Kuliah, kerja, tidur.. Kuliah, kerja, tidur.. Seperti itulah keseharian seorang gadis cantik bernama Sherly. Tak ada yang menarik baginya di dunia ini. Hidupnya yang keras harus dia lalui seorang diri hingga membuat gadis itu menjelma menjadi sosok dingin yang jarang menunjukkan empati terhadap orang lain. Teman-temannya bahkan tak pernah melihatnya tersenyum. Hal itulah yang membuat Nathan diam-diam memperhatikan Sherly. Sampai suatu ketika kejadian tak terduga membuat penilaiannya berubah 360° tentang gadis itu. Kejadian yang pada akhirnya menjerumuskan hatinya jatuh ke dalam jurang cinta yang sangat dalam hanya untuk Sherly.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Puspitarini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Muda Gila
(Kenapa dia bisa ada di sini!)
"Tampaknya anda sudah mengenal koki ku yang satu ini." ucap Tuan Klaus dengan wajah sumringah.
"Ko..ki mu?"
"Benar tuan, aku memiliki dua koki. Orang yang membuat pasta kesukaan anda bernama Sam dan ini.. Ah, aku tidak perlu memperkenalkannya bukan?"
Nathan kehabisan kata saat mengetahui semua ini. Setelah bela diri, sekarang dia tahu Sherly merupakan seorang koki dan hasil masakannya tak main-main.
"Tuan Nathan tadi memuji makanan mu, setidaknya tunjukkan kegembiraan mu nak."
Sherly menghela napas dan akhirnya tersenyum. Nathan semakin terpukau dengan gadis itu. Senyuman Sherly berhasil membuatnya tak berkedip.
Gilbert yang paham dengan situasi langsung mencari alasan untuk membiarkan keduanya berbincang.
"Pak manajer, berapa harga sewa tempat ini untuk makan malam pribadi?"
"Ah, anda ingin mengadakan makan malam spesial rupanya."
Gilbert dan Tuan Klaus pergi menjauh untuk membicarakan hal yang bahkan baru dipikirkan Gilbert beberapa detik yang lalu.
Kini tinggal Sherly dan Nathan di sana.
"Sampai kapan kau mau berdiri di situ, duduklah."
"Aku merasa tidak pantas untuk duduk di samping anda tuan."
Nathan sudah terbiasa mendengar orang lain memanggilnya dengan sebutan 'tuan', tapi entah kenapa dia merasa kesal jika Sherly yang memanggilnya seperti itu.
"Hentikan berbicara formal denganku Sherly."
Sherly masih berdiri dengan memandang ke arah lain.
(Ya Tuhan.. Dia bahkan tidak mau memandangku!)
Nathan tiba-tiba duduk di lantai yang membuat Sherly kaget.
"Apa yang anda lakukan tuan?!"
"Aku bisa duduk bahkan tidur di sini jika kau tak berhenti memanggilku tuan."
"Anda bisa membuatku dalam masalah!"
Mendengar Sherly yang masih bicara formal, membuat pria itu langsung menghempaskan tubuh kekarnya ke lantai.
Namun sebelum sempat menyentuh lantai, Sherly berhasil meraih tangan pria itu dan menahannya.
"Baiklah, baiklah! Duduk kembali sebelum kau membuatku kehilangan pekerjaan!"
Nathan tersenyum penuh kemenangan. Wajahnya terlihat begitu gembira, sangat kontras dengan Sherly yang terlihat kesal. Gadis itu pun duduk berhadapan dengan Nathan.
(Pria gila!)
"Jadi apa genggaman tanganku membuatmu nyaman hingga kau tak mau melepaskannya?"
Sherly baru menyadari masih menggenggam tangan Nathan. Spontan dia melepaskan tangan pria itu dan menjadi salah tingkah.
Nathan tersenyum senang. Baginya Sherly begitu menggemaskan saat salah tingkah.
"Ngomong-ngomong apa kau sudah makan?"
"Sudah."
"Apa menu favoritmu di sini?"
"Omelette."
"Dan menu andalan mu?"
"Omelette."
"Baiklah kalau begitu aku akan memesan omelette buatan mu setiap hari."
"Kau akan datang ke sini setiap hari?"
"Tentu!"
"Hah.. Ada banyak restoran mewah yang bisa kau coba di luar sana."
"Tapi aku lebih suka di sini."
"Kenapa?"
"Karena aku ingin makan sambil melihat wajahmu. Tunggu, kalau begitu aku harus menyewa restoran ini untuk makan malam pribadi setiap kali aku datang ke sini."
"Kau bisa membuat bos ku bangkrut!"
"Tidak jika aku memberikan harga yang pantas."
Sherly tidak bisa berdebat lagi. Dia baru tahu jika Nathan adalah tuan muda yang gila.
"Kenapa kau tak pernah mengatakan kalau kau bekerja paruh waktu di sini?" lanjut Nathan.
"Karena kau tak pernah bertanya." jawab Sherly dengan wajah yang kembali datar.
(Gadis ini benar-benar membuatku gila!)
Nathan mencoba bersabar dengan meminum segelas cappucino miliknya sampai tak tersisa dan Sherly hanya memandangnya.
"Apa kau tidak merasa lelah? Pada pagi hari kau harus berkutat dengan padatnya kegiatan kampus dan di sore hari kau langsung bekerja, kau pun membuka jasa lukis juga di waktu senggang. Kau bisa sakit Sherly."
Air muka Sherly berubah dari yang tadinya acuh kini menjadi sedikit mengisyaratkan sesuatu.
"Hidup terkadang berjalan tak seperti yang kau harapkan. Untukku, aku harus berusaha melebihi orang lain agar bisa hidup layak."
Perkataan Sherly mengandung banyak makna dan entah kenapa Nathan bisa merasakan kesedihan di dalam kata-kata itu.
"Tapi Sherly.."
"Nathan, kau tidak mengerti. Aku tidak sepertimu yang mungkin bisa memiliki apapun yang kau mau. Jika kau hidup untuk bekerja, maka aku bekerja untuk hidup."
Sherly tersenyum saat mengatakan itu dan Nathan seharusnya senang bisa melihat senyum Sherly. Namun kali ini tidak, pria itu sama sekali tidak senang dengan senyum itu. Senyum kesedihan yang terpancar jelas di mata gadis yang dicintainya.
Like, komen, rate 5 dan mendarat ya.
Semangat kak.
Mampir juga di karyaku jika berkenan.🤗🤗
Salam dari "Ketulusan Hati Gadis Desa"