Indonesia
NovelToon NovelToon
Luka Luna

Luka Luna

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Angst / Pihak Ketiga / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Apriria

Menikah dengan pria yang dicintai, tak lantas membuat hidup Luna bahagia. Nyatanya, ia harus menelan pil pahit kehidupan setelah menikah dengan Arfan.

Semua disebabkan oleh toxic-nya sikap sang ibu mertua. Bukan hanya sok kuasa terhadap sang putra, ia juga selalu menyiksa batin Luna dengan segala tingkah absurdnya.

Akankah Luna kuat bertahan seatap dengan mertua yang begitu rupa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Apriria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dikatai Babu di Depan Tamu

Entah sudah berapa lama Luna mendekam di dalam kamarnya. Ia berjingkat ketika ada seruan Bu Tiwi dari arah ruang depan.

“Luna! Di mana kamu? Cepat ke sini!”

Luna tak segera beranjak karena ia jelas belum bisa keluar dengan kondisi serupa itu.

Tangisnya masih berleleran di pipi dan bahkan dengan diseka tissue sekalipun, matanya yang bengkak dan memerah serta wajah sembab akan memperlihatkan bahwa ia baru saja menangis. Maka ia tetap berdiam di dalam kamar sambil mendengarkan seruan kembali sang ibu mertua.

Mungkin karena tak ada sahutan, Bu Tiwi akhirnya mencari Luna ke dapur dan tak

menemukannya. Ia lantas ke kamar menantunya itu dan betapa terkejutnya kala wanita yang sedang berdandan cukup glamor hari itu melihat Luna sedang mendekam duduk di lantai kamar tidurnya. Jelas sekali bekas air mata dari wajah sang menantu.

“Kenapa kamu? Menangis di saat genting begini, ha? Ada apa?” hardik Bu Tiwi yang bingung tak menyadari bahwa ia telah membuat istri Arfan itu menangis seseunggukan barusan.

Luna tak menjawab. Percuma, tak akan pernah ada kata maaf yang keluar dari bibir wanita

tua itu, pikir Luna skeptis. Ia sudah lama berhenti berharap bahwa mertuanyaakan bisa bersikap sebaik sikapnya terhadap orang lain. Entah kenapa kalau kepada Luna, sikap Bu Tiwi begitu jahat sekali, padahal menantunya sendiri.

“Luna! Kamu bisu apa budeg, sih! Sana ke depan! Ada gelas pecah tuh! Nanti kalau ada yang

terluka kena beling, apa kamu mau tanggung jawab?” Kembali Bu Tiwi menghardik

Luna dengan begitu teganya.

“Nggak mau, Bu. Luna malu,” jawab Luna terus terang. Ia tak mau ke luar dengan kondisi wajah yang serupa itu. Ia bisa jadi pusat perhatian nanti di sana, pikirnya takut.

“Malu kenapa? Kayak punya malu aja kamu! Justru yang malu itu aku karena punya menantu

kayak kamu gitu. Sudah tahu ada banyak tamu penting kok kamu nggak ganti baju yang agak pantas lah dikit. Berdandan sedikit! Bukannya kayak babu yang nggak keurus gitu! Arfan pasti akan malu banget kalau sampai ada yang tahu kamu itu istrinya, bukannya babu di rumah ini!” sentak Bu Tiwi kemudian menyerah tak mau

membujuk Luna lagi.

Terpaksa ia yang mengambil sapu dan pengki untuk membersihkan beling gelas yang pecah tersenggol oleh seorang tamunya tadi.

“Loh, pelayannya tadi ke mana, Bu? Kok Ibu sendiri yang bersihin, sih?” tanya seorang

tamu.

“Nggak tahu! Minggat kayaknya! Dipanggilin nggak muncul-muncul!” keluh Bu Tiwi berbohong. Ia menyelesaikan pekerjaan itu sambil mendengkus kesal dan mengumpati Luna dalam hati.

Saat selesai menyantap makanan, mereka meninggalkan ruang tamu yang mejanya sudah berserak peralatan bekas makan yang melimpah ruah. Alamat pekerjaan Luna malam itu akan

begitu banyak. Ibu-ibu itu memilih duduk-duduk di teras sambil melanjutkan obrolan serta akan mengocok arisan selanjutnya.

