WAW : Who are We?
Kebersamaan yang telah terjalin sejak kecil terpaksa pupus karna permasalahan yang menimpa. Menjadi asing telah menjadi keputusan bulat, terus menjauh, tidak ingin peduli dan tidak ingin kembali mengenal adalah hal yang mereka inginkan.
Namun, sebesar apapun rasa bersalah dan kecewa dalam diri mereka tidak mampu mengalah pada rasa sepi dan rindu satu sama lain. Rasa sayang yang tumbuh telah mengakar kuat dalam relung hati mereka, membuat mereka tak mampu meninggalkan ataupun melupakan.
Tapi mereka tidak sadar bahwa perasaan itu adalah sebuah kutukan yang telah mengikat mereka sejak masa lalu. Membawa mereka pada konflik bahkan akhir yang sama. Siapa diri mereka yang sebenarnya pun menjadi teka-teki yang harus dipecahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon myolboun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[05] That Talk
...***...
...Aku, kamu, belum tentu jadi kita....
...***...
Ahrin menutup pintu UKS, Kakinya berjalan gontai, banyak hal yang berada dalam pikirannya saat ini, sampai dia tidak sadar Danella mengikutinya dari belakang.
"Ahrin?"
Ahrin terkejut, tubuhnya merinding mendengar suara yang memanggilnya itu. Suara yang selama ini dia tunggu untuk berbicara padanya. Ahrin otomatis menoleh..
"Apa?" Ahrin merespon sedatar mungkin untuk menutupi salah tingkahnya.
"Boleh minta waktunya sebentar?"
Tanpa menjawab, Ahrin memutar badannya menghadap Danella. Danella menggaruk tengkuknya.
"Mm... Sebenarnya aku bingung mau mulai dari mana, tapi... Bolehkah aku memulainya dengan satu pertanyaan?..."
Ahrin mengedikkan bahu. "Ya, tanyakan saja..."
Danella terdiam agak lama, dia bimbang tapi hal ini harus segera dia bicarakan.
"Apa... Perasaan kamu masih sama?"
Ahrin mengerutkan kening mendengar pertanyaan itu.
"Setelah 2 tahun ini apa perasaan kamu masih sama?"
"Masih." Ahrin menjawab tegas.
Danella menarik nafas. "Kalau gitu kayaknya kita memang gak punya alasan lagi untuk saling berbicara, aku pengen kita gak pernah saling kenal..."
"Loh kenapa?" Ahrin jelas tidak terima.
"Karna perasaan aku ke kamu juga masih sama Rin dan aku pikir kita gak bisa kembali berteman dengan perasaan yang tersimpan seperti itu."
Ahrin berdecak. "Emang harus sampai segitunya ya Kak? Kita masih bisa deket loh, kita bisa nahan perasaan kita masing-masing kan?"
"Aku bilang gak bisa Rin," Danella memberikan penekanan. "Kalau ini cuman tentang kamu, its okey kalau kamu bisa, tapi aku yang gak bisa. Kita harus tetep jauh."
"Mau menjauh atau tetap dekat bukannya sama aja Kak? Kita udah saling menjauh selama hampir 2 tahun tapi hasilnya apa? Gak ada yang bisa move on." Ahrin berseru putus asa.
"Itu artinya kita butuh waktu yang lebih lama lagi Rin..."
"Selama apa Kak?!" Ahrin nge-gas, jujur dia sudah terlalu capek menahan hal ini. Danella terdiam, dirinya menarik nafas.
"Dekat atau jauh memang sebuah pilihan Rin dan setiap pilihan itu selalu ada resiko, jujur, aku takut. Kalau aku memilih untuk tetap dekat, aku takut perasaan aku ke kamu akan terus tumbuh dan tidak mau menghilang. Tapi kalau aku memilih untuk terus menjauh, aku takut terus mikirin kamu, kangen kamu sampai akhirnya perasaan ini gak mau pergi. Semuanya serba salah Rin tapi kita harus tetap memilih."
"Dan Kak Dane lebih memilih untuk menjauh biar kita bisa saling melupakan, iya?"
Danella menunduk. " Iya."
"Aku gak mau kak..." Ahrin melirih.
"Aku juga gak mau Rin, tapi kita menyimpang. It's Sin."
Ahrin membuang muka, dia tau betul itu. "Jadi... Kita benar-benar asing sekarang?" Suaranya memelan.
Danella menunduk. Kedua insan itu saling mengatur nafas.
"Ya." Danella menjawab singkat lalu berbalik pergi meninggalkan Ahrin yang mematung disana.
Hati mereka yang terlanjur terpaut harus merelakan dengan berat, apakah ini benar-benar akhir dari mereka? Tidak bisakah mereka memiliki hubungan yang lebih baik tanpa ada perasaan yang mengganggu? Kenyataan nya bukan hanya itu yang harus mereka khawatirkan karna rahasia yang selama ini mereka tutupi sedemikian rapat kini tengah direkam diam-diam.
...🍭...
