Indonesia
NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Suami dan Anakku Memohon Aku Kembali

Setelah Cerai, Suami dan Anakku Memohon Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Anak Yang Berpenyakit / Penyesalan Keluarga
Popularitas:16.4k
Nilai: 5
Nama Author: Safira

Nadia Prameswari, ibu tunggal driver ojek, terpaksa menikah lagi dengan mantan suaminya Rafi Santoso demi biaya transplantasi sumsum tulang putrinya Aira yang menderita leukemia. Kembali ke rumah keluarga Santoso, ia harus menghadapi Selin yang menggantikan posisinya, dan anak laki-lakinya Raka yang sudah membencinya. Rafi yang dingin terus menghinanya, tapi Nadia hanya punya satu tujuan: menyelamatkan nyawa Aira dengan cara apa pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10 - Harga Sebuah Malam

Malam itu, Nadia tidak langsung kembali ke rumah sakit.

Dokter Damar meminta Aira beristirahat dan melarang terlalu banyak kunjungan karena imunitasnya turun. Perawat mengirim foto Aira yang sudah tidur. Wajahnya masih pucat, tapi demamnya sedikit turun.

Nadia duduk di kamar tamu, memegang ponsel dengan kedua tangan.

Di atas meja kecil, ada tagihan sementara yang baru dikirim bagian administrasi. Uang deposit Rafi memang menutup beberapa hari, tetapi dokter sudah mulai membicarakan pemeriksaan lanjutan, ruang isolasi, dan kemungkinan obat yang tidak semuanya tersedia cepat.

Nadia membuka buku catatan.

Ia menulis lagi.

Saldo tunai: 547.000.

Biaya tambahan perawat: ditanggung Rafi.

Obat luar: belum tahu.

Transport: harus hemat.

Di halaman berikutnya, ia menulis satu kalimat.

Jangan lupa tujuan: Aira hidup.

Ia menatap kalimat itu lama.

Lalu ketukan terdengar.

Kali ini bukan Dimas.

Nadia tahu bahkan sebelum pintu terbuka.

"Masuk," katanya.

Rafi berdiri di ambang pintu. Kemejanya sudah diganti dengan kaus hitam. Rambutnya sedikit basah, mungkin baru selesai mandi. Wajahnya tidak sedingin tadi pagi, tapi ada sesuatu yang lebih sulit dibaca di matanya.

Tatapannya berhenti di plester kecil di pelipis Nadia.

"Sudah diobati?"

Nadia menutup buku catatan. "Sudah."

"Harusnya kamu panggil dokter."

"Lukanya kecil."

"Tetap saja."

Nadia hampir bertanya sejak kapan ia peduli pada luka kecil. Tapi ia tidak punya tenaga untuk sindiran yang tidak mengubah apa pun.

Rafi masuk tanpa diminta. Ia melihat kamar tamu yang sempit, ransel Nadia, pakaian Aira, boneka kelinci, dan buku catatan di meja.

"Kamu benar-benar mau tidur di sini?"

"Iya."

"Kamar utama lebih nyaman."

"Untuk siapa?"

Rafi menatapnya.

Nadia tidak menyesali pertanyaan itu.

"Selin tidak tidur di kamar utama," kata Rafi.

"Aku tidak tanya."

"Aku menjelaskan."

"Kamu sering menjelaskan hal yang tidak kutanyakan."

Rafi diam.

Ia berjalan ke dekat meja, mengambil buku catatan Nadia sebelum Nadia sempat menahannya.

"Rafi."

Ia membuka halaman.

Nadia berdiri. "Kembalikan."

Rafi membaca beberapa baris. Wajahnya berubah.

"Kamu mencatat semua pengeluaran?"

"Iya."

"Untuk apa?"

"Agar aku tahu berapa yang harus kukembalikan."

Rafi mengangkat wajah. "Mengembalikan?"

"Uang pengobatan Aira."

"Aku ayahnya."

"Kamu sendiri sering lupa."

Rafi menutup buku itu dengan keras.

"Kamu sengaja membuat semuanya terlihat seperti utang."

"Karena aku tidak mau salah paham."

"Salah paham apa?"

"Bahwa uang ini berarti aku kembali menjadi milikmu."

Rafi menatapnya lama.

Kamar itu sunyi. Dari luar jendela terdengar suara air kolam dan langkah satpam di halaman.

"Kamu istriku," katanya pelan.

"Di dokumen, iya."

"Jangan bicara seperti itu."

"Lalu harus bagaimana?"

Rafi melangkah mendekat.

Nadia tidak mundur, tapi tubuhnya menegang.

