Kisah 4 Remaja yang saling menyukai satu sama lain namun terjebak dalam sebuah hubungan tak berstatus.
siapa yang akan terlebih dahulu memutuskan hubungan diantara ke empatnya? dan seperti apa hubungan mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hikmasari Darmawanti Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERSELISIHAN
Keesokan harinya mereka semua berkumpul sebagaimana yang telah disepakati kecuali Dira. Mereka memutuskan untuk menunggunya karena mereka yakin Dira akan datang. Mereka mengerjakan tugas yang tersisa seraya menunggu namun hingga adzan maghrib berkumandang, Dira tak kunjung datang juga.
“Dira beneran nggak datang nih?” tanya Bara begitu mereka keluar dari musholla.
“Daritadi gue WA tapi belum di read ama dia” jawab Luna seraya mengeluarkan handphonenya.
“Kemarin dia nggak masalah kan ker-kel disini?” tanya Bara lagi.
“Seingat gue sih dia fine aja tuh. Pas balik juga dia nggak ngomong apa-apa” jawab Luna yang membuat Bara mengangguk mengerti sementara Aksa hanya mendengar tanpa berkomentar.
“Gimana nih kita masih ada tugas Sejarah sementara tugas Biologi aja masih belum selesai? Kemarin karena ada Dira kita bisa nyelesain tugas Bahasa Inggris, ini setengah aja belum selesai” kata Bara begitu mereka tiba di teras belakang rumah Aksa. Luna menghela nafas panjang sebelum dia berjalan ke kolam renang dan duduk di tepi kolam. Bara dan Aksa menyusulnya dari belakang.
“Jangan-jangan Dira dilarang keluar rumah ama orangtuanya gegara kemarin pulang kemaleman?” kata Luna khawatir.
“Bisa jadi tuh tapi masa sih dia nggak bisa ngabarin kita? Ya kali hpnya di sita, ortunya nggak sekolot itu kan?” kata Bara ikut khawatir.
“Atau jangan-jangan dia ada di situasi dimana dia nggak bisa pegang hp? Dia terluka atau sakit misalnya?” kata Luna lagi.
“Kecelakaan gitu maksud lo?” tanya Bara serius.
“Iya, sejak balik semalem, dia kan nggak ada kabar” jawab Luna cepat.
“Bisa jadi sih tapi kalo emang bener si Dira kecelakaan pasti group kelas udah pada heboh kan? Gue rasa dia emang di marahin karena pulang kemaleman deh” terka Bara.
“Semoga aja Indi nggak kenapa-napa, siapa tau aja kan dia lupa kalo hari ini ada ker-kel atau bisa jadi mobilnya mogok dijalan. Mungkin kayak gitu” kata Luna menepis fikiran aneh yang hinggap di otaknya.
“Kalo situasinya kayak gitu, dia pasti udah bilang di group kan? Menurut lo gimana, Sa?” tanya Bara pada Aksa yang sedari tadi diam. Namun yang ditanya hanya menatap Bara lurus tanpa ekspressi kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan mereka berdua untuk kembali mengerjakan tugas.
“Temen lo kenapa sih? Emang sesulit itu ya buat berbagi pendapat” rutuk Luna kesal.
“Aksa marah”
“Ha?”
“Gue bilang Aksa marah. Gue yakin banget, sekarang Aksa lagi marah pake banget”
“Kenapa lo bisa seyakin itu? Kan dia cuma ngeliatin lo doang terus pergi gitu aja”
“Gue udah lama kenal ama dia jadi gue tau vibe dia saat lagi senang, sedih, kesel, kecewa meskipun muka dia datar aja. Dan sekarang dia ngeluarin aura ‘Jangan sebut nama Dira didepan gue’ gitu” jelas Bara yang membuat Luna bingung mendengarnya.
“Walaupun gue nggak ngerti tapi dia udah nggak bakal marah lagi kalo Indi datang kan?” tanya Luna masih bingung.
