tubuhnya. desiran bahagia yang entah sejak kapan memenuhi hatinya namun tiba-tiba semua itu runtuh tatkala bayangan wanita itu muncul di benaknya.
"Benar, Tuan. saya tidak bisa membiarkan siapapun memandang saya kecuali muhrim saya."
"Lantas apa yang harus saya lakukan? apakah perlu saya menghalalkan mu agar dapat memandang wajah mu?"
apa yang akan kalian lakukan jika mendapat pertanyaan seperti ini? seorang Ceo yang tidak di ragukan kekayaanya dan tampan luar biasa datang untuk melamar mu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvyana Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pulang kerumah rega
“Maaf, Rendi saat ini butuh istirahat total, jadi Ibu tidak usah panic. Rendi baik-baik saja cuman akhir-akhir ini sepertinya dia terlalu banyak mengangalami tekanan karna itu daya tahan tubuhnya terpengaruh. Rendi hanya butuh istirahat saja sekarang , insya allah besok sudah boleh pulang,” jelas dokter sebari tersenyum menatap Mbo Sumi , dokter itu mengira jika Mbo Sumilah ibu dari Rendi. Karna disitu hanya ada Mbo Sumi, makanya tak heran juga jika dokter itu salah mengira.
Dokter itu pamit meninggalkan Mbo Sumi. Mbo Sumi melirik kearah pintu ynag terdapat kaca tembus pandang, membuatnya dengan mudah melihat kondisi Rendi dari balik pintu. Selang infus terpasang di tangan Rendi. Rendi terlihat tenang tidur di bawah ranjang rawat inap itu. Mbo Sumi menatap sendu anak majikannya. Tatapan kasihan terlihat jelas di sorot mata Mbo Sumi. ia sangat mengerti jika Rendi saat ini tengah terpukul hebat karna kepergian Ratna. Tapi mau bagaimana lagi, jika takdir tak mengizinkan kedua insan itu bersatu , maka tak aka nada yang bisa menghentikannya.
“Hallo ….” suara samar seseorang dari handphone Mbo Sumi. ia tersadar kembali jika sambungan telpon belum ia putus sejak tadi. Mbo Sumi segera mengangkat handphone dan meletakannya disamping kuping kanannya.
“Iya Bu, maaf saya lupa menutup sambungan telponnya,” tutur Mbo Sumi, Bu Evi sudah basah wajahnya oleh air mata rindu bercampur khawatir memikirkan anak semata wayangnya itu. Rendi adalah anak yang ceria dan sangat acuh dengan wanita, bahkan ia terkenal sangat dingin dan susah untuk diatur. Tapi sifatnya berubah
Ratna masuk dalam hidupnya. Gadis mungil dengan paras blasteran Indonesia dan Pakistan, membuat nya terlihat amat menawan. Apalagi mata biru milik Ratna. Begitu terang dan memikat. Rambut panjang yang amat disukai Rendi, apalagi sikap kemayu dan diamnya ratna benar benar mampu melelehkan bongkahan es dalam hati Rendi. Hati Rendi luluh dengan gadis kutu buku itu.
Pak Irawan keluar dari kamar mandi, mengosok kepalanya yang basah dengan handuk. Belum menyadari jika istrinya tengah menangis.
“Bi, be-besok kami akan pulang, saya mohon jaga Rendi ya, Bi,!” ucap Bu Evi sedikit tersendat. suaranya begitu parau. Pak Irawan menoleh kearah istrinya yangtengah duduk membelakanginya. Nafasnya tak beraturan membuatnya seketika tersadar jika istrinya sedang menanggis. Mbo Sumi mendengar suara Bu Evi pun langsung diam dan turut sedih merasakan hal yang sama dengan Bu Evi majikannya.
Pak Irawan memeluk istrinya dari samping lantas menyandarkan kepala istrinya kepundaknya. Bu Evi menurut dan menyenderkan kepalanya di bahu suaminya. Pak Irawan mengusap lembut pucuk rambut istrinya.
“Sudah sayang, tidak apa apa. Rendi pasti akan baik-baik saja. kita kan punya Allah Mah, apalagi anak kita Rendi itu juga kan punya Allah, maka dari itu jangan terlalu terpuruk akan suatu perkara yang belum pasti Mah, kita pasrah aja dulu saat ini, Insya Allah, Allah pasti melindungi anak kita. Ingat, Mah! Apapun ynag berasal dari Allah suatu saat nanti pasti akan kembali kepadanya, jadi belajarlah ikhlas dan pasrah, Mah,” tutur Pak Irawan berusaha menenangkan hati istrinya. Bu evi mengangguk sedikit memgigit bibir bawahnya menahan tangis yang sudah meronta ingin keluar. Pak Irawan segera mendekap istrinya.
“Yaudah, menanggis lah sayang jika kamu ingin menanggis,” ucap Pak Irawan tenang, suaranya benar benar mendamaikan. Bu Evi pun menanggis dalam dekapan suaminya.
“Roni, hari ini bawa Ratna pulang kerumah saya,” tutur Rega serius di kantor utamanya. Duduk dikursi CEO menggunakan stelan jaz lengkap membuat Rega terlihat gagah dan keren. Roni berdiri didepan meja Rega. Rega menopang dagunya dengan dua tangan yang saling bertautan. Roni mengerti lantas mengagguk.
