Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.
Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.
Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.
Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Kamar tidur Helga terasa dingin oleh hembusan kipas angin gantung yang berputar pelan di langit-langit.
Seragam sekolahnya yang basah kuyup sudah berganti dengan kaus hitam polos yang agak longgar dan celana pendek kain.
Di atas kasur busa tanpa sprei yang rapi, ponselnya melingkar di dekat bantal.
Bzzzt... Bzzzt...
Helga yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil melirik layar ponsel yang menyala.
Sebuah pesan dari Andreas muncul di layar:
'Nolam sekarang, Ga! Varen udah bawa mikrofon bluetooth. Jangan alesan elo, mumpung hujan udah reda!'
Helga mengusap rambutnya sekali lagi, lalu melempar handuk ke sudut kasur.
Ia meraih jaket jeans belel yang tergantung di balik pintu—yang kini sudah agak kering—lalu menyampirkannya ke bahu.
Helga melangkah keluar dari kamarnya menuju pintu depan.
Saat melewati lorong tengah, langkahnya melambat dua detik ketika melintasi area dapur.
Lampu dapur kuning hemat energi menyala terang, memantulkan bayangan kompor gas dua tungku yang bersih dan rapi.
Tudung saji plastik merah terpasang miring di atas meja makan kayu kecil, memperlihatkan separuh piring yang sudah tertutup kain lap.
Tidak ada suara denting wajan atau aroma bumbu tumis yang biasa memenuhi ruangan itu setiap pukul enam sore.
Helga memiringkan kepalanya sejenak, memandangi panci stainless steel di dekat tempat cuci piring.
Helga memalingkan wajahnya, menyambar kunci motor sport di atas rak sepatu, lalu membuka pintu depan.
Klek.
Ia melangkah keluar, menutup pintu rapat-rapat, lalu membelah sisa-sisa gerimis malam menuju markas mereka—sebuah kontrakan kecil di ujung gang dekat rel kereta yang biasa mereka sebut 'Nolam'.
Tretek-tek-tek!
Suara musik dangdut koplo berdentum nyaring dari speaker portable hitam di sudut ruangan Nolam.
Udara di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter itu beraroma asap rokok, minyak kayu putih, dan sisa kuah mie instan goreng.
Varen berdiri di atas karpet plastik yang terkelupas di sudut, memegang mikrofon bluetooth warna merah muda yang lampu LED-nya berkedip-kedip liar.
"Cek, cek! Satu, dua, tiga... Ya halo selamat malam warga Nolam!" teriak Varen dengan nada pembawa acara dangdut Pantura.
Andreas duduk bersandar di tembok semen, kakinya selonjoran di atas meja kayu rendah yang penuh puntung rokok dan gelas plastik bekas kopi.
Renan duduk di sampingnya, sibuk memutar-mutar korek api gas warna hijau di jarinya.
Brummm... Cklek.
Pintu papan Nolam didorong dari luar.
Helga masuk, melepas jaket jeansnya dan melemparnya begitu saja ke atas tumpukan kardus di pojok ruangan.
"Panjang umur lu, Ga!" seru Andreas sambil melempar bungkus kacang atom yang tinggal separuh ke arah Helga.
Helga menangkap bungkus kacang itu dengan satu tangan, lalu duduk bersila di karpet dekat Renan.
"Bising banget lu pada."
"Bising tapi lu datang juga," timpal Renan sambil tersenyum tipis, menyodorkan gelas plastik berisi teh manis dingin yang esnya sudah mencair sepenuhnya.
Helga menerima gelas itu, meminumnya satu tegukan besar.
"Gua bosen di rumah."
Varen mematikan tombol nada tinggi di mikrofonnya, membuat suara feedback berdenging nyaring—Ngiiiiing!—yang membuat Andreas menutup telinganya.
"Woy, Alzio! Kecilin napa! Telinga gua bisa bolong!" omel Andreas sambil menendang paha Varen pelan.
"Sensitif amat lu kayak cewek lagi dapet," balas Varen santai, tapi ia menurunkan volume speaker-nya.
Ia lalu melangkah mendekati Helga, menunjuk wajah Helga pakai ujung mikrofon.
