Berawal dari kebodohannya menyanggupi permintaan sang ayah, Victor yang sudah punya kekasih justru terjebak dalam perjodohan dengan Rosie, yang notabene adalah sahabat dari kekasihnya sendiri. Lalu, apa yang harus Victor lakukan jika benih-benih cinta justru tumbuh di antara mereka? Dan, siapakah yang akan Victor pilih? Rosie? Atau kekasihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Misha Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. First Date
"Mereka tinggal di hotel."
"Hotel?"
Rosie mengangguk, manik almond-nya masih menatap ke depan tanpa arah. "Dia bilang, Youngdae-ssi memaksa mereka untuk menetap di sana sampai dia menemukan tempat tinggal yang aman."
Victor hanya diam mendengarkan cerita Rosie. Dia dapat melihat jika sudut mata istrinya telah digenangi cairan bening. Netranya juga menyaksikan sesekali Rosie menekan kedua bibirnya atau mendongak, dan Victor tahu jika sang istri tengah menahan bulir kristal itu agar tidak membasahi pipi.
"Aku tidak tahu kenapa mereka masih mendiskriminasi Zee dan keluarganya, Vic." Rosie menoleh, menatap dalam iris jade Victor. "Mereka kaum minoritas di sini, seharusnya kita melindungi mereka, bukan mendiskriminasi atau mencelakai mereka hanya karena ... hanya karena keyakinan yang berbeda." Air mata Rosie tumpah, dia tidak mampu lagi menahannya.
Diskriminasi kaum minoritas, sebuah topik dari sekian problematika yang terjadi di berbagai penjuru dunia. Yang mana seharusnya mendapatkan perhatian khusus bukan hanya oleh sebagian kalangan, atau mereka yang memangku jabatan, namun juga oleh jiwa yang dibekali akal dan nurani yang mengilhami seorang individu untuk melakukan kebaikan.
Pernahkah kita merenungkan hal kecil yang dapat kita lakukan untuk menjaga dan melindungi saudara kita yang menjadi kalangan minor di sekitar kita?
Bukan hanya dari segi perbedaan keyakinan ataupun ras. Mereka para penduduk surga yang ditakdirkan Tuhan menjadi seseorang yang spesial bahkan tidak luput dari stigma negatif, dan diskriminasi nyata yang terjadi di lingkungan sosial.
"Berkatalah yang baik, jika tidak maka diamlah!"
Oh, satu aksi kecil dengan dampak besar. Andai kita lebih bisa menahan lisan dan jemari kita, tentunya hal kecil ini dapat menumbuhkan suatu keamanan dan kenyamanan bagi mereka yang merasa berbeda.
Victor menarik Rosie ke dalam pelukan. Dia membiarkan wanita brunette itu menangis tersedu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hanya tangan kekarnya yang menepuk lembut punggung istrinya yang bergetar.
Tak berselang lama, Rosie menarik diri setelah merasa tenang. Kepalanya tertunduk, namun Victor dapat melihat sekilas jika mata Rosie memerah dan sedikit sembab, hidung mungilnya juga memerah dan mengeluarkan ingus bening.
"Chaerae-ya." Victor memanggilnya dengan lembut.
"Hmm ... " Chaerae mendongak. Namun dia terkejut saat Victor tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan mencium kelopak matanya. "V-Vic—"
Kini Victor menangkup kedua pipi Rosie dan kembali mencium kelopak matanya, serta menyesap sisa bulir kristal yang masih tertinggal di dalamnya.
"Kau tahu dia gadis yang kuat, Chae." Manik keduanya bertemu dan Rosie dapat mencium aroma segar mint-berry setiap bariton lembut Victor mengalun di telinganya. "Dan kita mungkin bisa memberikan sedikit bantuan pada Zee." Victor menjeda ucapannya lantas tersenyum. "Kita bisa menawarkan apartemenku padanya. Zee dan keluarganya akan aman di sana, aku bisa jamin itu."
Iris almond Rosie bergetar dengan pupil yang sedikit berdilatasi saat mendengar tawaran Victor. "Vic …."
Victor menurunkan kedua tangannya dan menatap lembut sosok wanita brunette yang terpantul dalam manik jade-nya. Namun detik berikutnya, pria ravenette itu dibuat kelimpungan karena Rosie tiba-tiba memeluknya dan kembali menangis dengan keras.
"Kenapa kau selalu melakukan ini padaku, Vic?"
