Indonesia
NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.

Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANDIWARA MESRA DAN HATI YANG TERBAKAR

Suasana di dalam ruang kerja itu mendadak menggenting usai bisikanku menggantung di udara.

Raymond Perkasa pria yang biasanya tak tersentuh menatapku dalam keheningan yang panjang.

Cangkir kopi di tangannya diletakkan kembali ke atas meja dengan ketukan halus.

Ada kilat misterius di balik manik mata hazel-nya yang dingin, seolah ia sedang menimbang seberapa jauh keberanian gadis berusia 20 tahun di hadapannya ini akan melangkah.

Namun, sebelum Raymond sempat menyuarakan tanggapannya, suara derap langkah kaki berhak tinggi yang tergesa-gesa terdengar menghentak dari arah koridor luar.

TAP! TAP! TAP!

Pintu ruang kerja yang sedikit terbuka itu mendadak terdorong lebar.

Ibu berdiri di sana dengan gaun tidur sutra berwarna merah muda yang berkilau, memegang sebuah botol pelembap malam di tangannya.

Wajahnya yang tadinya mengantuk seketika menegang saat mendapati aku sedang duduk di tepi meja kerja suaminya dengan gaun tipis yang membingkai ketat lekuk tubuhku.

"Clarissa?!" suara Ibu melengking penuh kekagetan dan kecurigaan.

Matanya menyipit tajam menatapku, lalu berganti menatap Raymond yang masih duduk tenang di kursinya.

"Kamu... sedang apa di kamar suamiku jam segini?!"

Aku tidak menunjukkan riak kepanikan sedikit pun.

Dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang, aku menegakkan tubuhku, merapikan gaun abu-abu tipisku, lalu berdiri tegak.

"Aku cuma mengantarkan kopi untuk Raymond, Bu.

Bi Ani sudah tidur," jawabku santai, nada suaraku terdengar begitu polos tanpa dosa.

Ibu melangkah masuk dengan cepat, matanya meneliti cangkir kopi di atas meja dan penampilanku dari atas ke bawah.

"Mengantar kopi?

Kenapa harus kamu?!

Dan kenapa baju tidurmu seperti ini di depan ayah tirimu?!"

"Siska, cukup."

Suara bass Raymond yang berat dan dingin memotong tuduhan Ibu seketika.

Raymond berdiri dari kursi kulitnya, membenarkan posisi kemeja hitamnya yang tergulung di lengan.

Aura kepemimpinannya yang dominan seketika mengintimidasi seluruh ruangan, membuat rasa panik Ibu mendadak teredam.

"Clarissa hanya berbaik hati menyeduhkan kopi karena melihat lampu ruang kerjaku masih menyala," lanjut Raymond datar, menatap Ibu dengan pandangan tanpa ekspresi.

"Jangan berlebihan."

Ibu menarik napas panjang, mencoba meredakan amarah dan rasa cemburunya.

Ia menyunggingkan senyuman manja yang dibuat-buat, lalu melangkah cepat menghampiri Raymond.

Tanpa ragu, Ibu melingkarkan kedua tangannya di pinggang tegap Raymond, menyandarkan kepalanya yang bersanggul rapi ke dada bidang pria yang 13 tahun lebih muda darinya itu.

"Maafkan aku, Sayang..." bisik Ibu dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat lembut dan mendayu-dayu.

Tangannya yang dipenuhi cincin berlian meraba dada kemeja Raymond dengan mesra.

"Aku cuma kaget melihat anak perempuanku ada di dalam kamarmu malam-malam begini.

Aku kan cuma cemas... aku tidak mau ada orang lain yang mengganggu waktu istirahat suami ketampananku ini."

Raymond tidak mendorong Ibu menjauh.

Pria 35 tahun itu merangkulkan satu tangannya di pinggang Ibu, menarik tubuh wanita itu mendekat secara posesif.

Ia menundukkan kepalanya sedikit, mendaratkan sebuah kecupan lembut namun terasa begitu intens di pelipis Ibu.

"Tidak ada yang mengganggu, Siska," ucap Raymond halus, suaranya terdengar begitu romantis—sebuah pemandangan hangat yang seketika menghantam dadaku bagaikan cambukan api.

