Kisah dua orang gadis remaja yang terjebak dalam kasus cinta lokasi. Sebuah cinta yang mengakibatkan kegagalan.
Adinda dan Amelia yang sama-sama terjebak, tetapi memiliki akhir kisah yang berbeda.
Ingin tahu kelanjutan kisahnya? yuk simak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Lailajuliant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah kenangan manis Sebelum perpisahan
Sesaat sebelum berpisah mereka menghabiskan waktu bersama, secara naluriah. Adinda dan Galvin saling mendekat dan bersandar, mereka berciuman. Sebuah ciuman romantis sebagai kenangan sebelum berpisah.
Setelah dirasa cukup mereka memisahkan diri dengan sama-sama tersenyum penuh arti. Kemudian untuk mengurangi ke canggungannya, Galvin mengacak-acak rambut Adinda dengan penuh kasih sayang. Sementara Adinda hanya tersenyum dengan bibirnya yang merah bekas kecupan dari Galvin.
"Oke, Adinda Putri, berangkat sana gih, hubungi aku begitu kamu sampai disana," sahut Galvin membalas senyuman kekasihnya.
Adinda mengangguk kemudian menghambur ke dalam pelukan Galvin dan membenamkan kepalanya di dada bidang yang sedikit berbulu membuat dirinya merasa lebih tenang disana.
Adinda memeluk Galvin untuk yang terakhir kali, kemudian ia turun dari mobil dengan menjinjing tasnya. Ia melambaikan tangan ketika mobil Galvin mulai menjauh, ciuman romantis itu masih terasa hangat di bibirnya.
'Kenangan manis,' pikirnya, kemudian mengangkat tas dan beberapa berkasnya lalu berjalan menuju ke counter tiket.
"Ternyata antriannya panjang sekali," gumam Adinda ketika telah sampai di depan counter tiket bus. Dengan gelisah ia melirik arlojinya.
Jam keberangkatan hanya tinggal lima belas menit lagi, kalau Adinda terlalu lama menunggu antrian, bisa-bisa ia ketinggalan. Beruntung ia tidak membawa koper, yang ia bawa hanya satu tas dan beberapa lembar berkas. Ia pun langsung membawanya ke dalam bus tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.
'Sekarang tinggal mencari Amelia dan menuju pintu keberangkatan,' pikirnya.
Adinda meneliti satu persatu orang-orang yang sedang mengantri menuju pintu masuk. Ternyata Amelia sedang kerepotan membawa kedua kopernya yang super besar.
"Pasti Amelia kebanyakan membawa barang," gumam Adinda lagi kepada dirinya sendiri.
Dulu, Pak Widodo pernah mengeluh ketika membawa Amelia dan Adinda pergi kemping di musim panas, Pak Widodo, Ayahnya Amelia selalu mengatakan, "Lebih mudah membawa seseorang kuda dan perlengkapannya daripada membawa Amelia yang super repot.
Adinda hanya memandang sepupunya dari tempatnya.
"Oh, izinkan aku masuk," pinta Amelia kepada seorang pengusaha setengah baya di antrian paling depan.
"Bus yang aku naiki akan berangkat lima menit lagi," lanjutnya kemudian.
Adinda memperhatikan laki-laki itu sedang menggerutu, tetapi masih memberikan tempatnya pada Amelia. Adinda merasa salut kepada sepupunya itu, ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Beberapa menit kemudian koper-koper Amelia selamat.
"Amelia!" panggil Adinda sambil berlari-lari kecil. Tasnya menyilang di bahu sebelah kiri dan ia mengepit tumpukan berkas di sebelah tangannya.
"Oh, Hai Adinda," sahut Amelia datar saja.
Melihat ekspresi tidak bersahabat dari sepupunya, membuat Adinda menggigit bibir nya.
Memang, belakangan ini Amelia sering uring-uringan kepadanya, sulit dipercaya bahwa mereka pernah akrab dulu. Tapi mau bagaimana lagi? Adinda telah berusaha mendekat, tetapi Amelia tidak menanggapi. Kecuali, jika Amelia sedang membutuhkan bantuannya. Maka, Amelia lah yang terlebih dahulu sok akrab kepada Adinda.
"Kamu cuma bawa itu?" tanya Amelia terkejut, ketika melihat Adinda yang hanya membawa satu tas.
Adinda mengangkat bahu, seraya terburu menuju ke arah pintu.
"Kita disana cuma sampai hari minggu saja, kan?" Adinda balas bertanya.
"Memang," jawab Amelia dengan malas, "lalu kenapa?"
"Hmm, emm, kok bawa bajunya banyak banget, apa mungkin kepakai semua dalam dua hari?"
