Indonesia
NovelToon NovelToon
THE DAY YOU WENT AWAY

THE DAY YOU WENT AWAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Cintapertama
Popularitas:387
Nilai: 5
Nama Author: Chikaku_chiko

Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.

Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.

Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.

Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Boncengan di Balik Angin Malam

​Aroma aspal yang tersiram gerimis tipis menyambut Raisha begitu dia melangkah keluar dari lobi utama gedung kantor. Jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sebagian besar karyawan sudah pulang sejak satu jam yang lalu, menyisakan area pelataran parkir yang mulai lengang dan diterangi pendar lampu jalanan yang temaram.

​Raisha merapatkan mantel tipisnya, berdiri di pinggir trotoar sambil terus menatap layar ponsel. Jarinya mengusap layar berkali-kali, memantau aplikasi transportasi online yang tak kunjung mendapatkan pengemudi. Cuaca yang buruk dan jam sibuk membuat pencarian taksi menjadi sangat sulit.

​Di tengah penantiannya, suara deru mesin motor berkapasitas besar mendadak memecah keheningan pelataran gedung. Sebuah motor sport berwarna hitam pekat bergerak pelan mendekati area trotoar tempat Raisha berdiri. Pengendaranya mengenakan jaket kulit hitam dan helm full face dengan kaca gelap.

Raisha mengernyit, heran. Dia noleh ke kanan dan ke kiri, dipikir ada orang lain yang menunggu si pengendara. Ternyata hanya dirinya seorang disitu.

​Motor itu berhenti tepat di depan Raisha. Sang pengendara membuka kaca helmnya, memperlihatkan sepasang mata cokelat gelap dan raut wajah yang sangat familier.

​Itu Aldo.

​"Belum dapat jemputan, Ra?" tanya Aldo dengan suara yang sedikit teredam deru halus mesin motornya.

​Raisha tertegun sejenak. Dada sebelah kirinya berdesir pelan secara refleks, sebuah reaksi fisik yang masih saja gagal dia kendalikan.

"Belum, Al. Lagi susah banget dapet taksi jam segini. Di aplikasi online juga sibuk."

​Aldo melepas helmnya, mengibaskan rambutnya yang sedikit berantakan secara santai, lalu memiringkan kepalanya menatap Raisha.

"Sama aku aja yuk? Arah rumah kamu kan sejalan sama rute pulang aku. Daripada makin malam dan hujan keburu deras."

​Raisha terpaku di tempatnya. Sebuah perasaan canggung yang sangat pekat mendadak menyelubungi pikirannya.

​Sejak percakapan di rooftop dua hari yang lalu, suasana di antara mereka menjadi sangat aneh, setidaknya bagi Raisha. Pengakuan jujurnya sore itu, di mana dia secara terang-terangan menyebut Aldo sebagai cinta pertamanya, ternyata tidak mendapatkan balasan apa-apa. Aldo hanya terpaku bisu waktu itu, sebelum akhirnya mengalihkan topik secara halus dan menyudahi pertemuan mereka.

​Bagi Raisha, diamnya Aldo saat itu terasa seperti sebuah penolakan halus. Ini adalah kali kedua Raisha merasa ditolak oleh pria yang sama: pertama ketika status single-nya terungkap di pantry, dan kedua saat dia menyerahkan kejujuran hatinya di rooftop.

​Rasa malu dan canggung itu seharusnya membuat Raisha menolak tawaran Aldo dengan tegas. Ditambah lagi, ada rasa heran yang besar di dalam kepalanya. Berdasarkan pola perilaku yang dicermatinya selama ini, Aldo biasanya hanya akan bersikap manis, ramah, dan tebar pesona kepada wanita yang sudah memiliki pasangan, seperti Mita dulu. Sementara kepada wanita yang jelas-jelas single dan menyukainya secara utuh seperti Raisha, Aldo selalu menunjukkan sikap dingin dan menjaga jarak.

​Lalu kenapa sekarang pria itu justru menawarkan tumpangan dengan raut wajah yang begitu ramah?

​"Ra? Malah melamun," tegur Aldo pelan, menyunggingkan senyum tipis yang memamerkan lesung pipinya. Dia mengangsurkan sebuah helm cadangan yang digantung di jok belakang.

"Ayo naik, jalanan makin macet kalau nunggu sepuluh menit lagi."