“Yang pasti kedatangan Dira bakalan menyebabkan perang”
“Ha?”
“Kalo Dira datang pasti bakal ada perang, entah Perang Dingin atau Perang Dunia ke III”
“Lo bisa nggak sih, nggak sok pinter gitu ngomongnya? Jelasin dengan bahasa yang lebih sederhana,please” kata Luna kesal mendengar penjelasan Bara.
“Maksud gue, Aksa bakal tetep marah ama Dira tapi gue nggak tahu, gimana Aksa nunjukkin ke Dira kalo dia marah. Bakalan diemin dia selamanya atau bakalan maki-maki dia. Sampai sini udah paham?” jelas Bara.
“Menurut lo, lebih bagusan yang mana diantara dua itu?”
“Entah tapi yang pasti, apapun yang terjadi, akhirnya kita semua bakalan canggung karena udah pasti hubungan mereka berdua udah nggak bisa di selamatkan”
“Kan lo bisa bujuk Aksa buat nggak terlalu keras ke Indi”
“Sist, udah hampir seumur hidup gue bareng ama Aksa dan jujur aja, Aksa menakutkan kalo lagi marah”
“Lo kan cowok masa lo nggak berani ama dia?”
“Sist, lo nggak pernah dengar quote yang bilang ‘jangan sepelekan marahnya orang pendiam’ ha?” kata Bara penuh percaya diri yang membuat Luna ingin melemparnya ke kolam.
“Gue nggak pernah dengar kalo itu, yang gue tahu cuma ‘jangan sepelekan marahnya orang sabar’ aja. Kayaknya gue mainnya kurang jauh deh” kata Luna seraya tersenyum.
“Quote-nya udah berubah? Sejak kapan? Kok gue nggak tau” tanya Bara polos.
Luna mengabaikan Bara. Ia mengkhawatirkan Dira yang belum ada kabar sampai sekarang. Dan Luna juga cemas dengan ucapan Bara, jika memang benar saat ini Aksa sedang marah, dan jika, Aksa meluapkan kemarahannya maka sudah pasti, Dira akan keluar dari kelompok. Sejak awal hubungan mereka berdua memang tidak terlalu baik jadi tidak heran jika hari ini mereka akan benar-benar bertengkar. Dalam hati Luna berharap Aksa akan mendiamkan Dira saja, dengan begitu Dira masih tetap akan menjadi anggota kelompok, meski suasana kelompok akan menjadi canggung.
Ting Tong.
Tiba-tiba saja, suara bel rumah Aksa berbunyi. Hal tersebut tentu saja membuat Luna dan Bara segera saling tatap dan berlari masuk ke dalam rumah Aksa untuk mengintip siapa yang datang. Benar saja, tak lama kemudian, sosok Dira pun muncul bersama dengan Mama. Luna pun mendekatinya dan tersenyum.
“Gue kira lo nggak bakal datang” kata Luna senang seraya mengaitkan lengannya ke lengan Dira. Begitu mereka tiba di teras belakang, Aksa hanya menatapnya sejenak sebelum membuang muka yang membuat Dira merasa tak enak sementara Bara melambaikan tangannya.
“Datang juga lo. Daritadi ditungguin juga” kata Bara tersenyum seraya melirik ke Aksa. Bara memberikan kode ke Dira untuk segara duduk dan mengerjakan tugas.
“Sorry, gue telat. Tugas apa aja yang udah dikerjain? Terus udah sampai mana?”tanya Dira mengerti maksud Bara.
“Kita masih sementara ngerjain Biologi nih, tapi baru selesai separuh. Sejarah masih belum ke sentuh sama sekali” jawab Luna seraya menyodorkan laptopnya. Dira pun memeriksa tugas tersebut dengan seksama.
“Ini sih separuh aja belum selesai, Lu. Referensinya juga masih harus ditambahin” kata Dira begitu selesai memeriksa.
