Indonesia
NovelToon NovelToon
Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Contest / Perjodohan / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:241.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ariez Aprileo

Kisah cinta sepasang anak manusia yang dijodohkan. Ternyata mereka pasangan kekasih 8 tahun yang lalu, banyak yang mengincar nyawanya, musuh dari masa lalu maupun musuh dalam bisnisnya.
Akankah mereka mampu melewati ujian cinta??
tunggu kisahnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariez Aprileo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terungkap*

Nafas Edward terengah ketika usai melakukan lari kecil mengelilingi lapangan taman depan rumah Aurora bersama warga lainnya yang memanfaatkan fasilitas umum yang ada. Ia sekarang duduk berselonjor di rumput dan sesekali mengusap peluhnya yang menetes dari kepalanya.

Dari kejauhan, Aurora datang dengan membawa sebotol air mineral di tangannya dengan senyum terkembang. Ia duduk begitu saja di sebelah Edward.

"Hai Kak, apa aku mengejutkanmu?" Aurora mengulurkan botol yang dibawanya. Edward menerima dengan senyum kecil.

"Terima kasih, dari mana kamu tau aku sedang berada disini?"

"Jawabannya cukup simple kak, postur tubuh dan wajahmu terlalu mencolok disini. Tidak heran jika aku bisa melihatmu bahkan dari balkon kamarku. Lihatlah disekelilingmu, kamu berbeda dengan mereka. Untung saja mereka tak mengenalimu."

Edward hanya tersenyum simpul.

"Benarkah?"

"Tentu saja. Lihatlah gadis gadis disana, mereka bahkan sedari tadi melirik ke arahmu. Itu tandanya kamu menarik."

Edward memicingkan matanya. "Apa kamu tak tertarik padaku?"

"Eh, kenapa ganti aku?" Aurora jadi salah tingkah.

"Kamu cantik jika sedang merona begitu."

"Hah.."

"Kapan kamu wisuda." Tanya Edward mengalihkan topik pembicaraan yang mulai terasa canggung.

"Besok lusa."

"Lalu."

"Lalu?" Beo Aurora berpikir pintar apa maksud terselubung dari pertanyaan Edward.

"Sepertinya aku akan meneruskan pendidikan S2 di London."

Edward mengangguk. "Untuk apa."

"Untuk apa?" Beo Aurora lagi. Ia merasa seperti diinterogasi polisi. Kenapa pertanyaannya serasa ambigu.

"Ehm, untuk menggantikan papa di perusahaan. Kasihan papa, aku rasa sudah waktunya aku belajar."

"Kenapa."

Oh my, kenapa apanya. Dia ini kenapa. Aurora sampai menggigit bibirnya agar tak kelepasan mengumpati Edward yang sedari tadi bertanya datar padanya.

"Karena aku anak satu satunya." Jawab Aurora dengan percaya diri.

"Yakin?"

Aurora mengerjapkan matanya, bingung harus menjawab seperti apa. Bukankah semua orang tau jika dirinya anak tunggal. Aurora terdiam memikirkan maksud kenapa Edward seolah ragu dengan pernyataannya.

"Jangan dipikirkan. Lalu apa cita-citamu."

Oh my, sepintar apa otak kak Edward ini. Kenapa aku bisa mati kutu seperti ini. Bukankah ini pertanyaan yang mudah, kenapa mulutku seakan sulit menjawabnya. Apa aku sedang membohongi diriku sendiri, gumam Aurora memalingkan wajahnya.

"Ada apa."

"Ah tidak. Aku merasa jika pertanyaanmu seperti sedang mengorek isi hatiku. Oke aku akan jujur padamu."

Edward menaikkan sudut bibirnya. Merasa puas bisa mengintrogasi Aurora. Wanita yang terkenal pribadi tertutup ini bisa mati kutu saat berbicara dengannya.