Dalam sebuah perbincangan, ada seseteman Bu Tiwi yang bertanya soal menantunya, istri dari

Arfan. Beruntung dari beberapa teman arisannya yang pernah datang kondangan saat resepsi Arfan dan Luna dulu tak begitu memperhatikan Luna yang tadi disebut oleh Bu Tiwi sebagai pelayan. Mungkin juga mereka pangling karena saat resepsi Luna di-make up dengan sangat cantik dan anggun sekali. Berbeda sungguh

dengan saat hari itu Luna menampilkan diri.

Mau bagaimana lagi? Bukan salahnya telah memforsir dirinya untuk sepenuhnya membantu Bu Tiwi, sampai tak sempat mandi dan berganti baju yang layak yang setidaknya yidak berkesan bahwa dia adalah pelayan.

“Kalau menantunya Bu Tiwi mana ya? Kok nggak kelihatan dari tadi?”

Bu Tiwi sedikit gelagapan, bingung mau 6berbohong bagaimana. Ia hanya berharap dalam

hati kalau Luna tak usah muncul lagi saja sore itu. Biar tidak ada yang tahu seburuk apa menantunya.

“Anu ... lagi keluar dia. Kalau hari Minggu biasanya berkunjung ke rumah ibunya sana,”

dusta Bu Tiwi.

Tampak ibu-ibu yang bertanya tadi menganggukkan kepala memaklumi. Memang kalau masih tinggal di rumah mertuanya, maka seorang istri akan masih sering berkunjung ke

rumah orangtuanya sendiri. Hal serupa itu sudah selazimnya terjadi.

“Lagipula dia itu agak kurang suka bergaul, Ibu-ibu. Makanya saya juga nggak pernah ajakin dia ke acara beginian. Tipe anak kampung yang jarang keluar rumah. Di kamar saja kerjaannya,” jawab Bu Tiwi lagi.

“Oh, begitu ya, Bu? Malah enak gitu, Bu. Jadi dia nggak sibuk ngabisin uang anak kita dengan belanja dan hura-hura di luaran,” komentar salah satu ibu yang tampaknya punya penilaian positif terhadap berbagai karakteristik orang lain.

“Ya tapi nggak cocok lah sama anak saya sebetulnya, Bu. Arfan itu harusnya punya istri

yang supel dan gampang bergaul di kalangan sosialita seperti kita ini. Kasihan sekali Arfan itu, salah memilih istri!” Bu Tiwi malah terus menjelekkan Luna.

Parahnya, Luna yang baru merasa membaik dan mampu ke ruang tamu untuk mulai membereskan peralatan bekas makan itu jadi mendengar ucapan tersebut.

“Loh? Tapi harusnya setelah menjadi istri Arfan harus mulai beradaptasi dan menyesuaikan

diri dengan kehidupan keluarga ini dong, Bu Tiwi,” komentar ibu-ibu tadi masih mengorek informasi.

“Huh! Itu kan kalau wanita cerdas, Bu. Kalau wanita kampung dan udik kayak dia aduh susah

mau diperbaiki. Udah bawaannya begitu. Jadi saya aja yang harus sabar dan berharap Arfan kelak punya pendamping yang baru, hihihi.”

Astaghfirullah! Luna beristighfar dalam hati sambil memegangi dadanya sendiri yang seketika terasa perih. Kembali ulu hatinya seolah tertusuk sembilu rasanya, Luna ingin menjerit atau bahkan sekalian saja memporak-porandakan semua peralatan makan di ruangan itu. Tapi ditahannya emosi hanya untuk diluapkannya nanti di hadapan Arfan. Arfan harus tahu apa yang sudah terjadi hari itu.

Arfan harus tahu sehina apa istrinya di mata ibunya sendiri! Kalau setelah mendengar pengaduan Luna itu Arfan tak juga mau menuruti keinginannya untuk mengontrak rumah saja,

maka Luna sudah pasti akan pergi sendiri dari rumah itu.

Ya, tak ada gunanya berdamai dengan Bu Tiwi. Ia tetap tak pernah dianggap sebagai seorang

menantu. Bahkan dengan sangat entengnya Bu Tiwi bilang kalau Arfan telah salah memilihnya menjadi istri. Mau apa lagi? Sudah jelas ia tak akan pernah dihargai meski jasanya seharian ini tak terkira lagi.