“Lo darimana aja sih,Ndi? Coba daritadi lu datang pasti tugas kita hampir selesai” tanya Luna yang membuat Bara terkejut sementara Aksa hanya melirik Dira sejenak.
“Sorry, tadi gue ada urusan tiba-tiba” jawab Dira merasa bersalah.
“Lebih penting dari ker-kel ya.Ndi? Kan lo bisa ngabarin kita di group. Lo nggak tau kan kalo…”
“Selain refensi, masih ada lagi nggak yang perlu ditambahin,Dir?” potong Bara cepat seraya menatap Luna yang membuat Luna bingung. Bara pun melirik ke Aksa yang membuat Luna menyadari kesalahnnya.
“Nggak papa kok, Bar. Gue nggak pegang hp sedari pagi jadi gue nggak bisa ngabarin kalian. Sorry banget” jelas Dira singkat.
“Lo dimarahin ya gara-gara kemarin pulangnya telat? Makanya hp lo disita?” tanya Bara ikut-ikutan yang membuat Luna berbalik menatapnya kesal.
“Nggak kok. Dan hp gue nggak disita” jawab Dira jujur.
“Terus kok lo bisa nggak pegang hp? Emang hp lo kenapa? Rusak?” tanya Luna ingin tahu.
“Hp gue…”
Ting Tong.
Tiba-tiba saja bel rumah Aksa kembali berbunyi yang membuat ucapan Dira terpotong. Dira menatap Aksa sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Gue jelasinnya kapan-kapan aja, kita fokus kerjain tugas aja dulu. Lu, gue minta file tugas yang udah lo kerjain ya, biar gue yang lanjut. Lo ama Bara nyari referensi aja ntar kirim ke gue” kata Dira seraya mengeluarkan laptop dan buku-buku dari dalam tasnya. Luna dan Bara saling tatap sebelum mengangguk setuju. Mereka pun mulai mengerjakan tugas.
Dira bisa merasakan kemarahan Aksa padanya. Sejak ia datang, Aksa belum mengatakan apapun. Hal tersebut membuatnya tak nyaman, bagaimana pun ini rumah Aksa, rasanya seperti datang ke sebuah acara tanpa diundang. Dira pun menyalakan laptopnya dengan perasaan campur aduk. Ia ingin menjelaskan alasan keterlambatannya namun rasanya, hal tersebut hanya membuat Aksa akan semakin marah.
Hening.
“Tugas Sejarah kita kerjain besok aja, gimana? Tapi besok lo nggak bisa ya,Dir?” tanya Bara memecah keheningan.Aksa kembali menatapnya yang membuat Dira serba salah.
“Sa, ada teman kamu yang datang nih” kata Mama tiba-tiba muncul yang membuat semua pandangan kini tertuju padanya.
Aksa mengerutkan keningnya,bingung. “Teman? Siapa?”
Dan muncullah sosok cowok dengan perawakan tinggi dari balik pintu. Aksa dan Dira terbelalak melihatnya sementara Luna dan Bara bingung melihat reaksi Aksa dan Dira.
“Makasih,Tante. Maaf udah menganggu malam-malam” kata sosok tersebut pada Tante Mila sambil tersenyum.
“Nggak papa kok. Ya udah, tante tinggal ya” kata Mama seraya meninggalkan mereka.
“Dafa? Ngapain kamu disini? Nggak, kok kamu bisa ada sini?” tanya Dira tak percaya.
“Kenapa? Aku nggak boleh ada disini?” balas Dafa yang membuat Dira kesal.
“Kamu ikutin aku?” tanya Dira dengan suara bergetar menahan marah.
“Aku mau kembaliin ini” jawab Dafa seraya menyodorkan sebuah hp ke Dira. “Aku balik kerumah kamu tapi pas aku sampai, aku liat mobil kamu jadi aku ikutin aja. Aku penasaran apa penyebab kamu gelisah waktu kita jalan tadi, ternyata ini toh alasannya” lanjut Dafa.
