Albert Amborse. Seorang lelaki yang dikaruniai tubuh tidak sempurna yang di dapatnya dari lahir. Ia memiliki kaki cacat pada kaki kirinya yang menyebabkan kakinya pengkor ke dalam dengan bentuk yang tidak wajar sehingga apabila ia berjalan, akan terlihat pinggulnya terseok-seok ke atas dengan aneh.
Suatu ketika Albert melihat seorang gadis dan mendekatinya. Ia menyatakan cinta padanya untuk menikahi gadis itu. Belum ada jawaban dari gadis itu, tetapi Albert telah mengutarakan keinginannya kepada ayah gadis itu dan menyetujui permintaan Albert. Namun dirinya tak tahu-menahu bahwa Herman, ayah dari gadis itu memiliki rahasia yang dapat membahayakan dirinya dan juga keluarga bahkan putrinya sendiri, yaitu Gadis.
Bagaimanakah kisahnya? Apakah Albert akan tetap menikahi Gadis atau sebaliknya setelah dirinya mengetahui masalah yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V a L L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Bab 9
“Apa ibu melihatnya?” tanya Gadis terkejut dan menoleh ke arah ibunya.
Ibu mengangguk, memastikan kalau dirinya memang melihat kejadian anaknya di antar oleh seorang pria. “Heem, ibu melihat kalian di depan pintu yang sedang mengobrol. Kenapa kau tak menyuruhnya masuk?” tanya Ibu.
“Aku tidak kepikiran sampai ke situ, Ibu. Maafkan aku,” jawab Gadis menundukkan kepalanya sembari memainkan jari jemari yang saling bertaut.
“Sudah, jangan bersedih. Lain kali kalau dia ke sini, ajaklah dia masuk. Kelihatannya dia orang yang baik. Bagaimana kalau kita memasak saja? Sebentar lagi ayah dan adikmu akan pulang dari ladangnya,” ujar Ibunya yang sudah berdiri dan melangkahkan kakinya.
Gadis mendongak, melihat ibunya melangkah jauh dari dirinya yang masih duduk di sofa. “Baik, Ibu.”
Ia segera menyusulnya dan menggandeng tangan ibunya melangkah memasuki dapur sambil membawa keranjang belanjaan yang dibawa oleh Gadis tadi.Senyumannya terkembang dengan mengingat sikap heroik yang diberikan oleh Albert saat di restoran tadi. Sambil membantu ibunya memasak, dirinya tak berhenti untuk menebar senyum bahagia yang ia rasakan. Ibunya hanya melihat anak gadisnya bertingkah hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
“Ibu... kami pulang...,” teriak Max dari luar.
Terdengar langkah kaki Max dan ayah memasuki rumah dengan pakaian yang dilengkapi untuk pergi bekerja di ladang. Max yang kelelahan terlihat sekali dari wajahnya yang memerah, melepas topinya dan meletakkannya di atas meja khusus untuk meletakkan peralatan dan perlengkapan ladang. Begitu juga dengan Ayah. Melepaskan sepatu boot nya, lalu mencuci kedua tangannya di wastafel.
“Wah... ibu dan kakak memasak apa? Kelihatannya lezat sekali. Aku boleh mencicipinya?” tanya Max yang masih belum ingin mencuci tangannya.
Segera saja di tepuk oleh Gadis tangan yang ingin menyentuh makanan itu. “Kau belum mencuci tanganmu, Max! Dan itu sangat kotor sekali,” geram Gadis.
“Kakak.., aku hanya ingin mencicipinya saja sebelum aku mencuci tanganku,” sahut Max cemberut.
“Max, apa yang dikatakan oleh kakakmu itu benar, Sayang. Kau harus mencuci tanganmu terlebih dahulu,” ujar ibu menimpali.
Dengan malas, Max melangkah ke arah wastafel yang berada di luar rumah, tepatnya di sebelah pintu masuk belakang rumah. Ayah sudah duduk di bangku kepala keluarga dan bersiap untuk memimpin doa untuk menyantap makan siang yang sudah tersedia di hadapannya. Diikuti dengan Ibu, Gadis, dan menyusul Max yang menarik bangkunya untuk duduk. Mereka memulai berdoa dan makan siang bersama, menyantap makanan itu dengan hikmat.
"Kelihatan sekali wajah kakak yang bahagia, apakah ada sesuatu yang kita lewati ayah?" tanya Max di meja makan yang hampir selesai.
Ayahnya langsung mendongak dan mengalihkan pandangan ke arah Gadis. Gadis yang tersipu malu, sungguh malu dengan apa celetukan adiknya.
"Kau benar, Max. Apa yang terjadi, Gadis?" tanya Ayah.
"Tidak ada, Ayah," sahut Gadis.
"Kau jangan membohongi kami. Kurasa ibu juga tidak tahu kalau kau....," belum selesai Max berbicara, tetapi kaki kanannya ditendang oleh Gadis yang bersembunyi di bawah meja makan.
"Max,.." geram Gadis memelototkan matanya.
"Ada apa? Max tahu sesuatu?"
"Aku hanya melihat mobil yang tidak pernah kulihat singgah di depan rumah kita, Ayah, dan ternyata dia mengantarkan seorang perempuan, itu adalah kakak. Dan lagi, yang mengantarkan kakak, itu lelaki yang memiliki kaki cacat. Aku melihat ini dari kejauhan dengan cara berjalannya, Ayah," ujar Max menjelaskan.
"Benar begitu, Gadis?" tanya Ayah.
Gadis menundukkan kepalanya, kemudian mengangguk.
...****************...
Tbc
maaf kyknya koq janggal ya seorang gadis ingin dirundung, mgkin lbh baik kta "ingin" dihilangkan saja 🙏🙏
paper = kertas
pepper = lada