Lelahnya seharian ini mengurusi

acara arisan Bu Tiwi tak mendapatkan hasil apa pun. Bukannya dipuji atau setidaknya sedikit dihargai, tapi malah dikatai pembantu dan dijelek-jelekkan di belakangnya seperti itu.

Luna menulikan telinganya meski masih terdengar berbagai hujatan Bu Tiwi soal

dirinya di depan para tetamu. Sungguh, kalau bersikap tidak sopan dengan mempermalukan ibu mertua di depan umum itu tidaklah berdosa, maka Luna pasti akan melakukannya saat itu juga! Ingin ia berkata kasar untuk meluapkan kesal. Tapi beruntung adab dan akhlaknya masih mampu menahan hawa nafsu amarahnya.

***

1
angel
klu dah kaya gini ngapain nikah ..klu gaji suami ibu nya yg pegang ...istilah dari mana ya
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣
baguss bangettt karyamu, Thor.. penulisannya keren dehhhhh😻😻
Yosnia Figi
lanjuut thor
BillyBabe lover's
keren bgt.. sabar ya Luna... hidup emg penuh tantangan..
Liana Lia504
semangat kak up nya, dan buat luna pergi dari rumah mertua nya aja thor daripada gak dianggap sama mertua nya
Dian Apriria: masih dinego-in ke Arfan, Kak🥲
total 1 replies
Liana Lia504
ditunggu up nya kak
Sifa Azahra
gemess sma mertua ny...
kl aku punya mertua kaya gtuu pastii udh aku ajakiin gulet
Dian Apriria: Hihihi, Bu Tiwi emang gemesin banget buat diajak gelud, ya, Kak🤭
total 1 replies
Liana Lia504
lanjut thor ditunggu up nya
Dian Apriria: ahsiyapp, Kak😍Kalau ada yg komen gini jadi semangat nulisnya. Sedang kutulis lanjutannya, ya, Kak.

makasih banyak udah mampir baca dan komen🧡
total 1 replies
Liana Lia504
lanjut thor
Not Found
Bikin nagih
semangat kak updatenya 🌹
Not Found
jadi takut nikahh :'
ʀɦʊ¢ɦǟռ
semangat ya kak, aku hadir bersama bintang di langit 😂
Dian Apriria: makasiii banyak, Kak🧡
total 1 replies
ʀɦʊ¢ɦǟռ
sabar Luna, semua ada hikmahnya 🤗
Dian Apriria: Ho oh, Kak. semoga pelangi di akhir buat Luna🧡
total 1 replies
👑Ajudan Tante Lele💣
kwkwkw cb kalau aku jadi si tiwi. udh aku pecat itu si emak jadi mertua. ak tinggalin semua perabotan kotor biar dia yang bersihin semua. aku rekam omongan nyinyirnya. aku kirim ke semua orang yg tau soal pernikahan kita berdua biar tau kelakuan si ulet bulu.

itulah cara menghargai dan menghormati diri sendiri. kita idup bukan utk dihina. merdeka💪 cucian mana cucian, rasanya mau gue remes2😤😤😤
Dian Apriria: wkwkwkwk, noted, Kak. Luna kudu gitu juga kayaknya nih😍
total 1 replies
👑Ajudan Tante Lele💣
jeng ini ke-enter jeng mataku jadi ikutan lompat bacanya😆
Dian Apriria: ahsiyaapp ediiit, maaciiih remindnya, Kak🧡
total 1 replies
Yosnia Figi
lanjut thor
Dian Apriria: Siap, Kak, otewe ngetik. Makasi udah mampir🧡
total 1 replies
Amethyst Moon
Hay, Kak. aku mampir, semangat dan terus berkarya.

masukan dariku kata tegur di ganti kritikan saja 😁
Dian Apriria: siapp, Kak, noted😍 makasiiii
total 1 replies
PengkhayalMalam
Semangat Luna pasti kamu bisa lewati cobaan hidup
Dian Apriria: Semoga, ya, Kak😍
total 1 replies
Tebe'e
Semangat Up, Thor 🤗
Dian Apriria: Siap, Kak🧡Makasih udah mampir
total 1 replies
Tebe'e
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!