"Yak! Rosé, pelankan suaramu, orang-orang akan mengira aku menyakitimu."
Rosie menggeleng kemudian melepas pelukan. Dia mengusap ingusnya asal, sedang hidung menyedot sisa ingus yang hampir menyeberang bibir.
Orang-orang yang berlalu-lalang mungkin akan melihat keduanya dengan tatapan aneh, atau membuang muka saat melihat Rosie membersihkan ingus. Tapi, pemandangan yang mungkin hanya bisa dijumpai Victor sekali seumur hidup itu justru terlihat menggemaskan di matanya, hingga tawa kecil mengudara dan membuatnya mendapat beberapa pukulan dari Rosie.
"Yak! Kenapa kau menertawakan istrimu yang sedang menangis, Tn. Kim?"
"Hahaha ... maaf, tapi kau terlihat sangat jelek sekarang."
"Oooiii, kakak-kakak yang di sana!" Teriakan seorang anak seusia Zinan menginterupsi canda tawa mereka.
"Ya … ?" jawab Rosie sembari menoleh ke arah anak yang berlari kecil ke tempat mereka duduk.
"Ini." Anak kecil itu menyerahkan sebuah lukisan dan diterima Victor. "Sudah selesai."
Senyum kotak mengembang di wajah tampan Victor. Dengan mata yang berbinar, pria ravenette itu bangkit lalu menggandeng tangan anak kecil bernama Han Soobin.
"Ayo! Aku akan memberikan tip untukmu dan adikmu."
"Wah, sungguh?" Victor mengangguk. "JISU! Kemari!" Han Jisu, adik Soobin berlari menghampiri kakaknya. "Kakak ini mau memberikan tip."
"Benarkah?" Manik cokelat Jisu membola. Mungkin keinginannya untuk mendapatkan kamera baru bisa terwujud dengan tambahan uang tip dari Victor. Dan anggukan kepala Victor membuat gadis kecil itu bersorak, melompat kegirangan.
Rosie hanya tersenyum melihat pemandangan yang direkam netranya. Manik almond-nya masih membuntuti sosok Victor yang menggandeng dua anak kecil penyedia jasa lukis. Rosie pikir, mungkin pernikahannya dengan Victor tidaklah seburuk dengan apa yang dia bayangkan sebelumnya. Dan hari ini, di kencan pertama mereka yang tidak direncanakan, dia mendapatkan memori indah yang diabadikan lewat lukisan dalam dekapannya.
Gambar yang ditangkap kamera oleh Jisu, diabadikan Soobin ke dalam kanvas. Lukisan itu menggambarkan empat adegan yang mewakili permulaan momen bersejarah bagi Victor dan Rosie sebagai suami istri.
Gambar pertama, lukisan saat Victor mengulurkan tangannya pada Rosie yang berada di dalam mobil.
Gambar kedua, lukisan saat Rosie meledek Victor dengan menjulurkan lidahnya.
Gambar ketiga, lukisan saat Victor menatap wajah Rosie dari samping dalam diam. Dimana manik teduh Victor merekam senyum Rosie yang menangkap kelopak bunga sakura yang terbawa angin dan terjatuh di tangannya.
Gambar keempat, merupakan harapan dari Soobin untuk Victor dan Rosie. Sebuah lukisan yang menggambarkan kepercayaan dan sandaran hati yang belum mereka sadari.
Soobin membuat lukisan terakhir itu sedikit berbeda dari realita yang terjadi. Dalam lukisan Soobin, Victor dan Rosie saling menyandarkan kening masing-masing dengan senyum merekah di wajah keduanya, dan tangan saling menggenggam satu sama lain. Mereka terlihat bahagia, hingga Soobin menyelipkan sebuah doa dalam bentuk tulisan kecil di bagian bawah kanvas.
"Semoga Tuhan selalu memberikan kebahagiaan untuk kak Victor dan kak Chaerae, oleh Han Soobin dan Han Jisu."
...*༄ ❀ Undeniable Love ࿐*...
"Bagaimana rasanya?" Emily menahan napas, menunggu komentar Yejun saat dia mencicipi masakannya. Satu, dua, tiga, empat, dan, "Kyaaaa ... Victor akan menyukai ini." Dia bersorak melihat tiga jari Yejun menghadap ke atas sedang ibu jari dan telunjuk membentuk lingkaran. "Kurasa Rosie juga akan menyukai ini."
