Bukan cerita para Sultan, juga bukan cerita Cinderella. Hanya cerita sederhana tentang gadis desa bernama Wardah. Perjuangan hidupnya yang melalui berbagai rintangan dan kemalangan. Mampukah Wardah, si gadis desa yang lugu menjadi wanita yang kuat dan mandiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahadini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laden Mantu
Hari Kamis setelah shalat Maghrib Wardah diantar pak Tolibin dengan sepeda kumbangnya berangkat menuju rumah Masruroh untuk membantu Bude Warni yang menjadi juru masak. Keluarga Masruroh termasuk keluarga juragan di desa itu. Itulah mengapa mereka mampu mengadakan acara akad nikah dan resepsi secara terpisah harinya.
Acara akad nikah dan selamatan atau walimah nikah akan diadakan besok, hari Jum'at. Sedangkan acara resepsi akan diadakan hari Sabtu dan acara ngunduh mantu dilaksanakan di rumah mempelai pria pada hari Minggu.
Sesampai di rumah Masruroh, ternyata Bude Warni belum datang. Wardah disambut oleh ibu Masruroh. Setelah Wardah menyalim tangan ibu Masruroh yang bernama Masni itu, ia langsung di giring ke kamar calon pengantin. Bu Masni sudah mengenal Wardah sebagai salah satu teman sekolah anaknya.
Bu Masni langsung membuka pintu kamar Masruroh yang sedang di hias sebagai kamar pengantin. Wangi bunga sedap malam dan melati langsung terhirup memanjakan hidung Wardah. " Ayo masuk War, menunggu Bude Warni di sini saja lho. Siapa tahu kamu bisa bantu dekor kamar." , ucapnya sambil tersenyum.
Wardah tersenyum dan mengangguk, " Iya, Bulek Masni. ". Wardah memanggil ibu Masruroh dengan sebutan Bulek, karena usianya yang lebih muda dari Sajidah ibunya. Kepada setiap perempuan di desa itu yang lebih muda dari ibunya akan dipanggilnya Bulek. Dan perempuan yang lebih tua usianya dari sang ibu akan dipanggilnya Bude.
Masruroh yang duduk di depan meja rias, beranjak berdiri dan menghampirinya. " War, bagaimana kabarmu? Ayo duduk sini dulu. ", ucapnya sambil menarik tangan Wardah untuk masuk ke dalam kamarnya.
Bu Masni pamit keluar kamar, meninggalkan Masruroh, Wardah dan seorang perempuan muda yang sedang sibuk menata kain tulle warna pink dan putih untuk menghias kamar. Wardah tidak mengenalnya, sepertinya perempuan itu bukan warga desa ini.
" Ini mbak Rina War, asisten perias dari kota. Mbak Rina, ini temanku yang pintar dekor.", ucap Masruroh mengenalkan keduanya. Mbak Rina tersenyum sumringah, ia langsung menjabat tangan Wardah dengan erat. " Alhamdulillah dek Wardah sudah datang. Ayo dek, bantu aku mendekorasi kamar.". Wardah mengangkat kedua alisnya saat mendengar perkataan Mbak Rina. Sepertinya ada yang sudah terencana rapi tanpa sepengetahuannya.
Wardah, langsung paham, Masruroh setali tiga uang dengan ibunya. Suka memanfaatkan orang lain dan keadaan. Mereka tahu tugas Wardah sebenarnya adalah membantu Bude Warni di dapur. Bukannya membantu asisten perias mendekorasi kamar pengantin. Tapi karena Bude Warni belum datang dan Masruroh tahu Wardah pandai mendekorasi ruangan, jadilah begitu datang ia langsung digiring ke kamar.
Sementara Wardah dan mbak Rina sibuk bekerja mendekorasi kamar. Masruroh laksana ratu duduk di kursi bersilang kaki sambil berceloteh membanggakan calon suaminya yang seorang PNS dan anak juragan kaya raya dari kecamatan sebelah.
