Namaku Lin Mey, Putri dari seorang Kaisar, Kekaisaran Lin, ibuku bernama Xin Xia Fei, dari Klan Xin.
Pernikahan Politik, itu biasa terjadi, karena kedua belah pihak akan mendapatkan keuntungan dari Pernikahan itu.
Ibuku adalah wanita Genius, Ahli dalam Alkemis dan Formasi, tapi semuanya di rahasiakan dengan baik, setelah aku berumur 7 tahun, ibuku mulai melatih ku.
Kediaman kami yang terbilang jauh dari Istana, dimanfaatkan ibuku melatih ku.
Keberadaan ibuku sangat tidak disukai oh siapapun, termasuk ayahku, karena hanya Politik.
Dia tidak pernah datang melihatku, hanya jika ada acara Formal baru aku dan ibu bertemu dengannya.
Saat Umurku 10 tahun, entah ada masalah apa, tiba-tiba aku dan ibuku di kembalikan ke Klan dan status kami di cabut.
Kami tiba di Klan, terlihat suasana sudah kacau, ternyata Klan ibuku sudah di hancurkan, dengan tuduhan memberontak.
Ibuku tetap tenang, dan kemudian dia membawaku ke Hutan.
Penasaran lanjutannya... ikuti terus cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jhon Dhoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10. Suasana Kampus
Keesokan harinya, Lin Mey beraktivitas seperti biasa, dia tapi tidak kemana-mana, dia hanya membaca dan menonton TV atau YouTube.
Seorang anggota pak Ernest perempuan juga datang untuk melatih Lin Mey mengendarai sepeda motor, saat jalan lagi sepi.
Pill yang dia kirim juga telah berhasil menyembuhkan sepasang kekasih itu, dan dia juga sudah mendapatkan bayaran nya, sebesar 20 triliun, berarti uangnya kini telah berjumlah 30 triliun.
Saat ini juga dia sedang menunggu pembayaran 20 Pill regenerasi sel dan jaringan kulit, yang akan di jual seharga 5 triliun.
Ibu dari sepasang kekasih korban kecelakaan yang di sembuhkan Lin Mey, menjadi perantara penjualan Pill itu, keluarga besar itu juga menggunakannya, sehingga terlihat perubahan besar di keluarga itu, khusunya para paruh baya dan sepuh,
Mereka menjadikan Lin Mey sebagai penolong keluarga mereka, , bahkan ke 20 Pill Regenerasi Sel dan Jaringan kulit, menambahkan pundi-pundi buat ibu itu
Dua Minggu telah berlalu, dan hari ini, pembangunan Rumah dan pagar sudah di mulai, beberapa alat berat juga sudah mulai menggali, gudang bahan juga sementara di bangun, terlihat sekitar 300 orang pekerja telah di siapkan untuk pengerjaan proyek Lin Mey. Apalagi seminggu sebelumnya bahan-bahan bangunan sudah berdatangan.
Lin Mey untuk sementara tinggal di kontrakan, karena rumahnya di perkirakan akan selesai 6 bulan.
Selama pembangunan, Lin Mey rajin mengontrol proyek nya, Pak Ernest juga tidak mau kalah, Lin Mey memberikan modal dan bahan untuk pembuatan Perhiasan seperti Giok dan Berlian, yang rencananya akan di lelang Pada pertengahan tahun, komposisi Lin Mey 60% dari keuntungan.
Pak Roby juga selain mengerjakan proyek kediaman Lin Mey, juga diperintahkan untuk mencari lahan yang bagus, dan akan di dirikan komplek perumahan, dan dia mendapatkan lahan seluas 50 hektare berlokasi jalan penghubung 2 kabupaten, di daerah berbukit dan sangat cocok untuk di bangun rumah bentuk Villa.
Tak terasa waktu berlalu, kini sudah 6 bulan berlalu, Lin Mey sudah sangat terbiasa dengan kehidupan Manusia bumi, penampilan dan tata bahasa sudah sempurna, lewat pak Ernest, Lin Mey, bisa masuk kuliah, di ibukota Provinsi, ambil jurusan Teknik Informatika.
Rumahnya sudah sudah 90 % selesai, kolam ikan sudah selesai, bak Air juga sudah, jalan penghubung dari jalan Raya sepanjang 300 meter juga sudah di perbaiki walau masih belum terlalu bagus, karena di lewati mobil yang mengangkut bahan.
Sedangkan untuk pagar sendiri, progresnya belum banyak, kecuali gerbang Utama itu sudah selesai, tinggal pasang pintunya.