​Raisha menatap helm di tangan Aldo, lalu menatap wajah pria itu bergantian. Logikanya meneriakkan peringatan agar dia mundur dan menolak. Namun, di sudut hati kecilnya yang paling dalam, ada seberkas harapan tipis yang mendadak menyeruak.

​Apakah sikap ramahnya malam ini tanda kalau dia mulai melunak? batin Raisha ragu. Apakah kenyataan bahwa gue jujur soal perasaan gue... bisa bikin dia berubah?

​Harapan kecil itu akhirnya mengalahkan rasa canggung dan logika rasionalnya. Raisha menghela napas pelan, mengangguk, lalu meraih helm cadangan tersebut.

"Yaudah... makasih ya, Al. Maaf jadi kerepotan."

​"Nggak repot sama sekali," balas Aldo halus, memperhatikan Raisha yang sedikit kesulitan mengancingkan tali helmnya.

Tanpa meminta izin, Aldo memajukan tubuhnya sedikit, mengulurkan jemarinya untuk membantu merapikan dan mengklik pengunci helm di bawah dagu Raisha.

​Jarak mereka yang mendadak hanya terpaut beberapa sentimeter membuat Raisha menahan napas. Aroma wangi maskulin dari tubuh Aldo menyeruak begitu dekat, membuat jantung Raisha berdegup kencang seperti drum yang ditabuh liar. Aldo menyunggingkan senyum puas setelah pengunci helm terpasang, lalu kembali membetulkan posisi duduknya.

​Raisha perlahan Naik ke jok belakang motor sport yang cukup tinggi itu. Karena posisi duduk motor sport yang menungging, Raisha terpaksa memajukan tubuhnya agak rapat ke punggung Aldo agar tidak terjatuh. Dia memegang pinggiran jaket kulit Aldo dengan ujung jemarinya, memberi jarak aman sebisa mungkin di antara mereka.

​"Pegang yang kuat ya, Ra. Jalanan rada licin," ujar Aldo seraya menurunkan kaca helmnya kembali.

​Mesin motor menderu lebih keras saat Aldo memutar gas, membawa kendaraan roda dua itu membelah jalanan ibu kota yang mulai dipadati kendaraan. Gerimis tipis menampar kaca helm mereka, sementara lampu-lampu kota membias indah di atas aspal yang basah.

​Sepanjang perjalanan, tidak banyak kata yang terucap di antara mereka karena deru angin dan bisingnya lalu lintas. Namun, sentuhan fisik yang tak terelakkan di atas motor, setiap kali Aldo mengeram mendadak atau membelokkan motornya di tikungan, membuat dada Raisha terus bergetar hebat.

​Di balik rasa canggung yang tersisa dari penolakan di rooftop, Raisha menyandarkan dahi helmnya secara tipis ke bahu belakang Aldo saat angin malam berembus kencang. Dalam diamnya di atas motor yang melaju pesat, Raisha menyelipkan sebuah doa dan harapan sederhana di dalam hatinya: semoga pria yang sedang membawanya menembus malam ini benar-benar bisa membuka hatinya, dan berhenti menjadi sosok dingin yang suka mempermainkan perasaan orang lain.

Doa yang tulus sebenarnya. Karena harap yang semakin membuncah. Tapi otaknya melarang keras, seolah memberi peringkat bahwa, dirinya akan selalu tersakiti. Aldo mengemudikan motor dengan tenang sementara batin dan pikiran Raisha berisik.

Motor melaju perlahan dan didepan gate sebuah apartemen laju motor berhenti. Raisha turun lalu tangan mencoba mencari pengunci helm yang tak kunjung terbuka. Kembali Aldo menjulurkan tangannya dan membantu membuka pengunci helm.

Tangannya dengan lembut melepas helm dari kepala Raisha, bahkan dengan lembut merapihkan rambut Raisha yang agak berantakan. Raisha salting, dengan wajah agak memerah. Entah seperti apa reaksi Aldo dibalik helmnya itu.

"Makasih ya, Al." ucap Raisha.

Aldo menoleh ke arah gate lalu berpaling ke arah gedung apartemen tempat Raisha tinggal. Raisha melirik kearah pandang Aldo.

"Kamu tinggal sendiri di apartemen?"

"Ya... " Raisha menjawab sedikit mengernyit.

Aldo hanya mengangguk pelan.

"Sampai ketemu besok ya, Ra.."

Raisha melambaikan tangan pelan, menatap laju motor Aldo yang mulai menghilang dibelokan jalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!