Jia terus saja mencoba berjalan sejajar dengan Hanin, tapi Hanin selalu saja mempercepat langkahnya didepan Jia. Jia sedikit kesal, hal ini terus terulang sampai mereka sudah berada di depan kelas. Hanin diam di tempat dan Jia menunggunya membuka pintu tapi yang terjadi Hanin malah menarik lengan Jia menggantikan posisinya.
"Duluan."
Jia melotot menatap Hanin, "Dih giliran kayak gini aja lu maunya dibelakang, daritadi aja maunya didepan terus."
"Berisik, buka aja sih pintunya."
"Sumpah ya, kenapa sih aku selalu rela dijadiin tumbal? padahal dicuekin terus." Ocehan Jia mengundang cubitan maut, Hanin mencubit kencang pinggang Jia, sampai sang empu menjerit tanpa suara.
"I-iya nih mau buka pintu, mau buka pintu." Jia mengelus kasar pinggangnya dan membuka pintu, namun saat pintu itu bergeser sebuah suara melengking langsung memekak telinganya.
"JIARRA, HANIN!!"
"Eh, kampret kaget!." Jia terlonjak memegangi dadanya. Hanin yang ikut kaget langsung berlindung di balik punggung Jia, mencengkram erat baju seragam Jia, hal itu mengundang tawa teman-teman satu kelasnya.
"Darimana aja kalian?!"
"Duh Bu Lay, pelan-pelan aja dong nanya nya kan jadi kaget." Bukannya langsung menjawab, Jia malah berlontar santai dan mengundang satu gebrakan meja.
"Kamu udah bolos pelajaran pertama Jia, masih mau santai kamu?!"
"Harus santai lah Bu... Hidup mah harus santai aja gak sih?"
Bu Laila memijit keningnya. Sungguh percuma melakukan perdebatan dengan seorang Jia. Tidak ada satupun guru yang mampu melakukannya bahkan sampai saat ini. Bukan karna statusnya sebagai peringkat satu, tapi karna emang anaknya aja yang super bebal. Puluhan kali dipanggil ke ruang guru karna berbuat onar selama hampir 6 tahun masa sekolahnya, dihukum bertubi-tubi pun tidak pernah jera, diceramahin malah ketiduran dan lain sebagainya, so, semua guru sudah capek menegurnya.
Tapi satu hal yang pasti, mungkin Jia memanglah bukan siswa yang teladan bahkan dirinya tidak terlalu jauh dari ciri-ciri anak berandal, hanya saja hampir semua orang tau betapa tulus hatinya. Dengan banyaknya kasus keonaran yang dia buat tidak sebanding dengan puluhan bantuan yang Jia berikan kepada para guru untuk mendisiplinkan siswa-siswi lainnya. Jia termasuk pelajar yang cukup disegani oleh para pengajar dan sekarang pun, Bu Laila memilih untuk menyerah. Jia selalu punya alasan yang masuk akal, toh, saat diberi hukuman Jia selalu mengerjakannya dengan sepenuh hati.
"Kalian berdua keluar, setelah pelajaran ini selesai ikut saya ke ruang guru."
"Siap madam, dengan senang hati." Jia memberikan postur hormat dan berbalik keluar, Hanin yang masih menempel di punggung Jia pun menutup pintu.
Diluar Jia membuang nafasnya kasar, mengelus-elus dadanya. "Selamat, selamat."
"Selamat apaan? Kamu bolos pelajaran pertama ya..."
"Trus kenapa? Kamu kan enggak, itu mah urusan aku.."
Hanin terdiam, bener juga sih.
"Kamu sendiri juga tau kenapa aku bolos."
"Iyadeh.."
Jia dan Hanin berdiri bersebrangan, sama saat berjalan tadi, Hanin gak mau disamping Jia. Tapi Jia tetaplah Jia, sama saat dia berusaha berjalan sejajar kini Jia berusaha berdiri di samping Hanin. Hal yang sama pun kembali terjadi, Jia terus menghampiri Hanin dan Hanin selalu menghindar, terus dan terus sampai pintu kelas terbuka memperlihatkan Bu Laila yang sedang berkacak pinggang.
"Ngapain kalian main kucing-kucingan kayak gitu?! Berdiri bersampingan!"
YES!
"Baik Bu!" Jia kembali memberikan hormat dan menarik tangan Hanin untuk berdiri disampingnya. Hanin berdiri pasrah.
Setelah memastikan Bu Laila kembali memasuki kelas, Jia melepaskan tangan Hanin dan Hanin segera memberi jarak. Jia berdecak.
"Ck, kamu gak capek apa kayak gitu?."
Hanin tidak merespon, dia menutup rapat mulutnya, bahkan sekarang dia memunggungi Jia.
"Han... Ngomong dong, Kamu emang gak capek kayak gini terus?"
"Capek, dari awal aku udah capek." Masih memunggungi Jia, Hanin menjawab ketus.
"Kalau gitu kenapa gak berhenti aja?"
Hanin hanya menggeleng.
"Masalahnya apa sih Han? Masih Orang tua kita?"
"..."
"Aku udah pernah bilang kan, aku sama sekali gak masa.."