“Kan aku udah bilang hari ini aku ada ker-kel” kata Dira tegas.
“Tapi kamu nggak bilang kamu ker-kelnya dirumah dia” kata Dafa seraya menatap Aksa dengan tatapan tak suka.
“Kita bahas ini nanti aja. Aku mau kerja tugas dulu. Jadi kamu pulang aja dulu, nanti aku hubungin kamu begitu aku sampai rumah” kata Dira dengan tatapan tajam yang membuat Dafa mengangguk mengerti.
“Aku bisa nungguin kamu selesai terus kita…”
“Sekarang” kata Dira penuh ketegasan.
“Oke, kalo gitu aku balik duluan. Sorry ya semua,udah gangguin kalian ker-kel. Nggak usah anter gue keluar, gue bisa sendiri. Lanjutin aja ker-kel kalian.Bye beb” kata Dafa seraya meninggalkan mereka. Terdengar dari jauh Mama bertanya pada Dafa, mengapa ia pulang begitu cepat. Namun keempatnya tidak mempedulikan hal itu, karena situasinya benar-benar canggung.
“Itu cowok lo,Ndi?” tanya Luna membuka pembicaraan.
“Iya. Sorry banget ya” jawab Dira seraya kembali menatap laptopnya. Bara melirik kearah Aksa yang menatap lurus kearah Dira. Dan Bara mengerti arti tatapan itu.
“Cukup!” kata Aksa tiba-tiba seraya menutup paksa laptop Dira. tentu saja hal itu membuat Dira dan Luna terkejut namun Bara sudah menduga hal tersebut terjadi.
“Sa, lo apa-apain sih? Kalo laptop Indi rusak gimana?” tegur Luna terkejut.
“Lo balik aja sekarang dan tugas yang kemarin ada di lo, besok lo bawain ke sini. Mulai sekarang lo bukan anggota kelompok ini lagi jadi lo nggak ada alasan untuk ada disini. Kalo laptop lo rusak, ntar gue gantiin yang baru” kata Aksa seraya menatap tajam pada Dira yang membuat Luna dan Dira semakin terkejut.
“Lo kenapa sih, Sa? Kan Indi udah jelasin alasan dia telat. Kenapa tiba-tiba ngeluarin Indi dari kelompok?” tanya Luna marah.
“Kalo kalian mau dia ada di kelompok, ya udah, gue yang keluar” kata Aksa mengabaikan Luna.
“AKSA!” bentak Luna semakin marah namun yang dibentak hanya diam seraya bangkit dari duduknya. Dira pun segara bangkit dan menghalangi Aksa pergi.
“Jelasin ke gue, sebenarnya alasan lo marah ke gue itu apa? Bukan berarti gue nggak tau, tapi alasan utama lo marah itu karena apa,ha? Apa karena gue telat datang ker-kel atau karena gue nggak ngabarin kalo gue bakalan telat? Atau karena Dafa datang kesini? Atau lo emang cuma cari moment yang pas buat ngebuang gue dari kelompok?” tanya Dira dengan suara bergetar menahan tangis. Ia tahu kalau Aksa marah padanya sejak ia datang namun jika memang ia harus keluar dari kelompok, dia ingin tahu inti permasalahannya.