"Sebenarnya aku lebih menyukai pekerjaan di bidang programer, dan aku sedang merintisnya. Tolong jangan katakan pada papa dulu, aku tidak ingin dianggap tidak mau mengurus perusahaannya."

Edward mengangguk. "Alasanmu."

Hah, alasan apa yang dimaksud? Oh jangan sampai aku pernyataanku menjadi bomerang untukku.

"Alasannya simple, sambil menyelam minum air. Kau tau, perusahaan papa dulu besarnya juga karena mendapat dukungan dari sana. Aku akan mencoba keberuntunganku."

"Ada yang lain."

Tentu saja aku ingin mencari dalang dari penculikan saat itu kak. Batin Aurora.

"Tunggu sebentar kak. Ganti aku yang bertanya. Kenapa kamu menginterogasiku seperti paman Haidar. Apa yang ingin kau tau sebenarnya, kalau sudah tau, kenapa harus mencocokan jawaban segala." Kesal Aurora tak habis pikir.

"Apa yang kamu maksud paman polisimu itu?"

"Hem."

"Karena aku menyukai wanita yang jujur."

Deg.

Aurora menggigit bibirnya. Haruskah ia ungkapkan saat ini juga. Bimbang.

"Katakan apa yang belum aku ketahui."

"Apa yang ingin kakak tau. Dan tidak bolehkah aku menjaga privasiku, walau kamu calon suamiku.?"

Edward mengabaikan sindiran halus untuknya. Pria itu hanya tersenyum miring.

"Dark Queen."

Aurora membisu saat organisasinya disebut Edward. Dari mana pria itu tahu, tidak mungkin jika bawahannya membocorkan identitasnya.

"Peristiwa pembunuhan 6 preman karena hendak melakukan pelecehan pada seorang gadis dan sekarang menjadi orang asistenmu yang membantumu mengurus ini dan itu. Bahkan kamu mendatangkan pelatih untuk mengajarinya bertarung dan menggunakan senjata. Kiran."

Tak percaya, itulah yang dipikirkan Aurora saat itu. Ia hanya bisa menundukkan kepala melihat sepatunya. Ia bingung harus menjawab apa.

"Aku tidak tau kamu tahu dari mana."

"Belajarlah berpikir cerdas Aurora. Setiap orang yang dekat denganku, pasti aku akan menyelidikinya. Jangan lupakan aku pemimpin Golden Leon."

"Cih, tapi kau gagal mengungkap keberadaan Rara." Batin Aurora tersenyum miring.

"Bagaimana?"

"Apa hubunganmu dengan Dark Queen, kenapa bertanya padaku! Aku tak tau apapun!" Sentak Aurora yang mulai kesal.

"Pelankan suaramu nona, jadilah wanita yang anggun. Kita sedang berada diruang terbuka."

"Okey, apa masalahmu sekarang."

"Tidak ada." Jawab Edward lempeng.

"Tidak ada?" Aurora menggeleng tak percaya. Edward hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Menyebalkan sekali pikir Aurora.

Edward menarik bahu Aurora dan berbisik lirih ditelinganya. Aurora tegang sampai menahan nafasnya. "Anak buahmu memesan senjata dari GL dalam jumlah besar dan minta diterbangkan ke London. Apa tujuanmu sebenarnya kesana."

Seketika Aurora langsung menjauhkan tubuhnya. Ia merasa tertekan saat ini. Bingung bagaimana menjelaskan pada Edward. Aurora menatap tak percaya.

"Oke tak perlu dijawab. Aku memahami jika setiap organisasi memiliki rahasia masing masing. Tapi kamu calon istriku, jangan sampai kamu sakit dan terluka. Minta bantuan padaku jika terjadi sesuatu. Kamu mengerti hem."

"Terima kasih."

"Aku bangga padamu. Ternyata gadisku wanita yang kuat. Lalu kenapa kemarin kamu membiarkan Viona menamparmu? Bukankah kamu bisa melakukan balasan dengan begitu mudahnya?"

