"Aku mencintai tubuh mu"
Satu kalimat yang begitu menyakiti hati Nabilla, cinta tulusnya tidak berarti apa-apa bagi Axel.
Hubungan yang diinginkan semanis cerita novel, nyatanya tak bisa Nabilla dapatkan dari Axel.
Hingga Nabilla bertemu dengan Raffa yang tak lain adalah adik kandung Axel, perlahan hidupnya dirasa berubah, luka yang kerap menyelimutinya perlahan memudar.
Namun hal manis itu tak selurus jalan tol, Nabilla justru terjebak dalam dendam kakak beradik tersebut.
Terjerat cinta Raffa, justru membuat keadaan semakin tak karuan karena Axel yang tak pernah bisa melepaskannya.
Dengan siapa Nabilla akan mendapatkan kebahagiaan impiannya, jalan dan langkah seperti apa yang akan Nabilla putuskan demi meraih kisah cinta semanis novel cinta dambaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imas Yunaeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Pertahankan Batasnya
Nabilla masih bertahan di rumah Axel, meski malam sudah larut mereka masih asyik berbincang di sana.
Ketidak adaan orang tua Nabilla di rumah, membuat Nabilla kesepian, dan ia memilih ada di tempat Axel.
"Axel, besok malam kamu jadi temani aku ke pestanya Selly?"
"Apa itu harus, aku bahkan sudah lupa?"
"Sebenarnya harus, mereka akan membawa pasangannya masing-masing, dan aku mau kamu ada."
"Ah itu seperti bocah."
Nabilla diam, sejak dulu Axel memang tidak pernah mau gabung dengan teman-teman Nabilla, sekali pun dalam acara penting.
Dan memang sama, Axel pun tidak pernah membawa Nabilla gabung dengan temannya, mungkin karena itu Axel tidak mau bersama teman Nabilla.
"Aku harap kamu mau."
"Biar aku fikirkan dulu."
Nabilla mengangguk, mungkin ia akan menjadi satu-satunya tamu yang datang tanpa gandengan.
Axel tidak pernah mau dipaksa dalam hal apa pun, sekali pun lelaki itu suka memaksa Nabilla, tapi Nabilla tidak bisa melakukan hal yang sama.
"Kalau aku tidak datang, kamu akan tetap datang?"
"Iya, aku harus menghargai Selly."
"Oke, datanglah sendiri."
"Kamu tidak mau temani aku?"
"Tidak."
"Bahkan kamu belum berfikir."
Axel tak menjawab, Nabilla menghembuskan nafasnya perlahan, seharusnya pertanyaan itu tidak perlu dilontarkan.
Seharusnya Nabilla sudah tahu kalau Axel tidak akan pernah mau berubah, lelaki itu tidak akan pernah perduli dengan keinginannya.
"Kamu marah?" tanya Axel.
"Tidak, mana bisa aku marah."
"Aku tahu, kau terlalu mencintai ku."
Nabilla tersenyum saat Axel merangkulnya dan mencium kepalanya, iya, Nabilla memang mencintai lelaki itu.
Tapi kenapa, semakin kesini rasa cinta itu semakin tak karuan, terasa tak lagi utuh, bawaan dalam diri Nabilla selalu memaksanya untuk pergi.
"Axel, apa kamu akan menikahi ku?"
"Pertanyaan macam apa itu, bukankah kamu yang bilang belum memikirkan pernikahan."
"Iya, tapi aku rasa kita harus mulai memikirkan itu."
"Aku tidak sampai menghamili mu, jadi bersikap tenanglah."
Nabilla diam, tapi Axel sudah menghancurkan masa depannya, apa kesalahan besar jika Nabilla meminta Axel menikahinya.
Rangkulan itu dilepas, Axel kembali pada posisinya semula, Nabilla hanya bisa menatapnya dengan melas, menyedihkan sekali hidup Nabilla.
"Aku selalu berhati-hati ketika melakukannya, jadi lupakan pemikiran buruk mu itu."
Nabilla sedikit tersenyum, ia mengangguk seraya berpaling, meneruskan pembahasan itu hanya akan menyakiti perasaannya saja.
Nabilla bisa fikirkan itu nanti, dan sekarang memang lebih baik Nabilla menikmati waktu berdua mereka saja.
"Nabilla, kamu belum pulang, ini sudah malam," ucap Renata.
Keduanya menoleh, Nabilla mengangguk seraya bangkit.
"Ini sudah malam, nanti orang tua kamu cari kamu."
"Mereka sedang di luar Kota, Tante."
"Kamu sendirian di rumah?"
Nabilla mengangguk pasti, bukankah memang itu kebenarannya, itulah alasannya Nabilla masih bertahan di rumah Renata.
"Tapi tetap saja, ini sudah malam, kamu tidak boleh terus disini."
"Iya, aku mengerti."
"Tante minta maaf."
Nabilla tersenyum, ia mengerti sekali dengan itu, dan tidak ada yang salah jika Renata memintanya segera pulang.