“Sejak lo milih buat pergi jalan ama cowok lo daripada ker-kel, sejak itu pula lo udah menyerah ama kelompok ini. Gue nggak ngebuang lo tapi lo sendiri yang udah ngebuang kelompok ini demi cowok lo. Gue nggak peduli ama kehidupan pribadi lo, nggak, gue malah nggak peduli sama sekali ama lo tapi apa lo tau, gimana khawatirnya Luna mikirin lo yang nggak ada kabar,ha? Apa lo tau, seberapa banyak kata ‘jangan-jangan’ yang keluar dari mulutnya karena takut lo kenapa-kenapa? Apa lo tau betapa nggak fokusnya dia karena sibuk ngeliat kearah pintu masuk dan hp nya hanya untuk berharap ngeliat sosok lo muncul dari balik pintu atau ada kabar dari lo,ha? Lo nggak tau karena lo nggak peduli. Mungkin lo pikir gue ngeluarin lo karena lo telat atau karena cowok lo datang kesini. Lo salah! Gue keluarin lo, karena lo nggak layak dapat teman yang baik kayak Luna. Dia mungkin nothing jika dibandingin ama lo tapi dia tau cara menghargai orang sementara lo nggak tau cara menghargai orang. Mungkin lo lebih bersinar dimata orang lain tapi di mata gue, Luna yang khawatir ama orang yang nggak anggap dia teman jauh lebih bersinar. Kalo emang anggap Luna sebagai teman lo pasti lo bakal milih ker-kel ini daripada cowok lo” jelas Aksa panjang lebar.
“Jadi lo marah ke gue bukan karena gue telat atau karena Dafa datang kesini tapi karena Kalu?” tanya Dira dengan mata berkaca-kaca.
“Iya, emang kenapa? Ada yang salah?” balas Aksa datar.
Deg!
Jantung Luna berdebar kencang mendengar jawaban Aksa. Ia tidak menyangka sama sekali jika Aksa bersikap seperti itu pada Dira karena dirinya. Sejujurnya, ini kali pertama ada yang bersikap demikian pada Luna. Karena selama ini, Luna berfikir para cowok akan selalu memaklumi kesalahncewek cantik seperti Dira. ia pun merasa senang namun juga bersalah. Ia menatap Dira yang sedang berusaha keras untuk tidak menangis. Ia pun merasa kasihan padanya namun ia juga cukup takut untuk bersuara saat ini, rasanya hanya dengan ditatap Aksa, ia bisa berteriak histeris saking terharunya.
“Tugas Bahasa Inggris yang di gue bakal gue antar kerumah Kalu besok pagi” kata Dira seraya merapikan barang-barangnya. Ia mengigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak menangis.
“Jangan kayak gini lah, kan masalah ini masih bisa dibicarain baik-baik,Sa” kata Bara mencoba menengahi.
“Diem lo!” kata Aksa tajam.
“Sorry nih ya, Sa. Gue ama Luna juga punya hak untuk memutuskan. Anggota dikelompok ini bukan Cuma lo ama Dira doang. Kalo emang Dira harus keluar dari kelompok, pendapat gue ama Luna juga diperlukan kan? Dan gue butuh penjelasan dari Dira kenapa dia lebih milih jalan ama pacarnya ketimbang ker-kel. Sorry, gue cuma mencoba adil. Sedari tadi lo nggak ngasih dia kesempatan buat ngejelasin apapun” kata Bara membuat Aksa menatapnya tajam.
“Terserah lo” kata Aksa dingin.
“Jadi, Dira, bisa lo jelasin kenapa lo telat datang ker-kel hari ini? Apa jalan bareng cowok lo lebih penting dari ker-kel sampai-sampai lo nggak sempat ngabarin ke kita?” tanya Bara lembut sementara yang ditanya hanya diam saja. “Diamnya lo nggak bakal nyelesain apapun loh, Dir. Kalo pun emang lo mau keluar dari kelompok kita, gue harap nggak ada kesalahpahaman diantara kirta” lanjut Bara.
Dira nampak masih ragu sehingga membuat Bara frustasi melihatnya sementara Aksa menatap Dira dengan dingin. Melihat situasi tersebut, Luna pun mendekatiDira secara perlahan-lahan.
“Ndi, kalo lo emang nggak bisa cerita, nggak papa kok. Tapi kalo lo mutusin buat keluar dari kelompok, gue juga ikut keluar” kata Luna yang membuat yang lain terkejut.
“Luna! Apa-apaan sih lo? Satu masalah aja belum selesai, lo nggak usah nambahin deh” kata Bara tak terima.
“Lo kan nggak ada hubungannya dengan keterlambatan gue jadi kenapa lo juga harus ikutan keluar?” tanya Dira seraya menatap Luna.
