seorang anak perempuan yang lahir dari seorang germo.
anak dibesarkan dalam lingkungan lokalisasi tanpa didikan agama.
takut mengenal cinta karena dia beranggapan lelaki semua hanya membutuhkan wanita sekesar pemuas nafsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yati suryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Sedarah
Malam ini aku teringat akan testpack yang pernah tersimpan kemarin. Bergegas aku menuju kamar mandi untuk mencari di mana benda ajaib itu berada.
Namun, aku tidak berhasil menemukan.
Ya, sudahlah besok bisa beli lagi. Memutuskan kembali ke kamar. Segera merebahkan badan di samping suami yang sudah tertidur.
Saat masih tinggal bersama Mama, setiap hari aku diperlihatkan tontonan dewasa secara live, bersyukur juga umur dua puluh satu tahun sudah menikah. Semua hasrat liarku sebagai perempuan normal bisa kulampiaskan kepada pasangan halal.
Tidak jarang untuk masalah ranjang, aku yang memulainya duluan dan setiap sudut ruangan di rumah ini memiliki kenangan.
***
Kesibukan kami pagi ini adalah menyiapkan pesanan lima ratus snack box, membuat aku tidak bisa keluar rumah sekedar membeli testpeck baru, besok sajalah pikirku, yang terpenting hari ini menyelesaikan pesanan dengan tepat waktu.
Dua belas jam kami mengerjakan tiga jenis kue, akhirnya selesai sesuai target. Hanya Aa dan tiga orang karyawannya yang berangkat mengantar.
Aa menyuruh untuk menutup toko, agar aku bisa istirahat. Sekedar meluruskan pinggang yang rasanya mau lepas.
Merebahkan badan tipis ini di atas karpet yang terbentang di depan TV, sambil meng-upload cantik orderan kami tadi. Mana tahu ada lagi yang tertarik memesan kue di toko kami. Melihat ada yang menjual manisan mangga muda, tiba-tiba saja aku menginginkannya. Tanpa pikir panjang, langsung memesannya.
"Assalamualaikum." Terdengar seperti suara Aa Yusuf memanggil sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam," jawabku seraya berlari ke arah pintu.
Aa Yusuf sempat heran melihat mulut ini makan mangga muda malam hari begini, tetapi dia hanya mengingatkan untuk makan nasi agar tidak sakit perut.
Memang benar ucapan Aa, mulai dari pukul sembilan malam sampai pukul sebelas malam, aku tidak berhenti muntah. Rasanya tidak sanggup meninggalkan kamar mandi. Semua yang ada di dalam perut keluar. Badan ini jadi lemas, untuk kembali ke kamar saja, perlu digendong.
***
Hari yang dijanjikan mama telah tiba, kondisiku pun sudah membaik dibandingkan tadi malam. Karena mengetahui Mama akan ke rumah bersama Papa. Ibu dan Salma datang juga ke rumah kami. sebentar lagi terasa lengkap sudah kebahagiaanku.
Kedatangan Mama langsung disambut oleh Ibu. Ya, ini juga kali pertama Ibu akan bertemu besannya. Senyum manis terpancar dari dua wanita ini. Namun, setalah seorang lelaki keluar dari mobil, yang kupikir pasti itu Papa, seketika wajah Ibu berubah.
"Assalamualaikum," ucap Mama saat masuk rumah.
"Waalaikumsalam." Aku berlari ke pelukan Mama.
"Tambah cantik aja anak mama dengan hijabnya." Mama merapikan ujung jilbabku.
"Alhamdulillah, Ma, masih belajar," ucapku malu-malu.
"Sekarang mama menepati janji, mama membawa Papa. Semoga dengan ini kamu memaafkan semua kesalahan Mama." Mama kembali memeluk tubuh ini.
Baru saat ini aku merasakan pelukan seorang Mama. Akan tetapi, kenapa Aa dan Ibu tidak tampak gembira. Ibu terduduk di sofa sambil memegang dadanya, Aa Yusuf terduduk di lantai bersandar di tembok.
Mereka tidak bersuara, hanya wajahnya seolah menunjukkan sesuatu yang buruk sedang terjadi. Kenapa wajah bahagia itu tiba-tiba hilang? Aku mendekati Aa yang masih terdiam dan menatapku sayu.
"Aa, ada apa?" Aku memegang tangannya yang terasa dingin seperti es.
Kini aku berada di situasi yang membingungkan. Suasana yang tadinya gembira berubah menjadi tegang.
"Apa semua ini benar, Wan?" Ibu membuka suara yang terdengar sangat berat.
"Maaf, saya juga tidak pernah menyangka akan seperti ini," jawab lelaki yang disebut Mama sebagai papaku itu.
"Jadi wanita ini yang membuat kamu meninggalkan kami?"
Maksudnya apa ini, kenapa Ibu mengenal Papa serta menunjuk-nunjuk Mama?
"Aa, ada apa ini?" tanyaku kepada Aa Yusuf yang masih terdiam.
Aa tetap menatapku sayu dengan matanya yang mulai berkaca-kaca, mengapa hati ini terasa sakit saat melihat mata yang selama ini memberiku kepercayaan dan semangat, sekarang seperti memancarkan luka.
"Kenapa ini, Ma?" Aku bertanya dalam kebingungan.
"Kalau begini ceritanya, bisa jadi kamu dan Yusuf saudara kandung," ucap Mama seolah tanpa beban.