"Ya, tapi aku masih memikirkan image. Aku tidak ingin membuatmu malu. Kita bukan orang rendahan seperti mereka, lagi pula aku tak ingin merusak acara orang nomer 2 di negara ini."

"Good girl." Edward merapatkan rangkulannya dibahu Aurora. Ia tersenyum lebar kali ini.

"Kak, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan, ini serius. Bisakah kita berpindah ketempat yang lebih sepi?"

Edward menaikkan sebelah alisnya.

"Apa disini membuatmu tidak nyaman? Disini spot terbaik untuk berjemur. Lihat matahari itu, aku bahkan jarang melihatnya bersinar cantik seperti itu karena kesibukanku tiap harinya." Edward mengulas senyum. Senyum yang sangat manis hingga membuat Aurora terpesona.

Bagaimana aku tak jatuh cinta, dia sungguh pria yang mempesona. Ah, jika dibandingkan kamu yang dulu, jauh sekali. Bagaimana bisa kamu menjadi laki-laki berkharisma seperti ini, mengagumkan. Aurora berkata dalam hati sambil memandang bibir Edward yang tengah tersenyum.

"Tapi aku tak terlalu menyukai panas, bolehkah kita berteduh disana saja."

Edward mengalihkan tatapannya pada wajah Aurora yang mulai tampak kemerahan. Bukan karena merona, tapi karena efek simpang perawatan.

"Oh, okey. Harusnya kamu memberi tahuku sejak tadi. Maafkan aku."

Edward bangkit dan mengandeng tangan Aurora ke bangku kosong di tepi lapangan, tempat yang jauh lebih teduh karena banyaknya pohon besar berjajar rapi.

Ah andai papa mengijinkanku hanya berpenampilan apa adanya, mungkin aku tak perlu repot repot menghindari matahari Kak, ini juga aku lakukan demi kamu.

"Hei, kenapa melamun?" Edward mencolek hidung Aurora.

"Eh.." Aurora mengerjapkan matanya seperti orang bodoh.

"Apa yang ingin kamu bicarakan? Sepertinya berat sekali."

"Ya, sebelumnya aku minta maaf padamu Kak, aku tak bermaksud menyembunyikan ini lebih lama." Aurora mengeluarkan kalung dari dalam bajunya yang membuat Edward terbelalak kaget melihatnya.

"Dari mana kamu mendapatkan benda itu!" Tunjuk Edward saat melihat benda itu berkedip biru saat dipakai Aurora.

"Dari Kak Ard, seseorang yang menyuruhku agar selalu menunggu kepulangannya. Akulah Rara gadis kecilmu yang selalu kakak cari."

Edward tak bisa berkata kata, kepalanya menggeleng tak percaya. Bagaimana mungkin, orang yang dicarinya ada didekatnya bahkan ia tidak bisa mengenalinya. Sebodoh itukah dirinya.

"Kenapa baru kamu katakan sekarang, kenapa mempermainkan aku. Andai saja sejak dulu kamu mau memakai kalung itu, aku pasti tidak sampai sepusing ini mencarimu. Dan setelah aku ingin melupakan Rara, kamu muncul dengan wajah yang berbeda dari yang aku kenal. Apa ini." Edward mendengus, ia memalingkan tatapannya.

Aurora merasa disudutkan, padahal ia sama sekali tak berniat seperti itu. Aurora memegang punggung tangan Edward tapi langsung ditepisnya. Pria itu terlihat kecewa.

"Maafkan aku kak, aku juga baru tau beberapa hari yang lalu, saat aku pertama kali menginap di mansionmu. Aku tak sengaja melihat foto kita 8 tahun yang lalu di atas meja dekat almari yang dibingkai hati."

"Lalu kenapa tak kamu katakan saat itu juga padaku?" Tanya Edward datar.

"Aku masih menyelidiki kebenarannya."

Edward diam tak merespon. Kebenaran apa maksudnya.