“Tapi gue ada hubungannya dengan lo dikeluarin dari kelompok kan? Coba aja gue tetap bersikap tenang sambil nunggu lo datang, mungkin Aksa nggak bakal marah ama lo. Jadi lo nggak perlu jelasin alasan kenapa lo telat kalo emang lo nggak mau.”jawab Luna yang membuat Aksa salah tingkah sementara Bara menatap Aksa,curiga. Mendengar jawaban Luna membuat Dira merasa bersalah.
“Tadi pagi, pas gue bangun, Dafa udah ada di rumah bareng ama kedua orangtuanya. Ternyata orangtua kita ada rencana mau liburan ke puncak dan gue baru tahu saat itu. Gue udah jelasin ke orangtua gue kalo hari ini gue ada ker-kel dan mereka ngerti tapi Dafa maksa gue buat ikut. Awalnya gue udah nolak tapi orangtua Dafa mulai ngebujuk gue, meski orangtua gue udah berusaha ngebantu tapi karena Dafa terus menerus memohon,akhirnya orangtua gue nyuruh gue buat ikut. Meski gue udah bersikeras nolak, mereka nggak mau denger. Jadi gue pun nyerah dan berniat ngabarin kalian tapi Dafa tiba-tiba ngerebut hp gue dan main matiin gitu aja. Saat kita singgah di tempat peristirahatan, orangtua gue kasihan ngeliat gue yang gelisah akhirnya mereka nyuruh gue buat balik aja dan Dafa nganterin gue balik. Begitu sampai dirumah, gue langsung ambil kunci mobil ama barang-barang buat ker-kel terus kesini dan gue nggak tau sama sekali kalo Dafa ngikutin gue. Gue tau meski gue berusaha ngejelasin, semua tetap kedengaran seperti alasan aja toh nggak mengubah fakta gue lebih milih pergi ke puncak daripada ker-kel” jelas Dira panjang lebar yang membuat Bara dan Luna mengangguk mengerti.
“Gue ngerti ama situasi lo. Seperti orangtua yang nggak bisa menang dari anaknya, kita juga sebagai anak kadang nggak bisa menang dari orangtua kan?”kata Bara seraya tersenyum pada Dira.
“Thanks lo udah ngerti.Lu, sorry udah buat lo khawatir” kata Dira pada Luna
“Nggak papa kok, Ndi. Thanks lo udah mau cerita ama kita kejadian sebenarnya” kata Luna seraya tersenyum.
“Jadi gimana? Gue pribadi keberatan Dira out dari kelompok. Lo gimana Lun?” tanya Bara pada Luna.
“Gue juga nggak setuju” jawab Luna cepat.
“Kalo gitu, Dira tetap anggota kelompok A4” kata Bara seraya bertepuk tangan.
“Lo lupa kalo gue juga anggota kelompok?” tanya Aksa dengan nada suara yang membuat Bara meinding.
“K-kan.. udah jelas lo maunya si Dira out jadi ya udah gue voting aja biar adil. Dan hasilnya 2 vs 1” jawab Bara membela diri. Aksa hanya menarik nafas panjang sebelum pergi meninggalkan mereka. Dira pun segera menyusul Aksa dan Luna yang melihat hal tersebut hanya menatap punggung keduanya yang menghilang dari balik pintu dengan helaan nafas panjang.
“Sa, kalo lo emang nggak nyaman dan nggak suka gue ada di kelompok ini, bilang aja. Gue nggak mau suasana kelompok ini jadi canggung karena gue” kata Dira seraya menahan tangan Aksa. Melihat hal tersebut, Aksa pun menghempaskan tangan Dira dengan kasar yang membuat gadis cantik tersebut terkejut.
“Jangan main pegang orang sembarangan, lo bisa dikira murahan” kata Aksa tajam yang membuat Dira kesal mendengarnya.