Profesi PNS atau Pegawai Negeri Sipil adalah profesi yang menduduki strata tinggi dalam memilih calon mantu di desa itu. Lebih tinggi dari Ustadz, petinggi desa, atau anak juragan. Semua orangtua berharap anak gadis mereka dapat berjodoh dengan PNS. Karena menurut mereka PNS punya penghasilan yang tetap, tidak bisa di pecat, kerjanya hanya beberapa jam saja dan dapat uang pensiun seumur hidup. Intinya anak gadis siapapun pasti terjamin kehidupannya jika dinikahi oleh seorang PNS.
Setelah satu jam lebih 40 menit, urusan menghias kamar pengantin selesai sudah. Wardah menghela nafas lega, mbak Rina juga terlihat sumringah tugasnya telah selesai dengan bantuan Wardah yang ternyata sesuai dengan omongan Masruroh dan Bu Masni. Cekatan dan tahu cara mendekor ruangan. Sedangkan Masruroh sudah dari satu jam yang lalu pergi entah kemana.
" Terimakasih lho dek Wardah, sudah dibantuin. Ini tadi mau bawa teman dua, tidak boleh. Kata Bu Masni ada dek Wardah yang pintar dekor.", ucap mbak Rina sambil menjabat tangan Wardah erat.
" Iya mbak, sama-sama", balas Wardah. Benar dugaannya, semua sudah direncanakan oleh Masruroh dan ibunya. Kalau mbak Rina membawa 2 orang temannya, pasti ada biaya ongkos tenaga tambahan. Tapi kalau dirinya, paling hanya ucapan terimakasih dan membawakan beberapa makanan saat acara sudah selesai.
Bukannya Wardah perhitungan dengan temannya dalam hal tolong menolong. Wardah juga tidak mengharapkan imbalan atas bantuannya. Tapi setidaknya ada pembicaraan sebelumnya. Bahwa yang empunya hajat meminta tolong padanya untuk melakukan sesuatu. Tentu dengan senang hati Wardah menolongnya.
Akhirnya Wardah tiba juga di dapur, Bude Warni dan Saroh sudah menunggunya. " Sudah selesai dekor kamarnya, War?", tanya Bude Warni. "Sudah selesai Bude, mohon maaf lama.", jawab Wardah sambil meringis.
Bude Warni menggelengkan kepalanya, dia memahami situasi yang dialami oleh Wardah. Karena Bude Warni cukup mengetahui sifat dari Bulek Masni dan keluarganya. Walaupun kaya raya, tetapi pelit akan uang. Kalau bisa dapat yang gratis kenapa harus bayar? Begitulah kiranya.
Sementara mbak Saroh terlihat resah dan gelisah. Wardah dan Bude Warni bukannya tidak tahu, tapi mereka mendiamkan saja. Karena takut menyinggung perasaan mbak Saroh. Mereka sibuk menata dan membersihkan dapur supaya leluasa untuk memasak. Mereka dibantu oleh beberapa orang kerabat Masruroh dan tetangga dekat.
Acara akad nikah dan walimah dilaksanakan pada pukul 10.00 besok. Untuk makan ditempat acara walimah, Bude Warni memasak soto ayam. Sedangkan untuk berkat ( makanan yang akan dibawa pulang oleh tamu undangan ), berisi nasi, ayam bumbu merah, telur rebus, mie goreng, serundeng ( kelapa parut yang dibumbui dan disangrai kering ) dan sambal. Untuk serundeng, Bude Warni sudah membuatnya jauh hari. Jadi tinggal menyiapkan sisanya.
Untuk kue hantaran balasan bagi rombongan pengantin pria, Bude Warni menyiapkan 4 macam kue basah, 2 cake dan 2 kue kering. Kebiasaan di desa itu, setelah acara walimah, keluarga pengantin pria akan datang membawa hantaran. Sebagai hadiah bagi pengantin wanita dan keluarganya.
Umumnya berupa barang-barang kebutuhan pengantin wanita seperti baju, kain jarik, peralatan make up, tas dan lainnya. Juga beberapa kue tradisional dan buah-buahan. Serta makanan wajib yaitu Jaddah atau tetel yang terbuat dari beras ketan dan kelapa. Konon katanya jenis makanan ini akan mempererat ikatan antara kedua mempelai dan kedua keluarga.
aku pantengin selalu, Salam kenal 🙏
sehat selalu 🥰
Ditunggu bonchap nya ya teh, aaa.... aku seneng bgt sama ceritanya ❤️🥰