Maya Grallind, ia adalah wanita cantik dengan netra benig sebagai ciri khasnya. Namun, lahir di keluarga toxic, membuatnya berambisi untuk mencari sosok pria kaya yang bisa dimanfaatkan harta demi menunjang kesenangan dalam hisupnya. Karena bagi Maya, tiada yang lebih berharga daripada uang.
Dan takdir mempertemukannya dengan sosok Raffi dellacroix, CEO tampan berhati dingin, yang akan menjadi target utamanya.
Seiring berjalannya waktu, rencana Maya berjalan sempurna, hingga tanpa sadar cinta tumbuh diantara keduanya.
Namun, akankah Cinta yang Raffi berikan mampu merubah Maya? Ataukah justru, Ambisi Maya yang akan menghancurkan semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BeruangAlaska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 8
Hari yang ditunggu telah tiba. Bersamaan dengan bulan purnama yang tengah menunjukan jati dirinya tanpa keraguan sedikitpun, membiarkan kilauan cahaya yang ia hasilkan memancar ke arah bumi, menyirnakan segala kegelapan yang ada di malam ini.
Di halaman keluarga Delacroix, mobil-mobil mewah tertata rapi sepanjang jalan masuk, mencerminkan kehebohan pesta yang tengah berlangsung. Lampu-lampu kendaraan turut berkilau, seiring dengan kilauan bulan purnama, dan berhasil menciptakan suasana mewah tur meriah
Tamu-tamu elegan mulai berdatangan satu per satu, dengan mengenakan pakaian terbaik mereka. Wanita-wanita mengenakan gaun malam yang memukau dengan potongan-potongan yang anggun, sementara pria-pria tampil gagah dengan setelan jas yang rapi. Mereka berjalan menuju halaman yang telah dihias begitu indah untuk acara pesta besar ini.
Seiring langkah mereka memasuki halaman, senyuman dan sapaan ramah mengisi udara. Para tamu saling berjabat tangan dan berbincang ringan, menciptakan atmosfer yang penuh kehangatan dan kegembiraan. Cahaya bulan purnama semakin menambah pesona malam ini, menciptakan suasana yang benar-benar magis.
Orkestra di sudut halaman terus memainkan melodi yang merdu, mengisi udara dengan harmoni yang memikat. Semua ini adalah bagian dari pesta yang telah lama dinantikan, di mana keluarga Delacroix dan para tamunya dapat bersatu dalam kebahagiaan dan kenangan indah.
"Raffi, dimana wanita itu?" tanya Lusi dengan melontarkan tatapan remeh ke arah putranya.
"Dia masih perjalanan, jadi sabarlah sebentar lagi." jawab Raffi datar, nyaris tanpa ekspresi.
Lusi tampak menghembuskan nafas pasrah, matanya terus menelisik para tamu undangan yang hadir, hingga seorang wanita muda berlari dan langsung memeluk erat tubuhnya.
"Kamu baru datang, sayang?" ucap Lusi kepada wanita cantik berambut blonde di hadapannya saat ini.
Wanita itu adalah Lady, dan ia mengangguk dengan wajah yang penuh dengan senyuman. "On this historic day, we celebrate the success of your true love. Happy anniversary to our extraordinary aunt and uncle!"
Dengan gerakan lembut dan diiringi oleh senyuman manis yang begitu khas, Lusi terus membelai rambut panjang Lady. " Terimakasih Lady, ini adalah hari yang istimewa bagi om dan tante. Dan kehadiranmu disini, semakin membuat kami bahagia."
Lady kembali membalasnya dengan senyuman yang dibuat selebar mungkin. "Dan saya juga sangat senang, tan. Karen bisa diundang dan hadir di sini untuk merayakan kebahagiaan kalian."
Masih dengan kebahagiaan yang terpancar di antara kedua wanita itu. Lusi menyentuh lengan Lady dan mengajaknya untuk menyusul Raffi yang sudah lebih dulu duduk.
"Kalian berbicaralah dulu! Mami akan pergi sebentar, dan akan kembali kesini dengan membawa papinya Raffi," pesan Lusy sebelum beranjak meninggalkan keduanya.