Ia menyadari perubahan udara di antara mereka. Rafi juga menyadarinya. Mata pria itu bergerak dari wajah Nadia, plester di pelipisnya, turun ke leher yang belum tertutup kerudung karena ia baru selesai mandi.

Dulu, tatapan seperti itu bisa membuat Nadia gugup.

Dulu, ia masih mencintai pria ini dengan seluruh kebodohan yang ia sebut kesetiaan.

Sekarang ia hanya menghitung.

Jika Rafi senang, uang rumah sakit lebih aman.

Jika Rafi merasa ditolak, ia bisa marah.

Jika ia marah, Aira yang terkena akibatnya.

Rafi menyentuh dagunya. "Kamu berubah."

Nadia tidak bergerak.

"Dulu kamu tidak pernah setenang ini."

"Dulu aku masih punya banyak hal untuk dipertahankan."

"Sekarang tidak?"

Nadia menatapnya.

"Sekarang cuma Aira."

Rafi tampak tersinggung, seolah ia berharap namanya masih termasuk di sana.

"Dan Raka?"

"Raka punya kamu."

"Dia anakmu."

"Dia tidak mau aku jadi ibunya."

"Dia masih kecil."

"Kamu sudah mengatakannya berkali-kali."

Rafi menarik napas panjang. "Aku tidak datang untuk bertengkar."

"Lalu untuk apa?"

Pertanyaan itu menggantung.

Rafi melihat gaun hijau yang masih tergantung di belakang pintu, sudah dicuci seadanya tapi noda jus belum hilang sepenuhnya. Lalu ia kembali menatap Nadia.

"Malam ini kamu mempermalukanku di acara yayasan."

Nadia hampir tertawa. "Akhirnya sampai juga."

"Aku belum selesai."

"Silakan."

"Aku tahu Aira sakit. Tapi kamu tidak bisa pergi begitu saja dari acara keluarga. Orang-orang bertanya."

"Apa yang kamu jawab?"

"Bahwa anak kita demam."

Nadia terdiam.

Anak kita.

Kata itu keluar begitu mudah sekarang, setelah selama ini Aira hanya menjadi beban dalam pembicaraan mereka.

Rafi melihat reaksinya dan mungkin merasa menemukan jalan.

"Aku tidak sejahat yang kamu pikirkan, Nadia."

"Aku tidak sedang memikirkanmu."

Wajah Rafi mengeras lagi.

Ia meletakkan buku catatan di meja. "Besok Dimas akan mengurus tambahan biaya rumah sakit."

Nadia menatapnya. "Terima kasih."

"Hanya terima kasih?"

"Apa yang kamu mau?"

Rafi tidak menjawab.

Tapi matanya menjawab.

Nadia mengerti.

Kamar terasa semakin sempit.

Ia teringat dua belas aturan. Poin tentang istri. Poin tentang menjaga rumah tangga. Poin tentang tidak membuat keributan. Ia juga teringat Aira yang bertanya apakah Papa akan datang.

"Kalau aku menolak," kata Nadia pelan, "apa kamu akan menunda biaya Aira?"

Rafi seperti ditampar.

"Kamu pikir aku laki-laki seperti itu?"

Nadia menatapnya dengan mata lelah.

"Aku tidak tahu lagi kamu laki-laki seperti apa."

Rafi mundur setengah langkah.

Kemarahan lewat di wajahnya. Tapi di bawahnya ada sesuatu yang lain. Mungkin sakit. Mungkin rasa malu.

"Aku tidak pernah memaksamu."

Nadia diam.

Kalimat itu tidak sepenuhnya benar.

Rafi tidak pernah harus memegang pisau untuk membuat orang berdarah. Cukup dengan uang, diam, dan pintu yang hanya bisa dibuka jika Nadia menunduk.

"Aku capek," kata Nadia.

Rafi menatapnya.

"Tidurlah."

Nadia mengira ia akan pergi.

Tapi Rafi justru duduk di kursi dekat jendela.

"Aku di sini sebentar."

"Untuk apa?"

"Aku ingin duduk."

"Di kamarku?"

"Ini rumahku."

Nadia menutup mata sejenak.

Benar.

Semuanya rumah Rafi. Kamar ini. Uang rumah sakit. Mobil. Nama keluarga. Bahkan pernikahan mereka yang baru sehari itu terasa seperti sesuatu yang dipinjamkan padanya dengan syarat.

Nadia mengambil selimut tipis dan berbaring di sisi ranjang paling jauh. Ia tidak membuka kerudung sepenuhnya, tidak mengganti pakaian tidur yang lebih nyaman. Ia hanya memunggungi Rafi.