Amelia mendengus kesal mendengar pertanyaan dari sepupunya itu.
"Aku bawa macam-macam model untuk kencan dan sejenisnya lah."
'Kencan dan sejenisnya?' pikir Adinda, ia mulai menduga-duga alasan sebenarnya kepergian Amelia ke purwokerto.
'Tapi, itu bukan urusanku," pikirnya lagi, lalu berjalan menuju ke arah counter enam, Amelia pun menyusul di belakangnya.
"Hei, Aku perlu boarding pass," ucap Adinda pada wanita di belakang meja.
"Kalau boleh, aku ingin duduk di sebelah sepupuku." Adinda meraih tiket dari dalam tasnya, dan mengulurkan nya.
"Boleh, kamu duduk di nomor berapa?" tanya petugas itu kepada Amelia.
"Enam belas B," jawab Amelia dengan cuek seraya tetap mengamati kuku-kukunya yang terkikir rapi. Petugas itu pun memeriksa tiket Adinda di komputer.
"Hei, Adinda, ngapain kamu bawa-bawa itu?" tanya Amelia tiba tiba-tiba seraya menunjuk ke arah berkas-berkas yang dikepit Adinda.
"Ah," elak Adinda.
Amelia selalu mencemoohkan kegemarannya seperti merancang busana atau pekerjaannya di restoran tiga pesona. Membuatnya malas untuk bersikap jujur.
Adinda lebih berharap pewawancaranya nanti akan tertarik pada hasil rancangannya. Jika si pewawancara itu sama terkesan nya seperti Profesor Martin dari Fashion Institut melihat hasil rancangan Adinda, pasti ada kesempatan emas untuk kuliah di Unsoed. Universitas Jenderal Soedirman.
Adinda bertekad di akhir pekan ini, ia tidak ingin menyusahkan Ayahnya yang tidak mampu untuk membiayai nya kuliah. Tetapi ia pasti bingung kalau sampai diterima, seandainya diterima.
"Jadi, untuk apa berkas-berkas ini? tanya Amelia untuk yang kedua kalinya.
" PR kesenianku," jawab Adinda berbohong.
Sebenarnya Adinda merasa tidak enak hati telah berbohong seperti itu, sebab Adinda tidak pernah berbohong sebelumnya. Tetapi tidak ada pilihan lain.
"Harus segera diselesaikan akhir pekan ini," lanjut Adinda kembali berbohong.
Adinda merasa lega ketika seorang petugas datang memotong percakapan yang menjengkelkan itu.
"Nomor enam belas A disebelah sana! Pemeriksaan dua menit lagi." Petugas itu menyerahkan kembali tiket milik Adinda.
"Terimakasih," sahut Adinda seraya meraih tiketnya kembali.
"Seharusnya aku belajar bahasa prancis, tapi aku malas," gumam Amelia sambil menghempaskan diri kursi dan menghadap ke arah jendela.
"Kayaknya kita gak akan sempat belajar. Ada tes orientasi, wawancara dan tour begitu kita sampai disana." Adinda mengingatkan Amelia.
"Kamu main-main, masa' iya harus kita ikuti semua?"
"Itukan baru sebagian dari semua acara," ujar Adinda seraya bertanya-tanya dalam hati, apakah benar Amelia sudah membaca brosur Junior Weekend-nya.
"Wawancara itu acara utama junior Weekend ini, jadi mereka bisa menilai kita. Kamu mau baca brosurku?" Adinda menawarkan.
"Nggak! Terimakasih, aku sudah baca, cuma lupa sedikit," tolak Amelia, ia mulai menggeliat dan menguap.
"Semoga nggak membosankan!" kemudian Amelia membelakangi Adinda sambil duduk bersikap, menikmati perjalanan.
Adinda kembali menggigit bibirnya, sikap Amelia sudah jelas. Kalau sepupunya itu tidak menyukai keberadaannya. Dan, Amelia juga sama sekali tidak tertarik pada acara Junior Week. Atau mungkin dirinyalah yang membuat Amelia merasa bosan. Adinda menggelengkan kepalanya lalu menarik buku sketsanya. Jika Amelia tidak mempedulikannya, maka ia tidak bisa berbuat apapun lagi.
Satu jam lagi perjalanan akan berakhir, Adinda menegakkan kursinya dan memandang keluar jendela ketika bus mulai memasuki terminal.
Sudah satu setengah jam Amelia membisu, membuat Adinda kehilangan selera untuk memulai percakapan.
Satu menit berlalu.
Amelia mengeluarkan sejumlah majalah model dan berlagak seolah-olah Adinda tidak ada di sampingnya. Dari sikapnya seolah memberi tanda, lenyaplah Adinda!
Amelia memang sering bersikap seperti itu.