Indonesia
NovelToon NovelToon
Resep Cinta Chef Raka

Resep Cinta Chef Raka

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:13.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nirmala Pena

“Kita tidak bisa memaksakan kenyataan kalau pekerjaan kita membuat semua perasaan ini terhenti, Reina. Kau boleh ke London jika itu adalah keputusan ayahmu. Kau harus jadi putri dan pebisnis yang baik dan hebat di sana,” ujar Raka yang pada akhirnya memutuskan untuk membiarkan satu-satunya wanita yang dicintainya itu pergi.
Ada pertemuan kembali yang masih bisa diharapkan. Sebuah resep kolaborasi yang dalam episode kedua pertemuannya dengan Reina nanti, akan jadi formula baru dalam pekerjaan mereka. Raka yang sedari awal bertemu Reina tanpa sengaja, masih mungkin untuk mengulang komedi cinta mereka pada sebuah keputusan baru nantinya.
Komedi cinta yang diharapkan keduanya, sebagai suatu perulangan drama yang harus diperjuankan. Apakah Raka bisa mewujudkan perpisahan mudah itu menjadi pertemuan baru lagi?
Raka, seorang chef di restoran ternama di Madura menjalin cinta terlarang dengan Reina, anak dari seorang pebisnis muda yang kabur dari tempat ayahnya di London dan menjadi pelayan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirmala Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Hari yang berbeda saat ini bagi Reina, karena ia sedikit telah mengetahui kebenaran tentang Nafa. Ya, meski itu hanya sebatas dugaan. Ia masih memanfaatkan rasa penasaran dari Nafa.

Reina saat sore hari akan pulang kerja, menyempatkan diri melihat Raka. Ia memastikan apakah Raka akan mengajaknya pulang.

Seperti biasanya, Raka di dapur sedang berbincang dengan Tuan Taro mengenai rencana ke depan. Ia masih menyimpan sisa target yang belum tercapai. Namun, Reina dengan cemberut menganggap itu sebagai sebuah ketidakpedulian.

Reina kemudian memilih untuk menunggu di depan. Nafa yang juga belum pulang, melihat Reina sendiri menunggu di depan. Ia ingin mengganggu namun tiba-tiba Raka menelepon Reina. Reina mengangkat dengan semangat, padahal ia sebelumnya seakan ingin tertidur sambil duduk.

Nafa melihat itu dan menguping.

Terdengar dari suara speaker ponsel Reina, "Reina," kata Raka.

"I-Iya, Chef?"

"Kamu di mana kok ngilang?"

"Oh, aku duduk di luar Restoran, aku takut ganggu obrolan Chef sama Tuan Taro.

"Nanti aku antarin kamu ke kost, masa kamu jalan kaki."

"Iya, huum. Makasih ayang."

"Apa?"

"Eh, maksudnya Chef."

"Kamu mulai kumat, ya?"

"Maaf, Chef. Tadi habis telpon ama ayang saya. Jadinya reflek."

"Loh, emang kamu punya ayang? Hum, ya udah. Kamu tunggu saya sambil teleponan saja lagi."

Raka lalu mematikan ponselnya. Reina kembali manyun.

"Astaga mulutku, bisa-bisanya kumat lagi," kata Reina.

Nafa yang mendengar obrolan itu jadi ketus sendirian. Rasanya ia ingin segera menyelesaikan tugasnya sebagai mata-mata dan keluar dari sandiwara itu.

Sementara di dalam, Raka mengatakan pada Tuan Taro mengenai Reina. Nafa ternyata sudah berdiri di depan pintu dapur bagian dalam, menguping pembicaraan.

"Aku pikir bisa mendengarkan resep rahasianya, kenapa jadi bahas Reina?" Nafa jadi marah-marah sendiri tak jelas.

"Mending suruh masuk saja itu sih Reina,"kata Tuan Taro.

"Iya, sebentar."

Reina kembali terkejut karena telepon Raka.