“Baik, Pak,” ucap Roni. Roni akan menggunakan panggilan pak hanya saat di kantor dan di jam kerja saja, karna di luar itu ia sama seperti Rega bahkan Roni adalah karib setia Rega. Sehingga saat diluar mereka berdua sama saja. berbicara menggunakan bahasa santai.
Roni segera pergi sesuai perintah bosnya itu yang tak lain adalah sahabatnya.
Aku masih berada di tempat yang sama setelah pernikahan. Di rumah sakit. Sudah hampir seminggu setelah pernikahan aku tinggal di tempat ini tanpa melakukan hal apapun. Setiap hari kegiatan ku hanya menatap langit dengan kenangan selalu menari di benak ku. sesekali aku menanggis, kadang juga aku berusaha kuat menerima semua itu namun, semua itu butuh waktu,
Ceklek
Suara pintu terbuka. Spontan aku menoleh keasal suara.
“Roni??? Ada apa datang kemari?” tanya ku santai. Roni menundukan sedikit tubuhnya. Sebagai sapaan salam. Aku mengagguk kikuk tidak begitu paham dengan tingkah Roni.
“Maaf, Nona Ratna! saya di perintahkan untuk membawa Nona pulang, “ ucap Roni sopan. Aku berpikir sejenak.
Pulang maksudnya? Aku sudah tidak punya rumah? bahkan aku tidak punya tempat bernaung saat ini, lalu kemana pulang yang dia maksud? Apa dia akan memberiku rumah untuk ku tinggali?
Aku diam mencerna petanyaan Roni.
“Pulang kemana?” tanya ku terlontar dengan spontan.
“Ke rumah, Tuan rega,” jawabnya singkat. aku mengernyitkan dahi dan sedikit membulatkan mulutku menaganga tak percaya. Meski saat ini aku statusnya memang sebagai istrinya tapi dia selalu bersikap dingin dan semena-mena dengan manita, yang kadang membuatku jengkel saat berada di sampingnya, apalagi separuh hati ku sudah di ambil oleh Rendi lebih dulu sebelum Rega.
“Tapi …,” bantah ku terpotong karna suster dan dokter datang.
“Mba Ratna, anda sudah sehat. Hari anda sudash di izin kan untuk pulang,” tukas pak dokter santai. Aku mengangguk paham begitupun dengan Roni. Suster itu hanya diam berdiri disamping dokter tadi.
Roni menatap manik mata Ratna dan mengisyaratkannya untuk mengiyakan dan ikut bersamanya. Aku tak bisa mengalah dengan tatapan Roni. Karna aku tau jika aku tidak menuruti keinginannya maka Roni yang akan dihukum. Aku pun mengagguk mengiyakan ajakan Roni.
Aku mulai berkemas dan mengganti baju dengan pakaian yang sudah di siapkan oleh Rega sebelumnya. aku segera mengenakannya dan berjalan menuju mobil.
Roni berrlari menuju kemudi stir. Mobil perlahan maju, menuju jalan utama, melesat cepat di jalan tol. Aku berusaha menikmati jalanan yangindah saat ini. tapi ya lagi lagi aku tak bisa merasakan apapun. Selain hampa dan kekosongan yang aku sendiri tidak mengerti harus seprti apa kita dalam menyikap rasa kosong dalam hati.
Rumah besar dengan nuasa serba keemasan itu berdiri megak indah dan menawan disana. Mobil berhenti di depan halaman rumah Rega. Roni segera turun dan berlari membuka pintu mobilku. Aku turun dari mobil dan mulai mengikuti Roni. Pintu dengan sendirinya terbuka membuatku diam menatap kagum pemandangan asing ini. puluhan pembantu dnegan seragam lucu hitam putih berberis tegap di samping kanan dan kiri, menyambut kedatangam ku.
“Selamat datang, Nona Ratna, “ sapa seluaruh pelayan disana bersamaan. Tubuhnya sedikit membungkuk. Aku tersenyum bingung meninggalkan mereka dan masuk kekamar. dua orang pelayan datang dan langsung mengajak ku pergi menuju kamar Rega. Ini pun merupakan perintah Rega.
Aku mengikuti mereka berjalan. Tiba-tiba mereka berhenti tepat didepan pintu bersar dengan material kayu jati yang kuat dan kokoh. Dua pelayan itu segera membuka pintu dan mempersilahkan ku untuk masuk kedalam sana. Aku syok saat melihat kamar pemuda berdarah indo amerika itu sangat rapih dan wangi.
“Jika ada yang perlu kami bantu, jangan sungkan untuk mengatakannya pada kami,” ucap salah satu pelayan. Mereka segera pamit saat pekerjaannya selesai. aku mengagguk membiarkan mereka pergi dan meninggalkan ku sendiri di kamar ynag besar dan luas ini. mata ku mulai menyapu sekitar. Terasa sangat asing, tapi sangat menarik untuk dilihat. Apalagi beberapa foto yang ia pajang.
.
.
Tinggalkan like dan komen ya ka setelah baca...
terima kasih...
PETUALANGAN TINA AYU selalu mengajakmu tertawa
Petualangan Tina Ayu menunggumu, Thor
Petualangan Tina Ayu mengundangmu hadir
maaf baru balas
Yuk dukung karya Om Rudi :
Pendekar Sanggana
Sanggana1: Perampok Raja Gagah