Rianti, seorang anak dari pengusaha ternama yang bersahabat dengan seorang pria yang berasal dari kalangan menengah ke bawah bernama Ruslan. Rianti dan Ruslan sudah bersahabat sejak mereka kuliah sampai saat ini. Rianti tidak pernah mempermasalahkan status sosial Ruslan dan menerimanya apa adanya.
Bagaimana kisah lengkap Rianti dan Ruslan, yang berliku? Ikuti ceritanya dan semoga kalian suka dengan karyaku yang sederhana ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Hanya dalam waktu beberapa jam saja, Ruslan dan para agen tadi sudah terlihat akrab satu sama lain. Ruslan dan para agen tersebut tengah asik mengobrol di sebuah ruangan untuk para agen yang sengaja Rianti siapkan untuk mereka bersantai sambil menunggu orderan mereka masuk.
"Oh iya, Lan, tadi kan kamu masuk ke ruang meeting itu sama ibu Rianti, apa kamu dan beliau punya hubungan khusus gitu, misalnya pacar gitu" agen yang bernama Denis, menerka tentang hubungan Ruslan dengan sang CEO.
"Pacaran? Hahaha..... Ya gak lah, mana mungkin aku sama ibu Rianti pacaran, suatu hal yang mustahil" Ruslan langsung menyangkalnya.
"Terus hubunganmu dengan beliau apa? Sela Hendri.
"Aku sama ibu Rianti itu teman kuliah, kita dulu satu kampus bahkan satu kelas pula, makanya kita berdua akrab banget" terang Ruslan.
"Jadi kalian jangan salam paham soal hubunganku dengan beliau" Ruslan menambahkan.
"Eh, Lan, kalau emang benar kamu tuh akrab sama ibu Rianti, kenapa kamu gak minta ditempatkan di posisi apa gitu, ini kok malah jadi agen kayak kita, pasti ibu Rianti bakal ngasi tuh kalau kamu bujuk beliau, iya gak, guys" kata Hendri sambil melirik kearah teman-temannya. Teman-teman yang lain pun mengangguk, tanda sepakat dengan yang dikatakan oleh Hendri.
"Gak lah, aku tuh bukan tipikal orang yang memanfaatkan teman demi kepentingan pribadi, lagipula aku tuh mau merangkak dari bawah dulu, belajar dari bawah, kalau langsung meminta posisi ke seseorang hanya karena kita akrab dengan pimpinan dan nanti kita gak bisa tanggung jawab dengan pekerjaan yang kita pikul, sama aja bohong dong kalau gitu, harus disesuaikan dengan kemampuan juga lah" Ruslan mengatakan hal yang sejujurnya.
"Tapi, apa yang dikatakan Ruslan itu benar loh, semuanya harus mulai dari bawah, gak bisa instan hanya karena kita teman dekat ibu bos, harus disesuaikan dengan kemampuan yang kita miliki, sama aja nyiksa diri sendiri kalau kita mengerjakan sesuatu di luar batas kemampuan yang kita miliki" agen bernama Vania membenarkan perkataan Ruslan.
"Nah... Benar banget yang dikatakan Vania" agen lain yang bernama Yanto ikut menimpali.
"Sekarang yang terpenting kita bekerja sebaik-baiknya, masalah jabatan itu urusan nanti, yang penting kita bekerja secara profesional dan berusaha untuk upgrade ilmu kita agar kelak bisa mendapatkan kerjaan yang kita dapatkan saat ini" kata Ruslan pada semua teman-temannya.
Selang tiga puluh menit kemudian, terdengar suara mikrofon menyala dan seseorang mengumumkan sesuatu melalui pengeras suara.
"Perhatian untuk para agen yang mendapatkan orderan pertama hari ini, sistem sudah memilih kalian untuk menjalankan orderan tersebut. Bagi yang namanya disebutkan silahkan temui pendamping kalian, yang akan menjelaskan lebih detail bagaimana cara kalian mengerjakan orderan tersebut".
Beberapa diantara mereka mendapati aplikasi mereka terdapat orderan yang masuk. Ruslan, Vania, Hendri dan Gery yang masing-masing mendapatkan orderan. Di Keterangan yang ada di aplikasi tersebut, terdapat nama pendamping bagi masing-masing agen, yang membimbing mereka untuk menjalankan orderan tersebut. Keempat orang tersebut berpamitan pada teman-teman yang lain dan menemui pendamping masing-masing.
Sita, sekretaris pribadi Rianti, sudah diberitahu kalau ada beberapa agen yang sudah mendapatkan orderan pertamanya. Dia diminta oleh Rianti untuk mengarahkan para agen menemui pendamping mereka di ruangannya masing-masing.
"Jadi, kalian berempat yang udah dapat orderan?" Tanya Sita pada Ruslan dan tiga orang lainnya yang berjalan mendekat kearahnya.