"Saya boleh duduk?" tanya Lady tatakala mendapati raut dingin yang terpancar dari bosnya itu.
Raffi sendiri segera menoleh pada bangku putih di sampingnya, lalu kembali menatap Lady. "Duduk aja! Disini kita bukan bos dan sekretaris, jadi bersikaplah seperti seharusnya."
Lady pun segera duduk, matanya tidak terlepas sedikitpun dari karya tuhan yang tengah berada di sampingnya. Pria pemilik wajah segar dengan kulit yang halus dan bersinar sehat. Matanya berwarna coklat yang dalam, dengan bulu mata panjang yang menambah pesona pandangannya. Alis yang rapi memberikan tampilan yang tegas pada ekspresinya yang percaya diri.
Arghhhh! Wanita mana yang tidak tergoda dengan paras pria seperti itu.
"Berhenti menatap saya seperti itu!"
Suara bariton yang terdengar sedikit serak itu, berhasil mengembalikan kesadaran Lady sepenuhnya. Dengan cepat ia mengerjapkan matanya, saat menyadari betapa bodohnya hal yang ia lakukan.
"M-maaf Raff, tapi kamu memang terlihat berbeda malam ini," celetuk gadis itu, dengan kembali mencoba menatap wajah Raffi yang kelewat datar. Sedangkan yang ditatap terus menatap ke arah depan.
Tak ingin menggubris ucapan wanita itu, Raffi justru kembali melemparkan pertanyaan untuk Lady. "Kamu tahu bukan tentang perjodohan yang akan terjadi diantara kita?"
Lady sendiri hanya terdiam layaknya patung, Ia tidak tahu harus merespon bagaimana.Tak kunjung mendapat jawaban, membuat Raffi terpaksa harus menoleh, membiarkan netranya menatap Lady yang masih membisu.
"Kenapa diam? Ga bisa jawab!" sambung Raffi, membiarkan salah satu alisnya terangkat.
Lady yang melihat itu semakin merasa terpojokkan, tanpa sadar kedua tangannya telah menggenggam kuat ujung gaun yang ia kenakan. Dan sialnya lagi, kenapa mulutnya terasa kelu hanya sekedar untuk menjawab 'Tidak tahu' dan berpura-pura bahwa ia memang tidak mengetahui tentang rencana kedua orang tua mereka.
Untung saja, Lusi dan Fatir datang di waktu yang tepat membuat Lady menghembuskan nafasnya dengan lega.
"Eh ada apa ini? Bukannya saling ngobrol malah diem-dieman kayak gini!" Itu Lusi yang berbicara, lantas berganti menatap Raffi penuh tanya. "Raffi, kamu lagi gak bikin masalah 'kan?"
Raffi yang merasa terintimidasi dengan tatapan wanita paruh baya itu, hanya bisa menghembuskan nafas pelan, kemudian berganti menatap Lady di sampingnya.
"Nggak ada apa-apa kok, ma. Raffi tadi cuma bilang, kalau Raffi udah punya calon. Jadi perjodohan di antara kita tidak akan berlanjut!"
Lady yang baru saja mendengar itu, seketika melebarkan pupil matanya. Bagaimana bisa ini terjadi? Dan bukan ini yang dia inginkan!
Netra Lady, berganti menatap Lusi, berusaha meminta penjelasan tanpa mengeluarkan suara.
"Nggak, Lady sayang. Raffi hanya bercanda. Iya kan sayang?" gumam Lusi mencoba memperbaiki suasana yang hampir menjadi keruh.