"Aku justru menunggumu bangun.

Kenapa tidur cepat sekali malam ini, hm?"

Ibu mendongak, matanya berbinar-binar penuh dengan keraguan yang meleleh.

Wajah cantiknya memerah merona mendapat perlakuan manis dan tatapan lembut dari taipan tambang emas di hadapannya.

"Aku tadi agak pusing, Sayang..." jawab Ibu penuh kemanjaan, jemarinya membelai rahang tegas Raymond yang berbayang brewok tipis.

"Tapi sekarang rasa pusingku hilang setelah berada di pelukanmu.

Kamu hangat sekali..."

Raymond menyunggingkan senyuman tipis yang sangat menawan—senyuman langka yang sangat jarang ia perlihatkan.

Ia mengecup bibir Ibu dengan sangat lembut di depan mataku sendiri.

Sebuah ciuman mesra yang memperlihatkan betapa ia memperlakukan Ibu sebagai wanita yang dimanjakan di dalam mansion megah ini.

"Kalau begitu, ayo kembali ke kamar utama," bisik Raymond di dekat telinga Ibu, suaranya parau dan dalam.

"Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku malam ini khusus untukmu."

"Oh, Raymond..." Ibu terkekeh manja, matanya melirik ke arahku dengan tatapan penuh kemenangan dan kebanggaan mutlak.

Ia merasa telah membuktikan bahwa pria paling berkuasa di ruangan ini adalah milik dirinya sepenuhnya.

Aku berdiri membeku di sudut ruangan.

Menyaksikan adegan romantis dan kemesraan di antara mereka berdua membuat seluruh darah di dalam tubuhku mendidih hebat.

Hati nuraniku berteriak histeris.

Bayangan almarhum Ayah yang berjuang sendirian dengan kursi roda di tepi jalan raya yang berdebu kembali terbayang jelas.

Ayah yang sakit parah, sementara Ibu kini tertawa manja dan menikmati kecupan manis dari pria tampan kaya raya ini.

Rasa cemburu, benci, dan dendam membakar dadaku hingga terasa amat sesak.

Kepalan tanganku di samping tubuh begitu erat hingga kuku-kukuku menusuk dalam ke telapak tangan.

Sebelum melangkah keluar dari ruang kerja sambil merangkul mesra pinggang Ibu, Raymond sempat menghentikan langkahnya sejenak.

Pria itu memutar kepalanya sedikit, menatapku dari balik bahunya.

Di balik pelukan mesranya pada Ibu, mata hazel milik Raymond menatapku dengan kilatan yang sangat berbeda.

Tidak ada lagi kehangatan romantis yang tadi diperlihatkannya pada Ibu yang ada hanyalah tatapan dingin, dalam, dan sarat akan provokasi tersembunyi yang seolah berkata: 'Lihat siapa yang memegang kendali di sini, Clarissa.'

"Selamat malam, Clarissa.

Kembalilah ke kamarmu," ujar Raymond singkat sebelum akhirnya menutup pintu ruang kerja dan berlalu pergi bersama Ibu menuju kamar utama mereka.

Pintu kayu jati itu tertutup rapat dengan dentum halus yang bergema panjang.

Aku berdiri sendirian di tengah ruang kerja beraroma kayu cendana dan kopi yang mulai dingin.

Napas terengah-engah menahan badai emosi yang membakar seluruh isi dadaku.

Kemesraan yang baru saja kusaksikan bukanlah kekalahan bagiku, melainkan bensin menyala yang menyiram kobaran api dendamku menjadi sepuluh kali lipat lebih dahsyat.

Aku menatap cangkir kopi bekas bibir Raymond di atas meja, lalu menyunggingkan senyuman sangat dingin yang beracun.

"Kecipilah kebahagiaanmu selagi bisa, Bu..." bisikku lirik dalam kegelapan ruangan, air mata amarah menetes perlahan melintasi pipiku yang mulus.

"Karena makin tinggi Ibu merasa dicintai pria itu, makin hancur rasa sakit yang akan Ibu rasakan saat aku merebutnya nanti."

1
Nda
ditunggu double upnya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!