Para pekerja siang malam bekerja, untuk mencapai target yang di tentukan Lin Mey, para pekerja begitu sopan kepadanya, hingga Lin Mey pun merasa tenang berada Proyek.
Hari ini, adalah hari pertama bagi Lin Mey atau Meylin, akan masuk kuliah, setelah program pengenalan telah selesai, dan hari ini juga, pembangunan rumahnya selesai, tapi belum bisa di tempati, Pak Roby di percayakan untuk membeli seluruh keperluan di rumah Lin Mey.
Uang Lin Mey sudah terkuras lebih dari 50 milyar, tapi dia tidak peduli, baginya yang terpenting adalah kenyamanan.
Dengan penampilan seperti laki-laki, Lin Mey mengendarai motor Honda Scoopy, dia berangkat ke kampus, dia tetap semangat walaupun belum memiliki teman, berbeda dengan anak-anak pak Ernest dan pak Roby, Lin Mey menganggap mereka sebagai saudara .
Rambut di ikat ekor kuda, tanpa make up, dan aksesoris layaknya anak gadis kebanyakan, di tangannya hanya melingkar gelang penekan Kultivasi, di jari tengah tangan kanan, Cincin Semesta dan di kiri, Cincin Ruang Tingkat Surgawi, serta di leher hanya sebuah kalung yang nampak sederhana, Liontin nya terbuat dari batu Jadeite, sedangkan rantainya terbuat dari batu terkuat dengan campuran emas, hingga kekuatannya bisa menahan beban hingga 150 kg, dengan bentuk sekecil dan setipis itu.
Lin Mey tiba di kelas, namun ternyata masih sepi, Lin Mey juga sengaja membeli handphone berharga murah, agar tidak terlihat seperti anak orang kaya, tujuannya adalah mencari teman yang bisa di jadikan teman Sejati.
Akhirnya, satu persatu mahasiswa mulai memenuhi ruangan kelas itu, Universitas Mahesa Jaya Teknologi, salah Universitas Swasta Nasional terbaik pada jurusan Teknik dan komputer, karena memang Universitas Mahesa Jaya Teknologi, hanya berfokus pada teknologi,
Untuk biaya masuk, 250 juta, dan uang semester 25 juta per semester, belum uang praktikum, Pemilik Universitas itu, adalah keluarga sahabat dari Pak Ernest sewaktu SMA hingga kuliah, hingga akhirnya, Lin Mey bisa masuk di Kampus Bergengsi itu.
Lin Mey memperkenalkan dirinya, sebagai anak yang di tinggalkan orangtuanya, dan hanya meninggalkan uang dan rumah sederhana, memang Lin Mey sengaja membeli sebuah rumah kecil di kompleks rumah sederhana, pinggiran Ibukota provinsi.
Sedangkan biaya kuliah dan biaya masuk, di biayai teman orangtuanya, dan sudah di bayar lunas hingga selesai kuliah", ucap Lin Mey saat beberapa orang bertanya tentang latar belakangnya.
Dan bisa di tebak, beberapa orang langsung menghindar, apalagi penampilan Lin Mey dengan pakaian seperti itu.
"Maaf siapa nama kamu? tanya seorang pria yang diangkat sebagai ketua kelas.
"Meylin Winata, nomor handphone 0812 3636 XXXX, jawab Lin Mey dengan santai dan tanpa menoleh ke laki-laki itu.
"Lain kali kalau di tanya, jawab dan lihat orangnya, ucap laki-laki itu dengan nada kesal.
Lin Mey tak bergeming, dia tidak peduli dengan keadaan sekitar, dia hanya mau belajar dan dapat ilmu, jika ada yang tulus berteman, maka dia akan menerimanya dengan tangan terbuka.
Posisinya sebagai Dewi Agung, adalah suatu hal yang sangat mulia, bagi Ras Phoenix dan eksistensinya sangat di hormati di seluruh Alam, bahkan Ras Naga sekalipun akan berpikir 2 kali untuk tidak menghormati nya, sebagai 2 Ras hewan Suci terkuat dan melegenda.
Ras Phoenix terkenal dengan kesombongan dan keangkuhannya, serta kecerdasan dan kecerdikan tidak bisa dengan sembarangan di ganggu, akan tetap ketika mereka hargai dan di hormati dengan tulus, maka mereka juga akan, membalas segala kebaikan yang di berikan kepada mereka.
Seharian di kampus, tidak yang duduk bercerita dengan dia, di kantin kampus Lin Mey juga hanya memesan makanan sederhana, namun diam-diam banyak yang memperhatikan dia.
'"Sudah gak usah di perhatikan lagi, hanya gadis miskin, yang berharap selesai kuliah dapat pekerjaan sedikit bagus saja, ucap salah satu mahasiswi dari kalangan orang kaya.