Raffi sendiri segera tertawa, meskipun tawa itu terdengar hambar di telinga para pendengarnya. dan kembali menatap Lady yang tampak tegang tanpa ekspresi. " Enggak, itu bukan hoax ataupun bualan. Saya memang sudah punya calon, dan ... itu dia,"
Raffi menunjuk seseorang yang tengah berdiri di pintu masuk ke halaman. Membuat semua orang turut mengikuti arah yang ia tunjukan. Tanpa pikir panjang, pria itu bergerak mendekat ke arah Maya yang baru saja tiba. Matanya menelisik wajah wanita itu dengan tatapan yang sangat sulit diartikan, dan tak dapat lagi dipungkiri, penampilan Maya malam ini berhasil membuat Raffi terpukau, sampai tak berkedip sekalipun. Serta tanpa aba-aba ia langsung mengambil tangan wanita itu untuk ia kecup dengan tempo cukup lama. Semua yang melihat fenomena itu tampak syok, termasuk Lady, Lusi, bahkan Maya sendiri. Ia tidak pernah mengira bahwa Raffi akan melakukan hal itu kepadanya.
Wanita itu mengenakan gaun malam yang sempurna, dengan potongan yang menonjolkan garis tubuhnya yang elegan. Gaunnya berwarna merah marun yang memancarkan kehangatan dan kepercayaan diri. Gaun itu dipercantik dengan aksen payet yang berkilau di sepanjang roknya, menciptakan kilauan mewah yang mengagumkan. Rambut panjangnya yang hitam berkilau digelung dengan anggun, menjatuhkan sepasang anting-anting berlian yang memantulkan cahaya dengan gemilang. Matanya yang bening dan berkilau dengan riasan yang lembut, semakin menambah pesona alaminya yang memikat.
Setelah selesai, Raffi melemparkan senyuman manis dan menggandeng tangan Maya, lalu membawanya untuk ikut berkumpul dengan yang lain. Dia berjalan dengan anggun dan percaya diri, setiap langkahnya menarik perhatian semua tamu pesta.
Keberadaannya di halaman itu seakan mengubah dinamika seluruh acara, semua mata terus memandang ke arahnya, tak dapat melepaskan diri dari pesonanya yang luar biasa. Maya benar-benar menjadi pusat perhatian yang tak terbantahkan di pesta tersebut.
Hingga suara seorang MC yang berdiri di depan sana, mulai menggema, menginterupsi semua orang untuk turut menikmati musik yang sengaja diputar.
Melodi yang menggema dengan indah, seakan menghipnotis para tamu undangan untuk turut menari bersama pasangan mereka masing-masing. Tarian dimulai dari Fathir dan Lusi selaku pemilik acara, mereka menari anggun mengikuti setiap ritme melodi yang diputar.
"Mau berdansa dengan saya?" tawar Raffi dengan mengulurkan tangannya.
Maya sendiri tak menjawab. Wanita itu langsung menerima tangan Raffi untuk ia genggam, dan satunya lagi ia letakkan di bahu pria dihadapannya. Raffi sendiri tanpa canggung membiarkan tangannya melingkar di pinggang ramping milik Maya. Keduanya mulai menari dengan langkah yang lembut dan bersahaja, mengikuti irama tarian yang mempesona, seolah-olah dunia di sekitar mereka lenyap, dan yang tersisa hanyalah mereka berdua dalam momen yang ajaib ini.
Saat Raffi dan Maya masih menikmati tarian mereka yang memikat, Raffi perlahan-lahan menyingkirkan sehelai rambut panjang Maya yang menghalangi pandangannya. Dengan lembut, dia menjauhkan rambut itu dari wajah Maya, memastikan bahwa wajahnya yang cantik tetap terlihat. Hal itu semakin membuat Maya melebarkan senyumnya.
Sejak tadi Raffi tak mengalihkan pandangannya sedikitpun, dan ini adalah kali pertama ia menatap lawan jenis sedekat ini. Ia semakin mendekatkan wajah, mengikis jarak antar keduanya, dan tanpa sadar kedua hidung itu saling bersentuhan satu sama lain.
Raffi lebih memilih untuk menutup kedua kelopak matanya, membiarkan aroma harum dari tubuh Maya menelisik kedalam penciumannya. Setelah merasa puas, ia kembali membuka mata, lantas berkata, "You look perfect tonight my girls!"
JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK KALIAN:)
SEE YOU NEXT CHAPTER:)
****
Sebelum lanjut, mampir dulu nih! Dijamin ceritanya bikin kalian ketagihan:) Kuy, nunggu apalagi ... Yok mampir!