"Aku yang bermasalah!" Hanin tiba-tiba berbalik dan mendorong pundak Jia. Hanin menggertakkan gigi menahan suaranya.
"Mereka yang aku sebut orangtua, mereka udah ngambil kehidupan kamu, mereka udah bunuh kehidupan kamu, kamu pikir apa aku masih punya muka untuk berada disamping kamu kayak gini?" Nafas Hanin menderu, matanya membesar menatap Jia.
"Kalau posisi kita tertukar, aku yakin kamu paham Ji..." Hanin memelankan suaranya, menyisir rambutnya kebelakang, matanya mulai memerah.
Jia paham posisi Hanin. Tapi Jia gak akan berbohong kalau dia tidak akan mempermasalahkan hal itu. Kehilangan orangtua memang hal terberat untuk seorang anak, tapi Jia tidak hanya kehilangan orangtua nya namun juga sahabat-sahabatnya itulah yang membuatnya lebih terpuruk. Jia harus melewati kehidupannya seorang diri, dia tidak punya siapapun untuk bersandar. Orangtua nya tidak akan mampu untuk kembali dan sebelum Jia menyusul di lain waktu, dia hanya ingin mengembalikan kebersamaannya bersama orang-orang yang ingin dia jaga, termasuk Hanin didalamnya.
Berbeda dengan Hanin, Hanin sama sekali tidak berfikir untuk kembali. Sejak dulu Hanin selalu mengagumi Jia, dia sudah menganggap Jia sebagai seorang Hero, seorang pemeran utama, sedangkan dirinya hanyalah pemeran pembantu. Hanin tidak pernah masalah dengan posisi kedua, asalkan Jia yang berada di peringkat pertama, karna dengan seperti itu Hanin masih bisa merasa bergantung pada seseorang, seolah dia memiliki seorang pelindung. Tapi kini karna kedua orangtuanya, hal itu pupus begitu saja.
Hanin memilih untuk terus menjauh, walaupun Jia selalu mengejarnya seperti orang gila.
"Please, berhenti ngejar aku kayak gini, berhenti berharap kalau kita akan kembali baik-baik saja, Aku capek Ji."
"Kalau kamu memang mau berhenti, kenapa kamu masih tetap peduli? Kamu yang ngasih harapan ke aku Han..."
Hanin terdiam. Didalam hati kecilnya, Hanin memang tak pernah mampu menyingkirkan perasaan itu. Rasa sayang yang sudah mengakar kuat jauh ke dalam relung hatinya, tidak hanya kepada Jia. Hanin tak akan berbohong kalau dia juga menginginkan hal yang sama dengan Jia, sebuah kebersamaan, tapi dirinya tetap tak mau untuk mengakuinya.
"Kita cari solusinya bareng-bareng ya.." Jia menatap sendu, menggenggam kedua pundak Hanin dengan lembut. Hanin menangkap manik itu, hatinya teriris, dia rindu. Matanya berair, Hanin berusaha keras untuk tidak mengeluarkan emosinya, namun dia tetap tidak bisa, Hanin kesal karna dirinya selalu mampu bersikap lemah dihadapan Jia, air mata itu pun terjatuh. Dengan cepat Jia menghapus air mata itu dengan lembut.
"Aku tetep gak bisa Ji, mereka orang tua aku.."
"Trus kamu mau apa? Kamu mau ngapain sama orang tua kamu?"
Hanin terdiam, dengan matanya yang masih basah, Hanin menatap tajam mata Jia. "Nyawa dibales nyawa Ji."
Jia melotot mendengarnya, dia celingukan melihat sekitar, takut ada yang diam-diam menguping.
"Udah gila kamu!" Kini Jia yang menggertakkan giginya. "Mereka tetap orang tua kamu." Genggaman yang tadinya lembut kini mengeras.
"Kamu gak mau balas dendam kan? Biar aku aja yang lakuin."
"Aku mau bales dendam atau enggak itu urusan aku Han, kamu gak perlu gantiin aku buat ngelakuin hal itu."
"Aku mau ngelakuin atau enggak itu juga urusan aku Ji! Kamu mau ngalangin aku, terserah! Yang pasti aku punya tekad."
Jia hendak melanjutkan protes, tapi sayang dirinya terperanjat mendengar bel sekolah berbunyi. Pelajaran kedua telah usai, kini dilanjut dengan jam istirahat. Setelah para guru keluar, para siswa dan siswi berbondong-bondong keluar menuju kantin.
Bu Layla juga keluar dan menatap kedua siswinya dengan garang.
"Ikut saya."
"Ya Bu.." Jia menjawab tidak semangat.
Tanpa keduanya sadari, dibalik seragam Hanin terdapat alat penyadap yang berkedip hijau. Seorang wanita mendengarkan suara mereka melalui headphone khusus. Wanita itu memejamkan mata, tersenyum miris. Dia harus menerima bahwa anak yang selama ini dia besarkan nyatanya akan menerkam dirinya sendiri. Seharusnya dia tau, selama ini dia berurusan dengan anak-anak yang salah.
...🍞...