“Lo sebenarnya ada masalah apa sih ama gue,ha? Gue cuma nggak mau suasana di kelompok ini canggung tapi lo malah ngatain gue murahan? Gue bener-bener nggak ngerti ama jalan pikir lo. Sebenarnya sejelek apa gue di mata lo sampai lo sekejam ini ama gue,ha?” hardik Dira kesal. Matanya kini berkaca-kaca saking kesalnya.
“Ada atau nggak adanya lo di kelompok ini, suasana kelompok bakal tetap canggung dan alasannya masih sama yaitu karena lo” kata Aksa dingin.
“Sebenarnya gue ada salah apa sih sama lo sampai lo bersikap sedingin ini? Kenapa lo nggak bisa bersikap ramah dan hangat ke gue seperti lo bersikap ke Kalu? Gue ama Kalu sama-sama baru kenal lo seminggu yang lalu tapi perlakuan lo beda banget. Kalo gue punya salah ke lo, kasih tau ke gue, sikap lo yang kayak gini cuma bikin gue jadi serba salah, tau nggak?” kata Dira tak sanggup lagi menahan air matanya. Melihat hal tersebut membuat Aksa membelalakkan mata terkejut. Dan Dira yang menyadari dirinya menangis didepan orang lain, segera menghapus air matanya.
“Gue balik!” katanya seraya berlari menuju pintu meninggalkan Aksa dengan keterkejutannya. Melihat hal itu, Luna pun segera menyusul Dira.
“Uwah… gue nggak tau bakal tiba saatnya lo buat cewek nangis” kata Bara tiba-tiba muncul yang membuat Aksa menatapnya tajam. “Bener kan yang gue bilang? Lo kan tipe yang nggak peduli ama apapun dan siapa pun tapi dengan alasan konyol lo ninggiin suara lo ke Dira. Gue kalo jadi Dira pun bakal bingung ama sikap lo”
Aksa hendak membalas ucapan Bara namun mengurungkannya saat melihat Luna datang dnegan wajah sedih. Bara pun mendekati gadis tersebut dan menepuk punggungnya.
“Gue antar lo balik ya. Udah malam” kata Bara. Luna hanya mengangguk seraya berjalan menuju teras belakang untuk mengambil barang-barangnya.
“Barang-barang Indi gimana?” tanya Luna pada Bara yang menyusul dibelakangnya.
“Simpan aja di sini. Ntar si Dira bingung nyarinya kalo kita bawa” jawab Bara. Luna pun mengangguk mengerti dan mengemas barang-barang miliknya.
“Udah?” tanya Bara.
“Iya, thanks lo udah mau anterin gue balik” jawab Luna dengan suara sendu.
Keduanya pun berjalan mendekati Aksa yang masih berdiri ditempat yang sama. Luna pun pamit pada Aksa kemudian berlalu begitu saja meninggalkannya bersama Bara.
“Barang-barang Dira lo yang beresin, gue antar Luna balik dulu” kata Bara seraya menepuk pundak Aksa lalu berlalu begitu saja.
Aksa hanya menatap kepergian mereka tanpa mengantar lalu ia pun kembali ke teras belakang untuk mengambil barang-barangnya. Namun kegiatannya berhenti saat melihat tas Dira. Ia menghela nafas panjang mengingat bagaimana gadis tersebut pergi seraya menangis.
“Harusnya kamu nggak bersikap kayak tadi ke Dira” tiba-tiba saja sang Ibu muncul yang tentu saja membuat Aksa terkejut.
“Mama bikin kaget aja” celetuk Aksa seraya membereskan barang-barang milik Dira.
“Dira pernah cerita kalau dia kesulitan memahami kamu. Tapi yang buat Mama kagum, dia masih tetap berusaha memahami kamu hanya saja kamu yang mendorong dia menjauh. Mama tidak melihat alasan mengapa kamu harus semarah itu ke dia dan Mama rasa dia cukup bertanggung jawab untuk tetap datang meskipun ia tahu, kamu dan yang lainnya akan marah karena dia terlambat. Meski kamu anak Mama, tapi Mama juga tidak mengerti dengan kamu. Apa Dira pernah berbuat salah ke kamu?” tanya Mama seraya duduk.
