"Ana Uhibbuka Fillah"
Izinkan aku untuk mengucapkannya dengan segala rasa yang membendung di hati ini, rasa yang tak pernah tersampaikan.
Izinkan aku untuk mengungkapkannya tulus, ikhlas karena Allah.
_______
Introvert Panda 🐼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvertpanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 9 : Mas
Sudah seminggu berlalu sejak kejadian kambuhnya penyakit Aisyah sampai dua kali dalam seminggu, selama itu pula ia pulang selalu larut malam. Dan saat ini Aisyah meminta izin pada sahabatnya untuk tidak ikut part time hari ini. Ia ingin menenangkan diri dan ingin bertemu seseorang yang sangat sulit untuk ditemui dan kadang mengabaikannya.
Aisyah sudah berkali-kali menghubungi seseorang namun tak di angkat bahkan pesannya pun tak ada balasan. Karena bingung harus bagaimana, akhirnya Aisyah datang ke tempat tongkrongan anak-anak yang selalu balapan liar, jika ia pulang pasti akan ada saja yang mereka katakan dan lagi pula ini masih sore.
Balapan bagi mereka hanyalah sebuah pelampiasan sama halnya dengan Aisyah, ia ingin melampiaskan segalanya. Termasuk jika harus keluar-masuk kantor polisi karena tidak mematuhi rambu lalu lintas atau mengendarai dengan kecepatan di atas rata-rata, itu semua mereka lakukan agar perasaannya lega karena beban yang mereka tanggung seakan berkurang bahkan lenyap meski kenyataannya tidak. Ya, Aisyah sudah sering melakukannya dan selama itu ia tak pernah kedapatan masuk kantor polisi karena masalah balapan yang ia ikuti.
Namun, mungkin keberuntungan itu tak lagi berpihak padanya hari ini karena saat ia melajukan motornya dengan sangat kencang serta menerobos lampu merah ia melewati polisi yang sedang bertugas dan akhirnya ia berada di sini, di kantor polisi.
Dihadapan Aisyah kini ada seorang polisi yang sudah siap mengetik laporan dengan sebuah komputer tentang pelanggaran Aisyah.
"Farah Aisyah Wijaya, 16 tahun, tidak ada KTP, tidak ada SIM, enam kali melanggar rambu lalu lintas, dan saat ini ke tujuh kalinya melanggar rambu lalu lintas dan berkendara dengan kecepatan di atas rata-rata dengan catatan mengikuti balapan liar di jalan raya." Papar seorang polisi laki-laki yang di taksir berusia sekitar 22 tahun itu dengan nada tenang namun tegas.
Polisi dengan badge name Pandu Saputra yang ada di baju kebanggaannya itu menghela nafas berat, ia heran mengapa gadis dibawah umur sudah diberikan fasilitas kendaraan yang bahkan sudah berkali-kali tercatat melanggar peraturan lalu lintas yang ada. Apalagi saat ini tidak hanya melanggar saja ketika berkendara, gadis dihadapannya sudah berani balapan liar. Ia tak habis pikir.
"Kamu masih dibawah umur untuk mengendarai motor, apalagi sudah beberapa kali kamu kedapatan tidak mematuhi peraturan lalu lintas. Dan sekarang ditambah balapan, meski kamu masih 16 tahun yang mungkin masih duduk di bangku kelas satu SMA bukan berarti kamu dapat terbebas dari hukum yang ada. Berikan saya nomor ponsel wali kamu." Lanjutnya masih dengan tegas.
"Kelas tiga." Koreksi Aisyah dingin, ia enggan mendengar ucapan yang sudah biasa ia dengar saat masuk kantor polisi.
Ya, Aisyah masih berusia 16 tahun karena ia mulai masuk Sekolah Dasar saat berusia 5 tahun. Ia yang selalu penasaran dengan apa yang kedua kakaknya lakukan di sekolah.
Aisyah menyodorkan handphonenya yang sudah tertera nomor ponsel dengan nama Darurat. Polisi itu semakin tak mengerti dengan Aisyah yang masih bisa tenang seolah itu hal biasa, bagaimana bisa gadis mungil itu bersikap tenang karena biasanya ia menangani kasus serupa seperti ini akan melihat raut cemas dan tegang karena kesalahannya.
Dilihatnya laki-laki itu mulai menekan tombol-tombol pada telepon yang berada di sebelah kanannya, sampai akhirnya tersambung pada seseorang di seberang sana. Kaget bercampur heran karena mengetahui siapa seseorang itu, ia semakin dibuat penasaran dengan gadis dihadapannya.
Selang beberapa menit seorang polisi datang dengan tergesa-gesa menghampiri Aisyah yang duduk tenang berhadapan dengan polisi.
"Farah." Panggil polisi yang baru saja datang itu dengan nafas tak teratur, dan yang di panggil hanya memberikan lirikan.
"Ada apa? Kenapa harus kayak gini terus kalo mau ketemu sama mas? Dan tadi Pak Pandu bilang kamu balapan, apa harus?" Lanjutnya bertanya dengan tatapan sendunya pada Aisyah.