"Iya, mbak Sita, kita mau temui pendamping kita, yang akan membimbing kita katanya untuk menjalankan orderan pertama ini" Ruslan menjelaskan.
"Duh... Gak usah panggil mbak kali, kita sepertinya seumuran, panggil Sita aja" Sita protes saat Ruslan memanggilnya dengan menyematkan kata mbak.
"Gak enak lah, panggil kak aja deh, gimana" Ruslan bernegosiasi. Sita pun pasrah dan mengiyakan perkataan Ruslan.
"Oh iya, siapa nama pendamping kalian?" Tanya Sita. Satu persatu menyebutkan nama pendamping mereka. Dimulai dari Vania di bagian paling kanan, lalu Hendri, selanjutnya Gery dan terakhir Ruslan. Sita mengarahkan mereka ke ruangan pendamping masing-masing.
"Nah... Untuk Ruslan, ruangan pendampingmu yang bernama pak Wija berada tepat disebelah ruangan ibu Rianti" Sita memberitahu letak ruangan pendampingnya tersebut.
"Oke, makasih yah kak Sita" Ruslan mengucapkan terima kasih, kemudian beranjak menuju ruangan Wija.
Sambil berjalan ke ruangan pendampingnya itu, Ruslan merasa tidak asing dengan nama Wija. Ruslan seperti teringat dengan temannya semasa kuliah dulu dan tidak menutup kemungkinan kalau pendampingnya yang bernama Wija adalah teman kuliahnya dulu.
Ruslan pun mengetuk pintu ruangan Wija. Seseorang menyahut dari dalam dan mempersilahkannya masuk. Ruslan membuka perlahan pintu ruangan Wija. Ternyata, apa yang dipikirkan oleh Ruslan memang benar adanya. Dia adalah Wija, teman kuliahnya dulu.
"Ruslan yah!" Wija berdiri dari tempat duduknya dan terkejut saat Ruslan memasuki ruangannya.
"Ternyata benar dugaanku, Wija yang bertugas sebagai pendampingku itu adalah lu" Ruslan tersenyum sumringah.
"Ayo... Ayo, duduk, Lan" Wija mempersilahkan Ruslan duduk.
"Gue benar-benar gak nyangka kalau bakal ketemu lu disini" kata Wija seolah tidak percaya bisa bertemu kembali dengan temannya semasa kuliah.
"Gue juga gak nyangka banget, Ja, bisa ketemu lu disini, soalnya udah lama banget lu gak ada kabar setelah kita wisuda" kata Ruslan.
"Oh iya, si Tora gimana kabarnya, gue udah lama juga gak ketemu dia, rasanya pengen hangout bareng lagi, berempat kayak dulu, gue, lu, Tora sama Rianti" Wija tampak sangat bersemangat.
"Nanti aja ngobrol lainnya, sekarang gue mau minta lu ajarin gue, cara ngejalanin orderan ini nih" Ruslan langsung memotong obrolan diluar kerjaannya itu.
"Sorry, gue bersemangat banget pengen tahu kabar teman kita yang satu itu, okey, mari kita serius dulu ke pekerjaan kita" Wija kembali serius dan membahas mengenai pekerjaannya sekarang.
Wija pun dengan sabar menjelaskan tentang sistem kerja yang akan dikerjakan oleh Ruslan kedepannya, karena Wija hanya akan mendampingi Ruslan sampai dia benar-benar paham dan menguasai tentang sistem kerja pada aplikasi yang dibuat oleh kantor yang dipimpin oleh Rianti tersebut. Ruslan pun menyimak setiap yang dikatakan oleh Wija dan sedikit demi sedikit mulai memahami sistem kerja yang ada di kantornya itu.
"Pasti ibu Rianti juga sudah sedikit menjelaskan juga kan, tentang hal ini. Jadi, aku cukup menambahkan saja, apa yang belum sempat beliau jelaskan ke kamu" kata Wija dengan raut wajah serius. Ruslan mengangguk-angguk pertanda dia paham dengan penjelasan Wija.
"Intinya kamu perlakukan klien kita itu, seperti pasangan kamu sendiri, dengan begitu, kamu bisa memberikan pelayanan terbaik untuk klien yang menggunakan jasamu" Wija menambahkan.
"Sedikit banyaknya aku sudah mulai paham dengan sistem kerja aplikasi pengingat kasih sayang ini" kata Ruslan dengan yakin.
"Good, aku tahu kamu itu adalah orang yang cepat tanggap" Wija mengacungkan jempolnya.
Setelah menjelaskan tentang sistem pekerjaannya itu pada Ruslan, selebihnya Wija lebih banyak tentang teman-temannya bersama Ruslan, sampai tidak terasa mereka ngobrol sampai masuk jam makan siang. Mereka pun melanjutkan obrolannya itu sambil makan siang di kantin yang ada di kantornya.