"Kamu tau kak, orang tua kita ternyata telah menjodohkan kita sedari kecil, kita bertemu saat itu adalah karena takdir yang menuntun jalan kita. Kita tidak tau apa pikiran orang tua saat itu, yang jelas orang tua kita ingin melindungi anak anaknya dari mara bahaya. Walau pada akhirnya kita tidak bisa menghindari takdir. Aku tetap diculik dan kamu tetap terluka saat melindungiku."

"Kak, maafkan aku. Selama ini aku juga mencarimu, aku bahkan sering kedesa itu, tapi aku juga tak berhasil menemukanmu."

"Lalu kenapa kamu tak memakai kalung liontin itu, padahal didalam kalung itu terpasang alat pelacak yang akan aktif jika terpasang dilehermu. Apa kamu sengaja mempermainkanku?"

Aurora menggeleng cepat, ia bahkan tidak tahu menahu soal itu.

"Jangan salah paham kak. Aku bahkan tidak tau apa apa. Aku bahkan sering memakainya saat aku berkunjung kedesa. Harusnya kamu mengetahui keberadaanku. Kenapa tidak?" Aurora membela diri.

Kenapa, apa yang terjadi pada kalung itu, bukankah masih berkedip. Oh pasti ada seseorang yang sudah menyabotase kalung itu batin Edward.

"Maafkan aku kak, tidakkah kamu bahagia kita bisa bertemu kembali. Ayo setelah ini kita tanyakan sama orang tua kita, pasti mereka tahu sesuatu. Aku juga belum bertanya pada mama dan papa. Kenapa hubungan kita bisa serumit ini."

"Lalu?"

"Aku bertanya pada Bunda."

Bunda, berarti ayah yang sudah campur tangan dengan keadaan semua ini. Pantas saja sampai keujung dunia sekalipun aku mencari Rara tak pernah akan ketemu. Oh sial! Aku terlalu mengabaikan ayah, aku pikir orang tua itu tidak tau tentang Rara, ternyata aku salah besar. Huh, aku akan memberi pelajaran bodyguard ayah setelah ini, bisa bisanya mereka melaporkan semua kejadian waktu itu pada ayah.

Edward tiba tiba merengkuh tubuh Aurora dan berkali kali menciumi kepalanya. "Maafkan aku, maafkan aku sayang."

Aurora begitu terharu sampai menitikkan air matanya saat dalam dekapan Edward.

"Sekarang aku tau penyebabnya kenapa aku bisa merasa nyaman didekatmu, aku juga kadang merasa cemburu saat kamu jalan bersama pria lain, itu karena kamu adalah kekasihku." Batin Edward.

"Baiklah, ceritakan padaku apa yang terjadi. Aku ingin mendengarnya."

Aurora pun menceritakan kejadian masa itu.

.

.

.

#####

1
Esti Mmh Ello
Luar biasa
hafsah 2019
lanjutkan
hafsah 2019
ceritanya asyik
hafsah 2019
cerìtanya sangst pelix
Siti Nina
oke
Ayu Astuti
Ditunggu karya selanjutnya ❤️👋
Ayu Astuti
Next 🤗🤗🤗
Ayu Astuti
Next kk 🤓
Ayu Astuti
next🤗🤗🤗
Ayu Astuti
next🤗
Ayu Astuti
next🤭
Ayu Astuti
next
Defi Andriani
Kecewa
Amelin Kwok
next
Ayu Astuti
Suka dengan karyamu walaupun kadang update kadang nggak. hihi... terlepas dari itu, semangat nulis para author. Semoga diberi kelimpahan ide-ide, biar bisa selalu update. Sekian dan terima kasih.❤️❤️❤️❤️❤️
Amelin Kwok
ceritanya seru
kalo bisa up nya jgn kelamaan jd lupa jalan ceritanya
Amelin Kwok
next
Ayu Astuti
Next --
laelyalesha
Selalu semangat kak, setiap q baca pst dag dig dug
laelyalesha
Lnjt kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!