Ini cerita pertama Typ yang asli malu-maluin. Wkwk.
"Dia tidak baik untuk kau perjuangkan dan dia bukan orang yang tepat untuk kau menaruh kepercayaan. Kau perlu banyak belajar tentang rasa. Bahwa seseorang yang benar-benar diperuntungkan untuk diri, tidak akan mengubah kau menjadi lebih buruk, walaupun dia sudah pergi sekalipun. Kau akan terus menjadi diri yang baik."
"Maksudnya yang terbaik buat gue itu, lo?" tanya Bara refleks. Tidak salah bukan? Itu yang Bara tangkap dari penjelasan Spica. Gadis itu hadir memang berusaha membuatnya jadi lebih baik.
Spica tersenyum sinis. "Yang perlu kau tahu ... Saya hadir di kehidupan seorang Aldebaran El Nath karena di bayar."
....
Spica adalah penjara, untuk kehidupan Bara yang bebas. Sedangkan bagi Spica, Bara itu ujian, mengporandakan hidupnya yang tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VIll
"Eh bukan begitu Bos, Sena jelas cewek baik-baik lah." Bryan beralasan.
"Dan juga murahan," sambungnya dalam hati.
Samudra tersenyum samar, sangking samarnya, Bara dan Bryan tidak menyadarinya. Bukan tanpa sebab Samudra tersenyum. Sama halnya dengan Bryan, Samudra pun terpesona dengan cerita terakhir Bara tetang Spica.
Jadi intinya, Samudra suka Spica. Namun tidak ada yang tahu akan hal itu, tentu saja karena Samudra merahasiakannya. Rasa itu sudah lama muncul, dan Samudra pun pernah sakit hati karenanya. Tapi entah mengapa Samudra tidak bisa membenci Spica. Bahkan sampai saat ini, rasa suka yang berujung cinta itu semakin besar presentasenya.
"Gue cabut dulu."
Samudra tersentak mendengar suara Bara, cowok itu menatap Bara yang mulai beranjak dari tempatnya.
Lain dengan Bryan yang menatap Bara penuh tanda tanya.
"Mau kemana Bos?" tanya Bryan.
"Bolos," jawab Bara sebelum menghilang dibalik pintu rooftop.
"Gilak! Ini bahkan yang baru jam delapan!" Bryan mengumpat sia-sia. Sebab orang yang diumpatinya telah pergi.
Sepeninggal Bara, Bryan dan Samudra jadi bingung sendiri. Mereka bahkan tidak mempunyai topik pembicaraan. Hari ini Bryan memang sedang tidak mood untuk mengoceh. Sedangkan Samudra, cowok itu memang sudah pendiam dari lahir.
Bryan membuang putung rokoknya ke sembarang tempat. Melirik Samudra sekilas, "gue mau ke kelas aja lah. Bingung gue Sam." Curhat Bryan.
"Gue ngikut lo aja," sahut Samudra.
......................
Pada istirahat kedua, selesai melaksanakan sholat Spica duduk sendiri di depan kelas. Hatinya sedikit gelisah setelah menerima SMS. Bagaimana tidak? SMS itu berisi pemberitahuan uang masuk ke rekeningnya sebesar 1,5 juta rupiah. Spica yakin itu kiriman dari ayah Bara. Spica gelisah karena jumlah yang dikirim begitu banyak, padahal gadis itu hanya memberi secuil informasi yang menurutnya terlalu biasa. Dan hal itu membuat Spica merasa memakan gaji buta.
Niatnya yang ingin memata-matai Bara dengan santai rupanya hanya angan saja. Tentu saja Spica tidak bisa bersikap demikian saat gaji pertamanya yang begitu banyak membuatnya harus segera dipertanggung jawabkan.
"Lo gak ke LAB Ka?" Spica menoleh, netranya menangkap sosok Nuni yang sudah siap dengan tasnya.
Sesuai jadwal, setelah istirahat kedua pelajaran selanjutnya memang berada di LAB. Jadi mereka diharuskan pindah ke LAB bersama tas-tasnya sekalian, sampai pembelajaran selesai.
"Saya ambil tas dulu." Spica beranjak tempatnya.
Nuni tak menanggapi, tidak juga pergi. Gadis itu menunggu Spica mengambil tasnya. Mereka pergi bersama ke LAB yang terletak di lantai dua.
Selama praktik, sama sekali Spica tidak bisa fokus dengan mata pelajaran TIK-nya. Komputer yang sedari tadi menyala di biarkan begitu saja. Di saat teman-temannya asik bergerombol untuk mengerjakan tugas membuat desain grafis, Spica malah berdiam diri di tempatnya duduk. Dalam keadaanya yang seperti itu, tidak lantas membuat teman-temannya merasa heran, sebab Spica memang sudah biasa menyendiri. Bunga pun malah sibuk bergurau dengan temannya yang lain.