Waktu perkuliahan, sistemnya hampir sama dengan SMA waktu perkuliahan, dari pagi hingga jam 3 sore, di penghujung jam kuliah, dosen itu berkata bahwa di wajibkan semua mahasiswa memiliki laptop, dan dia menyebutkan spesifikasinya.
Para mahasiswa menjawab setuju termasuk Lin Mey, kebetulan di kelas itu, berkumpulnya para Tuan Muda dan Nona Muda dari keluarga berada, bahkan dari Luar Kota.
Mengingat masih sore, Lin Mey pergi ke pusat kota, dan masuk ke salah pusat penjualan handphone dan komputer, tak berlama-lama dia memilih, laptop sesuai standar yang di umumkan, walaupun dalam Cincin Penyimpanan miliknya, terdapat laptop dengan harga selangit.
"Hey itu kan anak pendiam itu, boleh juga dia itu, tak menunda apa yang disampaikan oleh dosen", ucap seorang yang sekelas dengan Lin Mey.
"Agar uangnya cukup, karena kalau sudah terpakai ke hal lain maka dia tidak bisa laptop, ucap yang lain.
Lin Mey tak menggubris ocehan anak-anak manja itu, malau dia mendengar omongan mereka, ketika juga Lin Mey pulang, ada yang mengikutinya, mereka ingin tahu tempat tinggalnya.
"Selama mereka tidak mengganggu, biarkan saja, batin Lin Mey yang tetap acuh mengendarai mobil Scoopy miliknya.
Dengan santainya Lin Mey memasuki halaman rumahnya, dilihatnya wanita paruh Bayah sedang membersihkan halaman rumahnya, ya dia mbok Sum yang bantu-bantu bersih rumah.
Mbok Sum di temukan Lin Mey saat di pasar, dia sedang sakit dan di tinggalkan anaknya karena tidak repot urus orang tua, hingga akhirnya Lin Mey bawa kerumahnya.
"Halo mbok, Meylin pulang, kalau capek jangan di paksa, ucap Lin Mey lembut.
"Mbok sudah sehat Non, jawab mbok Sum sambil meneruskan menyapu halaman.
"Ya sudah kalau begitu, Meylin mandi dulu, ucap Lin Mey dan berlalu ke dalam rumah setelah memarkirkan motornya.
Hari-hari berlalu, suasana kampus tetap seperti biasa, hanya saja, semakin banyak yang mengganggunya, beberapa kali buku catatannya di sembunyikan hingga dia kena hukuman dari dosen.
Lin Mey tetap sabar, hingga suatu saat ada yang mencoba melecehkannya, akhirnya dia melawan, tapi dia yang di salahkan.
Akhirnya dia coba mencari seorang guru yang hebat di bidang hacker, dia bayar mahal dan mulai belajar setelah kuliah.
Bulian tetap terus berjalan, tetapi dia tetap sabar asal jangan menggunakan fisik.
"Hey kamu anak miskin, ambil buku ini dan buatkan tugasku merangkum tugas dari dosen.
"Tidak mau, jawab Lin Mey.
Seketika gerombolan mahasiswi menghajarnya, Lin Mey melindungi tubuhnya dengan Formasi Ilusi, dan membiarkan dirinya di pukuli hingga terlihat babak belur.
Puas dengan aksinya, mereka membiarkan tubuh ilusi Lin Mey di ke mandi. Mereka tidak tahu kalau Lin Mey sudah berteleportasi ke kerumahnya.
Keesokan harinya, dia masuk dan berpura-pura kesaktian, namun si mahasiswi itu juga kena hukuman karena tidak membuat tugas.
"Gadis miskin kenapa tugasku kamu tidak buat? Geram hadis itu
"Bagaimana aku mau membuatnya kalau kalian memukulku hampir mati, dan saat aku sadar sudah jam 10 malam aku di kamar mandi", sandiwara Lin Mey.
"Anita, kumpul tugasmu, jika tidak silahkan kamu mengulang semester depan, 4x aku masuk kelas kalian, 4x kamu tidak mengumpulkan tugasmu, marah si dosen.
"Saya akan buat sekarang pak, tawar Anita.
' Tidak perlu, silahkan kamu keluar dari kelas ku, perintah si dosen.
"Awas kamu, gara-gara kamu aku tidak dapat nilai", ancam Anita.
"Yang salah kamu, kenapa menuduhku aku yang salah, jawab Lin Mey.
"Berani kamu melawan ! bentak Anita.
"Anita keluar kamu, usir si dosen