Seperti tersengat aliran listrik, tubuh ini menegang mendengar ucapan sederhana, tetapi menghancurkan semua kebahagiaanku.
"Aa, katakan ini semua bohong! Aa Yusuf, jawab!" Suaraku meninggi bercampur isak tangis. Aku menggoyangkan tubuh Aa Yusuf agar dia merespons.
Aku ingin mendengar bahwa yang diucapkan Mama itu bohong, Mama hanya ingin memisahkan kita.
"Ra, ayah kamu itu, ayah aa juga. Dia yang meninggalkan aa sejak umur tujuh tahun."
Tangis pecah, tidak pernah membayangkan sebelumnya akan menikah dengan lelaki yang merupakan saudara seayah.
Orang yang aku cintai itu abang kandungku, walau kami berbeda Ibu. Tubuh ini jatuh di pelukan Mama, seakan tidak memiliki tulang untuk menyanggahnya.
"Tolong jelaskan, Wan!" bentak Ibu.
Dia mulai menjelaskan bahwa saat itu, dia berselingkuh dengan Mama, setiap bertemu mereka selalu melakukan hubungan intim, hingga suatu saat Mama hamil. Lelaki bajingan ini tidak mau bertanggung jawab.
Aku berlari ke kamar, menangis sejadi-jadinya. Tidak bisa menerima kenyataan, bahwa sudah menikah dan berhubungan badan dengan abangku sendiri. Bagaimana harus menebus dosa seberat ini.
Aku berteriak, membanting apa saja yang ada di dekatku. Tiba-tiba Aa memeluk dari belakang, berusaha menenangkan.
"Ra–Ratu, tenang! Tolong tenang! Jangan seperti ini!”
"Aa, semua itu bohong, ‘kan? Kita bukan kakak adik, ‘kan? Aa tolong bilang ini bohong, Aa tolong!" pintaku mengiba di hadapan suami.
Tubuh melemah, kemudian terjatuh ke lantai, tetapi aku bukan pingsan. Aku masih sadar saat Aa memapah ke tempat tidur. Setelah memberi minum yang dibawakan Salma, aku sedikit lebih tenang.
"Ayuk, Ra kita pulang!" Suara Mama itu sungguh terdengar menyakitkan bagiku.
"Maaf, Ma, biarlah hari ini Ratu istirahat di sini dulu! Dia masih kurang enak badan." Aa meminta izin kepada Mama.
"Ceraikan dia Yusuf!" Suara Ibu terdengar lantang, menambah hancurnya hati ini.
"Bu ...."
"Ada apa lagi, Yusuf? Dia itu adik kamu, ceraikan dia sekarang juga! Jatuhkan talak kepada dia! Sudah cukup dosa yang kalian bikin, jangan menambah dosa!"
Walaupun aku mengiba, berteriak ini bukan salah kami, ini salah orang tua kami, itu tidak berguna. Ini bukan masalah pelakor yang seandainya dengan mengiba aku bisa mengubah keputusan suami, ini masalah nikah sedarah, dosa besar dalam agama.
Hancur semuanya, kebahagiaan ini hanya dua tahun, ternyata beling tetaplah beling. Tidak bisa berubah menjadi berlian.
"Yusuf akan menceraikan Ratu, jika semua sudah jelas kebenarannya." Mereka meninggalkanku sendiri di kamar.
Padahal tadi pagi Aku dan suami masih bermanja berdua di kamar ini, sekarang statusku sudah tidak jelas lagi. Tubuh ini masih meringkuk di bawah selimut, sarung bantal dibasahi air mata. Pintu kamar diketuk, ternyata Salma membawa makan malam untukku.
"Kata aa, Teteh belum makan dari tadi. Makan dulu, Teh!"
"Aa udah makan, Sal?" tanyaku dengan sisa tangis
"Sudah, Teh." Salma pun keluar kamar.
Bagaimana aku bisa makan, melihat nasi saja sudah ingin muntah. Perut ini kembali mual, kenapa sudah dua malam ini, setiap pukul sembilan, terasa ingin memuntahkan semuanya.
"Masih nggak enak badannya, Ra?" suara Aa Yusuf mengagetkanku, ternyata dia sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
Aku hanya menganggung, kini semua terasa canggung, Aa tidak lagi menggendongku, dia hanya memapah sampai ke kamar.
"Aa, temani Ratu tidur, malam ini aja!" pintaku.
"Sudah tidak boleh, Ra, Maaf, ya." Aa tertunduk, tidak lagi mau menatapku.
***
Aku keluar kamar untuk mengambil minum, ternyata Aa sudah tertidur di sofa. Niat mengambil minum aku tunda. Kembali ke kamar mengambil selimut, untuk menyelimutinya, mungkin dia merasa kedinginan.
Aku menyelimuti dengan rasa bercampur aduk, lalu mencium kening Aa Yusuf, biarlah ini menjadi ciuman terakhir. Tidak lagi peduli bahwa aku ini adiknya.
Aku juga ingin dipeluknya untuk terakhir kali. Tiba-tiba lampu depan menyala, ternyata Ibu keluar dari kamar.
"Dia itu abang kamu, jangan bersikap bahwa dia suami kamu lagi!"
"Maaf, Bu." Aku pun langsung ke dapur mengambil air minum dan kembali ke kamar.
Besok aku akan diantar ke rumah Mama.
Semua cerita indah sudah usai. Hanya berharap semua ini salah dan mencoba menata hati untuk melupakan Aa Yusuf jika harapanku sia-sia.