"Iya, halo, ayang nelpon lagi. Kita pulang sekarang?" kata Reina kembali kumat.

"Astaga, Reina. Kamu kebiasaan terus, ya?"

"Aduh," Reina memukul mulutnya pelan dengan dua jari. "Maaf, Chef."

"Sudah lah."

"Ada apa ya?'

"Kamu ke sini dulu, daripada nunggu lama disitu. Biar kamu juga semakin mengerti tentang restoran kita."

"Oh, baik."

Reina yang kemudian masuk, dilihat oleh Nafa. Ia pun buru-buru kembali ke dapur sampingan. Reina masuk dan ia kembali menguping.

"Chef."

"Masuk, Rein," kata Tuan Taro.

Raka pun spontan seperti melihat lengan baju seseorang yang memang adalah Nafa. Ia jadi curiga namun memilih untuk menahannya lebih dulu, ia menunda untuk memeriksa. Memilih melanjutkan pembicaraan dengan Tuan Taro. Diam-diam, Raka berniat mengejutkan sosok yang dilihatnya saat waktunya tiba. Sementara Nafa yakin, kalau dirinya aman dalam menguping.

"Ren," tanya Tuan Taro.

"Iya."

"Kamu sudah dapat tempat tinggal? Gimana rasanya bekerja di sini."

Reina mengangguk, "Saya senang, Tuan. Soalnya ada Chef Raka... Eh maksudnya, ada beliau yang suka ajarin saya."

Tuan Taro tersenyum. Sementara Raka menepuk jidatnya sembari memiringkan badannya sedikit.

"Astaga, kenapa jadi bahas yang bukan-bukan sih mereka? Apa gunanya aku di sini terlalu lama?" kata Nafa menggerutu.

Saat ia berbalik wajah ke arah pintu, Raka sudah berdiri di sampingnya. Nafa jelas terkejut bukan main

"Chef..." kata Nafa mendesir gugup.

"Jadi seseorang yang aku lihat tadi kamu?" tanya Raka dengan nada sedikit tinggi.

"Maaf Chef, aku tadi..."

"Kamu kenapa tidak masuk saja kalau memang ada yang mau dibicarakan. Aku pikir yang lain sudah pulang termasuk kamu."

Reina dan Tuan Taro mendengar itu. Reina tersenyum sumringah karena tahu kalau Nafa kedapatan menguping. Ia sebenarnya tahu Nafa buru-buru bersembunyi ke dapur sebelah saat ia masuk tadi.

"Aku sebenarnya baru mau pamit pulang, Chef. Cuman karena melihat di dalam terlalu ramai. Aku jadi ragu untuk masuk," jawab Nafa gugup.

"Ya sudah kalau mau pulang. Aku pikir ada yang mau kamu bicarakan."

"Ya, Chef. Aku pamit dulu, permisi."

"Hum, hati-hati."

Nafa beranjak pergi namun ia memilih untuk tidak berhenti sampai situ. Saat Raka masuk, ia dengan liciknya kembali menguping dan bergerak diam-diam.

'Kalau memang dia ingin pamit pulang, kenapa dia sudah ada disitu sekilas saat Reina masuk? Masa Reina tidak tahu ada Nafa yang belum pulang?' batin Raka dalam hati. Ia pun memilih untuk melihat keluar sekali lagi dan betapa sialnya Nafa dengan keluarnya Raka.

Tanpa disangka Raka membuka pintu ruangannya dan Nafa langsung terkejut karena dirinya kepergok menguping pembicaraan Raka dan yang lainnya.

"Kamu sedang apa disini? Bukankah pekerjaanmu di depan? Tadi katanya mau pamit dulu. Ada pekerjaan ya belum selesai?" tanya Raka yang berpura-pura tidak tahu kalau sedari tadi sudah melihat Nafa menguping.

"Sa-saya mencari Reina… Apa Chef Raka tahu Reina dimana?" kata Nafa dengan nada terbata-bata karena takut jika Chef Raka dan Tuan Taro curiga padanya.