Bunny smile pria berotot yang duduk di samping Emily membuatnya terlihat imut, hingga kedua sudut bibir Emily ikut tertarik ke atas.
"Apa kau sudah menghubungi Victor? Kapan mereka akan pulang?" Yejun bertanya sambil mengunyah jukkumi buatan Emily.
"Mereka pulang jam— YAK! Berhenti makan jukkumi-nya, Jun!"
"AWW! Hey, hentikan! Aku hanya makan tiga suap."
"Aku menyuruhmu untuk mencicipi, bukan melahapnya, Bodoh!" geram Emily, manik cokelatnya masih melototi Yejun.
"Cih! Pelit sekali!"
Ding-dong
Kedua insan bersurai hitam yang tengah duduk di ruang makan saling tatap, berbagi ekspresi bingung pada tamu yang membunyikan bel.
"Apa itu Victor?"
"Dia bilang akan pulang jam 8." Emily mengecek jam di ponselnya. "Ini baru jam 7, Jun."
"Apa kau mengundang seseorang ke sini?"
"Yak! Aku tidak mungkin menggali kuburku sendiri. Kau tahu seperti apa profesiku!"
Ding-dong
"Apa mungkin kenalan Victor dan Rosie?"
"Kalau begitu kau saja yang membuka pintu. Aku tidak mungkin menemuinya, bagaimana jika mereka ternyata penggemarku?"
Yejun memutar bola matanya malas lantas bangkit, melangkahkan tungkainya menuju pintu utama dan membukanya.
"Selamat malam, Vic-tor ... Yejun?!" pekik seorang wanita cantik yang masih menggenggam erat tangan suaminya. Netranya terbelalak menjumpai sosok Yejun.
"Hai, Noona," sapa Yejun dengan bunny smile terpampang di wajah tampannya.
"Jun-ie ... ini benar-benar kau?" Joanna mengibaskan tangan Jin, lalu memeluk Yejun.
"YAK! YAK! YAK! Bae Joanna! Ingat siapa yang berdiri di belakangmu!" geram Jin, lantas melepas paksa pelukan Joanna dengan Yejun.
Yejun hanya terkekeh melihat wajah Jin telah mengepulkan asap. Kakak ipar Victor yang satu ini memang pencemburu. Bahkan dengan Victor sekalipun, Jin akan mengerucutkan bibir saat melihat Joanna memeluk adiknya.
Mereka pun melangkah masuk dengan Jin yang berjalan di tengah, memagari Yejun dan Joanna agar tidak saling bersentuhan.
"Apa yang kau lakukan di sini, Jun? Mana Victor dan Rosie?" Manik Joanna mengembara ke penjuru rumah. Namun, yang didapatinya justru sosok asing yang tersenyum kikuk sedang berdiri dekat meja makan.
"Halo, Eonnie,” sapa Emily.
"Kau?" Joanna memiringkan kepala, mencoba mengingat wanita berpakaian mini di depannya.
"Emily, teman Rosie. Kita bertemu di pernikahan Rosie, Eonnie,” jawab Emily dengan mengembangkan senyum barbie-nya.
"Ahh, aku ingat sekarang. Kau gadis yang waktu itu memakai dress hitam?"
"Ya, itu aku." Emily tersenyum sumringah.
"Gadis dengan belahan dada. Tentu saja aku ingat. Kau gadis yang sengaja menabrakkan dada balonmu itu pada adik tampanku, Victor. Mana mungkin aku lupa kejadian itu." Bagai punya dua jiwa dalam satu raga, tawa kecil yang mengudara mewakili White Joanna, sedang gerutuan dalam batinnya mewakili Black Joanna.
"Jadi, apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Jin tiba-tiba.
"Kami menginap di sini, Hyung. Untuk merayakan pernikahan Rosie dan Victor secara personal. Benarkan, Emily?" Yejun menyenggol lengan Emily, dan wanita bersurai hitam itu mengangguk.
Jin hanya mengangguk lalu mendudukkan bokongnya di kursi. Sedangkan sang istri melenggang pergi menuju dapur, mencari sesuatu untuk melepas dahaganya. Sulung keluarga Kim itu membuka lemari pendingin kemudian mengambil soda. Akan tetapi, belum sempat dirinya meneguk minuman berkarbonasi itu, netranya memicing kala menangkap sesuatu tak jauh dari tempatnya berdiri.
...*༄ ❀ Undeniable Love ࿐*...