Tidak seperti pembelajaran pada biasanya yang selalu cermat dan serius, kali ini Spica amat sangat berharap waktu berjalan begitu cepat. Pikirannya tidak tertuju pada pembelajaran, melainkan pada tugasnya memata-matai Bara. Melaporkan tindak tanduk negatif Bara kepada ayahnya.
Waktu yang biasanya terasa singkat, kini berubah menjadi lambat. Sungguh saat ini Spica tidak sabaran. Semua gegara pekerjaannya. Dalam hati Spica mengutuk, menyesal. Harusnya Spica menolak permintaan Ayah Bara, sekeras apapun usaha Ayah Bara meminta bantuannya. Jika sudah begini, tentu saja akan merepotkan diri sendiri.
Entah mengapa saat waktu pulang tiba dan bel berbunyi dengan nyaring mendadak Spica menjadi semangat. Gadis itu menghela napas lega.
Spica memasukkan semua alat belajarnya ke dalam tas dengan semangat. Selesai berdoa, dan Bu Aida pun sudah meninggalkan LAB, Spica buru-buru beranjak dari tempatnya. Bahkan sangking terburu-burunya, Spica tidak tahu jika Bunga berulang kali memanggilnya. Bunga bahkan samping berdecak sebal.
Seakan tuli, Spica terus berjalan ke pintu gerbang sekolah dengan langkah lebar. Pikirannya hanya satu, menunggu Bara di post satpam.
Spica duduk di kursi yang tersedia di post satpam. Gadis itu terus memainkan kakinya sambil menunggu kedatangan Bara. Namun rupanya yang ditunggu tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Padahal Spica sudah berusaha menjadi murid pertama yang keluar dari pintu gerbang, bahkan sampai sekolah sepi, Spica masih berdiam diri di tempatnya. Spica yakin tidak melewatkan satu orang pun. Tapi Spica sama sekali tidak melihat Bara keluar dari area sekolah.
Pikiran negatif Spica berkeliaran. Dugaannya, cowok itu pasti membolos!
Spica mengeluarkan ponsel di saku roknya, kembali mengirim pesan.
^^^From Spica^^^
^^^Hari ini saya tidak menjumpai putra Bapak keluar dari area sekolah, saya menduga Bara membolos.^^^
^^^Send...^^^
Spica kembali menyimpan ponselnya. Entah mengapa hal ini membuatnya kecewa. Namun Spica tidak bisa memastikan jenis kecewa yang dia rasakan. Kecewa karena tidak menjumpai Bara atau kecewa telah membuang waktunya sia-sia atau kecewa karena tidak jadi membuntuti Bara.
Memilih membuang segala pikiran anehnya, Spica segera pulang. Mendadak gadis itu merasa lelah.
Begitu sampai kos-nya, Spica langsung merebahkan tubuh di ranjang mungilnya, tanpa bersih-bersih terlebih dahulu. Bahkan tasnya masih dalam gendongan. Tak lama setelahnya, Spica terlelap dalam sepi. Mengarungi kegelapan yang senantiasa membuatnya dalam ketenangan.
Yeah, Spica tertidur.
Namun tidak lama, sebab ponselnya berbunyi. Spica terperanjat, gadis itu kaget.
Dengan malas, Spica mendial ikon telepon warna hijau. Menjawab salam dari si penelepon dengan suara seraknya.
"Wa'alaikumsallam bu, ada apa?"
"Kau tertidur nak? Memangnya sudah sholat ashar?"
Spica membulat, "lupa bu! Spica sholat dulu. Assalamu'alaikum."
Tanpa menunggu respons Mira, Spica langsung mematikan sambungan. Gadis itu buru-buru ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Saat tengah wudhu, Spica terhenti sejenak karena ingat jika dirinya juga belum mandi. Spica menggeleng pelan. Sepertinya sore ini Spica tidak akan mandi, lagipula Spica tidak merasa kotor. Spica tidak mainan tanah atupun mempunyai keringat berlebih. Alhasil gadis itu mengulangi lagi acara wudhunya.
"Harusnya kau menunggu kedatangan Bara di gerbang belakang Spica!"
Pikiran itu tiba-tiba muncul saat Spica selesai membaca do'a setelah wudhu. Spica berpikir dirinya mulai bodoh. Pertama kali bertemu Bara, cowok itu lewat pintu belakang. Harusnya Spica bisa menyimpulkan kalau Bara selalu keluar masuk sekolah lewat pintu belakang! Juga pintu belakang lah yang pengamanannya kurang ketat. Dan tipe-tipe murid seperti Bara pasti suka lewat pintu belakang, termasuk Bara juga!
"Astaga!"