Hening.
“Nggak kok, Ma. Melihat semua orang ngebela dia, kayaknya kali ini emang Aksa yang salah” jawab Aksa setelah berfikir sejenak.
“Bukan membela tapi mengingatkan. Kalau kamu memang merasa bersalah pada Dira, minta maaf ke dia. Itu yang di sebut gentleman tapi apa rasa bersalah itu datang dari diri kamu sendiri atau karena orang lain yang menyudutkan kamu sehingga kamu merasa harus minta maaf?” tanya Mama lagi. Aksa menarik nafas panjang sebelum menjawab.
“Aksa merasa bersalah udah buat dia nangis,Ma” jawab Aksa jujur yang membuat sang Ibu tersenyum senang.
“Kalau gitu minta maaf ke dia, Nak. Meminta maaf tidak akan menjadikanmu seorang pecundang” kata Mama member nasehat.
“Gimana caranya minta maaf,Ma? Hp nya aja ada disini?” tanya Aksa seraya memperlihatkan hp Dira yang tertinggal.
“Apa kamu berencana meminta maaf via hp? Jika posisinya dibalik, bagaimana perasaan kamu jika Dira meminta maaf via hp setelah dia menyakiti perasaan kamu?”tanya Mama tak percaya.
“Terus aku harus minta maaf langsung ke dia gitu? Ma, pertama ini udah malam. Kedua, aku nggak tau rumah dia. Ke tiga, aku nggak punya akses untuk mencari tahu rumah pemilik yayasan sekolah aku” balas Aksa merasa terpojokkan.
“Aksa! Jika kamu benar-benar merasa bersalah, jangan mencari-cari alasan untuk menunda meminta maaf” tegas Mama.
Ting!
Tiba-tiba pop up notification muncul di hp Aksa.
Bara: Ini alamat rumah Dira, siapa tau aja lo butuh buat balikin barang-barangnya yang ketinggalan
Aksa melebarkan matanya melihat pesan tersebut. Mama pun bangkit dari duduknya dan mengelus punggung anak tunggalnya tersebut.
“Sekarang kamu udah nggak punya alasan untuk nggak pergi minta maaf kan? Lagian, belum larut juga kok. Isya aja belum” tanya Mama dengan senyum mengembang di wajahnya. Aksa hanya menghela nafas melihat hal tersebut. Ia menyadari bahwa Mama-nya lah yang menyuruh Bara untuk mencari alamat rumah Dira.
“Ya udah, aku pergi” jawab Aksa parah seraya mempercepat membereskan barang-barang Dira.
“Kalau nanti disana, Dira mukul kamu karena kesal, terima aja” kata Mama yang membuat Aksa terbelalak tak percaya.
“Ma, aku ini beneran anak Mama kan? Papa ama Mama aja nggak pernah mukul aku masa ngebiarin si Dora mukul aku? Yang benar aja lah,Ma” protes Aksa tak setuju.
“Siapa suruh bikin anak orang nangis. Berani berbuat berani bertanggung jawab dong!” kata Mama tak mau kalah.
“Kalo orang luar dengar, mereka bisa mikir Aksa ngehamilin anak orang. Udah deh, Aksa pergi dulu” kata Aksa pamit.
“Hati-hati di jalan. Semangat!” kata Mama menyemangati Aksa.
“Makasih, Ma” kata Aksa dalam hati.
...***...
sejauh ini blm ketemu 'inti ceritanya' nih.....
Kamu BISA!!!!
lucu...lucu...
Tak kira Bara itu pendiam,cool kyk kulkas gk berpintu...
ternyata Ancur juga . ..
salken Mbak...
Novelis baru hrs diberi dukungan & Semangat.....😉🤝💪