Lama sekali tidak ada suara.

Kemudian Rafi berkata, sangat pelan, "Kamu dulu tidak pernah tidur membelakangiku."

Nadia menatap dinding.

"Dulu kamu juga tidak pernah membiarkan perempuan lain duduk di sebelahmu saat istrimu berdarah."

Rafi diam.

Kali ini tidak ada bantahan.

Nadia mendengar kursi bergeser. Langkah Rafi mendekat. Tubuhnya menegang.

Tapi Rafi hanya menarik selimut yang hampir jatuh dari kaki Nadia, lalu meletakkannya kembali.

Gerakan itu kecil.

Terlalu kecil untuk disebut penyesalan.

Terlalu terlambat untuk disebut perhatian.

"Besok aku ke rumah sakit," kata Rafi.

Nadia tidak menjawab.

"Aku akan bicara dengan dokter."

Masih tidak ada jawaban.

Rafi berdiri beberapa saat, lalu berjalan keluar. Pintu tertutup pelan.

Nadia membuka mata.

Ia kira dirinya akan menangis.

Tidak.

Air matanya tidak keluar.

Ia hanya bangun, mengambil buku catatan, dan menulis di halaman baru.

Rafi bilang akan ke rumah sakit.

Jangan berharap.

Setelah itu, ia mematikan lampu.

Di kamar gelap yang bukan miliknya, Nadia memeluk boneka kelinci Aira.

Harga satu malam ini belum jelas.

Tapi ia tahu, selama Aira masih bernapas, ia akan terus membayar dengan apa pun yang tersisa dari dirinya.

Pagi buta, azan Subuh terdengar jauh dari masjid kompleks.

Nadia belum benar-benar tidur. Ia bangun, mengambil wudu, lalu membentangkan sajadah kecil di samping ranjang. Di rumah itu, ia jarang meminta apa pun dengan suara keras. Bahkan kepada Tuhan, doanya sering tersangkut karena ia tidak tahu harus meminta dari mana dulu.

Kesembuhan Aira.

Kekuatan untuk dirinya.

Hati yang tidak hancur setiap kali Raka menatapnya seperti musuh.

Setelah salam, Nadia duduk lama.

Ponselnya menyala.

Pesan dari Rafi.

[Aku ikut ke rumah sakit pagi ini.]

Nadia membaca pesan itu.

Lalu ia menulis di buku catatannya:

Rafi bilang lagi.

Tunggu sampai dia benar-benar datang.

Baru percaya.

Kalau tidak, lupakan.

1
Srijanni
mana lanjutan ny
Titien Prawiro
Gk paham Rafi jadi Bapak gk tegas, plin plan, kalah dengan air mata.
Titien Prawiro
Kenapa Rafi melakukan seperti itu terhadap istrinya, beda dgn si jalangaku benci sama Rafi.
Prajnya Paramita
bagus banget cerita ini.
Wike Susilawatu
lanjut Thor aku baru baca
Srijanni
setelah cerai suami dan anak minta
Meity Londok
lanjutan nya?
Srijanni
kapan terusan ny
Srijanni
kapan lanjutan ny udh ga sabar
Srijanni
sy suka cerita ny menarik lanjut
Eni Satria
terlalu lemah nadia suami biadap ank durhaka mls baca buat emosi
Irawati Soetojo
Cerita ya bagus banget, breres mili sedih suami n Ayah tidak peka ke istri n anak sakit
Daulat Pasaribu
cepat bangkit nadia...smoga aja kamu dan aira cepat merasakan bahagia.biarkan aja si rafi dan arka menyesal
Daulat Pasaribu
rafi rafi setelah aira meninggal baru menyesal...aku sih harapnya aira dan nadia tetap hidup bahagia tanpa si rafi dana si raka
Daulat Pasaribu
rafi rafi setelah aira meninggal baru menyesal...aku sih harapnya aira dan nadia tetap hidup bahagia tanpa si rafi dana si raka
Daulat Pasaribu
penasaran penyeban keluarga nadia bisa tercerai berai itu karena apa
Daulat Pasaribu
aku nangis bacanya,sedih kali novelnya
Daulat Pasaribu
apa alasannya thor kok bisa si aira di telantarkan bahkan di abaikan oleh papanya si rafi
Daulat Pasaribu
penyebab mereka cerai kenapa ya thor?
Daulat Pasaribu
tapi kok bisa si rafi membuarkan anaknya hidup sakit sakit tan.padahal walaupun cerai bukannya itu tanggung jawabnya rafi sbagai ayah kandung aira thor
Dini Suharsono: /Scowl/0
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!