Nabilla juga sudah mulai mengantuk, sudah seharusnya ia pulang ke rumahnya sendiri.
"Axel, kamu antar Nabilla sekarang."
"Dengan senang hati."
"Antarkan dia, setelah sampai ke rumahnya, kamu langsung pulang, biarkan dia istirahat."
"Akan aku fikirkan itu di jalan."
Nabilla berpaling, jangan sampai Axel menyentuhnya lagi malam ini, Nabilla tidak mau hal itu.
Axel tersenyum, ia lantas menarik Nabilla pergi dari hadapan Renata, Nabilla melambaikan tangannya pada Renata.
"Hati-hati," ucap Renata.
Nabilla mengangguk, mereka menghilang, Renata tampak menggeleng karena hal tersebut.
Ia melihat jam di pergelangan tangannya, dan seketika ia teringat Raffa, lelaki itu juga belum terlihat sampai sekarang.
"Apa Raffa juga belum pulang, kemana saja Anak itu."
Renata berjalan menaiki tangga, ia akan memastikan Raffa ada di kamar atau tidak saat ini.
----
Raffa menyimpan kunci yang digenggamnya, saat ini Raffa sedang ada di tempat kerjanya, salah satu temannya terkunci dan tidak bisa keluar.
"Bagus sekali, kau sendiri yang mengunci pintunya," ucap Raffa.
"Aku minta maaf, aku tidak tahu kalau bakalan macet."
"Ahh bagaimana kalau aku tidak ada, kau akan mati di dalam."
Wanita itu mendengus kesal, asal sekali bicara Raffa, apa dia sedang mendoakannya untuk segera mati.
Raffa menggeleng, ia mengeluarkan ponselnya yang bergetar.
"Aku ini Anak Mami, kalau terlambat pulang seperti ini pasti dicari Mami."
Kalimat Raffa justru membuat temannya itu tertawa, terdengar polos dan sangat jujur.
Raffa berdecak, menyebalkan sekali dia, kenapa malah mentertawakannya.
"Iya, Mami," ucap Raffa.
Ia kembali melirik temannya yang masih senyum-senyum, sembari mendengarkan kalimat Renata, Raffa menjitak pelan temannya.
"Ishh ...."
"Iya Mami, aku sebentar lagi pulang, ada sedikit masalah disini, aku baik-baik saja."
Raffa mengangguk, setelah Renata selesai dengan kalimatnya, sambungan terputus begitu saja.
"Apa, mau ketawa lagi?"
"Anak Mami ya?"
"Euuuh, aku kunciin lagi di dalam kamu ya."
"Yeee ngambek, dasar Anak Mami."
Raffa membulatkan matanya, benar-benar menjengkelkan wanita itu.
Sejak siang memang hanya wanita itu yang membuat Raffa kesal, mereka memang baru bertemu tapi sikap menjengkelkan itu membuat mereka langsung akrab.
"Aku pulang, kau mau kemana sekarang?"
"Aku mau masuk lagi, aku kan tinggal disini."
"Dih," Raffa dengan wajah konyolnya.
Wanita itu kembali tertawa, ia berhasil membuat Raffa prustasi malam ini.
Raffa mengusap wajahnya berulang kali, kalau ia tinggal di dalam sana, lalu untuk apa minta di keluarkan.
"Jangan marah, nanti Mami gak sayang kamu lagi."
"Tutup mulut mu."
"Eh, jangan marah."
"Harusnya kau tunggu besok saja untuk keluar, bukan mengganggu ku tengah malam seperti ini."
Raffa mendelik, ia berlalu begitu saja memasuki mobilnya, melaju pergi tanpa pamitan sedikit pun.
"Terimakasih Anak Mami," teriaknya.
Raffa melihat kaca spion sampingnya, wanita itu tertawa dan kembali memasuki laundry.
"Apa dia tidak waras, benar-benar menjengkelkan."
Raffa menggeleng, ia menghembuskan nafasnya sekaligus, berusaha mengembalikan kesabarannya dengan sempurna.
Hooaaammm ....
Raffa berulang kali menguap, ia menggeleng cepat, fokusnya harus stabil sampai nanti perjalanannya selesai.
"Apa Nabilla sudah pulang, apa Axel mengganggunya malam ini, atau mungkin Axel mengabaikannya lagi."
Raffa meraih ponselnya, ia mencari kontak.Nabilla di sana, ketika ada, Raffa berniat menghubunginya.
Tapi ia ragu melakukannya, Raffa merasa bukan waktu yang tepat untuk panggilan itu sekarang.
"Apa mereka masih bersama, aku tidak begitu semangat untuk menghubunginya."
Raffa menutup dan menyimpan kembali ponselnya, mungkin saat sampai rumah nanti ia akan menghubungi Nabilla.
Raffa harus memastikan jika Nabilla dan Axel sedang tidak bersama, dengan begitu Raffa tidak akan menciptakan masalah apa pun.