Selama beberapa hari hubunganku dengan Ayah menjadi semakin dingin. Aku mencoba mengerti arti tamparannya dari berbagai sisi. Namun, itu tetap tak bisa menghilangkan trauma di pikiranku. Aku berupaya untuk bersikap biasa, tetapi ada dinding kaca yang disebut pola pikir yang membatasi hubungan kami. Sejatinya, aku ingin hidup harmonis dengan Ayah walaupun tak banyak kata yang terjalin dari mulut kami.
Mungkinkah ini hanya ego para pria yang secara naluri kadang merasa canggung untuk menunjukkan lagi rasa cinta dan kasih? Kuserahkan pada waktu untuk menyalin kembali perasaan tersebut dan menguapkan sakit hati yang kurasa.
Terkadang, aku bisa merasakan atau membaca isi pikiran orang lain. Namun untuk orang terdekat seperti Ayah, itu cukup sulit. Kenapa? Banyak memori yang tersimpan di otakku tentangnya, dan itu bisa mengaburkan persepsi yang timbul. Misalnya, Ayah menamparku karena mungkin terbawa emosi ditambah sedang banyak hal yang dipikirkan. Bisa jadi tragedi tersebut bagian dari kebetulan. Ayah ingin melampiaskan beban pikiran, dan secara tidak sadar aku membuat kesalahan yang meledakkan amarah. Di sisi lain, aku pikir Ayah akan minta maaf keesokan harinya. Ternyata, sikapnya tak menunjukkan adanya penyesalan. Atau Ayah menungguku yang meminta maaf lebih dahulu? Bagaimana pun, aku dalam posisi “korban”. Cukup ambigu, bukan? Dikarenakan banyak penilaian yang muncul berasaskan pengenalan karakter dan perasaan yang dalam.
Meskipun hubungan kami tidak begitu hangat, tetapi ini kali pertama kami terlibat perang dingin. Aku paham, aku harus lebih mengerti tentang Ayah. Beliau sudah melewati masa usiaku, namun aku belum tentu sampai di masa beliau.
Baiklah. Kebetulan aku sedang ingin mencari buku untuk bahan bacaan, sekaligus sedikit refreshing. Meminta izin kepadanya semoga bisa menjadi permulaan membangun kembali jembatan komunikasi. Setelah itu, aku akan belikan hadiah kemeja atau jam tangan untuk “menyuap”-nya.
Aku hampiri Ayah yang tengah duduk santai di teras, “…
Di Sekitar Kita
Bab 23: Balik
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 32 Episodes
Comments