"Eh, Ga. Gua denger rumor dari anak-anak tadi sore."
Helga memiringkan kepala, menatap Varen datar.
"Rumor apaan?"
"Kata anak-anak, ada cowok IPS yang bonceng anak IPA paling galak se-SMAN 1 pas hujan deras," Varen mengedipkan matanya usil, memajukan wajahnya.
"Mana mampir makan bakso ayam lagi di tepi jalan. Lu kenal nggak sama cowok itu?"
Renan menaikkan alisnya, sementara Andreas langsung menghentikan gerak jemarinya yang sedang mengupas kacang.
Helga meraih satu kacang atom dari bungkusnya, melemparnya ke dalam mulut, lalu mengunyahnya santai.
"Gua yang anter Regina. Terus kenapa?"
"Gokil!" Andreas mendadak bangkit duduk tegak, menepuk meja kayu kencang.
Prak!
"Serius lu, Ga?! Regina Anatasya? Yang kalau dipanggil Andreas langsung buang muka sepuluh derajat ke kiri?"
"Dia cuma ngambil tempat pensilnya yang ketinggalan," jawab Helga pendek.
"Tapi lu bonceng sampai rumahnya, kan?" kejar Varen, duduk selonjoran tepat di depan Helga.
"Gua tau Regina tuh. Anak IPA 1, pinter, tegas, anti keributan. Muka datar kayak papan tulis. Tapi..." Varen menggantung kalimatnya, mengetuk-etuk kepala mikrofon ke dagunya.
Renan mendadak menatap Helga lurus.
"Lu gak merasa dia mirip seseorang, Ga?"
Ruangan itu mendadak hening sejenak.
Dentum lagu koplo di speaker portabel terasa tenggelam oleh suara deru kereta api yang melintas di rel belakang kontrakan.
Helga tidak menjawab. Ia meraih bungkus kacang atomnya lagi, menatap butiran putih di dalam bungkusnya tanpa ekspresi.
"Maksud lu..." Andreas melirik Renan, lalu ganti menatap Helga.
"Si itu?"
"Gaya bicaranya," sahut Renan pelan.
Ia menyandarkan bahunya ke tembok.
"Regina kalau ngomong ringkas, datar, nggak suka diatur-atur. Cara dia nolak orang juga persis banget."
Helga memutar gelas teh manisnya di atas karpet plastik, membuat lingkaran air di permukaan.
"Dia beda," kata Helga singkat, suaranya dalam dan tidak menggunakan nada tinggi.
"Bedanya di mana?" tanya Varen, memajukan badannya penasaran.
"Sama-sama bikin cowok kicep kalau diajak ngobrol."
"Regina nggak pernah melotot kalau marah," jawab Helga.Ia meletakkan gelas plastiknya kembali. "Dia cuma diem."
Andreas menatap Helga lama, lalu tiba-tiba meraih mikrofon dari tangan Varen dan menyalakan kembali lagu karaoke berirama pop-rock lawas dengan volume penuh.
"Udah, udah! Nggak usah bahas anak IPA! Malam ini jadwal kita hancurin nada tinggi!" teriak Andreas, berusaha mencairkan suasana. Ia menyodorkan mikrofon ke arah Helga.
"Nih, Ga! Lu nyanyi lagu reff-nya!"
Helga menerima mikrofon murah warna merah muda itu.
Lampu LED-nya berkedip-kedip memantul di mata Helga. Ia menarik nafas pendek, lalu mengarahkan mikrofon ke mulutnya.
Ssssh...
"Suara lu sumbang banget, An," gumam Helga datar, disambut gelak tawa Varen yang menepuk-nepuk lantai karpet.
Pukul tujuh malam lewat sepuluh menit, ponsel Helga yang tergeletak di samping jaket jeansnya kembali bergetar.
Bzzzt.
Helga melirik layarnya sambil tetap memegang mikrofon.
Sebuah notifikasi pesan singkat dari nomor baru yang tidak disimpan—nomor yang persis sama dengan nomor Regina—muncul di layar kunci:
'Jas hujan kamu masih ada di tempat jemuran teras rumah saya. Besok pagi saya antar ke kelas kamu.'