"Ada perlu apa kamu mencari Reina? Mending kamu lanjut saja pekerjaanmu kalau ada yang masih belum kelar, karena Reina sedang bersama dengan saya," kata Raka dengan tatapan dingin.

"Siapa yang mencari saya Chef?" sahut Reina yang penasaran Raka sedang berbicara dengan siapa. "Loh, Nafa. Ngapain kamu ada di sini? Wah aku yakin kamu sedang kepo dengan kami kan?" Sambung Reina yang asal nyeplos.

"Ti-tidak…Aku tadinya mau meminta bantuanmu karena di depan sedang ramai," kata Nafa sedikit kesal dengan ucapan Reina.

"Iya kah? Kalau begitu ayo kita ke depan. Chef Raka sayang, saya mau membantu Nafa dulu," kata Reina mengerlingkan matanya.

Raka menganga melihat tingkah aneh dari Reina sedangkan Nafa mengepalkan tangannya. Selain cemburu Nafa juga tidak suka jika Raka dekat-dekat dengan Reina.

"Gadis itu benar-benar somplak sekali… dulu mama nya ngidam apa? Sampai punya anak modelan begitu," Raka menggeleng kepalanya sambil tersenyum simpul.

Sedangkan di sisi lain Reina dan Nafa sudah berada di depan akan tetapi, restoran tidak terlalu ramai. Dan hal itu membuat Reina tahu, kalau memang tadi Nafa benar-benar kepo dengan apa yang sedang Raka dan Tuan Taro bicarakan.

"Nafa, mending kamu jujur saja. Tadi itu kamu cuma alasan saja bukan? Nyatanya pelanggannya tidak sebanyak seperti yang kamu katakan tadi? Ini kan sudah waktunya tutup juga," tanya Reina menyipitkan matanya curiga.

"Tadi memang rame, Reina. Kamu jangan suudzon sama aku!" kata Nafa.

"Em… Baiklah. Kalau begitu aku mau ke tempat kerjaku dulu, karena sudah tidak ada lagi yang harus aku kerjakan kan?" tanya Reina lagi.

"Iya…Maaf aku sudah mengganggumu."

"Memang hidupmu itu selalu jadi pengganggu," ketus Reina.

Reina pun pergi meninggalkan Nafa sendiri dan dia kembali untuk bekerja. Sedangkan Nafa, dia berusaha agar emosinya tidak meledak-ledak karena baru saja dibuat kesal sama Reina.

"Aku harus mengatur rencana agar aku bisa mendapatkan resep itu. Dan kali ini aku tidak boleh gagal…" kata Nafa pelan.

***

Sore harinya Reina membereskan sisa pekerjaan yang masih ada dan dia sedang bersiap-siap untuk pulang. Namun tadi Raka meminta Reina untuk menunggunya di tempat parkir. Setelah selesai, Reina bergegas menuju ke tempat parkir untuk menunggu Raka.

Sesampainya di tempat parkir, Reina duduk di atas motor milik Raka. Akan tetapi, ketika sedang menunggu Raka tidak sengaja Reina melihat anak buah Ayahnya. Dan Reina bergegas bersembunyi di samping motor milik Raka.

"Astaga, mampus aku! Jangan sampai pria plontos itu melihat aku. Bisa-bisa nanti aku dibawa paksa sama mereka," gumam Reina sembari mengintip keberadaan para pria plontos itu.

'Ayah, kenapa dia bisa tahu kalau aku ada di tempat ini?' batin Reina. 'Atau hanya kebetulan saja mereka ada di situ? Tidak mungkin ayah sudah pulang dari London begitu cepat.'

1
Rahma Inayah
si raka bkn dr td suruh org mu buntuti reina stlh rena hilag br bertindak telme..sdh tau reina gk hafal jln knp km lepas bgtu sja skrg hilg br kelabakan ..moga aja reina selamat gk di apa2in oleh penjaht suruan nafa.
Rahma Inayah
mampir thor
Bunga Syakila
menyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!