"Salah mas Alan sendiri kenapa gak angkat panggilan aku dan gak balas chat aku." Ucap Aisyah merajuk tak mau disalahkan.
Alan Retama, wakil kepala polisi di kantor pusat. Meski masih muda dengan usianya yang baru menginjak angka 24 itu ia sudah di amanati jabatan dan tanggung jawab yang besar. Tak heran jika tadi Pandu yang terkejut saat tau siapa yang ditelfonnya ternyata senior sekaligus atasannya.
Alan memberi tanda pada Pandu jika ia ingin berbicara bedua dengan Aisyah, ia membawa Aisyah ke sudut ruangan yang cukup jauh untuk seseorang dapat melihat dan mencuri dengar pembicaraan mereka.
“Handphone mas silent, kamu kirim pesan hanya kata 'angkat' jadi mas mana tau yang kamu ingin sampaikan." Ucap Alan bingung.
"Setelah mas cek hape kan mas bisa telfon balik." Ucap Aisyah tak mau kalah. Alan menghela nafas panjang.
"Lalu kenapa kamu sampai balapan? Ada masalah lagi? Kali ini karna apa?" Tanya Alan beruntun.
"Aku gak pulang ke rumah dan hiperpnea ku kambuh sampai dua kali." Jujurnya tak mau merahasiakan lagi penyakitnya pada laki-laki yang di panggilnya mas itu.
"Hiperpnea!?" Tanya Alan terkejut dengan pengakuan Aisyah dan ia hanya mengangguk.
Selama ini Alan tidak mengetahui soal kesehatan Aisyah, yang ia tahu hanya masalah keluarga dan kesedihan Aisyah yang selalu perempuan itu ungkapkan padanya. Ditariknya Aisyah ke dalam dekapannya, mengelus rambutnya dengan lembut yang tanpa sadar sedari tadi mereka tak luput dari pandangan Pandu yang penasaran dengan hubungan keduanya.
"Sudah berapa lama? Kenapa baru cerita sekarang, hem?" Tanya Alan seraya memberikan beberapa kecupan di puncak kepala Aisyah.
"Empat tahun." Ucap Aisyah yang suaranya teredam karena di peluk dengan erat.
Alan tak habis pikir, bagaimana bisa Aisyah bertahan dengan perkataan yang selalu menyakitkan hati dikala ada penyakit yang bisa saja menyerang dengan rasa sesak karena terlalu cemas akan sebuah ungkapan kata.
"Keluarga kamu tau?" Tanya Alan penasaran.
Aisyah menggeleng. Alan mengurai pelukannya, ia menangkup wajah Aisyah dengan kedua tangannya, menatapnya dalam memberikan kenyamanan dan pegertian.
"Dengerin mas untuk kali ini." Pintanya. "Berdamailah dengan dirimu sendiri dan juga kamu harus terbuka dengan keluargamu, jangan seperti ini terus menerus. Mereka berhak tau semuanya, termasuk keadaan dan perasaanmu sebenarnya." Lanjutnya menyarankan dan berharap Aisyah dapat mengerti.
"Mereka gak akan peduli mas, percuma karna aku cuma penghalang kebahagiaan sama keharmonisan keluarga aja, aku cuma biang masalah. Mereka gak akan pernah mau memahami dari sudut pandang aku, mas." Lirihnya menatap Alan sendu.
"Gak, mas yakin itu, mereka akan mengerti. Sini handphone kamu." Alan meminta handphone Aisyah, ia menggeleng pertanda tak ingin jika Alan memberitahukan keluarganya tentang masalah itu.
"Mas hanya akan memberitahu orangtuamu, untuk datang kesini. Kita harus menyelesaikan masalah disini terlebih dulu." Jelas Alan yang masih dibalas gelengan kepala oleh Aisyah.
"Mas gak terima tolakan, untuk urusan disini kita hubungi orangtua kamu dan setelah itu terserah kamu mau cerita sebenernya atau terus bergelut dengan rasa sakit itu." Tegasnya.
"Mas.." Ucap Aisyah penuh pengharapan, namun Alan tetap teguh dan langsung mengambil handphone Aisyah secara paksa.
Alan mencoba menghubungi Papa Aisyah, panggilan pertama, kedua tak ada jawaban, panggilan ketiga, ia menunggu sampai bunyi dering ketiga itu terhubung dengan suara berat nan tajam yang masuk ke pendengaran Alan. 'Untuk apa telfon, mengganggu saja.' Sejauh apa hubungan mereka sampai menghubungi sosok ayah pun dianggap mengganggu? Bagaimana bisa Aisyah terus bertahan dengan ucapan seperti itu. Alan melirik sendu ke arah Aisyah yang menatapnya tanpa ekspresi, datar.
🐼🐼🐼
Salam mata panda 🐼
Lanjutkan ceritanya ya kak. semangat
semangat up dong thorr
lanjut dong
semangaat , aku setia menunggu
lanjuut
jangan lama² dh penasaran ini
ikut nyesek mewek sendiri bacanya